
Beberapa hari kemudian.
"Bagaimana? " tanya seseorang pada anak buah nya.
"Sudah beres, Bos! " ujar anak buah itu.
"Bagus! Nanti saat menemui Lian, jangan lupa bawa mereka. " ujar seseorang itu, "saya mau pergi dulu! " lanjutnya.
Para anak buahnya itu mengangguk. "Silakan, Bos! " ucap mereka. Orang itu pun pergi meninggalkan markasnya.
***
"Pulang sekolah ini jadi? " tanya Brian dengan tidak sabar.
"Hm, " sahut Panglima singkat.
"Kalian mau kemana? " tanya Ara sambil menerima suapan dari Bryan itu. Saat ini, mereka sedang berada di kantin sekolah guna mengisi perut setelah satu abad menahan lapar.
Bryan sudah sembuh, dan sesuai ucapan mereka beberapa hari lalu. Mereka akan menemui Lian jika Bryan sudah pulih dari masa kritisnya ehh masa lukanya.
Mereka saling pandang mendengar pertanyaan Ara, mereka mau jawab apa? Jawab jujur kalau mau menemui Lian? Ah nanti Ara ingin ikut! Karena, beberapa hari ini Ara terus menanyakan dimana Lian. Ara merasa sunyi tanpa Lian yang biasa jadi bahan nistaan nya.
"Kami, mau tugas kelompok, Dek. " dusta Brian.
"Bang Lian, ikut juga gak? " lagi-lagi Ara menanyakan Lian yang membuat raut wajah mereka berubah.
"Gak ikut! " ketus Brian.
"Why? " tanya Ara.
"Lian, pergi jauh, princess! Dia gak sekolah sini lagi. " sahut Bryan lembut agar adek nya itu tidak lagi menanyai tentang Lian.
Ara mengangguk paham, Nahh ini nih yang gak di sukai Brian. Jika Bryan menjelaskan sesuatu pada Ara, maka Ara akan paham dan tidak menanyainya lagi. Coba kalau Brian yang ngomong, maka Ara akan terus bertanya.
Brian menatap datar Ara yang membuat Susi terkekeh. "Sabar, sayang! " ucap Susi dengan pertama kali menyebutkan kata 'sayang' itu.
Brian yang awalnya kesal menjadi meleleh karena mendengar panggilan 'sayang' dari kekasihnya.
Cup
Brian mengecup pucuk kepala Susi dan membuat wajah sang empu merona karena malu.
Plakk
Tiba-tiba saja Ara menggeplak kuat lengan Brian. "Ssssh, apasih, Dek? " ringis Brian karena merasa geplakan Ara lumayan kuat, padahal tangan adeknya itu kecil mungil.
"Kata Daddy sama Ayah, gak boleh cium-cium depan orang kan? " ucap Ara memarahi Brian.
Yang lain menahan tawa karena Ara memarahi Brian itu. Kemarin keluarga Arshana sudah resmi pindah ke mansion Bram. Dan malam nya Ara di nasehatin oleh Bram dan Bima, jika tidak boleh mencium bibir orang didepan orang-orang banyak. Nah, sepertinya Ara salah pengertian xixixi. Padahal Brian cuma mengecup pucuk kepala kekasihnya saja. Tapi itu pun tidak sopan kalau dilakukan didepan orang banyak bukan? Haha.
"Ah iya, abang lupa. " ujar Brian pura-pura lupa, agar otak adeknya tidak tercemari.
"Jangan lagi-lagi cium Susi, kalau mau cium bawa Susi ke kamar! " ucap Ara polos. Kalau di kamar kan berdua saja tuh. Jadi, aman dari tatapan-tatapan orang bukan? Hihi.
Panglima menarik sudut bibir nya, membentuk senyum kecil karena ucapan Ara barusan. Sedangkan yang lain menepuk jidat karena perkataan Ara bisa mendatangkan ke sesatan.
