
Matahari sangat terik hari ini, musim panas memang datang lebih awal tahun ini, beberapa kali rombongan kecil itu berhenti untuk beristirahat entah untuk sekedar minum dan makan atau hanya untuk memberi kesempatan pada Kyuhyun untuk duduk.
"Tuan silahkan di minum." Bibi Ma menyodorkan tempat minum yang baru saja di isi oleh paman Ma di sungai pada Kyuhyun, namja itu masih pucat tapi tetap memaksa untuk berjalan. Kalau saja kudanya tidak lari kemarin mungkin dia bisa pulang lebih cepat, dia harus menyerahkan hal penting pada kakaknya.
Kyuhyun menerimanya dengan cepat, dia sendiri sudah sangat kehausan dan kelelahan, tapi jika prediksinya benar. Sore hari mereka sudah sampai di Hanyang, jika mereka terus berjalan.
"Kita lanjutkan lagi." Kyuhyun siap berdiri ketika tubuhnya limpung siap terjatuh jika paman Ma tidak memeganginya. Hagi dengan cepat mendekat membantu namja itu kembali duduk lalu menarik tangan Kyuhyun untuk menchek urat nadinya.
"Tidak sepertinya kita harus istirahat dulu lebih lama, jika tidak lukamu akan kembali berdarah tuan." Hagi melihat wajah Kyuhyun yang pucat bukan hanya dia calon dokter mengapa dia menyuruh Kyuhyun untuk istirahat lebih lama, tapi siapapun yang melihat wajah Kyuhyun sekarang pasti mengatakan hal yang sama.
"Aku tidak apa-apa, aku masih bisa menahannya. Aku harus segera pulang dan mengantarkan surat ini pada kakakku. Ini masalah negara tidak bisa di tunda lagi. Aku bisa di rawat di rumah nanti." Hagi menghela nafas pelan, percuma sepertinya berbicara dengan namja di hadapannya.
Hagi berdiri lalu menatap kejauhan sebuah perkotaan sudah mulai terlihat, jika tidak salah paman Ma bilang sebelum sampai di Hanyang ada sebuah desa yang akan mereka lewati. Sepertinya kota yang di bicarakan Paman Ma sudah dekat. Hagi kembali mendekat lalu duduk menatap Kyuhyun yang masih mengatur nafasnya.
"Baiklah kita tetap jalan sekarang, di depan sudah ada desa kecil yang mungkin memiliki seekor kuda. Kuharap tuan punya uang untuk membeli sebuah kuda." Kyuhyun mengangguk kecil.
"Jangan khawatir aku punya seseorang yang kukenal di desa itu yang bisa aku mintai bantuan." Hagi mengangguk paham lalu mulai membantu Kyuhyun berdiri, di sampingnya paman Ma hanya menatap anak angkatnya kagum, jika Hagi hanyalah seorang budak biasa dia tidak akan seberkharisma ini saat berbicara dengan Kyuhyun, gadis ini seperti gadis berpendidikan yang ia kenal.
Desa yang Hagi lihat ternyata memang sudah dekat, beberapa orang nampak berbisik ketika melihat Hagi dan paman Ma yang memapah Kyuhyun. Tapi sifat Hagi yang memang tidak peduli membuat dia hanya berjalan tanpa memperhatikan.
"Apa rumah kenalan tuan masih jauh?" Hagi menatap Kyuhyun yang sudah banjir keringat, Kyuhyun hanya menggeleng dan menunjuk sebuah rumah yang memiliki halaman cukup besar.
"Abeoji bisakah kau menggendong tuan Kim? Sepertinya sebentar lagi dia pingsan." Paman Ma mengangguk lalu langsung menggendong Kyuhyun mendekat ke arah rumah.
Orang yang pertama kali membukakan pintu memang langsung mengenali Kyuhyun yang sudah tidak sadarkan diri, dengan berlari dan sedikit berteriak pelayan rumah itu memanggil tuan rumah.
"Nyonya besar tuan Kyuhyun datang." Awalnya pemilik rumah nampak senang dengan berita kedatangan Kyuhyun tapi langsung terkejut saat mengetahui keadaannya.
__ADS_1
"Apa yang terjadi padanya? Bawa dia masuk ke kamar Aejong. Dan kau panggilkan tabib Cha kemari." Nyonya pemilik rumah nampak khawatir lalu menunjukkan arah pada paman Ma menuju ke kamar putrinya Aejong. Hagi dan bibi Ma menunggu di luar rumah keduanya terduduk nampak kelelahan.
Tidak berapa lama nyonya rumah kembali ke halaman rumah bersama paman Ma.
"Jelaskan semuanya apa yang terjadi dengan sepupuku itu." Paman Ma menunduk lalu mulai menceritakan kejadian yang terjadi, nyonya rumah nampak shock ketika mendengar penjelasan paman Ma.
"Sekalipun penting aku tetap tidak bisa membiarkannya pergi begitu saja, dia harus istirahat dan di rawat oleh tabib. Kau bilang kau budak mentri Park bukankah begitu?" Nyonya rumah yang ternyata bibi Kyuhyun tidak mengizinkan Kyuhyun pergi sore ini juga.
"Benar nyonya, kebetulan kami juga ingin melaporkan sesuatu pada beliau." Nyonya besar mengangguk kecil.
