Tobatnya Psikopat Bucin

Tobatnya Psikopat Bucin
Bab 14 Harusnya tidak seperti ini


__ADS_3

Yohan pun setelah keluar dari kamar nya dia menuju loteng tempat dirinya memikirkan masalah nya.


Prangg.


Vas bunga yang ada di meja itu pecah berantakan, rahang Yohan mengeras mengingat kelakuan dirinya barusan itu sebelumnya dirinya tidak pernah melakukan hal yang tak senonoh seperti itu.


"Apa gadis kampung itu memakai sihir, kenapa aku harus marah saat Ujang ingin menikahinya padahal aku tidak punya hubungan sedikit pun dengan nya, dan bodohnya kenapa aku tidak bisa mengontrol diri seperti ini, bahkan arrgh." ucap Yohan pada diri sendiri sambil mengusap kasar wajahnya.


Yohan pun duduk di sofa itu dekat dengan meja, mata nya fokus pada vas yang terjatuh berserakan itu, sekeebat ingatan nya kembali melayang pada saat malam sebelum kejadian.


******


"Tuan, memanggil saya." tanya Joy.


"Ikuti mereka dan cari tau apa yang mereka lakukan." ucap Yohan sambil melempar foto Mimin dan Ujang di meja.


"Baik Tuan." ucap Joy.


Tanpa menunggu lama lagi Joy pun langsung menjalankan tugasnya mengikuti Mimin mulai dari keluar dari rumah Tuan Yohan sampai pulang lagi.


Setelah selesai dengan tugas nya Joy pun langsung datang menemui Tuan Yohan yang sedang meminum soju.


"Tuan." panggil Joy sopan.


Yohan pun menatap sekilas lalu menyuruh Joy untuk melaporkan tugas nya dengan lirikan mata saja Joy mengerti maksud dari Tuan Yohan.


"Apa, jadi dia mau menikahi lelaki jelek itu." ucap Yohan rahang nya mengeras sekali.


"Berani sekali dia, Joy paling gadis itu kesini akan aku beri dia pelajaran." ucap Yohan sambil meremas tangan nya sendiri menahan kesal karna laporan dari Joy barusan.


****


"Bodoh kenapa kamu melakukan hal bodoh begini." ucap Yohan setelah selesai mengingat kejadian sebelum hal itu terjadi.


tok tok tok.

__ADS_1


Mata Yohan menatap pintu kamar nya yang diketuk, dengan malas Yohan bangkit dari duduknya melangkah ke arah pintu itu saat dibuka pintunya sudah ada Mamihnya.


"Mamih ngapain kesini." ucap Yohan yang kaget dengan kedatangan Mamihnya itu.


Plak.


Satu tamparan mendarat di pipi Yohan, tak lama setelah Yohan ditampar datang Nindy dibelakangnya sambil wajah nya sedih.


"Mamih bilang sama kamu nikahi Nindy dia sudah mengandung anak mu Han, walapun kamu tidak mencintainya tapi didalam perut nya ada daging mu." ucap Mamihnya mengebu gebu.


"Dia bukan anakku." ucap Yohan matanya masih tajam menatap Mamihnya.


Mamihnya Yohan kembali mengeleng geleng ucapan anak nya itu entah sikap dari mana yang dia pelajari itu.


"Buktikan kalo didalam rahim Nindy bukan anak mu." ucap Mamihnya karna selama ini Yohan belum memberikan bukti padanya.


Tanpa meladeni ucapan Mamihnya Yohan pun mengambil handphone nya yang disaku kantong celana nya dan dengan cepat menghubungi Joy.


"Bagus." ucap Yohan


"Dan untuk kamu wanita ular aku akan kasih pelajaran supaya kamu tau bermain main dengan siapa." ucap Yohan sebelum pergi.


Mendengar ucapan dari Yohan itu mata Nindy membulat sambil meremas tangan nya menahan takut dengan ucapan Yohan barusan itu.


Mereka berdua mengekori Yohan keruangan tamu disana sudah ada Joy dan anak buahnya yang berdiri tegak menunggu perintah Yohan dan ada salah satu pria yang duduk dilantai dengan wajah babak belur mata Nindy membulat melihat pria itu, sementara Mamihnya hanya menatap sedu lelaki itu.


