
Mimin hanya menatap wajah Yohan yang menatap nya lekat, begitu pun sebaliknya Yohan sejujurnya sedang berperang di hatinya.
Entah kenapa aku begitu takut kehilangannya, padahal kulit nya tidak sebening kulit ku, apa dia tidak merawat kulitnya, bukan kah harusnya perempuan itu harus bisa merawat kulit nya agar terlihat cantik, Tunggu apakah dia tidak memakai skincare. Yohan.
"Skincare kamu apa." tanya Yohan langsung.
"Hah, apa Tuan, skincare." ucap Mimin dia takut pendengaran nya kurang baik.
"Emm." ucap Yohan masih menatap Mimin lekat.
Seperti nya Tuan Yohan ragu menikah ku, ini saat nya aku beraksi. Mimin.
"Ehmm." Mimin pun mendehem dan langsung membetulkan sikapnya.
"Tuan, saya emang jelek dan Tuan nantinya akan malu bawa saya keluar lebih baik batalkan saja yah." ucap Mimin sambil tersenyum lima watt.
"Siapa bilang kamu jelek." ucap Yohan kali ini duduk di sofa yang tak jauh dari Mimin.
Mata Mimin memandangi Yohan sejujurnya Mimin masih agak takut berbicara dengan makhluk di hadapan nya ini.
"Saya, Tuan harus berfikir seribu kali menikahi saya karna jika Tuan menikah saya, saya tidak bertanggung jawab jika Tuan nantinya malu membawa saya keluar." ucap Mimin lagi memberi wejangan supaya mempelai lelakinya terhasut.
Yohan seperti berfikir mencerna ucapan Mimin dengan matang sambil kepala nya manggut manggut sementara Mimin tersenyum dengan licik nya.
Kena kau hehehehe. Mimin.
"Kalo ucapan mu seperti itu, Baik." ucap Yohan langsung berdiri dari tempat duduknya menatap Mimin.
Sementara itu wajah Mimin sudah sumringah ternyata gampang sekali menghasut nya
"Selepas menikah kamu tidak boleh keluar kamar karna aku sendiri tidak mau kamu bertemu dengan lelaki jelek itu." ucap Yohan kali ini menatap Mimin dengan sorot mata tajam.
"Tuan bukan seperti itu." ucap Mimin yang kini sudah berdiri.
Yohan yang tadi sudah akan pergi menoleh pada Mimin menatap nya.
"Lalu seperti apa, kamu berfikir saya akan melepaskan mu dengan lelaki jelek itu, itu tidak akan pernah dan kamu itu milik ku." ucap Yohan kali ini suara nya tinggi.
Mimin menatap wajah Yohan.
"Tuan." sebuah suara membuyarkan obrolan keduanya.
__ADS_1
"Tuan, Nona semuanya sudah menunggu." ucap Joy sopan.
Mimin pun menghembuskan nafas nya berat sementara Yohan sudah keluar duluan, dengan langkah lemas Mimin pun menyusul Yohan.
Saat sampai disana Mimin kaget sudah ada Ibu dan Kak Manda yang duduk dikursi roda walaupun luka nya sudah membaik tapi mereka menatap Mimin dengan wajah sedih.
"Ibu." ucap Mimin air matanya terjatuh suara nya bergetar.
Bukan pernikahan seperti ini yang aku ingin kan.
"Ayo." ucap Yohan menarik tangan Mimin kasar sekali.
"Tuan apa saya boleh memeluk Ibu saya dulu." ucap Mimin meminta izin.
Yohan menatap wanita tua yang sudah melahirkan Mimin itu dengan cepat Yohan mengangguk.
Mimin langsung berhambur memeluk Ibunya begitu pun Ibunya memeluk Mimin dengan erat sekali.
Sambil berpelukan Ibunya Mimin membisikan sesuatu kepada Mimin, Mimin yang mendengar ucapan Ibu nya itu hanya termenung mendengarkan.
"Ujang sudah mempersiapkan semuanya nanti malam kamu pergi dengan pelayan yang mengantarkan surat kemarin itu." ucap Ibunya Mimin pelan.
Mimin hanya mengangguk dengan cepat, setelah berpelukan dengan Ibu nya Mimin langsung menghampiri Kak Manda senyum yang tak bisa diartikan.
"Setelah kamu menikah saya akan dipindah majikan Min, maaf Kak Manda tidak bisa menjaga kamu, jika ada Kak Elsa mungkin ini semua tak terjadi." ucap Manda dengan suara bergetar juga menahan tangis.
