Tobatnya Psikopat Bucin

Tobatnya Psikopat Bucin
Bab 40 Menunggu


__ADS_3

Malam pun telah tiba.


Pintu kamar Mimin diketuk, Mimin yang sudah sedari tadi menunggu Tuan Yohan pun bergegas membuka kan pintu.


"Selamat Malam Nona." ucap pelayan tadi pagi.


Mimin tertegun melihat kebelakang.


Kemana Tuan Yohan.


"Nona, nona." panggil pelayan itu.


"Ehmm, yah." ucap Mimin.


"Nona, makannya sudah siap Tuan Yohan sudah menunggu di meja makan." ucap pelayan itu.


"Ohh iya." ucap Mimin wajah nya sudah kembali cerah.


Mimin pun turun dari tangan mengikuti langkah pelayan itu dan sampai lan dimeja makan.


Kaki Mimin berhenti sebentar ketika melihat perempuan tadi sore yang duduk didekat Tuan Yohan.


Yohan menatap Mimin dengan bahagia dan menyuruh nya duduk.


"Sayang kenapa masih berdiri ayo duduk." ucap Yohan.


Mimin berdiri kikuk dan mulai melangkah kan kakinya duduk disamping Tuan Yohan.


"Nona." ucap Perempuan itu dengan senyum manis dan mengeluarkan lesung pipinya.


Sebenarnya perempuan ini siapa sih, ohh tidak kenapa aku marah sih ketika Tuan Yohan membawa perempuan lain kerumahnya. Mimin.


Mata Mimin melihat sekeliling, Mimin baru menyadari kalo Joy tidak ada disini.


"Mari makan." ucap perempuan itu.


"Makan yang banyak biar gak kelihatan kurus." ucap Yohan menatap lagi perempuan itu dengan senyum.


Dasar buaya, lihat yang bening aja langsung gak kedip. Mimin.


Mereka berdua asik mengobrol sementara Mimin hanya fokus makan, makan, makan, dan minum.


"Tuan saya sudah selesai, saya permisi mau kekamar." ucap Mimin berdiri dan langsung pergi.


Yohan menatap Mimin sekilas lalu melanjutkan kembali obrolan nya yang sempat tertunda.


Mimin berharap Tuan Yohan mengejar nya pas dilihat kebelakang Tuan Yohan masih asik ngobrol.


Mimin pun langsung masuk pergi kekamar dan mengunci pintunya.


Awas lihat aja nanti kalo malam-malam kesini aku tak akan bukain pintu. Mimin.


Perasaan cemburu kini mengerogoti hati Mimin.


Mata Mimin masih menatap pintu kamarnya tapi tidak ada tanda-tanda Tuan Yohan datang.


Karna kelelahan menunggu, akhirnya Mimin tertidur.


Sebuah ketukan dipintu membangunkan tidurnya.


"Nona." ucap Pelayan dari luar pintu.

__ADS_1


Mata Mimin melihat sekilas.


Sambil melepaskan hembusan nafas yang kasar Mimin bangkit.


Ceklek.


"Nona, Tuan Yohan menyuruh anda sarapan." ucap nya.


"Iyah, saya mandi dulu yah." ucap Mimin.


Mimin kembali menutup pintunya.


Semalam dia tidak kesini. Mimin.


Dengan lesuh Mimin pun melangkah masuk kekamar mandi.


Dimeja makan tidak ada Tuan Yohan begitu wanita semalam bahkan Joy pun tidak kelihatan batang hidung nya.


"Mereka semua kemana sih." ucap Mimin sambil mengunyah nasi goreng.


Merasa dirinya terabaikan Mimin pun menyelesaikan makanan nya dan keluar menuju taman.


Disana para pelayan sibuk dengan tugas nya, sementara dirinya yang tidak mempunyai tugas pun hanya berdiam diri mematung.


"Mimin." panggil seseorang di belakang Mimin.


"Kak Manda." pekik Mimin saat melihat siapa yang memanggil nya.


Mereka berdua pun berpelukan cukup lama.


"Aku kangen." ucap mereka bersamaan.


Manda pun mengeleng kan kepala.


"Kak Manda juga, Minta maaf yah." ucap Manda.


Mereka pun duduk di bangku dekat dengan taman.


"Kak Manda, Tau enggak keberadaan Kak Elsa." tanya Mimin.


"Saya tidak tau Min, yang jelas Kak Elsa udah dioper gak kerja lagi di sini." ucap Manda.


