Transmigrasi Ara

Transmigrasi Ara
gadis pemeras


__ADS_3

Radella, Bryan, dan Brian memandangi Ara yang sedang berada didepan meraka sambil menenteng paperbag.


"Kenapa baru pulang hm? " tanya Radella.


Ara mengerjap polos, "Hmm Ara kerumah kakak cantik, " sahut Ara.


"Kakak cantiknya mana? " tanya Brian.


"Dirumahnya, " sahut Ara polos.


Mereka bertiga mengangguk, mungkin setelah mengantar Ara pulang kakak cantik itu juga langsung pulang.


"Apa itu dek? " tunjuk Bryan pada paperbag yang dipegang oleh Ara.


Ara menunduk dan melihat paperbag itu kemudian dia tersenyum, "HP baru Ara, " sahut Ara dengan senyum sumringah.


Radella, Bryan, dan Brian saling pandang mendengar perkataan Ara.


"Kamu beli HP baru? Uang dari mana? " tanya Brian.


"Minta, " sahut Ara polos.


"Minta ke kakak cantik? " tanya Radella.


Ara menggeleng lucu, "No, Ara minta ke om penculik. " ujar Ara dengan senyum sumringah.


"Kamu mau diculik lagi? " tanya Bryan dingin.


Ara menggeleng kan kepalanya, "Om penculik gak culik-culik Ara kok, Om penculik cuma mau antar Ara pulang. " sahut Ara polos.


"Dimana kamu ketemu penculik itu? " tanya Brian penasaran.


Ara menoleh kearah Brian, "Dirumah kakak cantik. "


"Kok bisa penculik itu disitu. "


"Karena Om penculik papi nya kakak cantik. " jelas Ara lucu.


Mereka bertiga mengangguk mengerti, selagi Ara tidak kenapa-kenapa mereka masih bisa bernafas lega.


"Jadi penculik itu nganterin kamu pulang dan kamu minta belikan HP? " tanya Radella.


Ara mengangguk polos, "Hu'um, "


Brian menatap wajah polos Ara, "Agak lain memang kamu ini yaa.. " ujar Brian tidak habis pikir dengan Ara.


Ara memiringkan kepalanya, "Why? " tanya Ara.


"Mana ada gitu minta barang ke penculik woyy, orang-orang kalau ketemu penculik takut, lah kamu? Malah minta belikan HP. " gemes Brian, padahal bagus yahh kalau Ara gak takut sama penculik dan lebih bagus malah kalau Ara minta barang xixi. Jiwa pemeras author muncul hahaha.


"Coba liat HP nya. " pinta Radella dan Ara menyerahkan paperbag itu pada Radella.


"Kok berat? " bingung Radella kemudian dia membuka isi paperbag itu, terkejut? Oo jelas terkejut, Radella mengeluarkan semua HP yang ada di paperbag itu.


Bryan dan Brian terbelalak melihat tiga iPhone keluaran terbaru itu, "I-itu kamu minta belikan tiga HP? " tanya Brian berbata.

__ADS_1


"Hu'um, Ara beli buat abang Iyan dan Ian. "Ucap Ara polos lalu duduk dipangkuan Bryan. Bryan memangku Ara dengan sayang.


Radella dan Brian saling pandang detik berikut nya mereka geleng-geleng kepala karena Ara memeras penculik tapi Brian senang.


"Memang terbaik kamu dek, " ucap Brian bangga, habis ini dia ponsel baru guyss, siapa sih yang gak senang dibeliin ponsel ka? Xixi.


"Ara tau. " sahut Ara polos sambil ngedusel di dada bidang Bryan.


Cup


"Om penculik nya baik sama kamu yahh. " ucap Bryan sambil mengecup kening Ara.


Ara mengangguk lucu, "Om penculik juga nawarin mobil sama rumah tadi. " sahut Ara polos.


Uhuk uhuk


Uhuk uhuk


Radella dan Brian tersedak ludah sendiri, benarkah yang Ara bilang? Penculikan apa ini namanya? Kok penculik nya baik sekali.


"Kalau gitu kamu diculik lagi deh dek, terus minta belikan pulau pribadi. " saran Brian.


"Heh, " tegur Radella karena Brian kasih saran yang gak bener.


"Biar makin kaya kita bun, " Brian terkekeh, dia emang pecinta uang jadi ya gini xixi.


"Tapi dengan mengorbankan Ara? " kesal Radella.


Brian semakin terkekeh, "Bunda ingat saat pertama kali Ara hilang? Ara dipulangkan kan? Nahh sekarang bukannya dapat kesempatan bagus buat nyulik Ara lagi tapi penculik itu malah memulangkan Ara juga, dan lebih bagusnya dia memulangkan Ara dengan tiga HP, wahhh HP baru nih Brian. " seru Brian lalu mengambil satu ponsel itu. Brian mengeluarkan ponselnya.


