Tobatnya Psikopat Bucin

Tobatnya Psikopat Bucin
Bab 17 Bersikap lah Tenang dalam keadaan apa pun.!


__ADS_3

Siapa yang akan bahagia melihat teman rantau, Ibu sendiri terluka seperti ini ditambah dirinya sudah tidak suci lagi, Mimin akan selalu mengingat hari ini dan akan membalaskan semuanya mata Mimin menatap lelaki yang sedang duduk tenang tak jauh darinya.


"Tuan, tolong obati mereka Tuan." ucap Mimin saat mata mereka beradu.


Yohan yang mendengar ucapan dari Mimin pun berdiri dari duduk nya melangkah mendekati Mimin.


"Obati, huh. kau fikir aku bodoh." ucap Tuan Yohan dingin.


"Tanda tangani surat perjanjian itu baru aku akan obati mereka termasuk Ibu mu." ucap Yohan dingin dan melemparkan selembar kertas pada Mimin.


Mimin meraih kertas itu dan membaca nya sementara Ibu Mimin dia mengeleng pada Mimin untuk jangan mengikuti kemauan nya.


"Kenapa diam, kamu mau teman mu dan ibu mu mati, kalo terus mengulur kan waktu." ucap Yohan dengan senyum licik nya.


Itulah wujud Iblis yang sebenarnya, Kau dan Tuan mu akan mendapatkan karma yang setimpal karna sudah memandang rendah orang lain. Mimin.


Tanpa pikir panjang lagi Mimin pun langsung mengambil pulpen dan menanda tangani dengan cepat walau wajah nya pucat basi dan air matanya terus mengalir.


Karna pelayan bodoh itu perjaka ku hilang, setidaknya aku bisa menahan nya dulu, setelah itu aku akan buat kamu menderita. Yohan.


Karna melihat Orang yang disayang menderita seperti menahan rasa sakit Mimin pun langsung menanda tangani surat perjanjian itu.


"Joy bawa dokter terbaik untuk mengobati mereka, dan kamu ikut saya ke kamar." ucap Yohan menuding Mimin.


"Tapi Tuan, saya mau menemani Ibu saya." ucap Mimin sambil menangis.


"Hari ini dan seterusnya kamu dilarang berkomunikasi dengan yang lainya termasuk Ibu kamu, dan buat kalian yang berani menolong pelayan bodoh ini untuk kabur lagi nasib kalian akan lebih parah dari dia." bentak Yohan pada pelayan yang berbaris di depan nya.


Sementara Mimin gemetar mendengar ancaman Tuan Yohan, nasib buruk selalu saja menimpa nya.


Setelah mengatakan itu Yohan langsung menarik Mimin dengan kasar semua orang menatap kepergian Tuan Yohan dengan senang tapi berbeda dengan Bu Jasmin dan pelayan yang mengenal Mimin mereka sangat mengkhawatirkan keadaan Mimin.

__ADS_1


******


Mereka berdua pun sampai dikamar Yohan langsung melemparkan Mimin sampai jatuh ke lantai siku nya terbentur lantai walau tidak berdarah tapi sikunya sudah mulai memar.


"Berani sekali kamu kabur dari sini." ucap Yohan sambil mencengkram pipi Mimin hanya air mata yang bisa Mimin keluarkan.


Yohan pun langsung melepaskan sabuk nya dari celananya sementara Mimin menatap takut sabuk itu.


"Tuan, saya minta maaf saya tidak akan kabur lagi, tapi tolong jangan sakiti saya." ucap Mimin mata nya menatap sabuk yang dipegang Yohan.


"Hahahaha, coba minta maaf yang benar." ucap Yohan sambil duduk disofa.


Mimin pun merangkak mendekati Tuan Yohan tapi sebelum itu Yohan mencambuk nya dengan sabuk nya.


"Aaah." ucap Mimin menjerit kesakitan.


"Saya suka melihat orang kesakitan." ucap Yohan dengan wajah menakutkan.


Kamu harus kuat Min, minta maaf supaya Tuan Yohan tidak marah. Mimin.


Tapi lagi lagi dan lagi Tuan Yohan mencambuk Mimin hingga pakaian nya sobek tapi mata Yohan tak sedikit pun menyiratkan rasa kasian jiwa psikopat nya selalu seperti ini jika dirinya mulai kesal hanya melihat orang terluka menderita kesal Yohan pun seakan memudar dengan sendiri nya.


