
Tok tok tok.
Mimin yang baru selesai mandi pun menatap pintu itu, dengan gemetar Mimin membuka pintu nya tapi siapa disangka didepan nya ada Joy yang tersenyum ceria.
"Tuan ada apa." ucap Mimin kaget karna sikap Joy yang menurutnya tak seperti biasa nya.
"Nona, Tuan Yohan. Sudah menunggu Nona di bawah untuk makan bersama." ucap Joy.
"Makan bersama." Reflek Mimin mengulangi kata itu.
"Iyah Nona, ayo. Tapi tunggu kenapa Nona masih pakai baju semalam." tanya Joy saat melihat penampilan Mimin tak berubah dari pertama datang.
"Tuan, panggil saya Mimin aja, kalo masalah baju aku beli bisa ngambil soalnya rumahnya Bu Jasmin jauh baju Mimin tertinggal di sana." ucap Mimin menjelaskan.
"Baik Nona, setelah makan Nona bisa berbelanja baju, sekarang mari ikuti saya karna Tuan Yohan sudah menunggu." ucap Joy.
Sebelum Mimin menjawab Joy sudah melangkah pergi, Mimin pun akhirnya mengikuti Joy dibelakang dengan wajah masih tidak mengerti.
Terlihat dengan jelas disana sudah ada Yohan yang duduk sambil makan, sementara pelayan yang Mimin kenal pun berdiri tak jauh dari nya.
"Tuan." ucap Mimin gugup.
"Duduk lah, Kita makan bareng. kamu juga Joy." ucap Tuan Yohan.
Joy yang seumur hidup melayani Tuan Yohan baru kali ini disuruh makan bareng, sebenarnya malaikat apa yang merasuki Tuan Yohan hingga sikap nya berubah.
Mereka bertiga pun makan dalam diam, Mimin sebenarnya lapar banget tapi rasa takut duduk didekat Tuan Yohan membuat nya makan sedikit karna hidangan didepan nya benar benar mengoda selera tapi setelah dimakan rasa nya begitu hambar.
"Nie." Yohan menaruh daging ayam di piring Mimin.
"Tuan." ucap Mimin kaget.
"Makanlah." ucap Yohan masih fokus memakan.
__ADS_1
Pelayan yang melihat dari belakang pun juga terlihat pucat wajahnya karna kaget dengan sikap Tuan Yohan, sementara Joy mulai menatap Tuan Yohan dengan wajah khawatir.
******
Selesai makan, Yohan menyuruh Mimin belanja dan sekarang mereka sudah ada dimobil Tuan Yohan.
Mimin masih belum terbiasa didekat Tuan Yohan, sementara Joy menyetir sambil terus memikirkan sikap Tuan Yohan yang berubah sedikit demi sedikit.
Mobil berhenti di Mall terbesar di Korea Selatan, dan pemilik dari Mall ini disamping Mimin sekarang.
"Tuan, saya masih ada baju kok tinggal ngambil aja di rumah Bu Jasmin." ucap Mimin sebenarnya Mimin tak enak.
"Ikut." ucap Yohan dingin dan datar sekali wajahnya nya.
Mimin pun langsung keluar dari mobil Tuan Yohan, semua orang langsung menyambut Tuan Yohan dari manajer Mall dan karyawan biasa. berbaris rapih saat Tuan Yohan lewat semua menunduk Mimin dibelakang Yohan dan dibelakang Mimin, Joy masih setia mengikuti Tuan Yohan.
Yohan berhenti di depan seorang perempuan karyawan yang menunduk takut, langkah Yohan semakin mendekati perempuan itu semua orang terlihat sangat takut.
"Kamu, bersihkan dia dan pakai gaun yang mahal." ucap Yohan pada karyawan perempuan itu sambil menunjuk Mimin sementara Yohan langsung berlalu menuju lantai atas tempat untuk dirinya.
Mimin pun yang diperlakukan seperti ratu pun hanya mengikuti langkah perempuan itu yang menuntun nya masuk kesebuah tokoh disana sudah banyak sekali gaun yang terpajang dengan satu set periasan lengkap.
"Nona, model gaun apa yang Nona sukai." tanya Pelayan itu sopan.
