
Sementara itu Joy kembali ke kediaman Tuan Yohan dengan tangan kosong karna di bandara tadi tidak mendapatkan Mimin melihat nya pun tidak.
Prangg.
Gelas berjatuhan dilantai mendengar laporan Joy barusan itu, sementara Joy tak berpindah sedikit pun walau tangan nya kena pecahan gelas itu.
"Siapa pun yang bantu dia, aku akan menguliti mereka hidup hidup. Joy cari pelayan yang sudah membantu nya kabur." ucap Yohan.
Joy pun mengangguk dia melihat sekilas Tuan Yohan, sudah seperti biasanya kembali menjadi psikopat mata nya menatap ke ikan yang berenang dengan bebas.
"Tuan." ucap Joy saat melihat Tuan Yohan hendak mengambil pecahan kaca itu.
"Pergi, cari penghianat itu berani sekali dia bermain main dengan ku, siapa pun boneka ku tidak akan pernah aku lepaskan." ucap Yohan wajah nya terlihat dingin sekali.
"Tunggu." ucap Yohan dengan nada dingin.
Langkah Joy pun terhenti dan kembali menuju Tuan Yohan yang seperti tersenyum dengan senyuman menakutkan.
"Bawa Ibu dari perempuan itu kesini." ucap Yohan sambil terus tersenyum menakutkan Joy pun hanya mengangguk dan meninggalkan Tuan nya.
Joy pun menghubungi anak buah nya dengan cepat, tut tut tut ponsel pun berdering dan langsung diangkat.
"Hallo Tuan." ucap Seorang cewek diseberang sana.
"Bawa perempuan tua itu kesini saya tunggu dua puluh menit." ucap Joy lalu mematikan ponselnya.
*****
Beralih ke Elsa di Elsa pun sudah sampai di rumah Ibunya betapa kaget dan terharu ketika melihat anak tunggalnya datang seperti mimpi bagi ibunya Elsa.
"Bu." tangis Elsa pecah sambil berpelukan dengan erat sekali.
"Nak, Ibu kangen. Jangan pergi lagi Nak." ucap Ibunya Elsa, tangis pun tak bisa dibendung lagi mereka menangis berdua bersama sama.
"Ibu tau kan, Elsa hanya izin satu bulan itu pun Elsa dapet keringanan dari majikan Elsa Bu, tunggu Elsa abis kontrak yah bu cuma enam bulan lagi bu Elsa abis kontrak dan nanti Elsa gak diambil." jelas Elsa sambil masih berpelukan dengan erat.
__ADS_1
"Kalo gitu izinkan Ibu ikut Elsa, Ibu disini sendirian." ucap Ibunya Elsa sambil menangis.
"Bu bukannya Elsa tak mau Ibu ikut tapi Ibu tau kan peraturan kerja Elsa demi kebaikan dan keamanan bersama Bu, Elsa janji gak akan lama di Korea hanya sampai Elsa habis Kontrak." jelas Elsa lagi.
Ibunya Elsa pun menatap dan langsung mengangguk, walau sebenarnya perasaannya berkata tidak mau bagaimana lagi sudah takdirnya begini.
*****
Sementara di Mimin, Bu Jasmin menenangkan Mimin menyuruh nya untuk tidak dipikirkan.
"Min, sudah jangan dipikirkan, lebih baik kita berdoa Ibu nya Mimin pasti baik baik saja." ucap Bu Jasmin.
"Bu Jasmin, Mimin takut Ibu disakiti Tuan Yohan." ucap Mimin sambil masih berpelukan.
Bu Jasmin yang mendengar tangisan Mimin pun mengelua bahu Mimin supaya tabah, takdir nya sangat kejam kepadanya.
Dret dret dret.
Sebuah pesan masuk ke handphone Bu Jasmin, mereka pun melepaskan pelukan nya dan Bu Jasmin mengambil melihat Handphone nya.
Mata Bu Jasmin membulat seketika, dan menatap Mimin mereka saling menatap satu sama lain.
"Bu, Ada apa." tanya Mimin yang melihat wajah Bu Jasmin pucat setelah melihat pesan dari Handphone nya.
