
Hagi berdiri di hadapan appanya yang masih memunggunginya sambil menatap photo keluarga sejak pertama ia memasuki ruangan kerja appanya, Hagi tidak akan menegur appanya yang jelas sudah tahu kedatangannya, Hagi hanya akan menunggu ayahnya berbicara.
"Hagi_ya... kau tahu, dulu appa sangat sulit mendapatkan eommamu. Appa harus belajar banyak sepertimu, kakekmu bilang dia tidak ingin memiliki menantu lemah. Karena mencintai ibumu appa tidak berpikir panjang dan langsung menyetujui persyaratan yang kakekmu berikan. Appa berlatih keras selama 2 tahun dan akhirnya kakekmu mengakui appa dan mau menikahkan appa dengan eommamu. Setelah menikah appa tahu jika eommamu lebih kuat dari appa dan itu membuat harga diri appa terluka, sampai oppamu lahir appa terus berlatih dengan kakekmu hingga appa tahu jika sebenarnya keluarga ini memiliki tradisi dimana anak gadisnya di wajib Kan sekuat ibumu, kau tahukan tradisi apa?" Hagi mengangguk kecil ketika Tuan Kim berbalik dan menatap Hagi dalam.
Tuan Kim duduk di iringi Hagi yang juga ikut duduk. Mereka saling berhadapan, saling menatap satu sama lain. Biasanya Hagi tidak pernah menatap ayahnya selama ini. Dia akan banyak menunduk ketika ayahnya menatapnya tajam. Tapi kali ini tatapannya begitu sendu, berbeda dari biasanya.
"Aku harap kau bisa bertahan nanti, bekal yang aku beri selama ini padamu aku harap cukup untukmu kembali. Ingat aku tidak akan meminta maaf atas apa yang aku lakukan padamu selama ini. Tapi kau harus tahu aku selalu menyayangimu itu kenapa aku keras padamu." Hagi mengerutkan keningnya binggung, tapi ia tidak banyak bertanya karena Hagi yakin jika appanya tidak akan memberi teka teki yang tidak bisa ia pecahkan. Yang bisa Hagi tangkap dari ucapan appanya adalah Tuan Kim menyuruhnya pergi dan meminta kembali dengan selamat pada Hagi.
Tuan Kim membuka laci kecil di sampingnya mengeluarkan sebuah amplop putih dan meletakkanya di hadapan Hagi.
"Itu hadiah ulang tahun dari appa." Hagi membuka amplop di hadapannya ada tiket pesawat beserta pasport baru atas namanya. Perjalanan ke Jeju selama seminggu, antara senang dan tak percaya Hagi menatap ayahnya yang masih menatapnya sendu.
"Appa yakin memberikan ini padaku? Dan aku berangkat sendiri?" Hagi bertanya meyakinkan apa yang dia lihat di hadapannya.
"Aku sudah bilang Kan kalau jika umurmu sudah duapuluh kau bisa kemanapun sendirian." Hagi mengangguk senang lalu menatap tiket pesawat di tangannya lagi.
"Tapi kenapa harus ke Jeju? Kenapa tidak ke Eropa saja? Cadis misalnya appa? Kau tahukan aku suka Eropa?" Hagi berusaha menawar tapi appanya langsung menatapnya tajam.
"Tidak bisa kau harus ke Jeju dulu. Setelah kau pulang aku tidak akan melarangmu kemanapun kau mau Hagi." Hagi mengerucutkan bibirnya sambil menunduk.
"Baiklah..." Tuan Kim menghelah nafas, dia tidak pernah berbicara sesantai ini dengan Hagi, rasanya sangat tegang juga gelisah.
"Hagi kau tahu? Setiap orang di dunia ini pasti punya tugas atau alasan di lahirkan ke dunia ini. Entah itu untuk dirinya sendiri atau justru untuk orang lain." Hagi mengangguk mengerti ayahnya selalu mengajari hal itu setiap dia memulai latihannya.
Tuan Kim kembali meletakan sesuatu di hadapan Hagi, kali ini sebuah kantung kain yang terbuat dari kain sutra dengan ornamen matahari dan juga seekor naga.
"Itu hadiah dari kemenanganmu hari ini. Pakailah kemanapun kau pergi. Kalung itu mungkin akan membawamu pada alasan kenapa kau di lahirkan." Hagi mengerutkan kening lagi bingung, appanya terlalu banyak memberikannya PR untuk dia pecahkan. Tapi lagi, Hagi hanya diam dan membuka kantung kain di hadapannya. Sebuah gantungan dari kayu berbentuk matahari yang di tengahnya terdapat sebuah naga melingkar, ada sebuah wajah di tengah-tengah naga itu, Tapi tidak begitu jelas.