Mimin terdiam harus jawab apa karna baru pertama kali beli gaun di Mall gede seperti ini.
"Ehmm, saya ingin gaun yang sederhana saja tapi sopan." ucap Mimin akhirnya.
Pelayan itu pun tersenyum dengan sikap Mimin dengan cepat Pelayan itu mengambil gaun selutut berwarna merah darah karna melihat kulit Mimin yang Kuning langsat.
"Mari saya bantu memakaikan." ucap pelayan itu lagi.
"Emm, tidak usah biar saya saja." Mimin pun langsung menarik gaun yang masih ada ditangan pelayan itu dan langsung menuju tempat ganti baju.
__ADS_1
Setelah selesai Mimin keluar pelayan yang menunggu Mimin pun terpesona betapa Elegan dan cantik sekali walau gaun itu terlihat sederhana tapi ketika dipakai Mimin terlihat mewah.
"Nona saya akan membantu Nona untuk make up." ucap Pelayan itu Mimin pun langsung mengikuti Pelayan itu.
Selesai di make Up Mimin pun disuruh mengikuti pelayan itu, dengan langkah pelan Mimin terus mengekori pelayan itu.
Sampai ada sebuah tangan menarik tangan Mimin, Mimin pun mau tidak mau langsung berbalik tapi karna belum terbiasa pakai hak tinggi Mimin terpeleset dan lelaki itu langsung meraih tubuh Mimin dan pria itu memeluk tubuh Mimin.
"Ujang." ucap Mimin yang melihat siapa lelaki yang menarik tangan nya.
Cukup lama mereka dalam posisi seperti itu, dan Mimin pun meyadari dia langsung membetulkan sikap nya.
"Min, kamu disini ngapain." tanya Ujang menatap wanita yang dirindukan nya karna kerjaan nya menumpuk dirinya tidak berkomunikasi cukup lama.
"Ujang." Mimin pun reflek langsung memeluk Ujang air mata nya terjatuh sementara Unang kaget dengan sikap Mimin tapi membiarkan saja.
Sementara itu pelayan yang melihat keduanya sedang berpelukan pun menatap nya aneh karna lelaki yang dipeluk itu orang kepercayaan Mamihnya Tuan Yohan.
"Mimin, ada apa." tanya Ujang sekali lagi karna Mimin hanya menangis saja.
Ujang pun membawa Mimin dari situ pelayan yang mengantar Mimin pun mengekori keduannya.
"Ujang, aku izinkan kamu cari perempuan lagi. karna aku sudah tidak pantas untuk mu, dan jangan pernah mengecewakan Tuan Yohan entah berita apa yang akan kamu dengar setelah ini tolong jangan membencinya cukup kamu kecewa padaku." ucap Mimin sambil menangis sebenarnya Mimin tidak ingin berpisah dengan Ujang tapi takdir berkata lain.
"Maksud kamu Min, kamu sudah ada yang lain? atau kamu sudah bosan sama ku." ucap Ujang masih belum mengerti ucapan Mimin.
Alasannya begitu tak masuk akal, Mimin pun mengeleng dan meraih tangan Ujang dengan lembut sementara Ujang membiarkan saja.
"Ujang, saya yang tidak pantas untuk mu, bukan karna saya bosan atau apa, tapi saya. Mimin diri ini tidak pantas." ucap Mimin tangis nya meledak.
Dan membuat Ujang makin tidak mengerti.
"Apa terjadi sesuatu kepada mu Min." tanya Ujang bola mata nya menelisik tajam mencari kebenaran lewat sorot mata Mimin yang sudah beranak sungai.
__ADS_1
"Cerita Min, apa pun yang terjadi sama kamu aku akan tetap menunggu mu, aku menerima semua kekurangan mu Min, jadi jangan pernah berbicara yang tidak tidak, tunggu saya abis kontrak dan di waktu itu saya akan menikahi mu." ucap Ujang sambil mengenggam kedua tangan Mimin.
perempuan yang akan bersama mu kelak akan sangat beruntung mempunyai jiwa yang peduli pada wanita nya, semoga kamu bahagia selalu Ujang. Mimin.