Tobatnya Psikopat Bucin

Tobatnya Psikopat Bucin
Bab 42 Ayok Masuk


__ADS_3

Bahagia yah rasanya sudah pake komplit, ibarat nasi goreng dinamakan nasi goreng spesial, penuh dengan toping dan rasa yang gurih pedas menguggah selera orang yang memakannya.


Seperti itu indah orang jatuh cinta.


Mimin memeluk erat tubuh Yohan disebuah kamar besar milik Tuan Yohan, begitu pun Yohan mengerat kan pelukan nya.


Yohan benar-benar tercandu-candu, dengan wangi tubuh Mimin tapi berbeda Mimin merasa sangat nyaman jika di samping Tuan Yohan.


"Sayang, kamu janjikan hari kita pergi ke pulau jeju." ucap Mimin menagih janji semalam.


"Kemana pun kamu ingin datang ketempat yang sangat ingin kamu kunjungi, aku akan mewujudkan nya." ucap Yohan lalu mengecup kening Mimin lembut.


Makasih sudah mencintai ku. Mimin.


Hanya gerakan tubuh ,yang bisa Mimin sampaikan rasa terimakasih karna sudah dicintai sedemikian rupa, memeluk tubuh Yohan dengan erat.


"Ayo, bangun. jam 10 kita sudah akan terbang ke pulau Jeju." ucap nya.


Yohan pun mengulurkan tangan nya dan disambut oleh Mimin, mereka pun mandi bersama.


Setelah selesai mandi mereka makan didepan balkon, menikmati pagi yang indah.


Dulu Mimin bahkan tak sedikit pun merasakan ketenangan masalah ekonomi yang terus menghimpit nya.


Hingga Mimin sekolah sambil jualan untuk memenuhi hidup nya dan biaya sekolah nya, Mimin dari dulu selalu dibilang gadis miskin karna semasa SMA dirinya hanya memakai pakaian yang usang bahkan sepatu dirinya untuk sekolah sudah jebol dan ditambal tambal.


Tanpa sadar bulir bening terjatuh diujung pelupuk matanya ketika mengingat masa SMA.


"Sayang apa makanan nya gak enak, kurang ajar sekali koki itu menyediakan makanan bas kek gini." ucap Yohan sambil mengomel dan menghapus air mata nya.


"Tidak, justru makanan nya enak banget. makanya aku sampai nangis gini." bohong Mimin.


"Tidak sayang, kamu berbohong. Ada apa cerita sama aku, siapa pun orang yang membuat sedih dia akan aku bunuh." ucap Yohan.


Jiwa psikopat Yohan ternyata masih ada.


"Aku rindu Ibu." tangis Mimin meledak.


Yohan langsung memeluk Mimin menenangkan nya.


Sejujurnya Mimin sangat bahagia.


"Sayang, Ibu mu sudah sembuh dan Joy mengurus semua keperluan nya, maaf dulu pernah menyakiti orang yang kamu sayang." ucap Yohan lagi.


"Sudahlah semua sudah berlalu jangan diungkit-ungkit lagi." ucap Mimin.


Yohan pun berdiri.


Menarik tangan Mimin menyuruh nya untuk mengikuti nya.

__ADS_1


Mimin yang dipaksa ditarik pun hanya pasrah mengikuti suaminya itu.


"Pakai baju ini, sepuluh menit lagi kita akan berangkat ke pualu jeju." ucap Yohan menyerahkan baju yang datang entah kapan.


Mimin hendak melangkah masuk ke kamar mandi, tapi langsung di cegah oleh Yohan dengan senyum jahilnya Yohan mendekati Mimin.


"Sayang, aku kan suami kamu. tidak apa-apa dong, kalo kamu menganti baju mu disini." ucap Yohan sambil menyentuh ujung baju Mimin.


"Hey, kau gila yah. Aku malu." ucap Mimin.


Sambil mengatakan itu wajah nya, berpaling menghadap ke arah lain.


"Kenapa malu, bahkan tubuh mu. aku sangat hafal." ucap Yohan kali ini meraih baju gantinya.


"Aku akan membantu kamu yah." ucap Yohan tanpa malu.


"Hey, tunggu." ucap Mimin.


Belum selesai Mimin menyelesaikan ucapannya.


Kecupan lembut dibibir Mimin, membuat nya terpaku.


"Sayang bibir mu manis, seperti jelly." ucap Yohan tanpa malu sambil menyentuh bibir Mimin bekas kecupannya.