"Iya, nanti abang bawa Susi ke kamar dan bikin Brian junior. " ucap Brian tanpa sadar kalau Ara polos.
Ara mengerjap polos menatap Brian. "Brian junior? Brian kecil kah? Bagaimana cara bikin nya, abang? Ara juga mau buat Ara junior, hihi. " seru Ara polos seraya terkikik karena Ara membayangkan akan membuat Ara junior yang mirip dengannya. Brian tersadar akan ucapannya dan hanya bisa cengengesan didepan Bryan yang memandang nya sengit.
"Kalau mau bikin Ara junior harus sama pasangan, bikin Ara junior sama seperti bikin dedek bayi. " jelas Juna dengan bangga nya. Namun percayalah, tatapan dou B pada Juna berasa ingin menguliti Juna hidup-hidup.
Ara memiringkan kepala lucu lalu menoleh pada Panglima yang sedari tadi diam. "Abang Lima! " panggil Ara.
Panglima melihat kearah Ara. "Apa, hm? " ucap Panglima lembut. Sebenarnya, dia tau apa yang ingin Ara katakan padanya.
"Gak boleh, Dek! " belum apa-apa Brian sudah menyela Ara, sebelum Ara mengeluarkan suara.
Plak
Aih, lagi-lagi Ara menampar Brian. Namun, kali ini bukan di tangan, melainkan di bibir Brian. "Ara belum bicara, jangan potong-potong. " garangnya.
"Pffft.. "
Juna, Hendra, Susi, dan Selena lagi-lagi menahan tawa melihat Ara yang menyiksa Brian itu. Sedangkan, Bryan dan Panglima hanya terkekeh kecil.
Brian sendiri mengusap-usap bibirnya yang perih karena Ara. "Gak usah di tabok juga, Dek! " sungut Brian.
"Mulut abang nakal, Ara belum bicara. Tapi, mulut abang sudah bicara duluan! "
__ADS_1
"Hajar, Degem. " kompor Juna dan mendapat tatapan laser dari Brian.
Tingg tingg
Karena kelamaan di kantin, bel masuk pun berbunyi. "Ke kelas, hari ini ada ulangan harian! " ujar Susi yang tiba-tiba panik itu. Panik lah, karena dia takut nilainya semakin kurang karena terlambat masuk.
Mereka semua bergegas mengantar Ara dan Susi, setelah mengantar dua perempuan itu. Mereka ke rooftop sekolah guna membahas tentang Lian. Mereka semua sepakat akan memaafkan Lian, tapi Lian tetap mendapat hukuman berapa masuk penjara. Walau bagaimana pun Lian pernah menjadi sahabat mereka dan selalu menghibur mereka. Mereka tidak akan tega untuk melenyapkan Lian, tapi mereka akan menanyai alasan Lian berkhianat.
***
Sepulang sekolah Panglima Dkk menuju markas mafia milik Panji. Para orang tua juga kesana hanya untuk mendengar alasan langsung dari Lian. Ara dan cewek yang lainnya mana? Selena dan Susi pulang ke rumah masing-masing. Sedangkan Ara, dia dititipkan ke Arsita. Ah, kalau Ara bertemu Dani. Kalian tau bukan apa yang terjadi? Xixi.
"Assalamu'alaikum!! " ucap Panglima Dkk.
"Walaikumsalam!! " sahut Panji, Bima, Radella, dan Puteri bersamaan. Cuma mereka yang ada, untuk apa mereka datang? Bukankah urusan Lian sudah di serahkan kepada anak-anak? Mereka penasaran apa alasan Lian berkhianat, karena sejatinya mereka belum tau kalau Lian itu anak broken home. Lian menutupi rasa sakit nya dari teman-temannya, tapi mampu berkhianat karena iri akan kehidupan teman-teman nya. Tapi, mereka juga bingung. Selama Lian dikurung, Lian tidak pernah memberontak atau melakukan perlawanan. Dia hanya diam dan sesekali melamun seraya bertawa kecil. Itulah, yang Panglima dengar dari ajudan sang Daddy.
