
Jam delapan Malam.
Mimin dan Yohan turun dari villa menuju tempat yang sudah disediakan oleh Joy.
Saat sampai ditempat itu, Mimin dipersilahkan duduk oleh Yohan sementara Yohan fokus memotong daging untuk dipanggang.
Mimin menatap Yohan yang sangat lincah memotong-motong daging lalu membumbui dan membakarnya.
Bau harum menyerbak kesegala arah.
Mimin melihat hasil masakan Tuan Yohan yang terlihat sangat sedap.
"Nie." ucap Yohan menyuapi Mimin dengan wajah tenang.
Ya Tuhan, Kenapa suasana nya macam didrakor sihh, dan kenapa Yohan sangat keren sekali. Mimin.
Mimin pun mengunyah daging hasil pemberian Yohan dengan pipi memerah.
"Gimana, enak." tanya Yohan melihat persetujuan cita rasa masakan nya.
Mimin mengangguk.
"Enak sayang, kamu pintar sekali memasak nya, aku boleh mencoba." ucap Mimin.
Menunjuk daging mentah yang ingin membakarnya.
Yohan pun mengangguk dan menyerahkan gunting pemotong daging nya ke Mimin.
Dengan cekatan Mimin memasak daging panggang itu, setelah masak Mimin mengambil dan meniup nya supaya dingin.
"Ahh." Ucap Mimin menyuruh.
Yohan membuka mulut, Yohan pun membuka mulutnya dan mengunyah makanan itu.
"Enak, apalagi istri aku yang buat." ucap Yohan sambil mencium tangan Mimin.
"Sayang apa kau bahagia." tanya Yohan serius.
Mimin yang fokus memasak pun menatap Yohan lalu mengangguk.
"Bagaimana jika minggu depan kita ke indo." ucap Yohan melihat raut wajah istrinya.
"Sayang bukan nya aku tidak mau ke negara asal ku tapi aku sudah sangat nyaman disini apalagi di dekat mu." ucap Mimin.
Ayokk terbujuk lah. Mimin
Yohan terdiam dan fokus menatap Mimin.
Eh, kenapa dia menatap ku seperti itu. Mimin.
Yohan menatap Mimin karna terlihat sangat mengemaskan sekali.
"Sayang, mau lagi." ucap Yohan kali ini sambil mulutnya maju kedepan.
Astaga kucing bule ku, kenapa mengemaskan begini sih. Mimin.
"Gak mau." Mimin berkata dengan wajah menahan tawa.
"Sayaang." Yohan.
Yohan langsung berhambur dan memeluk Mimin erat sekali.
Dua orang di villa yang berada di pulau jeju, sedang menikmati indahnya cinta.
Rasa cinta, bahagia, nyaman dan takut kehilangan satu sama lain.
Tapi, kini di lain tempat seseorang menahan amarah dan kini melatih dirinya tanpa rasa istirahat.
__ADS_1
Ujang mengelap keringat nya yang berjatuhan di dahinya.
Kini mata Ujang fokus pada arah pistol dikejauhan foto Yohan tersenyum bahagia dengan Mimin.
Der, der, der.
Untuk kesekin kalinya Ujang menembaki foto itu.
Pengawal Ujang yang melihat pun sedari tadi hanya menatap penuh dengan ketakutan.
Beraninya kamu menghianati ku, dan melupakan semua pengorbanan ku. Ujang.
Kini rasa cinta nya yang tulus pada Mimin tergantikan rasa penghianat.
Ketika seseorang sudah berkorban banyak untuk orang yang dicintainya, tapi balasannya tidak seindah, sejalan dengan rencana nya.
tring.
Sebuah pesan datang dari handphone nya.
Pengawal yang bertugas menjaga handphone nya, kini mendekati Tuan nya.
"Tuan." menyerahkan ponselnya.
Ujang pun meletak kan pistol yang tadi barusan ia pakai.
Tangan Ujang meraih benda pipih itu.
Melihat pesan masuk.
Lalu mengetik sebentar dan memberikan lagi ke pengawal tadi.
Saat ini, kalian bahagia tapi lihat nanti. Ujang.
Tangan Ujang mengenggam penuh dengan kebencian.
Ujang pun meraih tisu mengelap wajah nya dan mengambil air dingin yang sudah disiapkan pembantunya.
Saat ingin meminum.
