Tobatnya Psikopat Bucin

Tobatnya Psikopat Bucin
Bab 7 Perubahan.


__ADS_3

Gadis itu menunduk sopan ketika Joy datang, Lirikan gadis itu menatap Mimin sementara Mimin dia menunduk tak berani menatap nya.


"Priska, ubah dia secantik Elsa." ucap Joy keceplosan.


"Elsa." ucap Priska menatap Joy.


"Maksud nya, Elsa frozen." ucap Joy gugup, tangan nya mengaruk kepala yang tidak gatal.


Priska pun mengangguk hormat mendengar ucapan Joy barusan itu, Mimin menatap gadis yang berbicara dengan Joy.


"Nona, mari ikut dengan saya." ucap Priska dia tersenyum pada Mimin.


Mimin pun balik tersenyum dia mengikuti Priska masuk ke sebuah ruangan yang di dalam nya tak lain seperti salon para bintang korea.


Mata Mimin menatap ruangan itu dengan takjub karna sungguh sangat indah sekali ruangan itu.


Setelah Mimin masuk ke ruangan itu Joy langsung memukul mulut nya sendiri dengan keras, hampir saja dia ketauan dengan Priska.


Matahari terbenam dengan lelap nya menggantikan rembulan yang datang menyinari ke gelapan malam ini, penampilan Mimin sekarang berubah total dari kepala sampai ujung kaki.


Yohan sudah selesai mengenakan sebuah jas yang sangat mahal sekali dia pun keluar dari kamar nya di belakang Yohan, Joy selalu siap siaga.


Yohan pun duduk di ruangan tamu pribadi nya, sementara Joy dia berdiri di belakang Yohan dengan tegap sekali.


Sebuah langkah kaki memasuki ruangan mereka Priska pun menunduk dengan sopan pada Yohan.


"Tuan, Nona Mimin sudah siap." ucap Priska dengan sopan.


"Bawa dia masuk." ucap Yohan kepada Priska.


Priska menyuruh Mimin masuk dia masuk dengan hati sangat takut sekali saat Mimin masuk mata Yoga menatap Mimin sedikit terpesona.


"Tuan." ucap Mimin pada Yohan.


"Joy berangkat." ucap Yohan dia berdiri.


Mereka keluar dari ruangan itu menuju mobil Yohan, Mimin sekali lagi dia ragu tapi jika dia mengacaukan pesta ini dirinya tidak akan melihat matahari esok terbit.


Joy membuka kan pintu mobil untuk Yohan, Yohan pun masuk Mimin masih berdiri di belakang Joy.


"Min, masuk." ucap Joy menatap Mimin tajam.


Mimin pun masuk dengan takut dia duduk di samping Yohan bau minyak wangi nya tercium sampai ke hidung Mimin.

__ADS_1


Mereka pun pergi dari rumah Yohan menuju sebuah pesta di perjalanan Mimin terasa gugup sekali, tangan nya sudah berkeringat sedap tadi karna takut duduk di samping Yohan.


Sementara Yohan dia fokus pada layar handphone nya tak menghiraukan Mimin di samping nya yang sudah sangat cantik, Joy yang melihat mereka dari spion pun sedikit gelisah.


Mobil pun memasuki sebuah kawasan hotel yang sangat elit di negara gingseng itu semua orang yang tau akan mobil itu menunduk pada Yohan.


Mata Mimin melihat sekeliling tempat itu bau orang kaya sudah tercium di hidung Mimin.


Joy turun dan membuka kan pintu untuk Yohan setelah Yohan turun Mimin ikut turun di belakang Yohan, semua orang yang melihat Mimin dengan tatapan benci dan iri.


Mereka sungguh memperhatikan Mimin dengan detail sekali, Yoga langsung meraih tangan Mimin menyuruh nya jangan panik.


"Jangan takut pada siapa pun disini, karna mereka hanya bawaan ku saja." ucap Yohan pada Mimin.


Yohan melangkah sambil bergandengan tangan dengan Mimin, Joy mengikuti Tuan nya dari belakang ketika Yohan masuk mereka menunduk sopan pada Yohan.