"Kak, Justru Mimin yang harus minta maaf karna Mimin lah Kak Manda jadi terluka begini, Kak semoga majikan yang baru tidak seperti sekarang doa Mimin menyertai mu Kak." ucap Mimin kini memeluk Manda dengan erat menahan tangis dimata nya.
"Nona, Waktunya sudah habis, Tuan Yohan menyuruh Nona datang." ucap Joy.
"Baik Tuan." ucap Mimin.
Mimin pun melangkah pergi menuju Tuan Yohan yang masih berdiri menunggu Mimin saat sudah dekat Yohan langsung memeluk Mimin.
"Habis kau malam ini, jika berani berniat kabur." ucap Yohan.
Mimin hanya diam saja, pernikahan pun berjalan dengan lancar sekali tanpa sedikit pun hambatan.
Mimin menatap dekorasi tempat pernikahan nya dengan sendu, dirinya sekarang sudah bergelar istri di paksa, harus kah mengabdi pada suami atau Ibu.
Mimin menatap kursi yang diduduki oleh Ibunya itu, walaupun kursinya kosong tapi Mimin masih melihat raut sedih Ibunya persis seperti tadi dirinya datang.
__ADS_1
"Non." sebuah tangan menyetuh pundak Mimin.
"Ehh yah." ucap Mimin kaget.
"Non ikut saya Ujang dan Ibu Nona sudah menunggu." ucap pelayan itu cemas.
Mimin pun langsung berdiri dan melangkah mengikuti pelayan itu melewati ruang belakang dan disana ada pintu kecil.
"Non cepat masuk duluan." ucap Pelayan itu.
"Kamu gak ikut." ucap Mimin.
"Tidak Non saya memang ditugaskan memata matai Tuan Yohan." ucap Pelayan itu dengan senyum.
Mimin pun langsung masuk kepintu itu dan disana sudah ada Ibu, Ujang dan dua lelaki berjas.
Mimin masuk ke mobil itu, dijalan Ujang menatap Mimin yang hanya tertunduk entah apa yang dipikirkan nya seperti tidak senang bisa keluar dari rumah neraka itu.
"Kamu kenapa Min." ucap Ujang ingin menyentuh tangan Mimin tapi langsung di tepis Mimin.
Kini wajah Mimin menatap Ujang air mata kini sudah berjatuh, semakin membuat Ujang khawatir.
"Min kamu kenapa." ucap Ujang lagi kali sambil menghapus air mata Mimin.
"Aku sudah tak pantas buat kamu Ujang, aku udah kotor." ucap Mimin suara bergetar mengatakan kata itu.
Ujang pun langsung memeluk Mimin menenangkan nya justru membuat Mimin semakin menangis, sementara Ibu nya Mimin juga ikut menangis andai saja dia tidak mengizinkan Mimin keluar negri mungkin tak akan seperti ini.
"Aku mencintai mu dengan tulus Min, aku menerima semua kekurangan mu, bukan hal itu yang aku ingin kan dari mu Min, cukup membuat mu tertawa bahagia dan kamu ada disamping ku itu sudah cukup, lupakan yang lalu mari membuka lembaran yang baru." ucap Ujang tulus.
"Tapi aku menikah dengan nya Ujang, kamu tau status ku sekarang dan ini apa yang kamu lakukan sekarang ini akan membuat mu terluka, aku tidak mau itu." ucap Mimin sambil mengeleng.
"Min, kamu percaya pada ku, kamu ingat saat kita masih kecil aku selalu melindungi mu dari anak-anak bandel itu." ucap Ujang.
"Aku serius Ujang, dulu dan sekarang situasi nya berbeda Ujang, kamu berhadapan dengan lawan yang kuat." ucap Mimin.
"Sudahlah kamu jangan terlalu dipikirkan masalah itu, sekarang kamu fokus pergi dari sini aku akan kembali ke kediaman Ibunya Tuan Yohan, karna berkat beliau kamu bisa lolos." ucap Ujang.
"Maksud kamu, Ibunya Tuan Yohan membantu aku bukan berpihak pada Tuan Yohan, emang kenapa." ucap Mimin penasaran.
"Karna kamu bukan kriteria menantu yang diinginkan." ucap Ujang jujur.
__ADS_1
Mimin terdiam kepala nya mencerna ucapan Ujang.