Suara keributan tak jauh dari nya.
membuat Ujang melihat sekilas disana Nindy berlari menuju Ujang.
Sementara pengawal nya mengejar Nindy karna belum menerima perintah jika majikannya menerima tamu.
"Aku mau bicara." ucap Nindy saat sudah ada didepan Ujang.
Ujang memicingkan mata menatap perempuan itu.
Lalu meletakan kembali gelas yang barusan sudah diminum.
Melihat Ujang diam saja, Nindy pun melanjutkan perkataannya.
"Kita punya musuh yang sama, kamu punya koneksi dan aku punya kelemahan nya.
Kenapa tidak saling membantu." ucap Nindy.
Ujang kali ini mendengar kan wanita yang ada didepan nya dengan serius.
"Aku yakin, jika kita bersekutu. kamu bisa mendapat kan perempuan itu begitu aku sebaliknya, bila perlu bonusnya kekayaan Yohan." ucapnya lagi.
"Hemm. kau kira aku masih sudi menerima nya." ucap Ujang menohok.
Nindy pun terdiam mencerna ucapan lelaki yang ada didepan nya.
"Maksud mu, kamu berbalik ingin melenyapkan nya." tanya Nindy menelisik wajah Ujang.
__ADS_1
Nindy tau lelaki didepan nya ini, walau diam menjadi bawahan tetapi dia lebih ganas dari kelihatan nya.
Yah wajahnya kalem, tapi menyimpan banyak kelicikan, bahkan para Mafia disini tunduk pada nya.
Entah sejak kapan, Lelaki di depan nya ini membangun jalur gelap.
Ujang pun berdiri.
Melangkah maju ke arah Nindy dan berhenti di belakang Nindy.
"Aku akan buat dia merasakan apa yang aku rasakan." Ucap Ujang sambil meremas gelas yang dipegang nya.
Gelas itu pun seketika remuk.
Melukai tangan nya, dan keluar darah segar dari tangan nya.
Nindy pun berbalik melihat sikap Ujang.
Gila, Ujang berubah sekali. Nindy.
"Jadi bagaimana, kamu terima tawaran ku." ucap Nindy.
Suara nya sudah bergetar menahan takut saat berbicara.
"Kita lihat saja nanti, jika aku membutuhkan bantuan mu, kita satu perahu tapi jika aku tidak membutuhkan mu, itu tanda nya kamu bukan sekutu ku." ucap Ujang tanpa menoleh pada Nindy.
"Mungkin, sekarang kamu tidak membutuhkan ku. tapi aku jamin kamu akan membutuhkan ku, dan jika saat itu tiba tak usah malu meminta bantuan ku." ucap Nindy suaranya penuh penekanan.
Nindy pun melangkah pergi.
Tapi kaki nya terhenti saat Ujang berkata.
"Aku ingin kepala dua orang itu." ucap Ujang.
Visi hidupnya sekarang membalaskan rasa sakit dihatinya.
Nindy termenung sebentar.
Saat mendengar ucapan pria dibelakang nya.
Tanpa sadar Ujang menerima tawaran dari Nindy.
Senyum Nindy pun merekah otak liciknya sudah mulai bekerja.
Tanpa ragu-ragu Nindy melangkah menghampiri Ujang.
Ujang yang posisi nya sedang membelakangi Nindy pun hanya diam saja.
Nindy lalu memeluk tubuh Ujang dengan lembut.
Membisikan ditelinga Ujang dengan sehangat mungkin.
"Aku bisa memuaskan mu." bisik Nindy.
Tangan nya sudah meraba baju Ujang.
Sementara bibir nya mengecup dengan lembut leher Ujang.
Ujang hanya diam saja, membiarkan perempuan ular itu memuaskannya.
Sementara pengawal yang tadi mengejar Nindy dan berdiri tak jauh dari Tuan nya itu memalingkan mukanya.
Nindy pun maju dihadapan Ujang.
Dengan lihai, mencium bibir Ujang.
Ujang pun membalas ciuman itu, dan mereka pun melakukan itu di tempat latihan tanpa malu sedikit pun.
__ADS_1
Suasana panas kian membara ditengah gelap malam gulita.
Dasir angin pun tak membuat nya kedinginan justru semakin meningkat nya nafsu di kedua orang itu, hingga mereka berhenti karna merasakan lelah dan nikmat nya.