
"Kita latihan futsal dari sekarang? " tanya Lian.
"Iya, kalian harus latihan mulai sekarang karena kalian nanti akan melawan SMA TERATAI, kalian tau kan kalau sekolah tersebut terkenal dengan permainan futsal yang baik, sedangkan kita terkenal karena permainan basket! " jelas Guru olahraga itu kepada 6 orang didepannya yaitu, Panglima, Bryan, Brian, Juna, Lian, dan Hendra.
"Kapan pertandingan nya pak? " tanya Brian.
"Seminggu lagi. " sahut Guru olahraga.
"Pulang sekolah langsung latihan? "
"Iya, "
Keenam pria itu manggangguk tanda mengerti. Setelah mengatakan itu Guru olahraga tersebut melenggang pergi dari kelas XII ipa1.
"Lim, " panggil Brian.
"Hm? "
"Kita akan tanding futsal dengan brengsek itu. " geram Brian, yang lain hanya diam mereka mengerti kenapa Brian marah.
"Hm, kita harus menang dan berlatih dengan gjat. " sahut Panglima.
"Tapi Lim, mau segiat apapun kita latihan kalau mereka bermain curang lagi bagaimana? Seperti kejadian beberapa tahun lalu, dia bermain selalu curang! "
"Dan gue takut sekarang adek gue jadi sasaran. " desis Bryan.
Yang lain mengangguk setuju dengan apa yang Bryan katakan. Dulu mereka pernah tanding futsal tapi karena mereka hanya ahli dalam bidang basket mereka pun kalah, sebenarnya mereka tidak akan kalah kalau anak-anak SMA TERATAI itu tidak bermain curang. Lalu kenapa Bryan menyebutkan bahwa adeknya akan menjadi sasaran? Karena saat itu ada seorang perempuan yang sangat dekat dengan Panglima Dkk. Perempuan itu sepupu Panglima dan Brian adalah kekasihnya,Nah ketua tim futsal dari SMA teratai yang melihat sepupu Panglima itu dia langsung menyukai si perempuan. Tanpa Panglima Dkk sadari Hans Danuarta_ketua tim futsal dari SMA TERATAI itu mengincar Bulan Dirgantara_sepupu Panglima sekaligus kekasih Brian. Hans menculik dan melecehkan Bulan sampai Bulan depresi dan berakhir bunuh diri. Panglima marah besar saat mengetahui penyebab sepupunya bunuh diri tapi dia tidak bisa membalas kan kejahatan itu karena orang tua Bulan sendiri yang meminta, entahlah kenapa orang tua Bulan seperti itu Panglima pun tidak tau.
"Kalau begitu saat pertandingan futsal jangan biarkan Ara menonton bahkan sampai mendekati kita. " ucap Hendra.
"Kenapa gak boleh nonton? Kan Ara bisa nonton tapi suruh dia jangan mendekati kita. " jelas Lian.
"Lo bodoh kah? " kesal Juna.
Alis Lian terangkat sebelah, "Kenapa? " tanya Lian bingung.
"Heh dodol, Ara itu polos ya kalau dia nonton kita tanding lo yakin Ara bakal diam? Dia pasti berteriak heboh manggil kita-kita abang. " geram Hendra pada Lian si otak lemot itu.
"Disuruh diam dong. " jelas Lian.
"Bisa gitu Ara disuruh diam? " tanya Juna.
"Diam sih enggak, tapi suruh dia pura-pura tidak mengenali kita. "
"Yakin orang se polos Ara bisa disuruh pura-pura tidak mengenali kita? " tanya Hendra.
Lian menggeleng polos, "Gak. " sahutnya tanpa dosa.
Plak
Plak
Dua geplakan Lian dapat dari Juna dan Hendra di lengannya. "Sakit bangsat. " ringis Lian.
"Lo tolol, " ucap Juna.
"Lo bodoh. " timpal Hendra.
Sedangkan Panglima dan dou B hanya memutar bola matanya malas melihat perdebatan antara tiga manusia itu.
"Ara jangan lihat kita tanding. " putus Panglima.
Dou B dan yang lain menoleh kearah Panglima.
"Jadi Ara disuruh gak sekolah dulu pas hari tanding itu? " tanya Hendra.
"Hm, "
"Alasan ke adek gue apa? " tanya Brian, dia tau bahwa adeknya itu akan banyak tanya jika disuruh tidak sekolah.
"Entar gue yang kasih alasan, " sahut Bryan dan yang lain mengangguk.
***
Tringg
Bel pulang sekolah berbunyi dan semua murid bersorak senang kecuali Ara.
"Yahh udah pulang, Ara masih mau sama kakak bu guru cantik. " cemberut Ara.
Arsita yang mendengar itu terkekeh, dia berjalan mendekati tempat duduk Ara, "Bagaimana pulang sekolah kamu kakak antar aja? "Tawar Arsita.
Ara mengangguk semangat, "Mauu. " serunya lucu.
