Tobatnya Psikopat Bucin

Tobatnya Psikopat Bucin
Bab 45 Mendadak Meeting.


__ADS_3

Mentari pagi menyinari dunia, dua sepasang yang satu sah, dan yang satu hanya saling menikmati.


Mimin dan Yohan, masih tertidur dikamar villa sambil memeluk Mimin yah sekarang tubuh mereka tidak memakai sehelai pun baju.


Wajah mereka tampak sangat lelah dan masih tertidur dengan lelap.


Berbeda dengan pasangan satu ini, Ujang dan Nindy, memang semalam melakukan hubungan layak nya suami istri.


Tetapi ketika bangun mereka sudah ada dikamar Ujang.


Tapi wajah mereka tidak nampak sedikit pun bahagia hanya merasa terpenuhi keinginan nya.


Ujang pun sudah rapih memakai baju nya sementara Nindy sedang make up.


Ujang pun yang sudah duduk sedari tadi di sofa, menatap layar handphonenya nya.


Melihat jam menunjukan angka sepuluh pagi.


"Aku menerima tawaran mu semalam, tapi dari mana kamu tau keberadaan ku." tanya Ujang pada Nindy.


Nindy yang sedang memakai lipstik pun berhenti.


Dan berbalik menatap Ujang.


Walaupun semalam mereka melakukan hubungan tapi tak ada sedikitpun.


Menandakan wajahnya tersipu malu.


"Salah satu pengawal ku melihat mu, dan aku menyuruhnya untuk selalu mengawasi mu." bohong Nindy.


Yah. Nindy mengetahui keberadaan Ujang dari lelaki yang telah mengandung anak nya ini.


Nindy pun memutuskan untuk mengugurkan kandungan nya sebelum membesar.


Karna percuma saja dirinya mempertahankan janin diperutnya.


Ayah aslinya pun tak menginginkan nya.


Sementara Yohan juga tak menginginkan nya jadi untuk apa dipertahankan.


Ujang menatap Nindy yang melamun.


"Kau yakin tidak berbohong." tanya Ujang.


Sebenarnya ini bukan pertanyaan lebih tepatnya sebuah ancaman untuknya.


Nindy yang mulai sadar dengan kondisinya pun menatap Ujang.


"Untuk apa aku berbohong." ucap Nindy lagi.


Ujang pun berdiri dan melemparkan check di pangkuan Nindy.


Mata Nindy melihat nominal diselembar check itu.


"Makasih atas semalam, jika nanti aku menginginkan nya lagi aku akan menghubungi mu, sekarang pulang lah." ucap Ujang masih berdiri didepan Nindy.


Nindy pun tersenyum, dan mengambil check itu.


"Oke, bebby." ucap Nindy berdiri.


Lalu mengecup pipi Ujang dengan mersa.


Nindy pun keluar dari kamar Ujang.


Sementara Ujang melamun menyusun sebuah rencana.


Matahari mulai ternik Mimin pun baru bangun sementara Yohan sudah rapih mengenakan pakaian formal.

__ADS_1


Melihat Yohan sudah rapih Mimin membuka matanya dengan cepat.


"Sayang kamu mau kemana." tanya Mimin.


Saat kesadaran nya sudah penuh.


Yohan melihat Mimin dari sofa dan tersenyum.


"Sayang, kamu hari ini di villa saja yah nanti pelayan akan mengantarkan makanan kekamar, aku ada meeting mendadak di sekitar sini dan Joy sudah menunggu ditempat meeting." ucap Yohan.


Yohan menjelaskan dengan detail, karna tidak mau membuat Nona manisnya ini ngambek apalagi sampai cemburu.


Seperti waktu itu.


"Dan tidak ada perempuan, jadi sayang gak usah cemburu." ucap Yohan lagi menegaskan.


Bukan kan, perempuan seperti itu saat suami nya pergi bekerja menanyakan disana ada sepesies betina tidak.


Jika ada alamat tidak dapat pintu.


Mimin pun tersenyum malu, mendengar ucapan dari suaminya itu.


"Hati-hati yah." cuma kata itu yang keluar dari mulut Mimin.


Mewakili semua perasaan nya.


Yohan pun bangun karna sudah memakan sandwich sedikit dan susu hangat.


Yohan berjalan mendekati Mimin dan mencium kening Mimin lalu berpamitan.


"Sudah tidur lagi aja." ucap Yohan lagi sebelum benar-benar meninggalkan Mimin.


Mimin pun tersenyum.


