
Mentari pagi menyilaukan pandangan mata Yohan dia pun melihat sekeliling saat melihat Mimin masih tertidur pulas di tempat semula Yohan membenarkan rambut Mimin yang mulai menganggu menutupi wajah nya.
Mimin mengeliat karna merasakan sentuhan tangan yang lembut di wajah nya, Saat Mimin bangun Yohan langsung pura pura tidur Mimin menatap sekeliling mengingat saat tersadar dia langsung melihat keadaan Tuan Yohan.
"Syukurlah dia masih tertidur, maaf karna membuat Tuan terluka, tapi saya benar benar menyesal tapi terkadang saya juga benci ketika melihat sikap dulu yang Tuan lakukan pada ku bahkan sama Ibu ku." ucap Mimin bergetar air mata nya sudah turun.
Yohan yang mendengar ucapan Mimin sejujurnya sangat menyesal dengan sikap kasar nya selama ini, tapi Yohan masih pura pura tidur membiarkan Mimin mengeluarkan semua uneg-uneg nya.
"Tuan saya mohon bebas kan saya, saya ingin hidup damai bersama keluarga hamba saya juga tidak ingin ikut terlibat dalam hubungan Tuan dan Nona Nindy, saya ingin Tuan bisa sembuh seperti dulu, dan saya juga akan memaafkan Tuan dan melupakan semuanya permasalahan yang sudah terjadi." ucap Mimin masih mengeluarkan air mata tapi sebisa mungkin untuk tidak membuat Yohan bangun.
Mimin menatap wajah Tuan Yohan dia pun lalu berdiri meninggalkan Tuan Yohan yang masih tertidur, saat Mimin benar-benar sudah tidak ada diruangan nya Yohan bangun dan menatap lekat pintu memikirkan ucapan Mimin tadi.
"Min, kamu mungkin sekarang berfikir aku hanya beban mu saja tapi lihat lah sekarang aku sangat sangat ingin membuat mu bahagia, bisa kah kamu melihat itu tanpa melihat sisi gelap ku." ucap Yohan mengusap kasar rambut nya.
Pintu kamar Tuan Yohan terbuka Joy menatap Tuan nya yang sedang menunduk mengacak rambutnya frustasi.
"Tuan." panggil Joy pelan seakan takut menganggu karna kehadiran nya.
"Awasi Mimin jangan biar kan dia pergi." pinta Yohan lalu kembali terbaring di rumah sakit.
"Baik Tuan." ucap Joy lalu menunduk dan melangkah pergi.
Sementara itu Mimin duduk ditaman menatap matahari yang sudah mulai terbit, pohon pohon di negara ini begitu indah ketika musim gugur sudah mulai datang.
Daun kering jatuh tepat di ujung kaki Mimin dengan senyum Mimin mengambil daun berwarna kuning itu.
Mata Mimin melihat sekeliling suasana yang sangat indah dan nyaman, banyak sekali pengorbanan untuk bisa sampai di sini tapi kini semua itu seperti sirna entah kemana, dan apa yang harus Mimin lakukan untuk hidup nya kedepan.
Apakah dirinya seperti daun bunga ini yang berguguran dan terbang entah kemana, lalu menjadi sampah dimana-mana.
"Mimin." panggil orang dengan jas kemeja dokter.
Mimin menatap orang itu kaget.
"Maaf siapa yah." ucap Mimin berusaha mengingat wajah orang yang ada di depan nya ini.
__ADS_1
"Egi, iyah Egi, ya ampun Egi kamu apa kabar." ucap Mimin sambil berdiri kaget.
"Aku kira kamu bakal lupain aku." ucap Egi dengan raut wajah sedih.
"Enggak, cuma aku pangling aja orang asli Indonesia sekarang udah bener bener mirip kayak Oppa Lee Min ho." ledek Mimin sambil tertawa.
Mereka pun duduk dibangku bekas Mimin tadi Egi menatap Mimin wajah nya memang tidak pernah berubah dari dulu.
"Kamu masih tetep cantik aja." ucap Egi.
"Apaan sih gi." ucap Mimin tersenyum.
"Beneran, oh yah kamu sama Ujang gimana." ucap Egi.