__ADS_1
"Itu lambang keluarga Kim, sudah sejak dulu keluarga Kim memberikan gantungan itu turun temurun pada anak gadis pertama keluarga Kim ketika sudah berumur duapuluh tahun. Itu kenapa sedikit usang dan kuno." Hagi mengangguk paham dia hanya menatap gantungan itu dalam. Ada sesuatu yang membuatnya terasa tertarik pada gantungan usang di tangannya.
"Jaga baik-baik mungkin kau akan mewariskan itu pada anakmu juga." Hagi kembali mengangguk dia meletakan gantungan itu di sweternya beserta tiket pesawat.
"Sekarang kau boleh pergi, besok bersiaplah kau akan berangkat pagi ke Jeju." Hagi kembali mengangguk lalu meninggalkan ruangan ayahnya dengan seribu pertanyaan yang akan mulai dia rangkai.
____
Angin bertiup kencang menerjang pegunungan pulau Jeju, membuat Hagi yang tidak melakukan persiapan apapun tentang adanya badai menggerutu kesal. Sambil berlarian Hagi berusaha mencari tempat untuk berteduh, Sekalipun kemungkinannya sangat kecil di pegunungan seperti ini ada tempat berteduh. Hagi terus terseok-seok tidak berhenti meracau kesal.
"Apa bagusnya mendaki, kenapa tidak ada pemberitahuan sama sekali tadi. Arghhh!!." Hagi hampir terjatuh ketika medan yang dia turuni semakin licin, untungnya dia berpegangan pada bebatuan walau pun tangannya menjadi sedikit cedera karenanya.
"Hiks kenapa bukan Eropa saja sih, aku tidak akan sesusah ini, atau kenapa tidak senang-senang di resort saja dari pada mendaki seperti ini." Hagi mulai menangis ketika dirasanya hujan makin deras dan kenyataan jika dia masih jauh dari tempat yang dia tuju.
Seakan menjawab kegelisahannya, Hagi menemukan sebuah gua kecil di atas tempat ia berjalan, dengan sisa kekuatannya Hagi berusaha merangkak menuju goa yang sepertinya bagus untuk berteduh hingga hujan reda. Walaupun tidak terlalu besar dan sedikit lembab Hagi menghelah nafas ketika sampai di depan goa. Dengan bekal seadanya Hagi mulai mengobati lukanya dengan kotak obat yang selalu ia bawa kemanapun, walaupun ukuran kecil, didalamnya serba ada. Tidak membutuhkan waktu lama Hagi sudah membalut lukanya, dia sudah terbiasa dengan luka di badannya sehingga mudah mengobati luka seperti apapun. Bukan karena dia calon dokter, tapi kebiasaannya yang selalu terluka membuatnya ahli mengobati diri sendiri.
Hagi kembali menghelah nafas ketika melihat langit masih saja kelabu, hujan dan petir saling sahut menyahut. Dia tidak takut dengan petir atau hujan, yang dia benci hanya rasa dingin yang mulai menyusupi tubuhnya.
Udara goa yang semakin hangat membuat Hagi menoleh kebelakang, logikanya tempat ini seharusnya sedikit berangin dan juga dingin. Tapi setelah Hagi mengobati lukanya udara di dalam goa berubah hangat, membuat Hagi penasaran dan juga mulai berjalan semakin masuk kedalam goa kecil itu, entah itu hanya halusinasi saja atau memang Hagi merasa ada aliran sungai di dalam goa kecil itu. Dengan Penerangan seadanya dari senter kecil yang Hagi bawa, Hagi berjalan semakin masuk kedalam goa.
"Aku baru tahu ada goa stalaktit di Jeju." Hagi bergumam kecil, dia memang jarang pergi sendirian, tapi bukan berarti dia tidak pernah pergi ke Jeju dimana keluarganya memiliki kebun Jeruk yang luas, sehingga Hagi selalu membaca apapun tentang Jeju yang menurutnya sangat indah.
Lagi-lagi kesialan terjadi padanya, Hagi sudah sangat berhati-hati tapi dia tidak menyadari adanya lubang besar di hadapannya, Membuatnya terperosok jauh sambil berteriak cukup histeris. Hingga akhirnya Hagi terjebur kedalam air dan hanyut terbawa arus.
