
Yohan langsung menuju keruangan Dokter dia mencari lelaki tadi yang barusan mengobrol dengan Mimin.
"Maaf Tuan, disini hanya boleh masuk Dokter dan perawat Tuan." seorang perempuan memakai baju perawat menegur Yohan dengan halus dan sopan.
"Panggil Dokter gadungan itu." ucap Yohan menatap tajam perawat itu, seketika perawat itu langsung mematung takut.
Mendengar keributan dari luar pintu Ruangan Dokter, semua dokter yang ada disitu keluar begitu juga dengan Egi, lelaki itu muncul dibelakang para dokter yang sedang mengerubungi keributan.
"Tuan, maaf saya hanya menjalankan prosedur. tolong Tuan ikuti perintah." ucap Perawat itu dengan masih gemetar kakinya sudah ingin duduk karna saking takutnya.
"Panggil dokter yang bernama Egi, saya ingin membuat perhitungan dengan nya, berani sekali dia mengoda istri ku menyuruh nya untuk bekerja, hey kamu tidak tau siapa aku." teriak Yohan saat melihat Egi tak jauh dari nya.
Egi yang disebut nama nya langsung berdiri menghampiri Yohan, sementara Egi menyuruh perawat itu pergi.
"Maaf sebelumnya Tuan, kesalahan apa yang membuat Tuan Yohan sampai semarah ini dan saya juga tidak pernah berbicara dengan istri Tuan apalagi sampai menyuruh nya bekerja Tuan." ucap Egi dengan sopan.
"Dia, istri ku. Kau tau Mimin istri ku." ucap Yohan tinggi sambil menunjuk Mimin yang datang tergopoh-gopoh karna mendengar keributan.
Egi menatap Mimin meminta penjelasan sementara Mimin mengeleng kan kepala, saat itu kondisi nya semakin kacau, Joy yang melihat Tuan nya sedang jadi pusat perhatian pun langsung berhambur menuju Tuan nya.
"Tuan ada apa." tanya Joy mengkhawatirkan keadaan Tuan Yohan.
"Dari mana saja kau bodoh, lihat Dokter gila ini menghina ku dia bahkan menyuruh istri seorang pengusaha terkaya di negara ini." ucap Yohan lagi amarah nya masih memuncak.
Tunggu, bukan kah Tuan Yohan amesia lalu kenapa bisa mengingat Joy. Mimin.
"Tuan tidak sedang pura-pura amesia kan." ucap Mimin menunggu jawaban dari Yohan.
Yohan dan Joy menatap bersamaan.
Sial, gara-gara cemburu aku lupa penyakit ku. Yohan.
"Kamu ngomong apa sih, yah tidak lah buktinya aku ingat kamu sama Clay anak kita." ucap Yohan membenarkan sikap nya.
"Maaf Nona, sebenarnya saat Nona pergi saya memberi tau Tuan Yohan sekilas tentang saya jadi dia tau." ucap Joy mencoba menenangkan suasana.
"Min, apa benar yang dikatakan Tuan Yohan kamu istri Tuan Yohan, tapi kamu bilang bukan kah kamu bekerja sebagai pembantu disini." tanya Egi.
__ADS_1
"Jika kau berani berkata ia aku jamin menit ini rumah sakit dan seisinya akan aku cabik²." bisik Yohan pada Mimin.
Mimin mendengar ucapan itu menatap Egi, dia harapan aku satu-satunya tapi kini akan menghilang jauh melayang.
"Min." panggil Egi.
"Aku tidak bisa menjawab." ucap Mimin menunduk.
Maaf Egi, aku tidak ingin kamu terluka seperti Ujang biarlah aku yang menderita disini." Mimin.
"Kenapa tidak bisa menjawab Min, Tuan Yohan mengira aku memperkerjakan istri nya dan Tuan Yohan bilang kamu Istrinya, bukan kah kamu sudah bertunangan dengan Ujang, sebenarnya apa yang terjadi Min." ucap Egi.
"Ya, aku istrinya kamu puas, kamu senang bisa tidak jangan ganggu hidup ku. aku lelah dengan semua ini." teriak Mimin menangis dan berhambur pergi keluar menahan malu.
