
Senyum Mimin mengembang mengingat semalam perkataan Ujang yah dia lelaki yang cuek dan masa bodoh dengan keadaan disekitarnya tapi dia lelaki yang mempunyai banyak rencana hidupnya.
"Min kamu kesambet yah." ucap Manda yang lagi ada ditaman karna habis meyelesaikan tugas nya.
"Enggak kak." ucap Mimin.
"Min, kamu dicari sama Tuan Yohan." ucap Salah satu pelayan yang ditugaskan di bekerja didalem rumah.
Mimin dan Manda saling bersitatap.
"Ada apa yah." tanya Mimin pada Manda.
"Udah Min jangan kelamaan nanti Tuan Yohan marah lebih baik kamu kesana dulu deh." ucap Manda wajah nya sudah menunjukan rasa ketakutan.
Tanpa menjawab ucapan Manda Mimin langsung berdiri dan melangkah dengan cepat menuju ruangan dimana Tuan Yohan berada.
Tok tok tok.
"Permisi Tuan, apa Tuan membutuhkan sesuatu." tanya Mimin dengan wajah menunduk tak berani menatap Tuan Yohan.
"Tadi malam kamu keluar sama siapa." tanya Tuan Yohan.
Mata Mimin membulat bukannya itu termasuk ke pertanyaan pribadi harusnya dirinya dipanggil untuk melakukan tugas kan bukan ditanya masalah pribadi seperti ini fikir Mimin.
"Hey aku tanya." bentak Yohan yang membuat Mimin reflek membetulkan sikapnya.
"Sama Ujang Tuan." ucap Mimin sambil menundukan kepala nya.
"Dasar perempuan tak tahu diri berani sekali kamu selingkuh dibelakang ku." ucap Yohan kali ini sambil melemparkan bantal di depan Mimin.
"Maksud Tuan." ucap Mimin bergetar.
Selama ini dirinya dan Tuan Yohan sama sekali tak terlibat asmara, bahkan tak sedikit pun Mimin ada keniatan untuk berfikir menjadi wanita Tuan Yohan.
__ADS_1
"Kamu itu hanya pelayan disini jadi apa pun yang aku katakan kepada mu semuannya harus kau turuti termasuk menjual harga dirimu." bentak Yohan meninggi.
"Tuan Anda salah saya membekerja menjadi pelayan disini tapi Tuan tidak ada hak mengatur pribadi saya." ucap Mimin dia sudah rela jika harus dipulangkan ke negaranya asal harga dirinya tidak hina seperti itu.
Plakkk.
"Jadi kamu menolak ku, kamu akan rasakan sendiri akibat nya Ibumu akan aku bunuh." ancam Yohan yang masih mencengkram muka Mimin.
"Tuan, apa salah saya." ucap Mimin sambil menangis tersedu sedu.
"Salah mu karna kamu berpelukan dengan lelaki lain dan menerimanya menikahi mu." ucap Yohan dengan mata menatap Mimin tajam.
Mimin hanya terdiam entah sekarang situasi nya seperti apa Mimin juga masih tidak mengerti dengan perkataan Tuan Yohan apa karna dirinya pulang terlarut malam atau sebenarnya disini peraturan nya tidak boleh pacaran entah lah.
"Ikut." ucap Yohan menarik tangan Mimin paksa memasuki ruangan yang suasana nya gelap tapi mewah.
"Tuan, tolong maaf kan saya. saya janji akan menjauhi Ujang tapi jangan hukum saya dan ibu saya." ucap Mimin sambil berusaha melepaskan cengkraman tangan Yohan tapi sia sia saja karna Yohan menarik tangan Mimin dan mengunci pintu itu.
Mata Mimin melihat sekitar mata nya fokus pada ruangan gelap itu walau diluar terang bendera tapi tidak dengan ruangan ini gelap serta menakutkan.
"Tuan, jangan saya mohon maaf jika saya telah membuat Tuan marah." ucap Mimin sambil menahan tangan Yohan yang hendak memaksa membuka kancing baju Mimin.
"Itu sudah terlambat bahkan kamu sudah berpegangan tangan dengan lelaki itu." ucap Yohan wajah nya kembali marah mengingat vidio laporan dari Joy itu.
Saat tangan Yohan kembali memaksa Mimin membuka kancing bajunya dengan sekuat tenaga Mimin mempertahankan dirinya tapi tangan Yohan kembali menampar wajah Mimin hingga tubuh nya kembali terjatuh di ranjang yang besar mewah itu.
