
Saat itu Ujang sedang menghapus air mata nya Mimin.
Dikejauhan Yohan mengenggam tangan nya dan melangkah dengan wajah marah.
"Tuan." panggil Joy.
Tapi Yohan melangkah maju dan sampai di depan mereka berdua.
Wajah Mimin dan Ujang kaget.
Bugg.
Belum mengatakan Apapun, Yohan langsung meninju Ujang sampai jatuh tersungkur,.
Dari kursi yang didudukinya.
Mimin pun langsung membantu Ujang bangun.
Tapi justru membuat Yohan semakin marah karna sikap Mimin itu.
"Joy, bawa Mimin dari sini." ucap Yohan dingin dan datar.
"Tuan." ucap Mimin hendak melerai tapi.
Tangan Mimin diseret dengan paksa oleh Joy.
"Tunggu disini, lain kali jangan pernah berbicara dengan orang lain." ucap Joy langsung nelangkah pergi meninggalkan Mimin yang hanya terpaku.
Saat Joy baru sampai Ujang sudah tergeletak dengan muka babak belur, dengan cepat Joy meraih tangan Tuan Yohan yang hendak kembali memukul Ujang.
"Joy, Lepas." teriak Yohan wajah sudah berapi api.
Joy pun masih menahan tangan Tuan Yohan.
Sementara Ujang bangun dengan wajah kesakitan.
"Dasar Biadab, Sampai kapan pun aku akan balas semua rasa sakit ini." ucap Ujang melangkah pergi.
*****
Ujang masuk ke dalam mobil nya melihat dari kaca mobilnya kini penampilan nya, sudah berantakan.
^^^Apa yang terjadi dengan mu, Mimin.^^^
Mata Ujang menatap Mimin yang diseret dengan paksa oleh Yohan saat Mimin masuk ke mobil Yohan.
Ujang melihat bibir Mimin berdarah, tangan nya mencengkeram setir mobilnya, berani sekali dia menampar wanita yang dicintainya.
****
Sementara itu di mobil Tuan Yohan Mimin hanya menundukkan kepalanya.
Yohan menatap sekilas Mimin lalu merebahkan kepala nya yang terasa sakit akibat perkelahian tadi.
Mimin menatap keluar jendela salju turun begitu bebas nya, tak bisa bersuara, bernafas pun seakan takut.
Bayangan Mimin kembali melayang.
Plakk.
__ADS_1
"Tuan." ucap Mimin yang habis ditampar oleh Yohan.
Baru kali ini dirinya diperlakukan layak nya binatang bahkan binatang pun lebih mulia ketimbang dirinya.
Mata Yohan menatap tajam Mimin, rahang nya mengeras.
Plakk.
"Awww." pekik Mimin menahan sakit untuk yang kedua kali nya.
Banyak karyawan yang ada disitu tidak berani membantu apalagi melihat, seakan tidak ada apa pun.
Cihh, berani sekali kamu berbicara dengan nya, bahkan mulut mu itu tak henti hentinya tersenyum. Yohan.
Karna masih kesal Yohan pun langsung menyeret Mimin yang masih terduduk dilantai.
Dengan langkah gemetar Mimin mengikuti langkah Tuan Yohan karna menyeret tangan nya dengan cepat.
"Tuan, sakit." ucap Mimin dengan air mata yang masih mengalir sementara bibir nya berdarah karna tamparan tadi.
Joy yang melihat Tuan Yohan dan Mimin menuju dirinya langsung membuka kan pintu dan Yohan pun mendorong tubuh Mimin dengan kasar ke dalam mobil.
Yohan pun langsung duduk disamping Mimin dengan wajah kesal.
Joy langsung menutup pintu mobil nya dan masuk ke dalam mobil, Joy pun melaju kan mobil nya dengan kecepatan sedang.
****
"Hey, gadis bodoh." teriak Yohan yang melihat Mimin tertidur disamping nya.
Mimin tersadar Mata Mimin melihat lihat disekitar nya.
"Bangun." ucap Yohan lagi yang melihat Mimin hanya mematung.
"Tuan ini dimana." tanya Mimin masih dengan nada gemetar.
"Ikut." ucap Yohan tanpa menjawab pertanyaan Mimin.