"Apa dengan menyiksa dan membunuh orang yang bermasalah dengan mu, itu membuat mu bahagia." ucap Mamihnya menatap putra Sulung nya.


Yohan memang sedari dulu mempunyai sikap yang berbeda dengan adiknya dia sangat bahagia ketika melihat orang menderita bahkan sewaktu kecil Yohan pernah menyiksa teman nya lantaran temannya mengajak nya bermain.


"Kenapa kamu bisa menjadi seperti ini Han, apa salah Mamih dan Papih." ucap Mamihnya Yohan dia memang wanita lembut begitu juga Papihnya tegas tapi tak pernah melakukan sikap seperti Yohan.


"Mamih tau dokter bahkan sudah mengencam aku psikopat, jadi kembali lah ke rumah Mamih dan aku tidak mau menikahi perempuan yang benar benar bukan mengandung anak ku, dia ayah dari janin itu bu." tunjuk Yohan mata masih tajam dia sama sekali tak takut dengan dengan sikap nya ini.


"Han." tangan Nindy meraih tangan Yohan dia berusaha menyakinkan walaupun buktinya sudah banyak.

__ADS_1


Plak. Brug.


Nindy ditampar Yohan dan terpental agak beberapa meter karena didorong oleh Yohan dengan kuat tanpa sedikit pun rasa kasian.


"YOHHANNN." Teriak Mamihnya yang melihat bibir Nindy berdarah dan meringis kesakitan.


"Ini bukti nya Mih, dan mulai sekarang Mamih tidak usah menginjakkan kaki Mamih dirumah ku, Joy bahwa mereka keluar aku muak melihat nya." ucap Yohan dia langsung meninggalkan ruang tamu itu dan masuk ke kamarnya.


Sesampainya dikamar Yohan membanting semua benda yang ada didepannya dia pun mengaruk garuk lengan nya melampiaskan kekesalannya kepada dirinya sendiri sampai lengan nya berdarah darah, Mimin yang melihat dari balik pintu pun hanya diam mematung melihat Tuan Yohan tak merasakan sakit sedikit pun tangan nya digaruk dengan keras.


Tok tok tok.


"Masuk." ucap Yohan.


Joy pun melihat tangan Tuan Yohan berdarah dia dengan cepat mengambil kotak obat dirinya memang sudah terbiasa mengobati Tuan Yohan, jika sudah marah Tuan Yohan akan melukai dirinya sendiri.


"Kenapa Tuan tidak melampiaskan amarah Tuan pada Ikan itu." ucap Joy seperti biasa memberinya nasihat.


"Aku tidak mau melukai ikan itu dia tidak bersalah." ucap Yohan datar.


"Maaf karna sudah membuat Tuan Yohan lama mendapatkan bukti itu." ucap Joy.


Yohan tak meladeni dia hanya melihat lukanya yang sudah diperban oleh Joy, Joy pun menaruh kotak obatnya ditempat semula.


"Tuan saya akan menyuruh Elsa membersihkan kamar ini." ucap Joy yang sudah mau keluar.


"Elsa sedang cuti, dia pulang kenegara asalnya." ucap Yohan sambil merebahkan kepalanya disofa.


Mata Joy membulat kenapa Elsa tidak memberi tau nya bahkan salam pamit pun tak ada Joy pun terpaku sebentar dan kembali membetulkan sikapnya.


"Saya akan panggil pelayan lainya Tuan." ucap Joy.


Yohan hanya mengangguk mata nya benar benar lelah dia pun memejamkan mata nya sementara Mimin yang sudah melihat situasi tenang pun kembali duduk disofa kamar ruang rahasia Tuan Yohan.


Apa yang harus aku lakukan, meminta tanggung jawabnya karna sudah menodainya tapi Mimin tau pasti dirinya akan berakhir sama dengan perempuan itu, sementara Ibunya sekarang pasti dalam keadaan takut ya tuhan apa yang harus aku lakukan, kalo aku kabur ibu bagaimana, memberi tau Ujang tentang hal ini mungkin nanti dirinya akan dicap pengoda oleh Ujang, terus apa yang harus aku lakukan aku tidak mau selama lamanya berada diruangan ini. Mimin.

__ADS_1


__ADS_2