Tobatnya Psikopat Bucin

Tobatnya Psikopat Bucin
Bab 15 Dilema


__ADS_3

Sementara itu Manda menunggu Mimin karna udah seharian ini Mimin tidak pulang kekamar setelah dipanggil Tuan Yohan, ingin sekali Manda ke kamar Tuan Yohan tapi Tuan Yohan ada dikamar nya bertanya sama Joy pun pasti dia akan kena marah.


"Min, kamu kemana." ucap Manda sambil terus menatap kamar Tuan Yohan karna sekarang Manda ada diluar dihalaman.


"Kak Manda, Mimin dari kemarin belum keluar dari kamar Tuan Yohan apa terjadi sesuatu yah." tanya Rani yang satu piket kerja nya dengan Mimin.


Manda pun menatap Rani, tanpa pikir panjang lagi Manda langsung menyeret Rani dari halaman menjauhi tempat itu di kira kira menurut Manda aman dari cctv nya Tuan Yohan.


"Ran, sebenarnya pas aku gak sengaja lewat didepan kamar Tuan Yohan aku denger Mimin nangis, makannya aku khawatir banget takut terjatuh sesuatu pada Mimin apalagi Mimin kan masih baru gak terlalu seluk beluk sikap Tuan Yohan." ucap Manda setengah berbisik.


"Apa kita lapor polisi aja Kak." usul Rani sebenarnya Rani juga sama denger suara tangis Mimin.


"Kalian ngapain disini." sebuah suara mengagetkan mereka berdua.


"Tuan Joy, maaf tadi kami lagi nyariin Mimin karna seharian ini sampai sore Mimin belum keliatan." ucap Manda berusaha semaksimal mungkin mengatakan kebenaran nya.


"Hah kok bisa? tadi nya Mimin kemana." ucap Joy pura pura kaget.


"Tuan, tolong cariin Mimin kita sangat khawatir banget sama keadaan nya." Pinta Manda.


Joy pun menatap mereka satu persatu bergantian lalu Joy pun melangkah mendekati mereka berdua.


"Kalo kalian masih ingin bekerja disini dengan tenang jangan bahas Mimin sedikit pun anggap Kalian tidak tau Mimin kemana, kalo sampai kalian ngasih tau ke yang lainnya saya jamin hidup kalian sampai disini termasuk keluarga kalian." Ancam Joy.


Joy pun langsung melangkah pergi dari situ meninggalkan mereka berdua yang masih pucat basi.

__ADS_1


"Mimin." tangis mereka berdua berpelukan erat sekali menahan sedih ingin sekali pergi dari sini dan menceritakan segala nya.


****


Tok tok tok.


Karna suara ketukan pintu itu membuat Yohan terbangun dari tidur nya dia menatap pintu ruangan rahasianya.


Dengan langkah sempoyongan karna baru bangun tidur Yohan pun membuka pintu itu disana sudah ada Mimin yang berdiri sambil menunduk.


"Tuan, saya laper. emmm saya gak akan kabur atau pergi saya akan kembali bekerja dan saya juga janji gak akan berbicara dengan Ujang, intinya bolehkan saya kembali ke kamar saya lagi saya lapar." ucap Mimin sambil menunduk dia benar benar takut dengan keadaan nya sekarang tapi jika Mimin masih disini saja terkunci dalam ruangan megah ini dirinya gak bisa pergi ataupun mencari tau tentang ibunya.


"Kalo kamu laper panggil Joy aja, dua hari lagi kita akan menikah." ucap Yohan tanpa menatap Mimin dia pun berlalu masuk menuju kamar mandi.


Mimin melihat pintu didepan nya tertutup tapi Tuan Yohan sedang mandi kalo dirinya keluar dari sini mungkin tidak akan diketahui oleh Tuan Yohan, dengan langkah sepelan mungkin Mimin kekuar dari kamar Tuan Yohan dia pun mengendap ngendap menuju kamar nya saat sudah sampai didalam Mimin langsung memasukan baju dan barang barang penting lainya kedalam tas sebelumnya Mimin mengirimi Ujang pesan untuk menjemput nya karna dirinya ingin kabur dari tempat Tuan Yohan setelah selesai Mimin pun hendak keluar suasana masih sepi.