Dari dalam pintu itu keluar lelaki yang menurut Mimin sangat tampan tapi tak kalah tampan dengan Yohan.


"Yohan." sebuah panggilan dari lelaki di depan Yohan dengan senyum.


Kurang ajar sekali dia pada Tuan Yohan. Joy.


Yohan tak menanggapi panggilan itu dia melangkah masuk kedalam melihat Yohan tak meladeni nya wajah lelaki itu tampak marah tapi dia hanya diam dan mengepalkan tangan kuat.


"Kau duduk lah disini, aku mau ke tempat lain." ucap Yohan menyuruh Mimin duduk di bangku yang telah di sedia kan.


"Baik Tuan." ucap Mimin dia menunduk sopan.


Yohan dan Joy pun pergi dari situ menuju masuk ke dalam entah kemana mata Mimin menjelajahi ruangan pesta itu dia melihat sekeliling.


Burr.


Sebuah minuman berakohol mengenai gaun Mimin, senyum semua orang di sana tertawa mengejek Mimin.


"Hahahaha." suara tawa itu memeki ruangan ini.


Wajah Mimin menunduk melihat gaun yang sudah tak terbentuk lagi warna merah minuman itu menghancurkan warna gaun nya yang cream.


"Itu hukuman untuk pelayan yang tak tau diri." ucap Perempuan yang menyiram Mimin tadi.


Mimin hendak berdiri saat dia melihat wajah perempuan itu yang dia lihat saat di kamar Tuan Yohan.


Itu kan. Mimin.

__ADS_1


"Semua nya yang ada di pesta ini dengar kan aku, dia itu hanya pelayan Tuan Yohan yang mengoda pacar ku." ucap Nindy dengan berbicara menghina.


Mimin menunduk air mata nya sudah terjatuh semua ucapan yang di katakan perempuan itu benar ada nya.


"Dasar perempuan gatel." suara cibiran dari tamu pesta lain nya sudah memasuki telinga Mimin.


"Jangan sok suci." ucap nya lagi memandang Mimin dengan sinis.


Nindy yang melihat Mimin hanya diam saja tak meladeni ucapan nya menarik tangan Mimin dengan kasar wajah Mimin meringis ketakutan.


"Nona." ucap Mimin dia berusaha melepas tangan nya.


"Gara gara kau, Yohan membenci ku." ucap Nindy dia mendorong tubuh Mimin hingga terjatuh mengenai kursi yang Mimin duduki tadi.


Siku Mimin berdarah karna benturan kursi tadi yang hanya Mimin lakukan hanya menangis dia tidak bisa melawan karna dia takut Tuan Yoga akan membunuh nya.


Plak.


Sebuah tamparan yang sangat keras mengenai pipi Nindy dia hampir terjatuh ke tanah.


"Berani sekali kamu menyentuh Nona kami." ucap Joy dia sudah marah.


Nindy yang melihat Joy menampar nya bangun menatap Joy dengan marah karna sudah berani memukul nya.


"Dasar babu tak tau diri." ucap Nindy pada Joy dia berteriak hampir memecah kan ruangan itu.


Joy yang mendengar ucapan Nindy menatap nya tajam tangan nya hendak memukul Nindy.


"Joy." ucap Yohan dia berjalan santai sambil merokok.


Semua orang melihat Yohan mereka menunduk takut sekali Nindy yang melihat Yohan datang dia langsung berlari ke arah Yohan.


Mimin bangun dari lantai dia menatap Yohan dengan takut sekali, Nindy langsung memeluk Yohan.


"Yoyo, Babu mu itu menampar ku." ucap Nindy mengaduh pada Yohan.


Wajah Yohan melihat Mimin yang menunduk ketakutan serta melihat gaun nya rusak.


"Wajah mu sangat cantik." ucap Yohan mengelus wajah Nindy.


Suasana sangat tegang bahkan semua orang sudah ketakutan dan gemetar karna takut.


Mendengar pujian Yohan membuat Nindy tersenyum dengan sangat lebar sekali dia menatap Joy dengan tatapan benci.

__ADS_1


__ADS_2