
Brukkk.
Pintu rumah sakit terbuka dengan sangat kencang Yohan berdiri sambil berusaha mengatur nafas nya, Mimin yang masih menangis pun kaget dan menatap wajah Yohan dengan mata sembab.
Yohan berlari dan langsung memeluk tubuh Mimin dengan erat, dan mencium kepala Mimin.
"Maaf, maaf, maaf kan aku Min." ucap Yohan masih memeluk tubuh Mimin sambil berulang kali mengatakan itu pada nya.
Mimin masih menangis sesenggukan dipelukan Yohan, entah kenapa pelukan dari orang yang dibenci nya itu membuat dirinya tenang dan nyaman.
Yohan masih mengelus kepala Mimin dan Mimin pun merasa lelah dia memejamkan mata nya sementara Yohan masih diposisi yang sama memeluk erat tubuh Mimin.
Sudah setengah jam berlalu mereka posisi nya masih sama, Mimin masih terlelap di pelukan Yohan sementara Yohan menahan kram karna berusaha tidak bergerak supaya Mimin tetap terlelap nyaman tidur di pelukan nya.
Tangan Yohan yang satu nya lagi berusaha merapihkan rambut Mimin yang terurai menutupi sebagaian wajah nya.
Senyum Yohan mengembang melihat wajah pulas Mimin, entah kenapa melihat wajah nya terlelap begitu tenang dan nyaman membuat Yohan merasa senang.
Apa yang kamu lakukan pada diri ku Min, aku begitu tergila gila dengan mu. Yohan.
Mata Yohan pun mulai lelah dia dengan lembut membaringkan tubuh Mimin dan tubuhnya juga sambil masih memeluk Mimin dengan erat, kini posisi mereka berpelukan di atas ranjang rumah sakit yang sempit itu.
"Ehmm." Mimin mengeliat membenarkan posisinya.
Tunggu, ini tangan nya siapa. Mimin.
Dengan mata yang masih ngantuk Mimin berusaha melihat tangan itu betapa kaget sekali ketika melihat orang yang dibenci nya memeluk dirinya dengan erat.
"Astaga." ucap Mimin langsung dengan cepat melepaskan pelukan nya.
"Kenapa Min." tanya Yohan kaget, karna baru sebentar tidur nya.
"Ngapain kamu disini, dan kenapa kamu tidur disini." bentak Mimin tak bisa menyembunyikan rasa terkejut nya.
"Kamu gak sadar, tidur dipelukan ku." ucap Yohan dengan santai.
__ADS_1
Mata Mimin membulat mendengar ucapan Yohan itu dan menatap Yohan dengan wajah menyeramkan.
"Astaga jadi yang barusan aku peluk itu Monster, Mimin kira boneka Boboiboy." ucap Mimin.
"Kamu lama lama, bikin gemes yah." ucap Yohan dengan senyum di wajah nya.
Mimin terdiam.
Dia kenapa sih, bukannya tadi aku mengatai nya tapi kenapa tak terlihat tanda tanda marah sih. Mimin.
"Hey, helloo." panggil Yohan.
Tangan nya bergerak gerak didepan muka Mimin, yang terlihat sedang bengong.
"Tuan lepasin." ucap Mimin menyadari tangan Yohan masih memegang tangan nya.
"Min, aku janji akan berubah tapi tolong terima aku yah." ucap Yohan kali ini sambil mencium tangan nya.
"Jangan harap, karna kamu Ibu ku tertembak, karna kamu hidup ku menderita dan karna kamu juga semua impian ku hancur." bentak Mimin.
"Aku tidak peduli kamu benci pada ku, tapi yang harus kamu tau Min, aku sama sekali tidak menembak Ibu mu apalagi sampai membunuh nya." ucap Yohan keceplosan karna saking emosi nya tapi terlambat Mimin sudah mendengar ucapan Yohan barusan.
"Tad, di. Ka mu bilang apa." tanya Mimin dengan suara yang terbata bata karna saking syok nya.
"Min, dengar kan aku dulu aku bisa jelasin semua kornologi nya " ucap Yohan memegang bahu Mimin menyuruh nya menatap wajah Yohan.
