
"Lelah juga seharian bersama bocil tapi asek sih.. " gumam Arsita, dia baru saja lepas dari Ara selama dia berada disekolah kalau bel pulang sekolah belum bunyi dapat dipastikan dia masih bersama Ara.
Ara sungguh posesif terhadap Arsita, banyak murid-murid yang menggoda dan terang-terangan ingin menjadi miliknya Ara yang mendengar itu marah dan mengatakan 'kakak cantik ini cuma punya Ara', Arsita hanya bisa menghela nafas panjang tapi dia juga merasa gemes dengan Ara yang menurut nya seperti anak-anak yang berumur 6 tahun, sangat polos dan menggemaskan, jujur Arsita suka dan sayang sama Ara walaupun baru kali ini bertemu. Arsita anak tunggal dan dulu menginginkan seorang adek tapi sayang orang tua Arsita tidak bisa proses kehamilan lagi, dan setelah bertemu Ara itu membuat nya senang seakan keinginan nya ingin mempunyai adek itu terwujud walaupun bukan adek aslinya.
"Ehh ruangan gue dimana? " monolog Arsita, pasalnya Arsita belum sempat menanyakan dimana ruangannya berada. Arsita berjalan menuju ruangan kepala sekolah dan ingin menanyakan dimana ruangannya kepada Bagas.
Tok tok tok
Arsita mengetuk pintu, dia harus sopan dulu karena ini hari pertama nya ngajar.
"Masuk, " terdengar suara Bagas dari dalam menyuruh Arsita masuk.
Ceklek
Arsita membuka pintu dan masuk ke dalam, Bagas yang sedari tadi sibuk dengan berkas-berkas menoleh kearah pintu untuk melihat siapa yang masuk.
"Ngapain? " tanya Bagas datar setelah melihat siapa yang datang ke ruang nya.
"Suruh duduk dulu kek baru nanya, " cicit Arsita pelan tapi Bagas mendengar nya.
"Duduk, " ucap Bagas.
Dengan senyum sumringah Arsita duduk disofa.
"Mau ngapain? " tanya Bagas sambil berjalan menuju sofa agar lebih nyaman ehhh nyaman apa nih? Xixi, nyaman bicara nya guys.
"Ruangan saya dimana ya pak? " tanya Arsita agak sopan.
"Bekas ruangan pak Togar lah, " ucap Bagas judes.
Arsita membuang nafas lelah, "judes amat pak, " cibir Arsita.
Bagas tak menghiraukan cibiran dari Arsita dan membuat sang empu kesal, "pak ruangan paman saya dimana ya? " tanya Arsita dengan nada sedikit kesal.
Bagas memperhatikan Arsita, ada rasa tertarik dalam dirinya karena Arsita wanita yang cukup berani dengan nya padahal baru masuk kerja. 'Dia berani karena adek gue sedang di pihaknya kan? 'Batin Bagas.
Arsita mendadak jengkel karena lagi-lagi Bagas tak menghiraukan nya, "pakk.. " pekik Arsita dan membuat Bagas tersentak.
"Apasih, gak sopan banget sama atasan. " ketus Bagas.
Arsita menatap Bagas dengan pandangan kesal, "lagian bapak kenapa diam aja sih pas ditanya? " tanyanya kesal.
"Kamu nanya apa? " tanya Bagas.
Arsita menghela nafas panjang, 'apa yang dipikirkan pria ini sehingga tidak mendengar pertanyaan dari gue? 'Batin Arsita.
"Bapak udah punya pacar belum. " jahil Arsita bertanya.
"Ha? "Bagas melongo mendengar pertanyaan Arsita yang sebenarnya bukan itu pertanyaan aslinya.
"Ck, ruangan pak Togar dimana pak? " decak Arsita.
"Belum ehh, maksud saya ruangan pak Togar disamping ruangan saya. " Bagas menjawab bak orang bodoh.
Arsita mengedikkan bahunya acuh, "oke terimakasih pak. Kalau begitu saya permisi keruangan saya dulu.. "Pamit Arsita.
"Tunggu, " tahan Bagas saat Arsita hendak berdiri.
"Ada apa pak? " tanya Arsita bingung.
Bagas menghela nafas untuk menormalkan detak jantung nya yang entah sejak kapan berdetak sangat cepat itu,"kamu mau kemana? "Tanya Bagas linglung.
