
Mimin menatap mentari pagi itu yang begitu cerah dan hangat, suasana yang indah dan tempat yang sejuk.
Tapi tidak dengan hati nya Mimin merasa seperti seekor anak anjing yang sedang dilepas oleh pemiliknya.
"Min." sebuah tepukan lembut di bahu Mimin.
"Ibu." ucap Mimin langsung memeluk Ibu nya dengan erat.
Mereka berdua pun menangis bersama, saat sedang berpelukan sebuah suara tembakan terdengar begitu keras.
Dor.
Mata Mimin dan Ibu nya pun menatap bersamaan, tangan mereka mengenggam dengan erat.
"Min, pergilah biar ibu yang menghalangi mereka." ucap Ibu nya Mimin sambil mendorong Mimin pergi.
"Tidak Bu, sekarang juga kita pergi dari sini bareng bareng." ucap Mimin.
Tanpa berfikir dua kali Mimin pun meraih tangan Ibu nya dan pergi dari situ dengan berlari sekuat tenaga, sayang nya lelaki yang berjas hitam dan ke lima lelaki dibelakang nya melihat Mimin.
Mereka pun langsung mengejar Mimin, nasib sangat sial kaki Mimin tersandung batu dan terjatuh.
Ibu yang melihat Mimin terjatuh pun langsung membangun kan Mimin tapi sebuah tembakan mengenai punggung Ibu nya Mimin dan tembus ke jantung nya hingga berdarah.
Mimin yang melihat Ibu nya tertembak didepan mata nya pun menatap dengan mata berair.
Tubuh Ibu nya Mimin terjatuh ke pelukan Mimin, sambil menahan nafas yang tersengal sengal tangan Ibu nya Mimin meraih wajah nya Mimin dengan lembut menghapus air mata nya.
"Pergi Min, Jangan sampai kamu tertangkap, dan jangan pernah memendam benci pada orang yang menyakiti kita, biar semua nya di balas oleh, oleh." ucap Ibu nya Mimin menangis menahan sakit dijantung nya.
"Ibu bertahan lah, maafin Mimin bu, Ibu." ucap Mimin masih merangkul tubuh Ibu nya dengan erat.
"Min, maaf Ibu tidak bisa menemani mu." tangan Ibu nya Mimin langsung terjatuh lemas.
Mata Mimin membulat menatap mata Ibu nya yang sudah tertidur dengan nyaman.
"Bu, Ibu. Bu jangan tinggalkan Mimin bu." ucap Mimin sambil menangis kencang.
"IBUUUUU." Tangis Mimin meledak.
Drag, drag, drag.
Pria yang tadi mengejar mengejar Mimin pun semakin mendekat, Mimin pun memeluk Ibu nya dengan erat.
Bu, Mimin bersumpah akan membalas kan kematian Ibu. Mimin.
__ADS_1
Mimin menatap pria yang mengejar nya itu kini mereka berdiri mengepung Mimin tapi Mimin sama sekali tidak takut tangan Mimin mengepal dengan erat.
"Bawa wanita itu dan buang yang sudah matinya." ucap lelaki yang berdiri tak jauh dari Mimin.
"Jangan pernah menyentuh jasad Ibu ku, tangan kalian kotor." bentak Mimin.
"Owh, baik jika itu mau mu. Bunuh mereka dan buang jasad nya ke laut, apa keinginan terakhir mu biar aku kabul kan." ucap Lelaki itu
"Keinginan terakhir." ucap Mimin dengan senyum kecut di wajah nya dengan nafas berat Mimin menatap pria itu.
"Siapa yang menyuruh mu membunuh ku." ucap Mimin.
Mimin hanya ingin tau siapa yang menyuruh nya dan ketika dia mati Mimin berjanji arwah nya akan mengentayangi orang yang membunuh nya.
"Kamu mau tau." tanya balik dengan senyum mengerikan.
"Ya, siapa cepat kata kan dan setelah itu bunuh aku." ucap Mimin sambil mengebu gebu menahan amarah nya.