Skip
Mereka semua sampai di ruangan yang dimana Lian dikurung. Hanya ada Lian disana dan tidak ada tahanan lain. Tahanan lain ada di ruangan lain.
Lian yang sedang melamun itu tersadar karena melihat beberapa orang masuk. Lian tersenyum kearah mereka, senyum bahagia? Bukan.
"Akhirnya kalian datang! Gue udah nungguin dari kemarin-kemarin. " ucap Lian seraya menegakkan tubuhnya dan berjalan mendekati mereka. Lian ditahan di ruangan khusus yang tidak ada jeruji besi.
Mereka semua bingung melihat Lian yang seperti tidak bergairah hidup itu.
"Gue siap, siap untuk dihabisi. Keluarga yang gue anggap perduli nyatanya tidak menyelamatkan gue dari sini! " Lian tersenyum getir karena nasib nya yang tidak seperti orang-orang. Kapan dia punya keluarga yang sayang pada nya. Dia mengira selama ini pamannya Hendrik menyayangi diri nya. Mengingat Hendrik yang selalu ada untuk nya dan perhatian membuat Lian merasa disayangi oleh keluarga nya walaupun itu bukan orang tua nya. Namun, sekarang Lian baru menyadari bahwa Hendrik tidak sesayang itu terhadapnya. Terbukti sekarang pertolongan dari pamannya itu tidak ada.
"Kenapa? Merasa putus asa karena Hans sepupu lo itu tidak nyelamatin, lo? " ujar Brian mengejek.
Lian tertawa hambar. "Bener, percuma gue hidup kalau tidak ada yang sayang pada gue. " ujarnya.
"Tidak ada yang sayang? Kami? Kami sayang sama lo, tapi kenapa lo berkhianat, kenapa? Orang tua lo? Lo gak mikir apa? " emosi Juna, selama ini dia menyayangi teman-teman nya termasuk Lian. Tapi, Lian tidak menganggap rasa sayang nya? Ah itu membuat Juna emosi.
"Tapi bukan kasih sayang kalian yang gue butuhin. " lirih Lian.
"Lalu? " tanya Bryan.
Lagi-lagi Lian tertawa hambar, sungguh! Dia sakit jika menceritakan masalah keluarganya pada teman-teman nya. Maka dari itu, Lian tidak pernah bercerita tentang dia yang tidak mendapat kasih sayang dari orang tua nya.
"Kalian mau tau alasan gue berkhianat? " tanya Lian menatap mereka semua. Hati kecil Radella dan Puteri seperti merasakan sesuatu. Radella dan Puteri seketika sakit melihat senyum getir dan tawa hambar dari Lian.
"Itulah, alasan kami kesini. Setelah tau baru kami ngasih hukuman ke, lo. " ujar Brian.
"Bukan kematian, "
Lian menatap mereka semua. "Kenapa? Kenapa bukan kematian? Gue berharap mati, gue gak ingin hidup didunia yang kejam ini. Bahkan gue gak ingin dilahirin ke dunia ini. " ujar nya dengan nada yang sudah naik satu oktaf.
"Jangan bicara seperti itu. " tegur Radella lembut. Sungguh, dia dapat merasakan sakit dari tatapan Lian.
Lian menoleh kearah Radella lalu tersenyum getir. "Gue, gue berharap jika gue dikasih kehidupan selanjutnya, gue minta orang tua seperti kalian! Orang tua yang menyayangi anaknya, bukan membenci anaknya. " lirih Lian yang membuat hati mereka tiba-tiba sesak.
"Maksud lo apa? Lo dibenci orang tua sendiri? " tanya Juna.
Lian tersenyum mendengar pertanyaan yang keluar dari mulut Juna. "Alasan gue berkhianat itu karena gue iri. Iri sama kehidupan dou B dan Panglima yang punya orang tua penyayang. Sedangkan gue? Jangan kan di sayang, malah kehadiran gue dibenci oleh orang tua kandung gue! " ucap Lian dengan air mata yang tiba-tiba keluar itu.