"Mimin." panggil Egi.
"Kamu dengar kan apa yang dikata nya, jadi aku peringatkan kamu jangan mengusik nya, jika sampai kamu berbicara sedikit pun dengan nya aku jamin rumah sakit yang ayah mu bangun akan runtuh dalam sekejap." ucap Yohan.
Yohan pun lalu meninggalkan Egi, yang menatap nya penuh dengan rasa penasaran.
"Sebenarnya apa yang sudah terjadi padamu Min, hingga kau berurusan dengan lelaki kejam itu." Egi.
Joy yang melihat Tuan dan Mimin saling berkejar pun menatap nya dalam-dalam.
Kenapa sih, suka sekali main kejar-kejaran, udah gede juga. Joy.
Dengan langkah cepat Joy mengikuti Tuan nya di belakang disana Yohan sedang memeluk Mimin dengan erat sekali takut terjadi sesuatu yang buruk menimpa nya.
Joy pun mendengarkan pembicaraan mereka tak jauh dari mereka berdiri.
"Maaf." ucap Yohan sambil mengelus kepala Mimin dengan lembut.
Mimin yang merasakan sentuhan hangat dari lelaki yang dibenci nya ini pun menangis dengan keras menumpahkan semua kesedihan nya selama ini, mengingat kembali saat dirinya pertama kali datang ke negara ini.
Setelah tangis Mimin meredah Yohan pun membimbing Mimin duduk dikursi yang ada didekatnya.
"Aku mohon terimalah perasaan ku ini, aku janji akan menuruti semua keinginan mu dan akan membahagiakan mu." ucap Yohan menatap Mimin.
__ADS_1
Mimin yang melihat ketulusan cinta dari seorang Psikopat dihadapan nya yang pernah membuat nya benci kini luluh entah kemana.
Dengan gemetar Mimin menganggukkan kepala, Mimin ingin masalah yang lalu menimpa nya itu bisa dilupakan.
Yohan pun memakaikan kalung liotin permata yang sudah dibikin sejak lama untuk Mimin, kini bisa dipakaikan langsung dileher nya tanpa ada sedikit pun paksaan.
"Sayang, aku janji akan membahagiakan mu." ucap Yohan setelah selesai memakai kan kalung itu.
Yohan pun, dengan lembut mencium bibir Mimin begitu pun juga Mimin yang membalas ciuman itu.
Daun-daun berguguran menambah romantis suasana, sementara Joy membalikan badan nya Joy tersenyum lega akhirnya cinta Tuan nya terbalaskan walaupun harus banyak sekali rintangan.
Ada dua orang yang tak suka melihat itu dia mengenggam jemari nya kuat melukis nama orang itu satu satu dihatinya untuk selalu ingat akan membalas dendam nya.
"Tuan." ucap Mimin kikuk, wajah nya memerah.
"Ehmm, Sayang jangan panggil Tuan." ucap Yohan sama Kikuk nya bahkan suara gemetar menahan gugup.
Baru kali ini Yohan gugup setelah melakukan hal tadi, biasanya dia biasa ajah saat melakukan itu.
"Aku belum terbiasa." ucap Mimin mengalihkan pandangan nya.
Begitu juga Yohan yang menyembunyikan rona merah dipipi nya karna menahan malu dihadapan Mimin.
"Kamu cantik." ucap Yohan akhirnya dia begitu malu-malu.
Hey jiwa psikopat ku Munculah. Yohan.
Mimin yang dibilang begitu jadi salah tingkah Mimin membetulkan duduknya hendak bangun tapi suara perut Mimin yang keroncongan akibat belum makan pun bunyi sangat keras.
Kenapa harus bunyi sih, disaat-saat aku sedang gugup. Mimin.
Yohan yang mendengar perut Mimin pun menatap Mimin dan langsung berdiri membuat Mimin reflek ikut berdiri.
"Ayok makan, aku juga laper. ohh yah sayang mau makan apa." tanya Yohan menunduk karna tubuh Mimin lebih pendek dari tinggi nya yang hanya sedada.
Mimin yang diperlakukan seperti itu pun kembali berbunga-bunga.
__ADS_1
Oppa. Mimin.