Dalam keadaan dilema Bu Jasmin menyerahkan Handphone nya ke Mimin yang langsung di terima Mimin saat membaca Pesan itu mata Mimin membulat.
"Bu, antarkan saya ke Kediaman Tuan Yohan." ucap Mimin.
Saat itu Mimin sudah berdiri tapi ditahan oleh Bu Jasmin sambil mengelengkan kepala, mata Mimin sudah berkaca kaca.
"Min, sebaiknya Ibu cari tau dulu apakah Ibu dan Anak Bu Jasmin sudah disandera." ucap Bu Jasmin sambil bergetar suaranya menahan tangis.
"Tapi Bu." ucap Mimin tertahan karna Handphone Bu Jasmin berdering nomer panggilan dari Tuan Yohan mata mereka saling berpandang satu sama lain.
Dengan tangan gemetar Bu Jasmin mengangkat telvon dari Tuan Yohan Mimin yang menyuruh Bu Jasmin di besarin volume nya menurut mereka pun mendengar kan suara jeritan kesakitan, wajah keduanya pucat basi.
__ADS_1
"Hallo, masih ada orang disitu." ucap sebuah suara diseberang sana.
"Tu, Tuan." ucap Bu Jasmin suara nya seperti tercekik susah sekali berbicara.
"Hahaha, berani sekali kamu bermain dibelakang ku, berikan pelayan bodoh itu sebelum anak mu benar benar kehilangan nyawa nya dan untuk kamu, Teman mu sudah tak berkutik lagi entah dia tertidur atau sudah kehilangan nyawa." ucap Yohan dengan datar dan dingin.
Mimin dan Bu Jasmin yang mendengar ucapan dari telvon seberang sana pun hanya terdiam gemetar.
"Pulang lah Sayang, sebelum Ibu dan sahabat mu mati, aku tunggu kalian datang kesini dua puluh menit dari sekarang jika lebih kalian tanggung sendiri akibatnya." ucap Yohan dan langsung mematikan telvon nya itu.
"Min ayo." ucap Bu Jasmin menarik tangan Mimin dan keluar dari apartemen nya menuju parkiran mobilnya sambil tergesa gesa.
Mobil pun melaju dengan sangat cepat sekali, tak butuh waktu lama mobil sudah masuk kekediaman Tuan Yohan disana penjaga yang sudah menunggu pun langsung membuka kan gerbang mobil dan mobil pun berhenti di depan pintu Rumah Tuan Yohan.
"Ampun, Tu Tuan, sakit." ucap sebuah suara rintihan tangis itu terdengar menyakitkan.
"Ibu." ucap Mimin.
Mimin yang mendengar suara yang Mimin kenal itu seperti ibunya, tanpa pikir panjang lagi Mimin langsung berlari menerobos pintu yang tertutup itu dan Bu Jasmin pun sama langsung berlari dibelakang Mimin.
Hari ini, Mimin menulis dengan sangat tajam dihatinya dia akan membenci Yohan seumur hidupnya karna sudah membuat Ibunya terluka begitu parah sekali, bahkan Kak Manda sudah tergeletak entah pingsan atau sudah tidak bernyawa lagi air mata Mimin tak bisa ditahan dia langsung berhambur ke pelukan Ibunya wanita yang sudah melahirkan nya, Kini bersimbah darah ditubuhnya karna cambukan yang diberikan Tuan Yohan.
"Ibu, Bu." ucap Mimin sambil membelai lembut wajah Ibunya yang kesakitan.
Mata Ibu nya Mimin pun membuka dia melihat putri tersayang nya kini sudah ada didepannya.
"Min, kamu kenapa kesini. Pergi Min." ucap Ibunya Mimin sambil menangis.
Sementara Bu Jasmin melihat Putrinya yang sudah tergeletak penuh dengan darah melangkah mendekati tubuhnya.
Mimin melihat Kak Manda yang tak jauh dari Ibunya pun melepaskan Ibunya dulu melihat keadaan Kak Manda.
"Kak bangun, ini Mimin." ucap Mimin sambil suaranya bergetar menahan tangis.
"Kak." tangis Mimin meledak saat mata Kak Manda tak terbuka.
__ADS_1
Sementara itu wajah Yohan hanya datar saja melihat pemandangan didepan nya itu seakan tak terjadi apa pun.