__ADS_1
Hagi berusaha mengandalkan keahliannya dalam berenang, tapi arus sungai itu sangat deras hingga membuat Hagi beberapa kali timbul tenggelam. Hagi kembali membulatkan matanya panik ketika di lihat nya arus sungai goa itu mulai hilang, sebuah air terjun menantinya. keahlian berenangnya seolah tidak ada gunanya ketika Hagi kembali terjatuh ke dasar air terjun dan beberapa kali membentur bebatuan yang ada, tapi sebisa mungkin Hagi melindungi kepalanya karena jika tidak sudah pasti Hagi akan mati saat itu juga di dasar air terjun yang baru saja ia lewati. Ketika sampai di dasar air terjun, Hagi mengunakan sisa tenangannya untuk mengapai tepi sungai dan saat sampai di tepi sungaiĀ kesadaran menghilang dari tubuhnya.
***
Tuan Kim duduk termenung di depan meja kantornya, beberapa kali telpon di mejanya berdering nyaring, tapi tidak ada niat sekalipun lelaki tua itu mengangkat nya. Beberapa kali nafasnya berhembus khawatir. Saat itu juga nyonya Kim datang sambil menangis, Tuan Kim berdiri menyambut istri tercintanya datang lalu memeluk perempuan kuat yang bahkan jarang sekali menangis di hadapannya itu dengan erat.
"Bagaimana kalau dia tidak kembali? Aku akan kehilangan dia selamanya." Nyonya kim terus menangis, membuat Tuan Kim akhirnya menjatuhkan air mata yang sudah ia tahan sejak tadi.
Sejak kepergian Hagi ke Jeju, tuan Kim tidak bisa melakukan apapun, dia hanya sibuk termenung mengingat betapa waktunya habis hanya untuk memarahi Hagi putri satu-satunya itu. Tradisi keluarga Kim membuatnya melakukan hal terbaik yang bisa ia berikan sebagai seorang ayah pada Hagi.
"Tidak dia pasti kembali. Aku yakin itu, dia bukan yeoja lemah, dia juga pintar, Kau jangan lupa itu sayang. Dia anak kita." Nyonya Kim tetap menangis histeris, sebenarnya dia juga tidak mengizinkan Hagi pergi, tapi kata-kata kakek Hagi, membuat nyonya Kim tidak punya pilihan lain.
"Sekarang kau pulanglah aku sudah menyuruh Yesung untuk menyusul Hagi ke Jeju, kita tidak tau seperti apa nantinya, tapi kita akan tetap berjaga-jaga untuk setiap kemungkinan yang ada, kau mengerti?" Nyonya Kim menggeleng lemah dia memeluk suaminya semakin erat.
" Biarkan aku disini, aku tidak sanggup menunggu di rumah sendirian." Tuan Kim menghelah nafas lemas lalu kembali memeluk istrinya erat.
"Iya kau benar, aku juga tidak bisa menunggu sendirian. Dia putriku." Kedua suami istri itu kembali larut dalam kesedihan, menyalahkan betapa takdir aneh harus mampir dalam keluarganya.
***
Yesung menatap resah keluar jendela kamar hotelnya, sudah sejak tadi siang hingga menjelang malam hujan tidak kunjung reda. Beberapa kali dia berusaha menghubungi saeng kesayangannya tapi hanya operator yang menjawab. Yesung sebenarnya sudah berpakaian lengkap dengan alat yang ia perlukan untuk mendaki, tapi penjaga pos tidak mengizinkan ia pergi ketika informasi mendadak tentang datangnya badai hari ini datang sebelum ia melewati pos. Dengan sedikit di paksa akhirnya Yesung hanya bisa menunggu di hotel dengan khawatir. Tim penyelamat juga tidak bisa menembus lebatnya hujan karena hanya akan menambah daftar nyawa yang harus di selamatkan.
"Apa kau baik-baik saja saeng?" Yesung menatap gelapnya malam dengan sendu ketika sebuah tangan merangkulnya dari belakang.
"Dia yeoja kuat oppa, Hagi pasti baik-baik saja. Dia harus baik-baik saja, iya kan oppa?" Yesung berbalik menatap yeoja yang juga sama khawatirnya dengan dia, kekasihnya, sekaligus sahabat terdekat Hagi, Park Hyunmie.
"Ne dia harus baik-baik saja. Dia tidak bisa membuat banyak orang yang menyayanginya cemas." Yesung memeluk kekasihnya itu erat berbagi rasa nyaman agar rasa cemas keduanya sedikit berkurang. Yesung sengaja mengajak Hyunmie setelah kekasihnya itu tahu tentang Hagi yang pergi kepulau Jeju, Hyunmie adalah orang yang sedikitnya tahu tentang keluarga Kim. Dia juga sama cemasnya ketika mengetahui semua tentang Hagi. bagi Hyunmie, Hagi adalah penjaga sekaligus sahabat terbaiknya.
__ADS_1
bersambung