Tanpa menunggu lama lagi Yohan dengan paksa membuka kancing baju Mimin tapi Mimin sekuat tenaga juga menahan tangan Yohan.
"Tuan Jangan." ucap Mimin sudah memohon seakan Mimin benar benar takut sekali tidak ada yang menolong nya bahkan teriakan suaranya bergema diruangan itu pun seperti tak didengar orang diluar.
Karna tangan Mimin masih menghalangi tangan Yohan, dengan kesetanan Yohan langsung mencium bibir Mimin yang berusaha menolak nya air mata sudah terjatuh di pipinya.
Amarah, Cemburu, melihat Mimin berpelukan kini tersalurkan dengan ciuman itu kalo tubuhnya sudah dimiliki nya Ujang tak akan berfikir untuk menikahi ataupun membawa Mimin kembali ke negaranya dengan membuat Mimin mengandung anak nya Mimin akan tinggal disini.
__ADS_1
Ciuman itu berlangsung lama menyisakan nafsu membara ditubuh Yohan ingin segera memiliki tubuh Mimin, tapi tidak dengan Mimin airmata nya sudah mengering dia sangat takut dengan suasana ini.
Tanpa menunggu lama lagi tangan Yohan berhasil membuka kancing baju Mimin satu dua kancing terbuka tangan Mimin ditahan oleh tangan Yohan.
"Tuan." ucap Mimin sudah menangis terisak isak memohon lewat sorot mata nya yang memelas.
"Aku akan melakukan nya dengan lembut jadi turuti apa yang aku mau." ucap Yohan tangan satu nya lagi membuka lagi kancing Mimin terlihat Bra Mimin.
"Tuan, saya mohon jangan lakukan ini." ucap Mimin berusaha memohon tapi tidak dengan Yohan.
Bahkan Yohan sudah sangat bernafsu sekarang tanpa menunggu lama lagi Yohan pun membuka paksa rok Mimin.
Hingga sesuatu yang dipertahan kan Mimin pun kini hilang sudah tidak ada lagi harapan untuk dirinya pulang dirinya sudah kotor, tapi Yohan tidak hanya sekali melakukan nya dia hampir ke lima kalinya melakukan nya dengan Mimin seakan candu.
Tubuh polos mereka tertutupi selimut rasa sakit dan perih yang Mimin rasakan tidak dihiraukan yang Mimin lakukan hanya menangis tanpa suara berusaha tidak membuat berisik ketika Tuan Yohan masih terlelap karna cakep dengan aktivitas itu.
Dengan tertatih tatih Mimin memungguti pakaian nya yang berserakan dan memakainya langsung dengan langkah gontai Mimin menuju pintu keluar tapi saat hendak dibuka pintu nya terkunci.
Tanpa berfikir lama lagi Mimin membuka paksa pintu itu hingga menimbulkan suara krek krek krek.
"Jangan menganggu tidur ku atau kamu akan habis disini." ucap Yohan yang terganggu dengan suara itu.
"Tuan, saya mau pulang." ucap Mimin bergetar takut tubuhnya sudah acak acakan bahkan banyak sekali tanda merah yang dibut Tuan Yohan ditubuhnya.
Yohan yang mendengar ucapan Mimin barusan pun bangun dari tidur nya dia berjalan dengan santai nya padahal dirinya tidak memakai baju sehelai pun.
"Tubuh mu ini milik ku kalo kamu berani selangkah pun keluar dari kamar ini Ibu mu akan tiada." sambil melempar foto ke wajah Mimin.
Dengan tangan bergetar Mimin mengambil foto yang berserakah dilantai saat akan melihat foto itu Yohan kembali mencengkeram wajah Mimin.
"Sekali lagi saya liat kamu dengan lelaki itu bukan hanya ini yang kamu datang nyawa mu dan Ibu mu akan melayang." ucap Yohan langsung keluar dari kamar itu dan menutup pintu nya setelah itu dikunci.
Mimin yang masih tertegun pun berusaha kuat dia kembali melihat foto yang dilempar Tuan Yohan tadi betapa kaget sekali Mimin ketika melihat Ibunya yang sedang disekap disebuah ruangan.
__ADS_1
"Ibu." teriak Mimin terduduk dengan lemas.