"Min, Kak Manda melanjutkan lagi yah tugas Kak Manda. jujur aku sangat senang bisa melihat keadaan Mimin yang baik-baik saja, sekarang Kak Manda sudah tenang." ucap Kak Manda.


Belum sempat Mimin bicara Kak Manda sudah berdiri dan meninggalkan Mimin yang duduk terpaku menatap kepergian nya.


Padahal aku masih ingin bicara. Mimin.


Hari berlalu, sudah satu minggu Mimin tidak melihat keberadaan Tuan Yohan.


Seperti biasanya Mimin bangun kesiangan karena jika pagi pun percuma dia hanya diam saja terpaku.


Melamun entah apa yang akan dilanjutkan nya nanti, sampai Mimin pun merasakan ada sebuah tangan kekar yang memeluk tubuh nya erat.


Mimin yang masih mengantuk pun dengan malas membuka sedikit matanya untuk melihat tangan siapa itu.


Saat akan melepaskan nya betapa kaget sekali Mimin saat ini dirinya posisi sedang dipeluk erat.


"Tolong lepasin anda siapa." ucap Mimin kesal.


Karna tidak melihat kebelakang Mimin berusaha membukakan pelukan tangan pira itu.

__ADS_1


"Aku merindukan." ucapnya semakin memeluk erat tubuh Mimin.


Suara nya seperti tidak asing. Mimin.


Membuat Mimin kembali sesak nafas nya karna pelukan itu.


"Lepasin." bentak Mimin hingga badan Mimin pun bangun dari tidur nya.


Mata Mimin menatap lekat wajah itu, yah wajah yang sudah hampir seminggu tidak terlihat batang hidung nya.


Kini ada dihadapannya, dengan wajah kesal Mimin kembali berdiri hendak pergi meninggalkan lelaki yang menyebalkan itu.


"Mau kemana." tanya nya.


"Bukan urusan mu." ucap Mimin.


Sudah berdiri di depan pria itu ingin melangkah pergi.


Tapi tubuhnya langsung disambar langsung oleh tangan nya.


"Layani aku dulu." ucapnya.


Derus nafas mereka terasa karna semakin dekat.


Bukan nya Mimin takut, dia malah mendorong tubuh Yohan hingga menjauh darinya.


"Jangan pernah menyentuh ku, dan untuk apa lagi datang kesini bagus jika kamu pergi dengan perempuan itu." pekik Mimin meninggikan suaranya.


Mimin juga sama terkejutnya dengan suaranya sendiri.


Yohan yang melihat Mimin marah pun menatap nya tersenyum.


"Ini rumah ku, dan apa tadi. Hey kamu cemburu." ucap Yohan tertawa menampilkan giginya yang putih rapi.


Mimin mengeleng kan kepala dan mencerna sedikit sikapnya.


"Sayang." ucap Yohan berdiri mendekati Mimin tapi Mimin semakin mundur.


"Jangan, tolong Tuan kembali ke kamar Tuan. aku tidak ingin diganggu." ucap nya.


Tapi Yohan tak mendengarkan ucapan Mimin dia semakin melangkah mendekati Mimin.


Hati Yohan sangat senang sekali melihat sikap Mimin yang cemburu tadi, itu ada kemungkinan Mimin sudah sedikit demi sedikit menumbuhkan rasa cinta di hatinya.


"Sayang." ucap Yohan pelan.


Mimin sudah terpentok ditembok.


"Aku pergi karna aku ada kerjaan yang tidak bisa di tunda, maaf kan membuat mu menunggu." ucap Yohan memegang tangan Mimin lembut, lalu mengecup nya dengan pelan dan lembut.


Melihat sikap Tuan Yohan yang lembut ada desir di hatinya, sungguh Mimin menginginkan penjelasan dari pria yang ada dihadapan nya ini.


"Mau kah, kamu memaafkan ku. dan untuk perempuan itu dia hanya teman kerja ku tak lebih." ucapnya lagi.


Bodoh.


Bahkan Tubuh Mimin tak bergerak dia terpaku pikiran dan tindakan nya memang selalu saja tak sejalan, melihat Mimin diam saja.


Yohan pun langsung memeluk tubuh Mimin mengelus kepalanya dengan lembut sementara itu dengan ragu Mimin membalas pelukan Yohan.


Aku merindukan mu Tuan Yohan. Mimin

__ADS_1


__ADS_2