Radella geleng-geleng kepala melihat wajah berseri dari Brian.


"Sayang ka.. " Radella hendak menyuruh Ara mandi tapi tidak jadi karena Ara sudah tertidur dipangkuan Bryan. "Lahh tidur. " gemes Radella yang melihat wajah tenang putrinya itu.


"Lelah dia habis meras penculik bun, " kekeh Brian.


Radella ikut terkekeh, "Kamu antar gih adek ke kamar, kayaknya dia kelelahan habis jalan-jalan. " titah Radella pada Bryan dan Bryan segera berdiri dan membawa adeknya itu keatas.


Brian sendiri masih memandangi ponsel baru nya itu dengan wajah berseri, "Ajeee gileeee adek gue memang bisa diandalkan jadi pemeras hahaha, " tawa Brian menggelegar.


Puk


Radella menimpuk Brian dengan bantal sofa karena berbicara seperti itu. "Jangan ngajarin adek kamu matre. " tegur Radella.


"Bagus loh ini bun, siapa sih yang gak suka dengan adek, dia itu polos, gemes, imut, penculik pun takluk hahaha " Brian tiada hentinya tertawa.


Radella hanya bisa geleng-geleng kepala walaupun dia membenarkan apa yang diucapkan oleh Brian.


****


Setelah pulang mengantar Ara, Dani pulang ke mansion nya dengan wajah melongo dan tatapan kosong seperti orang kesurupan, xixi.


Dani bukan memikirkan uang yang dia keluarkan hari ini tapi memikirkan kenapa ada gadis sepolos Ara, ehh bentar! Benar gak sih Ara itu polos? Kalau beneran polos kenapa jiwa pemeras nya ada? Pikir Dani.


"Dia seperti anak kecil yang berumur lima tahun, pemaksa, pemeras dan polos, " gerutu Dani sambil berjalan memasuki mansion nya.

__ADS_1


"Ngomong apasih mas? " tanya Dini yang mau masuk juga setelah dari taman.


Dani menoleh kesamping dan melihat wajah cantik istrinya, "Gak apa-apa, " senyum Dani.


Dini hanya mengangguk saja, "Bagaimana keadaan Arsita Mas? " tanya Dini.


"Arsita baik, " sahut Dani.


"Ajak pulang mas, aku merindukan nya. " pinta Dini.


Dani menepuk jidat mendengar permintaan istrinya, tujuan nya ke apartemen putri nya itu kan untuk mengajak Arsita pulang tapi dia lupa karena ada bocil disana.


Dini menautkan kedua alisnya saat melihat suami nya itu menepuk jidat, "Kenapa mas? " heran Dini.


Dani membuang nafas kasar, "Aku tadi lupa ngajak Arsita pulang, " sahut Dani.


"Lupa? "


Dani mengangguk, "Padahal mau langsung ajak pulang tapi putri kita membawa Ara bersamanya. " jelas Dani.


Dini semakin heran, "Ara? "


"Itu loh gadis yang sempat aku culik, "


"Arsita kenal dengan Ara? " tanya Dini.


Dani mengangguk malas, "Ternyata Ara murid kesayangan Arsita. "


Dini mengangguk paham, "Terus kenapa kamu gak ajak aja sekalian Ara kesini. "


"Kamu tau? Kalau aku sudah berhadapan dengan Ara seketika otak aku hilang dan tidak bisa berpikir jernih, dan ya Arsita tidak suka kan aku berbuat jahat lagi? Nahh gadis kecil itu memanggil ku dengan sebutan Om penculik, dapat kamu bayangkan bagaimana wajah sengit putrimu itu saat mendengar panggilan Ara untukku. " keluh Dani malas.


Dini terkekeh mendengar keluhan dari sang suami, "Apakah Ara masih disana? Aku mau bertemu dengannya. " ucap Dini yang benar-benar ingin bertemu dengan Ara.


"Udah aku pulangin, " sahut Dani malas.


"Kenapa dipulangin lagi? "


"Nanti keluarga nya mencari, lagian kalau aku bawa kesini mungkin dalam satu tahun kita bakalan miskin. "


Dini menaikkan sebelah alisnya, "Kenapa miskin? " tanya nya heran.


"Gadis kecil itu pemeras. "


"Gadis kecil pemeras? Bukankah dia polos? Lalu kenapa kamu menyebutnya pemeras? " heran Dini.


"Dia meras aku tadi, dia minta belikan HP. "


Dini geleng-geleng kepala, "HP doang gak bakal bikin kami bangkrut mas, pelit amat. " Dini terkekeh.


"Tidakk masalah kalau beli satu tapi tadi dia beli tiga, bahkan ditawarin mobil sama rumah dia mau. " gemes Dani.


Dini tergelak mendengar ucapan sang suami, "Aku juga mau kalau ditawarin mobil sama rumah mas. "


Dani mendengus kesal melihat sang istri menertawakan nya.

__ADS_1


__ADS_2