Mimin yang tak tahan dengan sikap Yohan pun tertawa dan mendorong bahunya gemas.


"Buahahahhah." tawa Mimin meledak.


"Aku ingin makan kamu." bisik Yohan ditelinga Mimin.


Mimin yang sudah mengendus arah bahaya pun langsung membetulkan sikap nya.


"Sayang, kamu sudah janji kan. mau aja jalan-jalan." ucap Mimin dengan wajah setenang mungkin.


"Baiklah, aku tidak akan memakan mu nanti disana." ucap Yohan bangun dari atas tubuh Mimin.


Mimin pun menghela nafas.


Sudah setengah jam berlalu, Mimin sudah selesai make up dan juga Yohan sudah memakai pakaian biasa.


Mereka pun turun dari hotel dan masuk ke mobil, yah Tuan Yohan tidak perlu melakukan check out karna hotel yang ditempati nya milik sendiri.


Mimin juga sebenarnya penasaran sekaya apa sih lelaki yang mengandeng nya ini, tapi Mimin tidak mau tau tentang itu merasa dicintai aja sudah sangat-sangat bersyukur.


Mobil pun melaju meninggalkan hotel itu menuju Pulau jeju, kali ini yang menyetir Joy karna semalam Joy datang ke hotel membahas bisnis dan beberapa hal lainnya.


"Joy, siap kan jadwal dan beli rumah di negara istri ku tempat dimana dia dilahirkan." ucap Yohan berbicara penuh dengan ketegasan.


"Tu,tuan." ucap Mimin takut.

__ADS_1


Yohan menatap Istrinya itu yang terlihat sangat khawatir dengan ucapannya.


"Sayang, aku ingin merasakan suasana desa tempat kamu dilahirkan." ucap Yohan sambil menyentuh lembut pipi Mimin.


"Aku sangat bersyukur dicintai setulus ini, tapi aku tidak mau kamu membuat kesalahan lagi." ucap Mimin masih mengkhawatirkan.


Yah, Mimin mengkhawatirkan orang tua Ujang.


Bagaimana pun mereka pernah baik dihidup Mimin, jika nanti Ibunya Ujang tau apa yang terjadi disini.


Pasti Ibunya Ujang akan membencinya kan?


Yohan memeluk Mimin, menyuruhnya untuk jangan banyak berfikir.


"Sayang, aku janji tidak akan melakukan hal keji itu lagi. Tapi aku tidak mau kamu berbicara, bersentuhan, bahkan mempunyai hubungannya lain di belakang ku, apalagi sampai memikirkan lelaki lain dihadapan ku. Cukup aku saja yang kau pikirkan." ucap Yohan.


Sambil membelai lembut pucuk kepala Mimin.


Harusnya aku senang, tapi kenapa hati ini malah takut yah. Mimin.


Joy melihat dikaca spion nya melihat Tuan dan Nona nya.


"Tuan, saya sudah mempersiapkan semuanya." ucap Joy.


"Bagus." ucap Yohan.


Lalu suasana kembali hening.


Mimin benar-benar memikirkan ucapan suaminya itu.


Dan, Mimin juga sekarang jadi khawatir dengan keadaan Ujang.


Lelaki itu bagai di telan bumi tidak ada lagi kabar yang Mimin terima.


Lantas, jika Yohan datang ke desanya. bagaimana pandangan penduduk disana.


Mimin sangat bersyukur bisa melihat Ibunya bahagia sekarang, tapi kenapa Yohan malah ingin datang ke negara kelahiran nya.


Mimin yang masih banyak berfikir pun, sampai tak menyadari kalo mobilnya sudah berhenti.


Tunggu, inikan bukan pulau. Kenapa pergi ke mall. Mimin.


Tapi Mimin tak banyak bicara dia hanya melihat Joy keluar dengan Tuan Yohan.


Tanpa berkeniatan mengajak Mimin sedikit pun.


Mimin yang bete melihat ke samping disana ada perempuan yang pernah datang waktu itu dikediaman Yohan.


Mata Mimin kembali membulat saat, Yohan dan Joy menghampiri nya.

__ADS_1


Dasar Kucing bule, liat yang aja langsung nyosor, awas aja kalo mengajak aku berbicara tak akan aku menjawab. Mimin.


Rasa cemburu kembali menghampiri hati Mimin.


__ADS_2