
"JUNAAA!! "teriak Brian menggelegar yang membuat semua orang menjadi menegur Brian.
"Ini rumah sakit, jangan teriak! " celetuk Bima.
Brian memandang kesal kearah Juna. "Dia bikin Ian kesal, Yah. " sungut Brian seraya menunjuk Juna.
Juna yang ditunjuk hanya menunjukkan deretan gigi putihnya pada orang-orang. "Kelepasan, peace! " ucapnya sambil menunjukkan tangan membentuk 'V'.
"Bang Lian, mana? " tanya Ara yang tidak melihat Lian sedari tadi.
Mereka diam saat mendengar pertanyaan Ara dan mereka jadi teringat Lian yang biasanya seperti Juna tadi jika sedang di tegur, tapi mulai sekarang tidak ada lagi Lian diantara mereka.
"Lian udah bukan teman kita lagi, Dek. " ucap Brian.
"Why? " tanya Ara seraya menatap Brian dengan mata buat lucu.
"Dia jahat karena udah tembak Bryan. " ucap Panglima seraya berjalan mendekati Ara.
"Bisa dijelaskan, kenapa Lian berkhianat? " tanya Bima.
Juna, Hendra, serta Brian menatap Panglima dan Bryan secara bersamaan. Mereka bertiga menggerakkan bola mata mereka seakan bertanya kepada Panglima dan Bryan, bongkar sekarang kah? Itulah maksud dari gerakan bola mata mereka itu.
Ara yang melihat mereka bertiga itu menggerakkan bola mata itu jadi bertanya-tanya, apakah mata abang-abang nya sakit? Itulah yang dipikirkan Ara.
"Mata kalian kenapa? " tanya Ara polos sambil menatap Brian, Juna, dan Hendra bergantian.
"Kelilipan, Dek. " sahut Brian.
"Kelilipan apa? " tanya Ara. Bukankah tidak ada debu di rumah sakit ini? Tapi kenapa abang-abang nya pada kelilipan? Heran Ara.
"Debu lah! " sahut Juna.
"Disini tidak ada debu. " ucap Ara.
"Ada kok, kamu aja yang gak liat. " ujar Brian.
"Iyakah?" tanya Ara polos dan di angguki mereka bertiga.
"Lim, Daddy sama Mommy mau pulang, kamu ikut? " tanya Panji. Saat ini sudah malam jadi waktunya pulang dan tidur dirumah sambil kelonan bareng istri, ehh yang sudah punya pasangan halal sih enak bisa kelonan. Lah, kalau yang belum punya! Kelonan sama siapa? Guling? Ha iya guling aja! Author juga guling kok haha.
Panglima melihat jam tangannya dan hari sudah menunjukkan jam delapan malam, ah meraka semua melewatkan makan malam hanya gara-gara Bryan yang ternyata baik-baik saja itu.
"Kalian pulang aja duluan, " ucap Panglima.
Panji dan Puteri mengangguk lalu mereka mendekati Radella dan Bima. "Kami pulang duluan, ya! " pamit Puteri pada Radella.
"Ah iya, terimakasih sudah mengantarkan Ara kesini! " ucap Radella ramah.
Puteri tersenyum kearah Radella, calon besannya ini sungguh ramah! Pikir Puteri. "Tugas kami untuk menjaga calon mantu, sekalian juga pengin liat keadaan Bryan. " ujar Puteri disertai kekehan kecil.
Radella dan Bima ikut terkekeh karena ucapan Puteri yang mengatakan kalau Ara adalah calon mantu mereka.
"Mau dilaksanakan secepatnya? " celetuk Panji tiba-tiba.
"Dilaksanakan apa? " tanya Bima heran.
"Pernikahan anak-anak kita. " ucap Panji.
Bima tertawa kecil. "Ara masih kecil, nanti saja! Setidaknya tunggu sampai Ara lulus sekolah dulu. " ucapnya.
Ara yang mendengar ucapan sang ayah yang mengatakan kalau dia mesin kecil melayangkan protes. "Ara sudah besar, Ayah! " ucapnya agak garang walaupun sebenarnya dimata mereka semua itu tidak garang sama sekali.
__ADS_1
Mereka terkekeh gemes. "Iya kamu sudah besar, emang kamu ngerti apa yang Ayah dan pak Panji bicarakan? " tanya Radella dengan kekehan kecilnya.