Alis Arsita terangkat sebelah, " kan sudah saya bilang tadi pak, saya ingin keruangan pak Togar. "Jelas Arsita.
"Gak pulang? Kan sudah jam pulang.. "Tanya Bagas.
"Nanti pak, saya mau keruangan saya dulu untuk beres-beres, karena kemarin paman bilang belum sempat beres-beres. " jelas Arsita.
Bagas menganggukkan kepalanya, "silakan, " ucap Bagas yang mempersilakan Arsita keluar. Arsita mendadak cengo karena nada bicara Bagas seperti sedang mengusir nya, padahal sedari tadi Bagas yang nahan Arsita keluar dengan berbagai pertanyaan gak jelas. Dengan menghentakkan kecil kakinya melangkah keluar.
Brakk
Pintu tertutup rapat dan membuat Bagas tersentak kaget, "kenapa dia? " gumam Bagas seakan tidak menyadari kesalahannya.
***
Disisi lain, di parkiran sekolah Ara sedang menunggu abang-abang nya berdebat. Siapa lagi kalau bukan Bryan dan Panglima, sedangkan Brian dan yang lain hanya menyaksikan dengan pandangan malas.
"Kalian ini kenapa sih, liat degem sepertinya sudah tidak sabar ingin pulang, " celetuk Juna tiba-tiba.
"Pulang bareng abang aja dek, " ajak Brian yang udah jengah dengan kelakuan Bryan dan Panglima yang sedang berebut Ara.
__ADS_1
Ara mendongak menatap Brian yang sedang menutupi kepalanya dengan tas agar dirinya tak kepanasan, "ayooo abang.. " ucap Ara dia sudah merasakan lapar sehingga yang ada di pikiran nya ingin cepat pulang dan makan.
"Jangann, " jawab Bryan dan Panglima kompak.
"Dih giliran gini aja kalian kompak, kenapa sih kalau Ara pulang bareng gue, gue kan juga abangnya. " cibir Brian yang agak kesal karena dia selalu dilarang pulang pergi bersama sang adek.
"Lo naik motor, nanti Ara kepanasan. " jelas Panglima. "Dan lo juga naik motor kan? Jadi biar kan Ara gue yang anter karena berangkat tadi pun sama gue kan? Jadi gue harus tanggung jawab buat nganter dia. " tunjuk Bagas pada Bryan.
"Benar Yan yang dibilang Lima, udah gak apa-apa Ara bareng Lima, Ara akan aman kok. " Lian membantu Panglima untuk membujuk Bryan.
Bryan diam sejenak, sebenarnya dia percaya kalau Ara akan aman bersama Panglima tapi yang membuatnya ragu yaa karena kejadian pagi tadi, saat dia melihat Ara sedang tidur dipangkuan Panglima jadi dia agak takut kalau otak polos adeknya akan ternodai.
Bug
"Diam bae lo, udah biarin aja Ara pulang bareng Lima. " Brian menepuk pundak Bryan.
Bryan menatap tajam kearah Panglima, "awas aja kalau lo berani nodai otak polos adek gue. " ancam Bryan.
"Hm, " Panglima hanya berdehem.
"Dek kalau Lima apa-apain kamu bilang ke abang ya.. " ucap Bryan dengan posesif nya.
Ara yang sedari diam karena lapar menatap Bryan dengan polosnya, "bang Lima baik, bang Lima gak akan apa-apain Ara bang.. " jelas Ara.
Bryan sendiri membuaang nafas kasar, dia tau kalau Panglima gak mungkin jahatin adek nya tapi yang di maksud apa-apain itu bukan itu lohh ahhh Bryan pusing bagaimana ingin menjelaskan maksudnya pada adek polosnya itu.
"Ck, cabut. " ucap Brian kepada teman-teman nya itu, sudah muak dia melihat sikap posesif Bryan terhadap Ara.
"Ayoo, males banget gue liat Bryan dan Lima adu bacot mulu. " ucap Lian.
Haa Ara menangkap kata-kata asing lagi, dia menatap semua abang-abang nya yang masih belum ada yang sadar dengan ucapan Lian.
"Bacottttt.. " teriak Ara dengan polosnya agar semua abang nya mendengar apa yang dia ucapkan, beruntung diparkiran cuma ada mereka.
