
Mimin menatap mobil mewah itu yang membawa Kak Elsa pergi, tak lama setelah kepergian Kak Elsa. Manda meraih tangan Mimin menuntunnya masuk kembali ke kamar menunggu tugas tugas nya yang sebentar lagi akan datang.
Drett drett drett.
Sebuah pesan masuk ke handphone Mimin dengan cepat Mimin melihat pesan itu, tanpa Mimin sadari senyum nya berkembang di bibir nya, tanpa menunggu lama Mimin langsung balas pesan itu.
Oke, Ujang nanti malam jemput aja. Mimin.
Setelah selesai membalas pesan itu Mimin pun kembali bekerja dengan semangat setidaknya dia punya teman dinegara asing ini.
Malam pun tidak Ujang udah ada dijalan ingin menjemput Mimin, dari sore Mimin sudah dapet izin dari kepala pelayan untuk keluar Mimin memakai jaket tebal sekali karna suasana diluar sangat dingin mobil pun berhenti tepat disamping rumah Tuan Yohan karna pintu gerbang ini khusus area pelayan Tuan Yohan.
"Min, masuk." teriak Ujang dari dalam mobil.
"Diluar dingin yah." ucap Ujang saat Mimin udah ada didalam mobil.
"Ohh iyah Ujang." ucap Mimin sambil memakai sabuk pengaman.
Mobil pun melaju meninggalkan tempat itu diperjalanan Ujang dan Mimin hanya terdiam suasana menjadi canggung.
"Ehhemm." dehhem Ujang membetulkan tempat duduk nya.
"Min, Kamu betah enggak kerja di kediaman Tuan Yohan." tanya Ujang memecah kesunyian.
"Ehhem, aku bingung mau ngomong apa tapi kalo ditanya betah enggk sih aku enggak." ucap Mimin.
Mata Mimin dan Ujang saling bertatapan.
"Kenapa." tanya Ujang setelah beberapa saat diam.
"Aku belum terbiasa dengan suasana nya." ucap Mimin sambil tersenyum secerah mungkin.
Ujang yang melihat Mimin tersenyum seakan menutupi kesedihannya pun meraih tangan Mimin mengenggam tangan Mimin erat sementara tangan satunya lagi fokus menyetir.
__ADS_1
"Min, apa pun yang terjadi jangan pernah merasa sendiri kamu tau aku tentang perasaan ku dan aku juga tau tentang perasaan mu Min, jadi jangan pernah menyembunyikan apa pun, ingat Min aku akan selalu ada untuk mu. untuk masalah kerjaan kamu harus kuat fokus pada tujuan awal mu." ucap Ujang memberi nasehat.
Mimin tersenyum dengan nasehat Ujang dia sekarang sudah berubah menjadi lelaki dewasa padahal dulu waktu masih di rumah Ujang anak nya tengil dan gak pernah serius tapi sekarang dia berubah total.
"Awas loh natap aku seperti itu takut kena magic love ku." ucap Ujang serius.
"Apaan sih jang." ucap Mimin meninju lengan Ujang.
"Hahaha." mereka berdua pun tertawa bebarengan.
Mobil pun berhenti di sebuah cafe hotdog Ujang dan Mimin keluar dari mobil itu mereka langsung ke dalam.
Tak jauh dari mereka duduk ada sorot mata tajam yang mengintai mereka siap melahap mereka hidup hidup.
Ujang pun meraih tangan Mimin membuat mereka berhenti melangkah dan bertatap mata sebentar.
"Ehh maaf." ucap Ujang saat melihat Mimin menatap ke arah tangan nya.
"Eh, Iyah Ujang." ucap Mimin sambil tersenyum.
"Kamu yakin mau makan itu." tanya Ujang untuk menyakinkan.
"Emang kenapa, lagian aku penasaran banget tau sama Jajangmyeon, soalnya nie yah jang aku tuh baru nyampe sini dan belum pernah makan makanan orang korea." ucap Mimin sedikit bercerita.
"Yaudah nanti kalo hari libur lagi kita cari jajanan korea aku tau kok tempat yang banyak jualan makanan khas korea. " ucap Ujang dengan semangat.
"Cool." jawab Mimin sambil mengajungkan jempol.