Tangan Yohan langsung menyeret Mimin dengan kasar, lagi, lagi dan lagi.
Mimin diseret seperti anjing peliharaan nya.
Mimin menatap ruangan nya, dirinya memasuki lorong yang diukur dengan sangat indah.
Kini Mimin dan Yohan sedang ada di lift, tak lama lift pun terbuka.
Yohan yang melihat Mimin hanya terdiam pun langsung menyeret Mimin.
"Tuan, saya mau dibawa kemana." ucap Mimin air mata nya sudah terjatuh.
Yohan pun berhenti dipitu tak jauh dari lift karna ruangan ini hanya satu kamar.
Pintu kamar pun terbuka.
Brukk.
Yohan langsung melempar Mimin masuk ke kamar itu, siku Mimin terbentur kena lantai.
"Mulai sekarang ruangan ini kamar mu dan besok kamu akan menikah dengan ku, dan untuk ibu serta sahabat mu itu dia sedang terbaring di rumah sakit penuh dengan alat bantuan, harga untuk pengobatan mereka tergantung sikap mu sekarang." ucap Yohan langsung melangkah pergi meninggalkan Mimin.
__ADS_1
Dasar laki laki dajal, andai aja aku bisa mengutuk mu, aku akan kutuk kau jadi simpanse. Mimin.
Tangan Mimin mengepal menahan kesal di dadanya.
"Ahhh." teriak Mimin.
Nafas nya membara menahan rasa ingin membunuh pria itu.
****
"Tuan." ucap Joy yang melihat Yohan duduk dibelakang mobil.
"Siapkan semuanya, besok aku tak mau tau dan bunuh saja jika dia menolak." ucap Yohan wajah nya dingin dan menakutkan.
"Baik Tuan." ucap Joy.
Lalu Joy pun menyala kan mobilnya dan pergi dari situ mengantar Tuan Yohan kembali lagi ke rumahnya.
****
Ujang masuk ke apartemen nya dia pun langsung menelvon Mimin, tapi nomere nya sudah tidak aktif lagi.
"Min, sebenarnya apa yang sudah terjadi dengan kamu." ucap Ujang.
Sesaat Ujang pun berfikir hingga dia memutuskan untuk menelvon seseorang.
"Awasi pergerakan nya, dan." ucap Ujang tertahan sementara diseberang sana menunggu ucapan nya.
"Culik wanita itu bawa kesini." ucap Ujang dengan wajah mantap.
Telvon pun langsung tertutup, Ujang menatap layar handphone nya ada foto dirinya dan Mimin yang sedang tersenyum disebuah cafe.
Cafe pertama kali dirinya jalan bersama Mimin di korea, sementara tangan Ujang satu nya lagi mengenggam menahan amarah.
******
Mimin bangun dari duduk nya melangkah menuju kamar mandi saat membuka kamar mandi Mimin sudah melihat baju tergantung tak jauh diwastafel.
Mimin menatap kaca di depan wastafel wajah nya sudah berantakan rambutnya sudah kusut sementara matanya merah dan bengkak karna menangis saja.
*Sebenarnya, kenapa Tuan Yohan melakukan hal keji ini kepada ku, padahal aku sama sekali tak membuat masalah dengan nya, dan kenapa juga Tuan Yohan menodai ku jika aku tidak pantas untuk Ujang setidaknya bicara lah baik baik.
Aku bukan gadis murahan apalagi perempuan bodoh, aku kesini hanya untuk membayar hutang hutang Ibu ku tapi kenapa nasib ku begitu kejam.
Ibu, Kak Manda, aku sama sekali tak tau sekarang keadaan nya seperti apa, kenapa harus aku yang mempunyai cobaan seberat ini.
Dan, tadi Tuan Yohan bilang aku besok akan menikahi nya?
Lantas, bagaimana ke depan nya?
Sekarang aja dia sering memukuli ku, terus ketika aku sudah terikat dengan nya, akan susah nantinya aku meloloskan diri darinya.
Apa aku kabur aja ?
Bagaimana dengan Ibu dan Kak Manda ?
Ya Tuhan, aku tidak mau menikah dengan nya hati ku sudah terpaut dengan Ujang, beri saya jalan Ya Tuhan, supaya bisa lepas dari nya*.
Mimin.
__ADS_1