Air mata Mimin terjatuh dia menangis tapi tak bersuara, sementara Yohan menghapus air mata nya itu.
"Lepas, pergi, PERGGIIII." ucap Mimin berteriak tangan nya berusaha melepaskan diri dari tangan Yohan.
Joy yang mendengar teriakan Mimin langsung berlari ke ruangan Mimin dan membuka pintu ruangan Mimin tapi hanya mematung saja melihat Tuan Yohan dan Mimin yang sedang bertengkar.
"Gara gara kamu hidup ku hancur, sekarang kamu puas aku tidak punya siapapun di dunia ini, kamu puasss hah, atau kamu juga menginginkan aku mati seperti ibu ku, atau kamu mau aku jadi budak mu seumur hidup." ucap Mimin berkata sambil berteriak kencang.
"Kamu salah Min, aku tulus mencintai kamu maaf karna dulu aku pernah membuat mu terluka dan menderita." ucap Yohan dengan wajah masih tetap tenang.
__ADS_1
"Kalo kamu ingin aku memaafkan mu, aku minta kamu bunuh diri kamu sendiri dengan begitu ibu ku akan tenang disana." pekik Mimin.
Mimin pun meraih vas bunga yang ada belakang nya dan langsung memecahkan vas bunga itu.
pragg.
"Jangan mendekati ku, aku tidak main main dengan ucapan ku itu." ucap Mimin mengarahkan bekas pecahan vas bunga yang tajam ke arah Yohan.
Tangan Joy mengepal dengan kuat, saat mendengar ucapan Mimin barusan itu berani sekali dia mengatakan kata yang kasar seperti itu.
"Tuan." panggil Joy hendak menghalangi Mimin tapi tangan Yohan menyuruh nya diam di tempat.
Tangan Yohan perlahan meraih tangan Mimin yang memegangi benda tajam itu, sejujurnya Mimin takut kalo Yohan akan langsung memukulnya tapi itu tujuan hidup nya kalo dirinya yang selamat.
Ibu aku akan membalaskan rasa sakit mu. Mimin.
"Kalo itu membuat mu bahagia, aku tak takut dan setelah kematian ku jangan pernah mendekati lelaki lain aku tidak suka." ucap Yohan dengan tenang.
Tapi berbeda dengan Mimin, dia tak acuh dengan sikap Yohan karna Mimin yakin Yohan tidak akan senekat itu, Joy yang tadi berdiri di depan pintu pun langsung mendekat ke arah Yohan, Joy takut Yohan berfikiran yang tidak tidak.
"TUAANNNN." Joy menjerit dengan kencang nya karna Yohan dengan patuh nya menuruti perkataan Mimin.
"Itu hak ku, karna setelah kematian mu aku akan menikahi Uj, TUAANNNN." pekik Mimin saat Yohan langsung mengores kan pecahan kaca itu ke leher nya.
Darah pun keluar dari Leher Yohan, Mimin langsung meraih tubuh Yohan yang hendak terjatuh.
"Tuaan, maaf aku tidak bermaksud seperti itu, Tuan bangun." tangis Mimin pecah dia tidak menyangka Yohan akan senekat ini.
Joy langsung menekan tombol darurat, tak lama dokter datang sambil berlari Joy pun langsung membopong tubuh Yohan yang sudah tak sadar kan diri.
Lantai rumah sakit itu penuh dengan darah Yohan, Mimin pun melepaskan pecahan Vas bunga itu dengan tangan gemetar, tubuh Mimin terpaku.
"Apa yang telah aku lakukan, tidak, ini tidak mungkin, aku hanya bermimpi, yah hanya bermimpi." ucap Mimin setelah mengatakan itu Mimin menangis saat melihat tangan nya penuh darah.
"Tidak, aku tidak mungkin membunuh nya tidak, Tuaan." ucap Mimin menangis.
__ADS_1
Mimin pun bangun dari duduk nya berjalan dengan gemetar mengikuti darah yang berceceran di lantai itu saat melihat tubuh Yohan masuk ke ruang Operasi tubuh Mimin seakan kehilangan keseimbangan nya dan penglihatan Mimin pun gelap.
Brukk.