Tobatnya Psikopat Bucin

Tobatnya Psikopat Bucin
Bab 41 Merajut Kembali


__ADS_3

"Aku merindukanmu." ucap Mimin disela sela tangis nya.


Yah sekarang tubuh mereka masih berpelukan dengan erat menahan rindu yang terpendam.


"Aku juga, sangat sangat merindukan mu." ucap Yohan.


Yohan pun mencium pucuk kepala Mimin yang membenam kan wajah nya di pelukan nya.


Gila, apa yang aku katakan. aku benar-benar sudah gila, mulut ku ini bahkan mengucapkan kata-kata terkutuk itu dihadapan nya. Mimin.


Setelah membetulkan sikapnya Mimin pun melepaskan pelukan nya, Mimin mengapus air mata nya dan menatap canggung pria didepannya ini.


Cup.


Yohan mengecup pipi Mimin karna terlihat gemas sekali wajahnya.


Tapi justru Mimin yang malu, Mimin pun mengalihkan wajahnya berusaha menutupi wajah nya yang memerah menahan malu.


"I love you, Honey." ucap Yohan.


Mimin pun menutup wajah nya benar-benar memalukan.


"Kok gak dijawab." ucapnya lagi.


Dengan malu-malu Mimin mengatakan kata itu.


"Ehmm, I love you to Mr nyebelin." ucap Mimin lalu berlari pergi menuju balkon.


Yohan yang melihat tingkah Mimin yang malu-malu pun mengikutinya.


"Ya Tuhan, apa yang aku katakan." ucap Mimin berusaha menenangkan hatinya yang masih dag dig dug seerr.


Yohan yang melihat Mimin dari jauh pun tersenyum.


Matahari sudah mulai nampak.


"Sayang sarapan yuk." ajak Yohan.


Mimin yang mendengar ucapan Yohan pun melihat kebelakang.


Liat, hey liat dia keren banget, aku cemburu pada matahari yang menyentuh kulit putih mu itu. Mimin.


"Sayang kok ngelamun sih." ucap Yohan yang mulai melangkah mendekati Mimin.


"Maaf." ucap Mimin canggung.


Yohan yang melihat tubuh Mimin gugup pun tersenyum.


Cup. cup. cup.


Yohan mencium pipi Mimin dan mendarat kan nya di bibir.


Tanpa sadar Mimin membalas ciuman itu Mimin pun memeluk Yohan kini mereka berciuman diatas balkon dengan cuaca yang mulai terbit.

__ADS_1


Cinta memang bisa membuta kan segalanya, bisa menghadirkan luka untuk orang yang dicintai, bahkan cinta juga menyembuhkan luka dengan cara tersweet.


Semenjak hari itu Yohan dan Mimin terbucin-bucin.


Seperti hal nya sekarang.


Karna sudah saling menyatakan perasaan nya masing-masing, kini mereka akan mengubur masa lalu itu dan membuka lembaran baru.


Dua ingsan didalam mobil yang tampak kelelahan karna seharian ini mereka jalan-jalan.


"Sayang, sudah hentikan geli." ucap Mimin saat Yohan masih menciumi wajah nya dengan gemas.


"Habisnya kamu bikin gemas mulu." ucap nya lagi.


Yohan pun menghentikan aksinya itu dan merapihkan rambut Mimin.


"Sayang aku mau makan es cream." ucap Mimin saat melihat Yohan menyala kan mobilnya.


"Es Cream." ucap Yohan mengulangi ucapan Mimin.


"Ehmm." ucap Mimin menatap wajah Yohan.


"Sayang makan yang lainya aja yah, liat diluar sedang turun salju. bagaimana kalo Coffe." ucap Yohan menatap wanita yang sangat dicintai nya itu.


Mimin sedikit berfikir, tapi kemudian dia mengangguk sambil tersenyum dengan cerah.


"Oke." ucap Mimin.


Yohan pun kembali mengelus kepala Mimin dengan lembut.


Yohan memang tidak menyuruh Joy untuk mengikuti nya karna Yohan ingin menghabiskan waktunya bersama Mimin tanpa ada orang yang menonton nya.


Joy pun sekarang sibuk bekerja, karna Tuan nya melimpah kan semua pekerjaan nya didirinya.


Ingatan Joy pun melayang saat dirinya ditugaskan oleh Tuan Yohan.


