
Dokter pun sudah selesai memeriksa kondisi Mimin dan keluar dari ruangan nya bebarengan dengan kehadiran Elsa di pintu keluar ruangan Mimin tapi wajah Kak Elsa terlihat murung dan mata nya sembab seperti habis menangis.
Mata Mimin menatap lekat wajah Kak Elsa yang hanya duduk disamping Mimin tanpa ada sedikit pun kata.
"Kak Elsa kenapa." tanya Mimin khawatir.
Elsa hanya mengeleng kan kepala nya dan mengalih kan mata nya supaya Mimin tidak melihat nya menangis.
"Astaga, Kak Elsa. Pipi Kak Elsa kenapa bengkak, apa Joy yang melakukan ini sama Kak Elsa?" tanya Mimin sambil melihat pipi Elsa yang bengkak dan merah.
"Tidak apa apa Min." ucap Kak Elsa melepaskan tangan Mimin.
"Tapi ini sudah keterlaluan Kak." ucap Mimin meninggi suara nya mata Elsa menatap mata Mimin.
"Ini akibatnya jika hanya seorang pelayan yang terlalu ikut campur dengan urusan Tuan nya bahkan melalaikan tugas yang sudah di berikan nya." sebuah suara menjawab.
Mimin dan Kak Elsa melihat orang itu, Kak Elsa langsung menunduk takut sementara Mimin menatap nya penuh kebencian yah dia lelaki yang akan Mimin bunuh sampai kapan pun Mimin akan menunggu saat saat dimana lelaki itu menderita.
"Tuan." ucap Elsa.
"Keluar dan temui Joy, kamu akan dipindah tugaskan." ucap Yohan dengan nada penuh penekanan.
Elsa mengangguk dan melangkah keluar sambil membawa kopernya, disana Yohan menatap Mimin yang sama sekali tak melirik kepadanya langkah kaki Yohan semakin dekat tapi tak membuat Mimin takut.
"Bagaimana keadaan mu." tanya Yohan lembut saat sudah sampai di dekat Mimin.
Mimin tak menjawab melainkan kembali berbaring tidur membelakangi Yohan yang menatap nya dengan penuh kehangatan, Yohan pun duduk dibangku bekas Elsa tadi dan menatap kepala Mimin yang tak terlihat.
"Aku merindukan mu." ucap Yohan.
Aku tidak. Mimin.
"Aku tau kamu juga merindukan ku." ucapnya lagi.
Najis. Mimin.
"Min, aku pengen kamu liat aku." ucap nya lagi suara nya berat.
__ADS_1
Bodoh. Mimin.
Yohan meraih bahu Mimin dan menenggelam kan wajah nya di punggung Mimin, Mimin yang melihat perubahan Tuan Yohan pun sedikit terkejut dengan sikap nya ini.
"Aku mencintaimu Min." ucap Yohan serak seperti habis menangis.
Mimin hanya terdiam saja.
Entah kenapa bukannya senang tapi hati ini terasa sangat sedih sekali mendengar ucapan nya, sampai kapan pun aku tak akan pernah membalas rasa cinta mu. Mimin.
Yohan tiba tiba tidur diranjang Mimin yah ranjang rumah sakit kini tangan Yohan memeluk tubuh Mimin mata nya terpejam sangat nyaman dan juga lega karna Mimin sudah terbangun dari koma.
"Tuan, tolong lepaskan." ucap Mimin hendak bangun tapi tangan Mimin di tahan oleh tangan Yohan.
"Sebentar Min, aku hanya ingin tidur sudah sebulan kebelakang aku jarang tidur." ucap Yohan suara nya terdengar lelah.
Mimin hanya mengembuskan nafas nya kasar, sementara Yohan memejam kan mata nya dengan nyaman sekali.
Tanpa disadari Yohan tertidur sambil memeluk Mimin, sementara Mimin hanya diam saja memikirkan cara untuk pergi dari sini.
Mimin pun perlahan menghadap Tuan Yohan, kini wajah mereka sungguh berdekatan Tuan Yohan benar benar tertidur dengan lelap, tangan Mimin pun perlahan mengangkat tangan Tuan Yohan supaya tidak terbangun dari tidur nya.