Yang lain terkekeh gemes termasuk Arsita. "Izin ke abang dulu ya, " ujar Arsita.
"Siap kakak cantik, ".
Arsita tersenyum lalu dia kembali ke meja nya, " Baik anak-anak karena bel pulang sekolah sudah berbunyi maka... "
__ADS_1
"Kakak cantik tunggu, " Ara menyela ucapan Arsita.
"Kenapa? " tanya Arsita bingung dan yang lain pun juga bingung.
"Kakak cantik, Ara mau PR. " sahut Ara polos.
Seketika seisi kelas Ara pada meninggoy xixi canda deng. Mereka semua melotot mendengar ucapan Ara lalu mereka menatap Arsita sambil menggeleng kan kepala mereka.
Arsita terkekeh melihat murid-murid nya yang menggeleng rapi secara bersamaan. Sedangkan Ara masih dengan wajah polos nya menanti PR dari Arsita.
"Lo ngapain minta PR, astagaa. " lirih Susi frustasi.
Ara menoleh kesamping, "Susi kenapa? " tanya Ara polos.
"Gak cil, gue mau pulang, gue capek dan harus istirahat sekarang. " kilah Susi.
Ara mengangguk lucu, "Kakak cantik kasih PR cepat, Susi udah mau pulang. " desak Ara polos.
"Bocillll.... " teriak seisi kelas.
Ara mengerjapkan mata nya lucu, "Why? " tanya nya polos.
"Mereka gak mau dikasih PR cil, " gemes Susi.
Ara memiringkan kepalanya lucu, "Why? Padahal PR bisa buat kita pintar karena belajar. "
Susi mengusap wajahnya kasar, "Buat lo yang otak nya encer ya gitu mudah belajar, tapi bagi kami yang otaknya kecil ini siksaan cil. " frustasi Susi dan yang lain mengangguk membenarkan ucapan Susi sedangkan Arsita hanya bisa tertawa kecil menyaksikan wajah kesal dan gemes para murid-murid itu kepada Ara.
"Otak Ara encer? " tanya Ara polos. Bukankah encer itu cair ya? Berarti otak Ara cair kayak air kan? Pikir Ara.
Susi yang mengerti apa yang dipikirkan teman polosnya itu menghela nafas kasar, "Lo pintar cil, " ucapnya.
"Ara tau, " sahut Ara polos.
"Pengin gue kirim ni bocil ke planet mars, "
"Polos nya kelewatan anjirr. "
Ara yang mendengar ucapan salah satu teman sekelasnya tersenyum, "Anjirr.. " ujar Ara polos.
"Heh, " sahut mereka serempak.
Arsita rasanya ingin sekali tertawa sambil berguling-guling dilantai, dia baru tau bahwa Ara se polos itu.
"Siapa yang bersuara tadi woyy, bocil gue aduhh astagaa.. " Susi menutup telinga Ara padahal sudah terlambat.
Ara sendiri hanya menatap Susi dengan polos dan bingung, "Susi jauhin tangan nya dari telinga Ara, " Ara menjauhkan tangan Susi.
Arsita mengatur nafas, "Sudah-sudah, ibu gak akan kasih kalian PR kok, kalian boleh pulang. " ucap nya.
"Yeayyy. " girang mereka semua.
Ara cemberut mendengar ucapan Arsita, "Kakak cantik gak mau turutin Ara. " kesalnya lucu.
"Kalian pulang saja, Ara biar ibu yang bujukin. " ujar Arsita kepada murid-murid itu. Mereka semua mengangguk lalu keluar kelas kecuali Susi yang masih setia disamping gadis polos itu.
Arsita mendekat kembali kearah Ara. "Jadi pulang sama kakak? " tanya Arsita.
Ara menatap Arsita lucu tapi bibirnya mengerucut, "Hu'um, ".
Arsita tersenyum, "Yaudah ayuk keluar. " ajak Arsita.
"Tapi-tapi Ara kesal sama kakak cantik. "
Susi memutar bola matanya malas, "Yaelah cil gitu doang, lain waktu aja minta PR nya. " sungut Susi.
Arsita menggeleng kan kepalanya, "Benar kata Susi, nanti aja kakak kasih PR ya. " bujuk Arsita.
Ara memiringkan kepalanya lucu, "Boleh, tapi hari ini kita jalan-jalan ke Mall yah. " pinta Ara.
Arsita terkekeh, "Boleh, " ucapnya.
"Yeayy, sayang kakak cantik banyak-banyak. " girangnya.
"Yaudah sekarang kita keluar yaa. " ajak Arsita.
"Hu'um. "
Mereka bertiga keluar kelas dan didepan pintu sudah ada dou B beserta teman-teman nya. Arsita bingung melihat keenam pria tampan yang berada dibalik pintu tersebut.
"Abang,, " Ara berlari menghampiri abang-abang nya itu.
"Kebiasaan, " Bryan menarik gemes hidung mungil Ara sehingga membuat Ara terkikik.