Tak berapa lama makanan pun datang melihat Jajangmyeon dengan tampilan yang sangat bagus mengugah selera para pencinta Jajangmyeon Mimin pun menelan ludah nya dia sekarang bisa makan sepuasnya makanan ini.
"Ayo dimakan jangan diliatin aja nanti keburu dingin." ucap Ujang saat melihat Mimin yang masih terpaku menatap makanan didepan nya.
"Ohh iyah yah, ehh tunggu aku belum difoto." ucap Mimin langsung mengambil handphone nya di dalam tas kecil nya dengan cekatan Mimin pun memfoto.
__ADS_1
Cekrek, Cekrek.
Beberapa foto sudah cukup pikir Mimin dia pun kembali tersenyum saat melihat hasil fotonya Ujang hanya melihat saja dia sambil tersenyum pada Mimin yang masih fokus pada handphone nya.
Tangan Mimin pun mengambil sumpit dan mencampurkan Jajangmyeon dengan kimchi lalu memasukan ke mulutnya rasanya Asem manis pedas karna berpadu dengan kimchi.
"Enak." tanya Ujang yang melihat Mimin seperti merasai makanan itu.
"Ehmm, gimana yah cara jelasin nya awal tuh kayak eneg gitu tapi masih bisa lah masuk ke mulut." ucap Mimin dengan masih menyuapi Jajangmyeon kemulutnya.
"Bagus kalo suka, jujur awal aku ke sini makanan disini tak sesuai dengan lidah ku paling cuma ttebokki aja soalnya yah cuma itu doang yang ngerasa sesuai dengan lidah ku walaupun pedes." Ucap Ujang sambil mengambil teh hangat yang di pesan nya tadi.
"Terus kenapa Ujang masih bertahan disini padahal setahu Mimin ujang disini udah lama gak ada kepikiran untuk pulang ke Indo." tanya Mimin sambil mengambil air putih hangat.
"Sebenarnya Min, Ujang bingung kalo pulang ke negara sendiri semua sudah dihandel Ujang dan kalo Ujang keluar dari sini Ujang juga masih butuh biaya untuk masa depan Ujang nanti." ucap Ujang.
Mimin pun hanya mengangguk kan kepala dia tau sifat Ujang pekerja keras semua harus ditargetkan kedepannya seperti apa walaupun Mimin gak terlalu suka dengan sikap Ujang yang tergolong cuek.
"Min." tangan Ujang melambai lambai didepan muka Mimin yang sedang melamun.
"Ehh maaf Ujang, Mimin lagi kepikiran sama ucapan Ujang barusan Ujang hebat banget udah ada planning kedepan nya seperti apa sementara Mimin kesini hanya untuk melunasi hutang Orang tua Mimin." ucap Mimin sambil mengaduk Jajangmyeon nya.
"Sudahlah nikmati saja Min, kamu disini juga sudah ada tujuan dan tujuan kamu baik untuk keluarga kamu jadi jangan disesali." ucap Ujang.
"Iyah bener kata kamu Jang." ucap Mimin.
Jam sebelas malam Mimin dan Ujang memutuskan pulang, salju mulai turun menyelimuti kota ini.
Mobil pun sampai disamping gerbang masuk area pembantu, Ujang keluar sebelum Mimin keluar dengan cepat Ujang membuka pintu mobilnya Mimin yang kaget dengan tindakan Ujang tiba tiba itu hanya menurut dan keluar dari dalam mobil itu.
"Pake Min." ucap Ujang sambil menyelimuti tubuh Mimin dengan jaket tebal nya.
"Tapi jang, nanti kamu kedinginan." ucap Mimin hendak melepaskan jaket Ujang tapi tangan nya ditahan Ujang.
__ADS_1
"Min, aku rela kedinginan asal kamu tidak sakit, aku janji Min setelah semua urusan disini selesai aku akan Nikahi kamu jadi tunggu aku dititik itu." ucap Ujang sambil memegang tangan Mimin erat.
Tanpa menunggu jawaban Mimin Ujang langsung memeluk Mimin erat seakan tak ingin melepaskan Mimin, wajah Mimin yang ada didekapan Ujang memerah menahan gejolak hatinya dari dulu Mimin membutuhkan kepastian tentang hubungan nya ini dan malam ini Ujang menyatakan nya di tengah salju yang turun.