Tobatnya Psikopat Bucin

Tobatnya Psikopat Bucin
Bab 19 Perubahan Kecil.


__ADS_3

Yohan pun bangun dari duduk nya melangkah keluar menuju mobil yang sudah disiapkan oleh Joy.


Mobil pun melaju dengan kecepatan sedang Joy melihat Tuan Yohan wajah nya benar benar pucat sekali.


"Joy fokus nyetir." ucap Yohan.


"Tuan." ucap Joy.


Padahal mata Yohan terpejam tapi Yohan tau Joy sedang memperhatikan nya, tanpa ada jawaban dari Yohan, Joy pun kembali fokus menyetir.


Elbrat sudah lama aku tidak bermimpi bertemu dengan mu tapi kenapa kamu datang ke mimpi ku dan mengatakan seperti itu, apa aku tidak bahagia hingga kamu datang mencemaskan ku, entahlah tapi yang pasti aku sangat senang bisa melihat mu lagi Elbrat. Yohan.


Tuan, berhenti menyalakan diri sendiri. Tuan Elbrat sudah tenang disana sekarang Tuan fokus saja pada hidup Tuan. Joy.


Mobil pun melaju ditengah ke gelapkan tiba tiba salju turun, dan mobil pun sampai dipemakaman Elbrat, sebelum Joy membuka kan pintu mobilnya Yohan turu terlebih dahulu tanpa rasa takut Yohan langsung menangis didepan pusaran Elbrat.


Inilah sosok sejati Yohan, walau pun Yohan terlihat menakutkan ketika marah tapi dia juga begitu rapuh ketika ingatan kelam nya datang menghampiri nya.


"Tuan." sebuah tepukan di bahu nya membuyarkan tangisan nya.


"Joy." ucap Yohan sambil berdiri dia melangkah sempoyongan.


Joy yang melihat pun langsung mengandeng Tuan Yohan dan memapahnya ke mobil, mobil pun melaju meninggalkan pemakaman saat itu salju turun begitu lebat nya.


*****


Jam Tiga pagi Tuan Yohan sampai dirumahnya saat Joy ingin membantu Tuan Yohan tapi Tuan Yohan menyuruhnya pergi langkah kakinya sempoyongan menaiki tangga padahal sudah disediakan lif tapi Tuan Yohan menuju kamar nya melewati tangga.


Crelekk.


Pintu kamar Tuan Yohan terbuka Mimin yang sedang tertidur pun tidak menyadari kedatangan Tuan Yohan, Yohan yang melihat Mimin tertidur ditempat tidurnya pun melangkah mendekati Mimin.


Karna gelap hanya penerangan dari lampu tidurnya Yohan dapat melihat wajah tenang Mimin tidur, tiba tiba tangan nya mengelus pucuk kepala Mimin, tak berapa lama Yohan menyadari tingkah nya dengan cepat menjauhkan tangan nya.


Bodoh, dasar tangan bodoh, ngapain kamu nyentuh dia tanpa seizin ku. Yohan.

__ADS_1


Tapi Yohan tak menghiraukan ucapan dihatinya dia malah tersenyum lebar melihat wajah tenang Mimin yang tertidur sangat pulas nya.


"Dingin." ucap Yohan.


Tanpa berfikir panjang lagi Yohan pun langsung tidur disamping Mimin memeluk nya dengan erat.


"Aww." Ucap Mimin terbangun karna lukanya tersenggol.


"Tu,Tuan." ucap Mimin yang menyadari disamping nya ada Tuan Yohan. tapi mata nya terpejam.


Mimin pun berfikir, dan langsung memindahkan tangan Tuan Yohan yang memeluk dirinya dengan lembut.


"Tidur lah, dua hari lagi kita akan menikah." ucap Yohan sambil mata masih terpejam.


"Tuan." ucapan Mimin terhenti.


"Tidur, sebelum aku memakai kekerasan." ucap Yohan kali ini mata nya terbuka.


Mimin yang sudah dapat ancaman seperti itu pun hanya bisa menuruti, dengan perlahan Min kembali tidur sementara Yohan kembali memeluk Mimin.


******


Keesokan harinya mata Mimin masih juga belum tidur karna semalaman Tuan Yohan selalu memeluk nya, karna belum terbiasa Mimin pun jadi susah tidur, mata Mimin menjelajahi ruangan itu mencari jam.