Deg
Mereka semua terkejut. Mereka baru mengetahui bahwa Lian bukan dari keluarga bahagia seperti mereka. Selama ini sikap Lian yang absurd itu menutupi kesedihan nya? Ah tapi kenapa harus berkhianat, jika saja Lian bercerita mungkin mereka akan memberi kan kasih sayang terhadap Lian.
"Kenapa? Kenapa lo gak cerita? " tanya Juna lirih.
"Cerita? " Lian tersenyum. "Seharusnya, kalau kalian bener-bener memahami diri gue, kalian bisa menangkap penderitaan gue selama ini. Bukankah orang ceria itu sebenarnya mempunyai masalah berat? Kenapa kalian tidak menyadari akan hal itu? Kenapa? " tanya Lian.
"Tidak semua orang bisa memahami tanpa diceritakan! " sahut Bryan menatap Lian yang menangis itu.
"Memang tidak ada orang terdekat gue yang memahami gue, termasuk paman gue sendiri. Gue pikir selama ini cuma paman yang memahami gue, tapi nyatanya tidak. Bahkan gue terhasut oleh Hans karena saking percaya nya terhadap paman gue sendiri. Kalian tidak tau bahwa selama ini orang tua gue membenci dan memberikan gue ke paman. Mereka selalu bertengkar dan memarahi gue, mereka berpisah dan menikah lagi dengan orang lain tanpa memikirkan perasaan gue. Sakit, itu sakit. Gue iri melihat kebahagiaan kalian yang sempurna, gue juga pengin ngerasain, tapi itu tidak mungkin! Orang tua gue sendiri benci sama gue, dan sekarang gue aja tidak tau keberadaan mereka dimana. Salah gue minta kasih sayang dari orang tua gue sendiri? " Lian mengeluarkan keluhannya selama ini kepada teman-temannya.
Radella dan Puteri yang paham akan perasaan anak ikut menangis. Radella mendekati Lian lalu memeluk tubuh Lian.
"Kenapa kamu gak datang ke Bunda aja, datang dan mengeluh lah pada bunda, bunda siap menjadi orang tua untukmu. " ucap Radella dengan air mata yang sudah membasahi pipi nya itu.
Panglima dkk yang melihat itu juga dapat merasakan sakit yang seperti Lian rasakan. Pantes Lian berkhianat! Pikir mereka. Tapi karena ke iri-an itulah Lian mengambil cara yang salah untuk bahagia. Dengan menghancurkan kebahagiaan keluarga Arshana itu membuat Lian bahagia? Tidak, itu hanya perasaan bahagia sesaat.
Lian terdiam karena merasakan pelukan tulus dari Radella. Tiba-tiba rasa bersalah menyerang nya. "B-bunda? " ucap Lian terbata. Kalimat ini yang takut dia keluar kan karena dulu dia selalu mendapatkan perlakuan kasar jika Lian memanggil orang tua nya dengan sebutan Bunda dan Ayah.
Radella menghapus air mata Lian seraya mengangguk. "Iya, panggil Bunda! " senangnya.
Lian menggeleng kuat. "Gak, aku gak pantes panggil begitu. Aku udah jahat karena sudah membuat Bella tiada. "
__ADS_1
"Bunda akan ikhlasin, asal kamu mau kembali ke jalan yang bener. " ucap Radella tulus.
Perasaan Lian menghangat karena pertama kali merasakan ucapan tulus dari seorang ibu. Tapi, keinginan Lian untuk di bunuh sudah bulat. Dia tidak ingin hidup di dunia ini. Dia begitu lelah mengharapkan kasih sayang dari orang tua asli nya. Karena orang tua nya dia terjerumus dan menjadi orang jahat.