"Heh.." ucap mereka serempak yang mendengar kata kasar keluar dari mulut seorang bocil sontak menoleh.
Ara memandang abang-abang nya dengan wajah polosnya itu, "bacot hihihi.. " Ara kembali mengucapkan kata kasar itu dengan cekikikan dan seketika tatapan Abang-abangnya menajam, Lian yang menyadari kata-kata itu berasal dari mulutnya meneguk ludah kasar. Lian melihat semua teman-temannya yang masih memandangi Ara mengambil kesempatan untuk melarikan diri..
'Kaburrrr..... 'Lian mengendap-endap pelan agar teman-teman nya tidak ada yang sadar bahwa dia kabur tapi Ara melihat itu.
"Bang Lian pulang, " ucap Ara dengan polosnya.
Mereka yang mendengar ucapan Ara membalikkan badan dan melihat Lian yang sudah jauh beberapa langkah dari mereka, Lian hanya menampilkan gigi rapi dan putihnya kepada teman-teman nya.
"Sini lo, " geram Brian.
Lian menggeleng kuat dan tetap diam di tempat nya, mau kabur sekarang akan menambah deritanya nanti.
Bryan mendekat kearah Lian, sudah cukup dia diam karena mulut Lian yang gak bisa dijaga itu didepan Ara. Melihat Bryan mendekati Lian otomatis yang lain ikut mendekat kecuali Panglima, Ara yang ingin ikut menghampiri Lian tapi tangan mungilnya digenggam oleh Panglima.
"Kita pulang aja, " ucap Panglima.
"Tapi-tapi Ara pengin liat itu, " tunjuk Ara pada Abang-abangnya yang sedang mendekati Lian itu.
"Kita pulang aja yaa, " ucap Panglima lembut.
Ara diam sejenak lalu mengangguk karena dia merasa lapar juga dari tadi, "ayoo.. " ucap Ara.
Panglima tersenyum lalu membukakan pintu mobil untuk Ara, "masuk." ucap Panglima.
"Pamit dulu ke abang, " ucap Ara.
"Gak usah sayang, "
Ara tiba-tiba merasakan pipi nya memanas dan detak jantung nya kembali berdetak kencang saat mendengar kata 'sayang' dari mulut Panglima, padahal dia sering dipanggil sayang oleh kedua orang tuanya tapi saat mendengar kata itu dari mulut Panglima rasanya berbeda.
Ara menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan mungilnya lalu segera masuk kedalam mobil. Panglima menutup pintu mobil dan dia berjalan menuju kemudi mobil dan masuk kedalam lalu Panglima segera meleset pergi dari sekolah.
Kembali dulu ke Lian, mari kita liat nasib Lian xixi.
Lian sendiri sudah ketar ketir saat melihat tatapan tajam dan Bryan dan Brian sedangkan Juna dan Hendra? Biasalah mereka hanya bisa mengulum bibir menahan tawa melihat nasib Lian.
"Lo sudah berapa kali diperingatin kalau bicara depan Ara harus dijaga. " tanya Bryan.
"Sering, " reflek Lian menjawab.
"Lo tau, terus kenapa tadi berkata seperti itu? " sekarang giliran Brian yang bertanya.
"Kelepasan gue, lagian itu juga karena Bryan dan Lima adu bacot mulu, kan gue jadi kelepasan.. " bela Lian, sebenarnya dia agak takut tapi dia tidak mau disalahkan sepenuhnya kan?.
"Lo nyalahin gue? " desis Bryan.
__ADS_1
"Emang bener yang Lian bilang, lo sih gak percayaan amat sama Li......ehhh mana Lima sama Ara?" bingung Brian saat ingin menunjuk Bryan dan Panglima tapi yang hendak ditunjuk sudah tidak ada.
Alis Bryan terangkat mendengar nada bingung dari kembaran nya, Bryan membalik badan dan melihat kearah parkir mobil Panglima tadi, sudah tidak ada? Panglima sudah membawa adeknya tanpa pamit, sialan. Umpat Bryan.
"Pulang, " ucap Bryan singkat lalu dia berjalan menuju motor sport nya.
Lian menghela nafas lega, "selamatttt.. " gumam Lian.
"Pppffft lain kali sering-sering kelepasan ngomong nya, Bro.. " ucap Juna yang masih berusaha menahan tawa, dia tidak berani tertawa sekarang karena Bryan masih ada.