"Entahlah mungkin aku tidak berjodoh dengan nya, lagian aku gak pantes untuk nya." ucap Mimin tertunduk.
Egi menatap lekat wajah Mimin yang seperti ingin menceritakan sesuatu tetapi tidak bisa entah apa yang menahan nya.
"Emang Ujang ngapain kamu, sampai kamu galau begitu." tanya Egi.
"Aku hanya kerja disini berusaha menjadi anak yang berbakti." ucap Egi.
"Ini rumah sakit milik papa kamu Egi." tanya Mimin kaget.
"Ya begitulah, bahkan cita-cita pun sudah diatur dari dulu." ucap Egi.
Mimin menatap Egi yah, kalian harus tau Egi adalah anak orang kaya dikampung ku ibu nya menikah dengan orang korea dan melahirkan Egi, saat masa kecil asik bermain lumpur Egi sudah dijejelin dengan tumpukan buku, benar-benar hidup yang monoton dan papa nya selalu marah jika tau Egi bermain-main saja apalagi bermalas-malasan sudah pasti kena hukum.
"Ohh yah kamu juga ngapain kesini." tanya Egi baru inget.
"Hidup mu masih beruntung Gi, jadi babu dikeluarga mu sementara aku, aku disini jadi babu orang kaya, nyebelin, buat hidup ku hancur yang paling ngeselin dia sekarang banyak mau nya." ucap Mimin.
"Serius loh disini jadi babu, padahal waktu disekolah otak loh gak bebel-bebel amat yah." ucap Egi.
"Hahaha gak lucu." ucap Mimin berdiri.
__ADS_1
Egi pun ikut berdiri dan menatap wajah Mimin lekat mereka saling menatap cukup lama.
"Kalo kamu berubah pikiran kamu bisa lamar kerja dirumah sakit ini, aku selalu ada untuk mu Min." ucap Egi.
Mimin menatap Egi memikirkan ucapan Egi barusan itu, seperti nya bagus.
"Nie, kartu nama dan no ponsel ku, kamu bisa kapan pun meminta tolong pada ku." ucap Egi.
Mimin meraih kartu itu dan sekilas membaca nya sedikit Egi yang melihat sikap Mimin langsung berkata.
"Aku pergi dulu yah sudah ditunggu sama pasien." ucap Egi langsung pergi dari situ meninggalkan Mimin yang masih mematung.
Mimin duduk kembali dan melihat lagi kartu itu dengan mata fokus dan lama, memikirkan apa Tuan Yohan akan mengizinkan nya atau tidak tapi dia tidak berhak atas hidup ku, dia kan bukan suami ku.
"Siapa cowok tadi." ucap suara tepat dibelakang Mimin.
"Tuan." ucap Mimin kaget.
Yohan langsung duduk disamping Mimin dengan wajah yang sangat kesal sekali.
"Berikan." pinta Yohan.
Mimin bingung berikan apa dia pun menatap wajah Yohan yang berusaha menahan kesal di hati nya.
"Selagi aku masih baik berikan lelaki itu akan kehilangan nyawa nya." ucap Yohan penuh dengan ancaman.
"Tuan, Anda tidak berhak atas hidup saya karna anda bukan siapa-siapa saya." ucap Mimin sejujur nya Mimin takut dengan ucapan itu.
Yohan yang tersulut emosi pun meraih tangan Mimin dan memojokan tubuh nya di pagar taman itu dan langsung mencium nya.
Taman pedulikan tatapan orang disekitar nya yang melihat nya Yohan terus mencium Mimin sementara Mimin berusaha untuk melepaskan cengkraman tangan nya dan berusaha sekuat tenaga bernafas.
Melihat Mimin yang kesulitan bernafas Yohan pun langsung melepaskan ciuman nya tapi wajah mereka masih dekat.
"Berikan atau aku akan lakukan hal yang lebih gila lagi." ucap Yohan suara tegas dan sangat menakutkan.
__ADS_1
Tanpa menunggu Mimin memberikan nya Yohan langsung meraih tangan Mimin dan mengambil kertas itu dan pergi meninggalkan Mimin yang masih berusaha membenarkan sikapnya.