Kaki Mimin turun ke lantai dan saat bangun Mimin melihat pergelangan tangan nya yang sedang di pasang infus.
"Aww." pekik Mimin pelan karna selang infus yang menancap di tangan nya ketika dicabut begitu menyakitkan.
Mimin pun melangkah keluar pintu disana Mimin melihat Joy yang tertunduk dengan wajah murung entah apa yang dipikirkan nya dengan cepat Mimin pun keluar dari ruangan itu menuju lorong yang tidak berarahan dengan keberadaan Joy.
Mimin pun masuk ke toilet wanita, dan terdiam ingin kabur tapi tubuh nya sangat lelah bahkan gemetar.
"Min." tegur ora dibelakang Mimin.
Karna kaget Mimin pun menyenggol vas bunga yang terpajang di pojok kaca toilet itu.
"Kak Elsa." ucap Mimin badan Mimin seketika membeku.
"Kamu ngapain disini Min, kalo butuh sesuatu tinggal panggil suster aja Min dan kenapa kamu melepas infus nya." ucap Kak Elsa memarahi Mimin.
__ADS_1
"Maaf Kak, aku gak tahan yaudah kak aku ke toilet dulu." ucap Mimin berhambur masuk bilik toilet.
Sementara Kak Elsa menggeleng geleng kan kepala melihat tingkah Mimin yang ceroboh itu.
Sementara itu Yohan terbangun dari tidur nya melihat Mimin tak ada disamping nya langsung memanggil Joy.
Joy yang mendengar teriak kan Tuan nya itu pun langsung berhambur lari masuk kedalam disana Yohan langsung menatap Joy dengan tatapan tajam.
"Mimin hilang Joy." ucap Yohan.
"Tuan tapi saya sedari tadi bertugas didepan tidak melihat Mimin keluar dari ruangan ini." ucap Joy.
"Cari dia sampai ketemu kalo tidak kamu akan ku bunuh." bentak Yohan dengan wajah marah.
Joy yang melihat Tuan nya mengatakan itu pun langsung mengangguk hendak pergi tapi pintu ruangan itu dibuka oleh Mimin dengan wajah tak berdosa Mimin melangkah menuju ranjang nya dan kembali terbaring sementara Kak Elsa yang mengantarkan Mimin ke ruangan nya akan pulang ke rumah Tuan Yohan.
Yohan yang tadi nya marah kini langsung mendekati Mimin dan meraih tangan Mimin luka bekas infus nya berdarah.
"Joy panggil Dokter." ucap Yohan dengan wajah khawatir.
"Lepas." ucap Mimin menatap wajah Yohan dengan sinis.
"Aku tidak masalah kamu benci pada ku tapi aku tidak mau melihat mu terluka." ucap Yohan.
Mata Mimin kini melirik ke arah Yohan mata mereka bertemu tapi perasaan mereka berbeda yang satu mengkhawatirkan kondisinya sementara yang satu lagi menatap nya penuh benci.
"Kamu sembunyikan dimana Ibu ku." ucap Mimin menatap tajam Yohan.
"Aku akan ngasih tau keberadaan nya tapi setelah kamu sehat." ucap Yohan.
"Aku tidak peduli dengan kondisi ku yang aku khawatir kan Ibu ku, dimana dia dan bagaimana keadaan nya." bentak Mimin kepada Yohan.
"Kalo kamu tidak mau sehat, dengan terpaksa aku tidak akan pernah memberi tau keberadaan nya." balas Yohan dengan tenang tapi penuh penekanan.
"Dasar manusia iblis." ucap Mimin memalingkan wajah nya tak ingin menatap wajah Yohan yang sangat menjijikan itu.
"Aku melakukan ini demi kebaikan mu, jadi berhentilah membakang dan menurut lah karna banyak musuh yang tidak kamu sadari." ucap Yohan hendak meraih tangan Mimin tapi lagi dan lagi tangan nya ditepis oleh Mimin dengan kasar.
__ADS_1
"Yah, dan musuh yang paling nyata itu ada di hadapan ku." ucap Mimin.
Yohan menatap wajah Mimin yang melihat dirinya penuh dengan kebencian, sebelum Mimin memberi tau nya Yohan sudah tau tapi entah kenapa kadang perkataan nya begitu menyayat hati.