Lian menatap kesal kearah Hendra dan Juna yang sedang menahan tawa itu, Lian pergi meninggalkan Juna dan Hendra untuk menyusul Bryan dan Brian.
****
Panglima sedari tadi bingung melihat gadisnya yang menutup wajah dengan telapak tangan mungilnya itu.
Sebelah tangan Panglima menjangkau kedua telapak tangan Ara dari wajah itu.
"Kenapa ditutup hm? " tanya Panglima saat hendak menjauhkan telapak tangan mungil itu dari wajah Ara.
"Jangan dibuka bang Limaaa, " entah kenapa Ara merasa malu dengan Panglima.
"Kenapa? Coba buka dulu dan cerita ke abang. " ucap Panglima lembut dan dia berhasil menjauhkan telapak tangan itu dari wajah Ara.
Ara yang wajahnya masih memanas segera mendekat kearah Panglima dan menyembunyikan wajahnya didada bidang Panglima.
"Ara malu, wajah Ara panass..." ucap Ara yang semakin menenggelamkan wajahnya didada bidang Panglima.
Panglima terkekeh gemes melihat yang seperti anak kucing yang sedang mencari kehangatan dibalik tubuhnya. Panglima sadar bahwa Ara malu karena ucapannya yang diparkiran sekolah tadi.
"Sudah gak usah malu, mau makan direstoran hm? " tanya Panglima.
Ara mendongak dan menatap Panglima dengan wajah yang masih merah merona, Panglima gemes melihat pipi chubby itu merah.
Cup
Cup
Panglima mengecup kedua pipi chubby Ara, "mau gak? " tanya Panglima lagi.
Ara mengangguk semangat "Hu'um, "
"Kirim pesan ke ayah kamu dan izin untuk makan diluar bareng abang. " titah Panglima dan Ara segera mengambil ponselnya didalam tas lalu mengirimi sang ayah pesan.
"Udah, " ucap Ara lucu dan memperlihatkan pesannya kepada Panglima.
(Ayah Ara mau makan direstoran bareng bang Lima, ayah harus izinkan ya kalau ayah gak izinin Ara ngambek sama ayah. )
Panglima terkekeh melihat pesan yang dikirimkan Ara kepada ayahnya dengan ancaman ngambek persis seperti anak TK. Panglima mengacak gemes rambut Ara sehingga membuat sang empu kesal karena rambutnya berantakan.
"Abang ara mau makan banyak-banyak nanti boleh? " tanya Ara lucu.
"Boleh, " ucap Panglima gemes.
"Yeayyy sayang abang banyak-banyak. " Ara memeluk Panglima.
"Abang sayang Ara juga.. " ucap Panglima.
"Huhu wajah Ara panas lagi, " Ara menenggelamkan wajahnya didada bidang Panglima.
Panglima hanya bisa terkekeh danĀ terkekeh dengan kepolosan Ara.
Sesampainya di restoran mewah Panglima meminta Ara mematikan ponsel karena Ara sedang menonton kartun upin-ipin diponsel.
"Matikan dulu HPnya, sekarang kita keluar dan makan dulu ya.. " pinta Panglima dan dengan patuh Ara mematikan ponsel dan menyimpannya kedalam tas nya.
Panglima keluar lebih dulu dan membukakan Ara pintu, Ara keluar dengan telapak tangan Panglima ada dikepala Ara agar saat Ara keluar kepala nya diterpentok atas mobil.
"Ayoo.. " Panglima menggenggam tangan mungil Ara lalu mengajak Ara masuk.
Ara melihat sekeliling dan dia tidak sengaja melihat kearah ujung parkiran, Ara melihat daddy nya yang seperti nya mau makan siang direstoran ini juga. Ara mengingat ucapan Bagas yang mengatakan bahwa daddy nya tidak suka marah-marah lagi.
"Bang Ara mau samperin daddy.. " tunjuk Ara pada Bram yang baru saja akan melangkah kan kakinya masuk kedalam restoran.
Panglima melihat kearah yang di tunjuk Ara dan saat akan mengatakan sesuatu pada Ara, Ara sudah terlebih dahulu berlari menghampiri daddy nya.
"Daddyyy... " Ara memeluk tubuh Bram dari belakang dan dia menangis karena merindukan daddy nya itu.
Degg
*****
__ADS_1