Ara menggeleng polos. Jujur, dia tidak mengerti apa yang dibicarakan orang tuanya itu! Dia hanya mengerti kalau sang Ayah mengatakan bahwa dirinya masih kecil.
"Itu artinya kamu masih kecil, " ledek Brian.
Ara menatap Brian dengan mata yang melotot yang membuat mereka semakin gemes. Lalu, Ara merapat kan tubuhnya kearah Panglima dan bergelayut manja di lengan Panglima.
"Abang! Ara sudah besar, bukan? " tanya Ara lucu, "liat Ara sudah besar! " lanjutnya seraya mengukur tinggi badannya dengan Panglima.
Lagi-lagi mereka tertawa karena melihat Ara yang mengukur diri dengan Panglima itu. Ara hanya sebatas ketek Panglima, ah itu pun lebih kebawah! Sedikit, ya hanya sedikit xixi.
"Ppfftt, sampai ketek Lima pun gak nyampe, Dek! " ledek Brian seraya menahan tawa.
Ara cemberut. "Bang Lima aja yang ketinggian! " ujarnya dengan bibir maju beberapa senti itu.
Ah Panglima gemes melihat bibir itu. "Bibirnya jangan seperti itu. " bisik Panglima yang membuat Ara otomatis menutup mulutnya dengan telapak tangan mungilnya itu.
"Kenapa mulutnya ditutup? " tanya Hendra.
"Ara gak mahu khalau bibihr Ara di mham laghi." ujar Ara tak jelas karena Ara masih menutup mulutnya.
"Bicara apa, Princess?" tanya Bima karena tidak mengerti apa yang di ucapkan sang putri. Selain, tidak jelas suara Ara juga pelan jadi mereka tidak mengerti. Bahkan, Panglima yang didekat Ara saja tidak mengerti, kalau mengerti bisa dipastikan Panglima sendiri yang menutup mulut Ara.
Ara mendekati Bima, kaki kecilnya melangkah cepat!sesampainya didepan Bima,Ara menjauhkan telapak tangan itu dari mulutnya. "Bang Lima pernah mam bibir Ara, terus kata bang Lima kalau bibir Ara manyun lagi saat didekat bang Lima. Maka, bang Lima mam lagi. " jelas Ara polos yang membuat mereka semua terbelalak, apalagi Panglima dia sekarang sudah tepuk jidat karena kepolosan gadisnya itu.
Mereka yang kaget bukan karena Panglima mencium bibir Ara, tapi karena memberi tahu semua orang tanpa malu. Ah kalian ini! Kan sudah jelas Ara itu polos jadi maklumi saja hihi.
Cuma Bryan dan Brian yang kaget nya bukan karena itu. "Bajingan ini! Ck, ternoda sudah otak polos adek gue. " hardik Bryan seraya melirik sinis kearah Panglima.
Orang tua Panglima tertawa kecil, mereka jadi mengingat masalalu. Mereka sering berciuman sebelum nikah, bahkan sempat hendak menyicil anak lebih dulu. Tapi beruntung Panji bisa menahan nafsu sebelum waktunya tiba! Jka tidak, mungkin Panglima anak diluar nikah haha.
"Daddy bangga sama kamu, Boy! " ucap Panji dengan tertawa kecil dan mendapat hadiah cubitan dari Puteri.
Panji meringis ngilu karena mendapat cubitan maut dari sang istri. "Ayo! " ucapnya, "kami pulang dulu ya! " pamit Panji pada orang tua Ara dan yang lainnya.
Mereka semua mengangguk dan mengatakan hati-hati pada Panji dan Puteri. Ara mendekati Panji yang membuat sang empu heran.
"Kenapa? " tanya Panji.
"Ara mau dicium, Daddy! " sahut Ara polos dan membuat Panglima terbelalak. Panglima bergerak cepat kearah Panji dan Ara.
"Tidak boleh! " posesif Panglima. Radella dan Bima geleng-geleng kepala melihat wajah tak ramah Panglima pada Panji.
Ara menoleh kearah Panglima. "Why? " tanya nya lucu.
"Pokok nya tidak boleh! Kamu hanya boleh dicium orang tua kamu sama abang aja! " ucap Panglima.
"Heh, terus gue yang abangnya tidak boleh mencium Ara gitu? " protes Brian tak terima dengan ucapan Panglima itu.