"Maafin aku, Bun! Dan terimakasih sudah mengizinkan ku menyebutmu dengan panggilan bunda. " ucap Lian. "Untuk kalian, aku minta maaf karena sudah berkhianat, setelah ini aku ingin di bunuh. Percuma aku hidup kalau orang tua ku tidak mengharap kan ku. " lanjut nya lirih dengan menatap teman-teman nya.
"Jangan bicara seperti itu, ada kami yang siap menjadi orang tua mu. " ucap Puteri yang sedari tadi sudah menangis. Radella menganggukkan kepalanya membenarkan ucapan Puteri. Sedang kan para lelaki, meraka semua menunduk dan ikut merasakan kesedihan yang Lian alami. Panglima mengotak atik ponselnya untuk memberi tahu sesuatu pada seseorang.
"Terimakasih kalian sudah mau memaafkan ku dan akan menganggap ku sebagai anak kalian. Tapi, yang aku harapkan kasih sayang orang tua kandung ku sendiri. Bukankah, kasih sayang dari orang tua kandung sama orang tua angkat itu beda rasanya? Dari pada mengharapkan yang tidak mungkin lebih baik aku pergi dari dunia ini. " ucap Lian. Radella menggeleng dan mengeratkan pelukannya pada Lian. Lian berusaha sekuat tenaga melepaskan diri dari pelukan Radella, dia merasa tidak pantas di maafkan karena sudah membuat Bella tiada. Setelah berusaha akhirnya Lian bisa melepaskan diri dari Radella. Lian berjalan mendekati Bryan dan berlutut didepan Bryan.
"Maaf, maaf karena kemarin hampir membuat nyawa mu sekarat. Balaslah, aku siap untuk di balas. " mohon Lian, sungguh ini lebay haha. Aihh author, lagi serius juga. Author jahil haha.
Bryan tidak menyahut, dia hanya menatap Lian yang sedang berjongkok itu. "Apakah Bella sempat dilecehkan? " tanya Bryan datar.
Lian mendongak dan menatap Bryan. Mereka semua menunggu jawaban dari Lian. "Bella menang sempat di bawa Hans ke kamar yang ada di club. " jelasnya.
"Brengsekk.. " dou B mengepalkan kedua tangannya.
"Tapi, Bella tidak sempat dilecehkan karena aku datang. " lanjut Lian lagi dan membuat para orang tua bernafas lega.
"Tapi kenapa Bella sampai mengakhiri hidupnya? " tanya Brian.
"Bella sempat di cumbu dan Menganggap diri nya kotor, aku tidak menjelaskan apa-apa dan membiarkan Bella menganggap diri nya kotor." jelas Lian. Memang itu lah yang dia inginkan, menghancurkan mental Bella karena rasa iri. Tapi dia masih mempunyai rasa simpatik. Sehingga, tidak membiarkan Bella bener-bener dilecehkan. Beruntung Bella lugu dan membuat Lian lebih mudah menghancurkan mental Bella. 'Kamu sudah kotor karena disentuh oleh pria, jika orang tua kamu tau maka kamu akan dibenci oleh mereka. ' itulah yang Lian katakan pada Bella. Lian mengira Bella hanya akan jadi pendiam atau gila. Namun, nyata nya Bella memilih tiada.
"Kenapa lo tega buat Bella begitu? " tanya Brian menatap datar Lian.
"Sudah aku bilang, kalau aku iri. Maka dari itu aku mau meminta maaf pada Bella dengan menyusulnya! Jadi, aku mohon, bunuh saja aku. " Lian menangkup kedua tangannya di depan mereka semua.
"Kamu, kami maafkan! " ucap Bima.
Lian menoleh ke arah Bima. "Terimakasih sudah memaafkan, tapi aku tidak ingin hidup. "
Sett
Dengan gerakan cepat Lian mengambil sebuah senjata di tangan ajudan Panji itu.
"Lian!! " ucap mereka semua terkejut karena Lian menodongkan pistol di kepalanya sendiri.