"Kak Manda." ucap Mimin sambil berpelukan erat sekali.


"Min kamu mau kemana." tanya Kak Manda yang melihat Mimin bawa tas.


"Kak, bantu Mimin kabur dari sini. Mimin diperkosa sama Tuan Yohan dan Tuan Yohan sekarang mengurung Mimin dikamar nya Mimin takut Kak." tangis Mimin meledak sebenarnya Mimin malu menceritakan masalah ini tapi Mimin hanya ingin berbagi musibah pada satu orang sehingga kalo Mimin ngaduh ada buktinya.


"Cepat cari Mimin sampai ketemu, aku tak mau tau." teriak Tuan Yohan pada Joy suaranya mengelegar diluar kamarnya.


Kak Manda yang mendengar teriakan Tuan Yohan pun tanpa pikir panjang lagi menarik tangan Mimin yang wajah nya sudah ketakutan dia pun langsung membawa Mimin keluar menuju pintu belakang karna sekarang jam istirahat Pelayan pun sedang pada istirahat.

__ADS_1


"Min ini bawa uang Kak Manda, naik taksi ini jangan pernah kembali lagi atau melaporkan masalah ini karna nantinya Tuan Yohan akan membunuh mu hidup hidup, pergi Min. hanya ini yang bisa Kak Manda bantu, jaga diri baik baik." ucap Manda menyuruh Mimin masuk ke taksinya.


Mereka pun berpelukan dengan erat lalu melepaskan pelukan itu dengan tak rela tapi Manda cepat cepat menyuruh Mimin pergi.


Mimin yang sudah pergi meninggalkan kediaman Tuan Yohan pun hendak pulang ke negaranya karna dia tidak akan menginjakkan kakinya disini lagi.


Saat taksi yang sudah ditumpangi dirinya sampai di airport pun Mimin langsung membayar taksinya dan melangkah cepat memasuki ruangan tiket pesawat.


Tapi kaki Mimin berhenti melangkah saat melihat Joy ada di ruangan itu dengan enam orang pria berjas hitam yang berdiri tak jauh dari Joy, tiba tiba tangan Mimin ada yang narik dan masuk ke sebuah ruangan kecil pengap.


"Mimin, kamu ngapain disini." tanya Bu Jasmin yang kebetulan dirinya hendak beli tiket.


"Bu Jasmin." ucap Mimin memeluk sambil menangis tersedu sedu.


"Min, sebaiknya kita pergi dari sini." ucap Bu Jasmin.


Mereka berdua pun menuju mobil Bu Jasmin yang ada di parkiran mobil, dengan cepat mereka masuk ke mobil Bu Jasmin dan Bu Jasmin pun melajukan mobil nya meninggalkan tempat itu menuju Apartemen nya.


Sesampainya di apartemen Bu Jasmin langsung menyiapkan teh hangat dan memberikan ke Mimin, dengan gemetar Mimin meraih gelas itu dan meminumnya sedikit.


"Tuan Yohan telah melakukan apa sama kamu Min, apa dia memukuli mu hingga kamu kabur dari tempat kerja nya." ucap Bu Jasmin, sebenarnya sudah sering sekali Bu Jasmin membantu pelayan Tuan Yohan kabur karna sikap psikopat Tuan Yohan yang sering meledak ledak.


Mimin hanya mengeleng dia malu menceritakan aibnya sendiri tapi dirinya sungguh sangat takut pertama kali datang ke luar negeri hingga membuat nya teromah apalagi sekarang keadaan ibunya tak tau, Mimin hanya bisa menangis dia ingin secepatnya bertemu dengan ibunya.


"Min, sudahlah. Bu Jasmin jadi ikut sedih, sekarang cerita sam Bu Jasmin apa yang menimpa mu dan apa yang harus Bu Jasmin lakukan untuk mu." ucap Bu jasmin sambil membelai rambut Mimin lembut.

__ADS_1


Mimin hanya menangis menumpahkan seluruh kesedihan nya dia takut Ibunya kenapa kenapa, hanya itu yang bisa Mimin pikirkan sekarang tidak memikirkan dirinya sendiri untuk selamat karna didunia ini cuma Ibu yang Mimin punya.


__ADS_2