"Abang mau pulang? " tanya Ara.
Bryan menggeleng, "Abang pulangnya agak lama karena abang mau latihan futsal. " jelas Bryan.
"Jadi kamu pulang dijemput ayah yaa, biar abang yang ngehubungin ayah. " ucap Brian.
__ADS_1
Ara menggeleng lalu dia menunjuk Arsita. "No, Ara mau pulang bareng kakak cantik. " ucapnya.
Keenam pria itu menoleh kearah Arsita, "Bu guru tidak masalah? Kalau ini permintaan Ara yang merepotkan ibu kami minta maaf Bu. " ucap Brian dan diangguki oleh Bryan.
Arsita tersenyum, "Gak kok, memang ibu yang nawarin Ara. "
"Kalau begitu kami titip Ara ya bu, sekali lagi maaf merepotkan. "
"Kalian tenang saja Ara akan aman bersama ibu dan ini tidak merepotkan kok. "
"Terimakasih Bu. "
Arsita mengangguk lalu mereka berpisah keenam pria menuju lapangan sedangkan Arsita, Ara, dan Susi menuju ruangan Arsita terlebih dahulu untuk menaru Buku-buku yang Arsita bawa untuk mengajar tadi. Ara tidak keruangan Bagas karena Bagas hari ini tidak masuk.
"Kamu mau ikut kami jalan? " tawar Arsita pada Susi.
"Gak bu, bentar lagi jemputan datang. " tolak Susi halus.
"Oh yaudah, kami duluan ya. " ucap Arsita.
"Ara pulang dulu Susi, papayyy.. " ucap Ara.
Susi mengangguk lalu membalas lambaian Ara.
Skip
****
"Kakak cantik stop. " ucap Ara tiba-tiba dan Arsita pun menghentikan mobilnya.
"Ada apa? Kita belum sampai Mall loh. "
"Ara mau beli permen kapas itu, gak jadi ke Mall deh. " Ara menunjuk penjual permen kapas yang ada di pinggir taman.
"Yaudah ayuk turun. " ajak Arsita.
Ara mengangguk lucu, "Hu'um, "
Mereka turun dari mobil dan membeli permen kapas yang Ara minta. Setelah membeli permen kapas mereka kembali ke mobil.
"Dek alamat rumah kamu dimana? " tanya Arsita yang tidak tau tempat tinggal Ara.
Ara mengerjap polos, "Ara gak tau. " ujar Ara.
"Loh? Terus gimana? "
Ara menggelengkan kepalanya pertanda tidak tau.
Arsita menghela nafas kasar, "HP kamu mana? " tanya Arsita.
"HP Ara udah Ara kasih ke abang Ian. " sahut Ara sambil memakan permen kapas itu dengan lucu.
"Kenapa dikasih? " tanya Arsita bingung.
"Ara ngerusakin HP abang, jadi Ara harus ganti. " sahut Ara.
"Terus kamu gimana? " tanya Arsita lagi.
"Nanti Ara minta ke ayah buat beli yang baru, " ucap Ara polos.
Arsita melongo dan detik berikutnya dia tertawa kecil, "Kamu memang cerdas. " puji Arsita dengan kekehan kecil.
"Hu'um Ara tau, " ujar Ara polos.
Arsita hanya bisa terkekeh gemes dengan kepolosan Ara. Dia menjalankan mobilnya dan akan membawa Ara ke apartemen nya dulu.
Sesampainya di apartemen Arsita mengajak Ara turun dari mobil.
"Kita makan siang di apartemen kakak dulu ya, nanti baru kakak cari alamat rumah kamu. " ajak Arsita.
Ara mengangguk lucu, "hu'um. "
Mereka berjalan memasuki lift untuk menuju ke lantai paling atas.
Ting
Lift terbuka tepat didepan pintu apartemen Arsita, tapi saat akan keluar lift tiba-tiba Arsita heran melihat keberadaan sang papi di apartemen nya.
Arsita ingin bertanya tapi Ara lebih dulu bersuara. "Om penculik.. " Ara melompat ke tubuh Dani.
Hap
Dani menangkap Ara, dia bingung kenapa gadis kelewat polos ini ada di apartemen putrinya. Sedangkan Arsita bingung kenapa Ara menyebut sang papi dengan sebutan 'penculik'.
"Om penculik mau culik Ara disini ya? " tanya Ara polos.
Arsita menatap tajam sang papi, sedangkan Dani gelagapan karena tatapan dari putri nya itu, "E-enggak, Om mau menemui Arsita. " sahut Dani terbata.
Ara memiringkan kepalanya lucu, "Om penculik juga mau culik kakak cantik? " tanya nya polos.
__ADS_1
Dani menggeleng cemas, dia tau bahwa putri nya itu tidak ingin dirinya berbuat jahat jadi Dani agak cemas mungkin setelah ini dia akan diamuk oleh sang putri.