Lian tersenyum. "Aku tidak ingin hidup, aku lelah berharap, aku mohon! Setelah aku bener-bener tiada, sampaikan pesanku pada orang tua ku, katakan pada mereka kalau aku berterimakasih karena sudah melahirkan ku ke dunia dan terimakasih juga atas penderitaan mereka. " ucap nya.
Mereka semua menangis melihat Lian yang biasa nya ceria kini malah putus asa dalam menjalani hidup. Mereka menggeleng kan kepala karena Lian sudah siap menarik pelatuk.
Mereka menyesal karena tidak memahami penderitaan Lian selama ini. Sehingga membuat Lian terjerumus dan terhasut oleh Hans yang iri hati terhadap Panglima.
"Lian, sayang... " panggil seseorang yang baru memasuki ruangan tersebut.
Deg
Suara itu? Suara yang Lian ingin dengar. Lian mengalihkan itensi nya dan melihat ke arah pintu. Orang tua nya? Orang tuanya datang kesini? Bagaimana bisa? Ini sangat sulit dipercaya! Pikir Lian.
Siapa yang memanggil orang tua Lian? Siapa lagi kalau bukan Panglima. Sebelum bertindak Panglima selalu menyelidiki lebih dulu agar dia tidak melakukan kesalahan. Dia sudah menyelidiki kehidupan Lian. Maka dari itu, Panglima menyuruh anak buahnya untuk mencari keberadaan orang tua Lian. Panglima berhasil membuat hati orang tua Lian luluh dan merasa bersalah atas perlakuan mereka terhadap Lian.
Orang tua Lian mendekat kearah Lian dengan air mata yang sudah membasahi pipi mereka.
"Jangan mendekat! " cegah Lian yang sudah tidak sudi didekati oleh orang tuanya.
"Maafkan bunda, sayang! " ucap Zaskia_bunda Lian.
"Ayah juga minta maaf, Ayah mohon jangan melakukan hal aneh ini. " mohon Alarex_ayah Lian.
Lian menangis karena pertama kalinya dia mendengar kata bunda dan ayah di mulut orang tua nya. Tapi, perasaan sakit nya sudah terlalu dalam dan dia lelah untuk hidup.
"Maaf, kalian sudah tidak diharapkan oleh anak pembawa sial seperti saya. " sesak Lian kala mengingat ucapan yang sering di lontarkan oleh Zaskia dan Alarex pada nya. Radella dan Puteri kini sudah menangis di pelukan suami masing-masing. Juna, Hendra, dan Brian ikut menangis.
Orang tua Lian menggeleng kuat, mereka sekarang bener-bener menyesal karena sudah berlaku buruk pada Lian. "Sayang, kamu ingin ayah sama bunda kembali? Kami akan menuruti, asal kamu jauhkan senjata itu dari kepala mu. " ucap Zaskia dan di angguki oleh Alarex.
Lian tersenyum getir. "Lalu? Bagaimana keluarga baru kalian? Keluarga baru kalian akan hancur jika saya menginginkan kalian. Saya tidak akan membiarkan keluarga baru kalian merasakan apa yang saya rasakan selama ini. Sakit! Ini sungguh menyakitkan. " ucapnya.
"Bunda dan ayah tidak memiliki anak dari pasangan kami. Hanya kamu anak kami satu-satunya. Bunda mohon jangan lakukan ini. Mari kita mulai keluarga baru. " bujuk Zaskia.
Lian tertawa hambar, disaat diri nya sudah lelah. Kedua orang tua nya datang dan mengatakan ingin memulai sedari awal? Ah sudah terlambat, rasa nya sungguh berbeda. Lian trauma akan perlakuan kasar orang tua nya dulu. Sedari kecil dia tidak pernah mendapat kasih sayang. Itulah mengapa Lian sudah tidak berharap keluarga nya bersatu dan memperbaiki semua.
"Terlambat, " lirih Lian.
Dor
Dor
Dor
__ADS_1
"LIAN!!! " teriak mereka semua kala Lian menembak diri nya sendiri sebanyak tiga kali.
***