Mata Mimin fokus menatap punggung Yohan yang sudah mulai menjauh.


Mimin pun tak melanjutkan tidurnya.


Kini kaki Mimin turun dari ranjang, menuju kamar mandi membersihkan dirinya.


Setengah jam berlalu Mimin keluar dari kamar mandi dengan pakaian santai dan wangi tentunya badan nya terasa segar.


Mimin menatap Ranjang nya yang masih berantakan.


Dengan cekatan Mimin membersihkan nya, setelah selesai Mimin pun keluar dari kamarnya.


Pelayan yang melihat majikan nya bangun pun langsung menghampirinya.


"Nona, sarapan sudah siap." ucap pelayan itu sopan.


Tapi justru Mimin yang merasa canggung diperlukan seperti itu.


Apalagi pelayan itu terlihat lebih tua darinya.


"Kalo tidak ada Tuan Yohan, panggil saya nama saja yah." ucap Mimin sambil menepuk bahu pelayan itu.


Memberikan arti persahabatan.


Pelayan itu sampai terkejut, lalu dengan cepat membetulkan sikap nya, dia tau jika melakukan kesalahan yang sangat fatal bisa hilang nyawa nya.


"Maaf Nona, saya hanya mengikuti perintah." ucap nya lagi sambil menunduk.


Mimin pun menghembuskan nafas nya, ia juga sih jika dirinya diposisi seperti itu.


Pasti akan berkata sama, Mimin pun mengerti.


"Yaudah, aku mau makan dulu." ucap Mimin.

__ADS_1


Tanpa menunggu ucapan dari pelayan itu Mimin melangkah menuju ruang makan.


Disana sudah terhidang banyak sekali makanan.


Sampai Mimin pun berliur karna melihat makanan yang sangat enak-enak terhidang didepan mata.


Karna tadi pagi melewatkan makan dan kini sudah mau setengah hari, membuat perut Mimin bunyi.


Dengan semangat Mimin pun mengambil nasi dan juga lauk nya.


Lalu memakanya, setelah selesai dengan urusan perut nya Mimin pun hendak menyuci bekas makan nya.


Karna audah terbiasa dari kecil ketika habis makan langsung dicuci.


Tapi justru pelayan nya lah yang langsung panik.


mereka pun berhambur menuju ke Mimin sambil berlari.


"Nona saya saja." ucap kedua pelayan itu.


Suara nya tinggi, mereka pun sampai terkejut dengan suaranya sendiri.


Mimin yang sedang membawa piring kotor pun berhenti dan menatap pelayan itu.


Seperti maling ketauan diam saja.


"Maaf Nona." ucap nya lagi.


Mimin yang sadar akan tujuan nya tadi pun langsung melanjutkan lagi.


Sementara kedua pelayan tadi mengikuti Mimin menuju tempat cucian piring.


"Kalian sayang aku kan." tanya Mimin pada dua pelyan itu.


Dua pelayan wanita itu pun saling pandangan dan langsung mengangguk dengan cepat.


Entah benar atau tidak sulapnya ini.


Yang terpenting menjawab.


"Bagus." ucap Mimin dengan senyum.


"Non." ucapnya terhenti saat Mimin menutup mulut pelayan itu menyuruhnya jangan berbicara.


"Hey, kalian tidak mau kan Nona kalian ini. Setruk muda, jadi biarkan dia bergerak, sudah jangan membantah." ucap Mimin.


Mimin pun melanjutkan lagi menyuci piring nya.


Kedua pelayan itu hanya termenung menunggu surat pemenggalan kepalanya nya karna sudah melanggar satu perintah dari Tuan nya.


Sambil melamun kembali wejangan tadi pagi.


"Ingat jangan sampai istri saya melakukan pekerjaan, jika sampai melakukan nya kepala kalian aku penggal, sebagai ganti karna membuat istri ku lelah." ucap Yohan.


Tanpa sadar kedua pelayan itu langsung meraba lehar nya.


Ternyata tadi cuma hayalan. Pelayan.


"Hey, hey, kok malah ngelamun." tegur Mimin.


Saat mendapati pelayan itu berdiri tepat dibelakang nya dengan tatapan kosong.


"Maaf Nona." ucap Pelayan itu menunduk takut.


"Sudah kalian kembali ke tempat kalian, aku tidak berkeniatan keluar villa." ucap Mimin memberi perintah.


"Baik Nona." kedua pelayan itu pun pergi.

__ADS_1


Setelah berbicara.


__ADS_2