Mimin memuntahkan cairan darah kental saat terakhir Yohan mencambuknya, Yohan pun melangkah mendekati pelayan bodoh itu dan langsung mencengkeram pipinya mata Mimin sudah mulai lelah.


"Sekali lagi kamu kabur dari sini aku jamin kamu akan mendapatkan lebih parah dari ini, Masuk." ucap Yohan sambil melepaskan tangan nya dari wajah Mimin.


Pintu kamar Yohan pun terbuka disana sudah ada Joy dan seorang perawat karna Joy tau akan terjadi apa dengan Mimin.


"Obati dia kalo tidak mau kuliti lukanya." ucap Yohan pada Joy sementara dirinya langsung melangkah pergi dari situ.


Joy melangkah mendekati Mimin yang sudah tak berdaya tergeletak dilantai dengan keadaan memprihatinkan, tangan Joy menyuruh perawat itu mengobatinya sementara Joy membawa Mimin ke ranjang.

__ADS_1


"Tuan, bagaimana keadaan Ibu saya." ucap Mimin saat Joy akan pergi, Mimin menahan tangan Joy.


"Sebaiknya kamu mikirin diri kamu sendiri, kalo untuk keadaan Ibu mu mereka sudah diobati dan pasti akan membaik." ucap Joy datar dan dingin.


"Makasih Tuan." ucap Mimin sambil menunduk.


"Kalo boleh aku kasih saran. cukup patuh saja apa yang dikatakan Tuan Yohan, karna itu jauh lebih baik ketika kamu membantah." ucap Joy sementara Mimin hanya terdiam menatap kepergian Joy.


Bagaimana aku bisa patuh sementara lelaki Iblis itu melukai Ibu mu bahkan tega menodai kesucian ku. Mimin.


Setelah kepergian Joy, Perawat itu meminta izin kepada Mimin untuk mengobati lukanya walau luka ditubuh nya cukup sakit tapi Mimin tak merasakan apa pun, dirinya ingin sekali melihat Ibunya bagaimana tidak jika kamu diposisi Mimin apa yang akan kamu lakukan melihat Ibunya terluka parah seperti itu dan dirinya tidak ada disamping nya hanya air mata yang bisa Mimin lakukan.


"Nona apakah sakit." tanya perawat itu saat melihat Mimin memejam kan mata nya sambil menangis.


Mimin hanya mengeleng kan kepalanya dia ingin sekali berteriak meminta tolong pada aparat kepolisian tapi ancaman dari lelaki Iblis itu membuat nya takut dan pastinya hukum bisa dibeli sungguh miris sekali nasib orang tidak punya.


"Ini." Perawat itu memberikan permen lollipop berbentuk hati pada Mimin.


Mata Mimin menatap perawat itu sungguh cantik sekali, beruntung banget hidup nya sementara dirinya sendiri sungguh tidak seberuntung perawat itu.


"Makasih." ucap Mimin menerima permen lollipop itu dengan tangan gemetar.


Perawat itu hanya tersenyum menanggapi ucapan Mimin dan melanjutkan kembali mengobati luka nya Mimin dengan serius.


****


Joy melangkah menuju ruang kerja Tuan Yohan, disana Tuan Yohan sudah tertidur dengan sangat nyaman nya Joy pun mengambil selimut dan menyelimuti tubuh Tuan Yohan.


Tuan semoga suatu saat Tuan mendapatkan kebahagiaan, dan semoga suatu saat Tuan bisa tersenyum tanpa beban. Joy.


Tanpa Joy sadari air mata nya terjatuh, dengan cepat Joy mengapus air mata nya menatap keatas.

__ADS_1


Semua hanya melihat sisi buruknya Tuan Yohan saja tanpa mereka sadari sebenarnya Tuan Yohan mempunyai sifat hangat dibalik sikap psikopat nya itu.


Joy pun melangkah duduk tak jauh dari ranjang Tuan Yohan, dan menatap Tuan Yohan yang sedang tertidur pulas, karna Ac yang sejuk membuat mata Joy mengantuk akhirnya Joy pun memejamkan mata, dan mereka tertidur sangat pulas sekali.


__ADS_2