"Tuan mu, siapa lagi kalo bukan Tuan Yohan yang menyuruh ku, sekarang waktunya kamu menyusul ibu mu." ucap nya dengan santai
dan langsung menembak tubuh Mimin.
Dor.
Mata Mimin mulai lelah dia pun berusaha meraih tangan Ibu nya dengan sekuat tenaga tapi tubuh nya begitu lelah dan Mimin pun terlelap.
"Buang mereka jangan sampai tertinggal jejak sedikit pun." ucap nya pada ke lima bawahan nya.
Setelah membawa tubuh Mimin dan Ibunya ke mobil, pria itu masuk ke mobil nya dan pergi dari situ dengan bersiul seakan hari ini menyenangkan.
Dret, dret, dret.
Sebuah panggilan dengan nama My honey.
"Iyah honey." ucap Pria itu.
suara diseberang sana bertanya dengan nada manja.
"Honey, sudah membunuh mereka." tanya nya.
"Ya, dan jasad mereka sudah dibuang ke laut." ucapnya dengan senyuman.
Senyum perempuan itu mengembang dengan indah, dan tangan nya menyentuh gelas anggur yang ada di meja.
"Honey, aku menunggu pulang dan aku juga memasak kesukaan mu, kemarilah Honey.
__ADS_1
"Iyah honey, nanti malam aku akan datang." ucap nya.
Telepon pun di mati kan.
********
Sementara itu Joy menerima telvon dari anak buah nya yang mengatakan Mimin dan Ibunya sudah tidak ada di rumah itu.
"Tuan." ucap Joy.
"Kamu kenapa." tanya Yohan yang melihat wajah Joy tampak khawatir.
"Maaf Tuan, saya kehilangan jejak mereka." ucap Joy dengan wajah tertunduk bersalah karna tidak menjalankan perintah nya dengan baik.
"Berani nya kamu gagal dalam tugas mu ini." bentak Yohan dan langsung melempar Joy dengan gelas hingga mengenai bahu Joy.
"Maaf Tuan, saya janji akan mencari nya dengan tangan saya sendiri." ucap Joy masih berdiri tegak sementara bahunya mengeluarkan darah.
Yohan pun menghembuskan nafas nya kasar dia pun terdiam dan menatap bahu Joy yang terluka.
"Obati dulu luka mu, setelah itu cari keberadaan nya aku tak mau tau, dalam dua hari kamu tidak membawa Mimin nyawa mu jadi taruhan nya." ucap Yohan menatap Joy dengan wajah menyeramkan.
"Makasih Tuan, saya janji akan menyelesaikan tugas ini dengan tepat waktu tanpa ada sedikit pun kesalahan." ucap Joy mantap seperti anak TK ketika disuruh ujian oleh guru nya hanya patuh dan mengerjakan.
"Bagus, sekarang kamu boleh pergi." ucap Yohan.
"Baik Tuan, saya permisi dulu." ucap Joy.
Joy pun melangkah keluar dari kamar Tuan Yohan dengan berusaha tidak merasakan sakit di bahu nya.
Joy keluar dari rumah Tuan Yohan dan menuju mobil nya tanpa memperdulikan luka nya Joy langsung menelvon anak buah nya.
"Halo." ucap Joy.
"Iyah Tuan." jawab nya.
"Kirim lokasi terakhir Mimin dan kamu fokus nyari jejak yang masih tertinggal, saya akan kesitu." ucap Joy dan langsung memutuskan telvon nya.
Sambil menunggu pesan Joy menatap penjaga di gerbang seperti asing saat Joy akan membuka pintu mobil sebuah pesan masuk di handphone nya.
Dengan cepat Joy membuka pesan itu tanpa lama lama Joy langsung menghidupkan mobil nya dan keluar dari rumah Tuan Yohan menuju lokasi yang diterima nya.
Saat akan melewati gerbang itu, Joy melihat tiga penjaga gerbang menunduk kepada mobil Joy, mata Joy menatap pria itu dengan tajam.
Mobil Joy pun berhenti di depan pria penjaga itu dengan cepat Joy langsung keluar dari dalam mobil menghampiri penjaga itu dengan wajah tenang.
__ADS_1