Di Ruangan kerja Tuan Yohan , Joy berdiri menunggu kedatangan Tuan nya.


Pintu pun terbuka Yohan masuk, karna habis menelvon sang istri tercinta.


"Joy." panggil Yohan.


Joy menatap Tuan nya dan mengangguk.


"Aku percaya kan semua urusan perusahaan kepadamu, karna tahun ini aku bakal menikmati hidup ku, dua bulan lagi aku juga akan berkunjung ke negara kelahiran istri ku, jika ada masalah yang tidak bisa kamu selesaikan jangan ragu-ragu untuk menghubungi ku, jangan buat aku kecewa dengan kinerja mu." ucap Yohan sambil menepuk bahu Joy.


Joy terdiam.


"Baik Tuan, saya akan melakukan tugas dari Tuan tanpa membuat Tuan kecewa." ucap Joy.


"Bagus, sekarang kembali lah ke ruangan mu." ucap Yohan.


"Baik Tuan, permisi." ucap nya menunduk dan melangkah keluar dari ruangan Presdir.

__ADS_1


Joy pun masuk ke ruangannya.


Dan duduk dikursi nya, menatap tumpukan berkas dimejanya.


"Tuan, aku harap Tuan selalu bahagia." ucap Joy lalu duduk meneruskan kembali pekerjaan nya.


Tok tok tok.


Ketukan dari pintu kamar nya mengkagetkan lamunan nya.


Joy pun melangkah kepintu dan langsung membuka kan pintu.


"Mau apa kamu kesini, dan siapa yang berani menyuruh nya masuk." teriak Joy tinggi.


"Aku yang menerobos masuk." ucap Nindy.


Tanpa sedikit pun kata-kata Joy langsung menarik tangan Nindy dan mendorong nya keluar dari kediaman nya.


"Saya menghormati anda karna bagaimana pun anda pernah menjadi wanita spesial Tuan ku, tapi jika anda melanggar batas anda saya tidak segan-segan untuk memakai kekerasan." ucap Joy ucapanya penuh penekanan.


Nindy memang sebenarnya agak takut datang kediaman harimau tapi karna sudah dua Minggu lebih dirinya tidak melihat Yohan walau sejujur nya dirinya tak pantas untuk Yohan tapi Nindy masih punya kesempatan untuk berteman kan.


"Joy, maaf aku datang kediaman mu, karna aku ingin minta maaf dengan tulus pada Tuan mu, beritau aku dimana dia sekarang." ucap Nindy wajah nya sudah sangat memelas.


"Cihh." dengus Joy tau dengan otak liciknya itu.


"Saya janji tidak akan melukai wanita itu tapi beritau aku dimana keberadaan nya, aku sangat merindukan Yohan." ucap Nindy disela-sela tangisnya.


Joy menatap Nindy dengan jijik.


"Jika saya tau kalian masih membiarkan wanita itu masuk kedalam, aku jamin kaki kalian sudah tidak ada ditempat nya." ucap Joy.


Sebuah perintah sekaligus ancaman untuk penjaga dikediaman nya.


"Lepas, Joy bantu aku bertemu dengan Yohan." teriak Nindy saat kedua pengawal menyeret nya keluar.


Joy menatap Nindy sebentar lalu kembali masuk kedalam rumahnya.


Untuk apa memberitau benalu, jika Tuan Yohan saja tidak menginginkan kehadiran nya. Joy.


Nindy yang sudah didepan gerbang rumah Joy pun mengepalkan tangan nya kuat.


"Akan aku balas semua perlakuan mu ini, dasar mahluk jelek." ucap Nindy berteriak kencang.


"Hey wanita gila, berisik, pergi kau dari disini." ucap Satpam yang didalam rumah Joy.


"Apa kau bilang gila, dengarnya setelah aku kembali lagi dengan Tuan Yohan yang pertama kali akan aku penggal kepala nya itu KAMU." ucap Nindy.


Nindy pun pergi dengan amarah yang meluap-luap dia bahkan tak menjawab lagi cibiran satpam yang ada di rumahnya Joy.


"Dasar wanita gila." teriak satpam mencibir Nindy.


"Sudahlah, ayo kembali lagi bertugas nanti Tuan Joy marah." ucap satu satpam lagi.

__ADS_1


Mereka pun kembali ke tempat kerja nya sambil mencerita kan wanita gila barusan itu.


__ADS_2