"Begini saja, surat itu kau yang bawa, antarkan langsung pada Mentri Kim juga surat dariku sebelum kau pergi ke rumah mentri Park. Aku percaya padamu karena aku cukup mengenal mentri Park." Nyonya Ahn bibi Kyuhyun memberikan surat pada paman Ma juga surat yang sedikit terkena darah Kyuhyun untuk di serahkan pada mentri Kim ayah Kyuhyun.
"Saya dan keluarga saya akan berangkat sekarang juga nyonya." Nyonya Ahn mengangguk paham lalu masuk kedalam rumah, beberapa budak dari nyonya Ahn memberikan sedikit bekal untuk makan di jalan juga ungkapan terima kasih karena menolong Kyuhyun dari nyonya Ahn.
***
Hagi, paman dan bibi Ma sampai di Hanyang malam hari, sesuai perintah nyonya Ahn mereka langsung pergi kekediaman mentri Kim. Ketiganya di sambut langsung oleh mentri Kim ketika menyangkut putra keduanya yang hilang tidak ada kabar. Mentri Kim membaca langsung surat yang dikirim adiknya Nyonya Ahn tentang Kyuhyun yang di rawat oleh adiknya.
"Terimakasih kau sudah menolong putraku, negara ini juga berhutang padamu, catatan yang putraku pegang adalah catatan yang harus di ketahui raja." Paman Ma nampak shock tapi tetap diam karena tidak di tanya.
"Tapi pastikan tidak ada siapapun yang tahu tentang hal ini kau mengerti?" Paman Ma menatap mentri Kim sekilas.
"Baik Tuan, saya tidak akan memberitahukan siapapun tentang hal ini." Mentri Kim mengangguk paham dia megeluarkan sekantong uang mungkin berisi 100 nyang dan memberikanya pada paman Ma.
"Terimalah ini hadiah dariku karena menolong putraku, juga sampaikan salamku pada mentri Park." Paman Ma menatap uang di hadapannya ragu.
__ADS_1
"Saya menolong tuan muda karena tuan muda selalu baik pada saya. Saya tidak bisa menerima uang ini tuan." Mentri Kim tersenyum paham, dia tahu betul bagaimana sifat paman Ma.
"Tidak baik menolak kebaikan orang lain." Mentri Kim berusaha memberikan pengertian pada budak di hadapannya. Paman Ma akhirnya mengambil uang yang mentri Kim berikan.
"Terimakasih Tuan." Sekali lagi mentri Kim tersenyum sendu.
"Baiklah kau boleh pergi sekarang." Paman Ma menunduk lalu keluar dari kediaman mentri Kim. Hagi dan bibi Ma masih menunggu di luar rumah ketika seseorang masuk dengan tergesa-gesa.
"Apa yang terjadi dengan adikku?" Seorang namja langsung bertanya pada bibi Ma tanpa sadar Hagi menatap namja itu terkejut.
"O..o..oppa." Hagi nampak shock melihat namja yang kini mendengarkan penjelasan bibi Ma tentang keadaan Kyuhyun. Ketika berniat masuk kedalam rumah, namja itu sempat menatap Hagi heran tapi dengan cepat masuk kedalam rumah.
Beberapa detik kemudian paman Ma sudah ada di hadapan Hagi dan Bibi Ma berniat mengajak mereka melanjutkan perjalanan menuju keluarga Park. Selama di perjalanan Hagi berpikir keras tentang apa yang baru saja ia lihat, rasanya seperti mimpi tapi jelas ini nyata.
"Abeoji boleh aku tahu siapa yang terakhir masuk ke kediaman mentri Kim tadi?" Paman Ma berbalik ketika mendapat pertanyaan dari Hagi lalu tersenyum lembut.
"Dia salah satu pejabat istana yang dekat dengan raja, kakak dari laki-laki yang kemarin kau tolong. Tuan Kim Jong Seo." Hagi membulatkan matanya terkejut, yang benar saja namja tadi adalah Kim Jong Seo.
"Maksudnya jendral Kim Jong Seo?" Paman Ma mengangguk kecil ketika melihat wajah Hagi yang terkejut.
"Dia salah satu orang yang ikut membantu menjaga perbatasan di wilayah utara yang di tunjuk langsung oleh yang mulia raja Sejong." Hagi menelan ludahnya susah, ini semua terasa konyol tapi memang sedang terjadi padanya. Sepertinya pertemuan Hagi dengan paman dan Bibi Ma juga sekenario yang Tuhan buat untuknya. Seperti merangkai sebuah puzzle Hagi mulai mengerti kearah mana Tuhan ingin dia pergi dan sepertinya keputusan untuk mengikuti paman dan bibi Ma adalah keputusan yang tepat.
'Siapa lagi nanti? Sebenarnya apa yang Tuhan inginkan dariku? Aku harus cepat menyelesaikan semua ini dan pulang' Hagi bergumam pelan dalam hati mengingat setiap kejadian yang ia lewati seminggu terakhir ini. Dia hanya ingin menyelesaikan semuanya dan pulang. Tapi bagaimana kalau ternyata dia tidak bisa pulang? Hagi menggelengkan kepalanya kuat-kuat. Tidak dia harus pulang dan entah kenapa dia merasa lebih merindukan keluarganya sekarang apa lagi setelah melihat Kim Jong Seo tadi.
'Yesung oppa... bogoshippo.'
__ADS_1
bersambung