Hufff, Jam sudah menunjukan sepuluh lebih hampir mau siang Tuan Yohan belum bangun juga sih, badan udah pegal karna semalam tidak pindah posisi, kapan kamu bangun wahai iblis. Mimin.


"huaammm." Tuan Yohan mengeliat mengumpulkan nyawa nya yang baru bangun dari tidur nya.


Mimin yang melihat Tuan Yohan bangun pura pura masih tidur, Yohan pun melihat Mimin yang masih tidur hanya tersenyum, dan bangun menuju kamar mandi hendak mandi.


Mimin yang melihat Tuan Yohan mandi pun bangun dari tidurnya dan membersihkan tempat tidurnya setelah selesai Mimin duduk disofa menunggu Tuan Yohan selesai mandi.


Karna semalam Mimin gak tidur mata nya mulai mengantuk, untuk mengalihkan mata nya Mimin menatap pintu kamar mandi siapa tau Tuan Yohan bentar lagi sudah selesai mandinya.


Satu dua tiga empat, Mimin sudah tidak tahan lagi akhirnya Mimin pun tertidur di sofa dengan nyenyak nya, selang tak berapa lama Mimin tertidur Yohan selesai mandinya langsung menuju ruangan bajunya setelah selesai Yohan pun keluar mendapati Mimin yang tertidur begitu nyenyak nya.

__ADS_1


Yohan menatap Mimin sebentar lalu keluar dari kamarnya menuju ruangan kerja nya disana Joy sudah ada.


Yohan pun duduk dikursinya dan menatap Joy yang berdiri tegap dihadapan nya, seperti memikirkan sesuatu tapi Yohan pun langsung berbicara.


"Joy, siapkan gedung pernikahan yang mewah dan elegan, pastikan semuannya diundang termasuk Nindy, dan." ucapan Tuan Yohan terhenti sementara Joy hanya menunggu kata kata dari Tuan nya selanjutnya.


"Cari tau dimana keberadaan Likoy sekarang, aku ingin membalas kan dendam yang dulu." Yohan sambil meremas tangan nya.


"Baik Tuan." ucap Joy.


"Tuan lebih baik makan dulu." ucap Joy karna Yohan jarang sekali makan pagi.


"Aku tidak berselera." ucap Yohan hendak bangkit dia ingat kembali tujuan nya kesini.


"Oh iyah Joy, belikan semua keperluan untuk Mimin dan nanti ditaroh dikamar ku." ucap Yohan.


"Tuan Yakin." tanya Joy sekali lagi.


Karna selama ini Tuan Yohan tidak pernah membawa barang satu pun orang asing ke kamar nya sewaktu pacaran dengan Nindy Tuan Yohan hanya menyuruh nya ke ruang tamu tidak pernah mengizinkan nya masuk tapi ini seorang pelayan bahkan di kasih fasilitas lebih.


"Lakukan aja apa yang aku perintah kan." ucap Yohan bangun dari duduknya.


"Baik Tuan." ucap Joy mengekor mengikuti Tuan Yohan yang menuju ke meja makan.


Sesampainya disana Yohan melihat ke atas ke kamar nya memikirkan Mimin sekilas kasian pasti dia belum makan itu yang dipikirkan Tuan Yohan sekarang.


"Joy panggil Mimin, suruh dia kesini." ucap Yohan.


"Baik Tuan." ucap Joy.


Joy pun sebelum melangkah ke kamar Tuan Yohan sekilas menatap Tuan Yohan hari ini Tuan Yohan peduli dengan orang lain biasanya Tuan Yohan sama sekali tak peduli kan orang ini.


Joy pun melangkah meninggalkan Tuan Yohan menuju kamar Tuan Yohan, sebelum sampai di kamar Tuan Yohan, Joy menulis kan dibuku kecil nya mencatat sikap Tuan Yohan yang berubah dan selembar lagi untuk Tugas yang diberikan Tuan Yohan supaya tidak lupa.


Setelah selesai mencatat Joy pun kembali melangkah menuju kamar Tuan Yohan, Kini Joy berdiri di depan pintu Tuan Yohan saat tangan nya ingin membuka.

__ADS_1


Ahh mulai sekarang aku harus bersikap sopan pada Mimin, seperti nya Tuan Yohan mulai menyukainya. Joy.


__ADS_2