Panglima tidak menyahut Brian, dia lebih memilih menatap tajam sang daddy. Panji sendiri malah tertawa dengan senyum jahilnya. "Ara mau cium? Sini wajahnya, biar Om cium. " dengan sengaja Panji menunduk biar sejajar dengan Ara, "mau dimana ciumnya, kayak bang Lima kah? Yang dibibir? " lanjutnya dengan senyum menyebalkan menurut Panglima.
Ara mengerjap polos menatap Panji. "Boleh! " sahut nya polos. Lagian, kata Ara kemarin enak bukan? Hihi.
"Heh, " tegur yang lain.
"TIDAK!! " teriak Panglima.
Panji tergelak karena melihat wajah sangar sang putra dan melihat wajah cengo orang-orang diruangan tersebut.
Puteri sendiri merasa tidak enak dengan kelakuan jahil sang suami. "Maafkan suami saya, dia memang suka menjahili Panglima. " ucap Puteri pada orang tua Ara. Orang tua Ara mengangguk seraya terkekeh karena merasa terhibur. Jarang-jarang mereka melihat Panglima seperti itu.
__ADS_1
"Kenapa abang gak izinin? Ara mau! Atau abang aja yang cium bibir Ara, sini! " pinta Ara polos.
"Heh, " lagi-lagi mereka terkaget-kaget mendengar ucapan Ara. Aih tidak malu kah berciuman didpan orang banyak? Ara polos dan masih kecil, mana tau dia perihal malu xixi.
Selena mana? Selena sendiri diam dan menyaksikan semua nya sambil terkikik sendiri, dia baru tau kalau sikap polos Ara yang sekarang bener-bener menghibur, ahh dia gemes sendiri melihat wajah tak berdosa Ara itu saat mengatakan hal-hal yang dewasa.
Cup
"Kami pulang! " Panji mengecup singkat pipi chubby Ara lalu segara menarik pelan Puteri untuk keluar, kalau masih disana saat selesai mencium Ara dapat dipastikan Panglima akan marah.
Panglima melotot kan matanya saat sang daddy mencuri kecupan diwajah polos Ara. "DADDYYYY!! " teriak Panglima marah. Teman-teman Panglima tergelak sambil duduk di lantai karena baru kali ini ada yang bisa menjahili kulkas alias Panglima. Dan mereka semua baru tau kalau seorang Panglima sangat posesif dan bucin.
Ara sendiri tersenyum karena sudah dicium Panji. "Papayyy, Daddy! Mommy! " ujar Ara melambaikan tangan mungilnya itu kearah Panji dan Puteri.
"Ara gemesin bangat sih. " gumam Selena dengan tawa kecilnya.
Bryan menatap Selena. "Semenjak kejadian Ara jatuh ditangga dia berubah seperti itu. " ucap Bryan sendu, ah dia jadi teringat Bella_adek kandungnya sendiri.
Selena mengernyit heran melihat wajah sendu dari Bryan. Seharusnya, Bryan senang dong karena adeknya sudah berubah dan tidak seperti dulu lagi, tapi dia memilih diam dan tidak bertanya karena dia masih marah sama Bryan yang sudah menipu dirinya itu.
"Bang Lima, gak mau cium Ara? " tanya Ara menatap polos Panglima.
Panglima menunduk dan melihat gadisnya itu. Lalu, dia mengecup singkat kening Ara.
Cup
Ara tersenyum lalu menjauh dari Panglima. "Ayah, Ara ngantuk huhu! " ucap nya lucu seraya memeluk Bima erat.
Bima terkekeh dengan sikap kekanak-kanakan Ara itu. "Mau pulang atau tidur sini? " tanya Bima.
Ara melihat kearah Bryan. "Kakak cengeng temani bang Iyan kah? " tanya Ara pada Selena.
"Selena namanya, Princess! Bukan kakak cengeng. " ucap Bima.
Juna dan Hendra yang baru mendengar ucapan Ara itu sekuat tenaga menahan tawa, kalau mereka tertawa dapat dipastikan mereka akan kena sembur mulut pedas dari Bryan. Bisa-bisa nya Ara menyebut Selena dengan sebutan 'cengeng' pikir Juna dan Hendra.
Ara mengangguk mengerti. "Kakak Selena, temani bang Iyan kah? " tanya Ara sekali lagi.
Selena menatap Bryan, Bryan yang ditatap Selena memasang wajah memelas agar malam ini Selena menemani nya dirumah sakit.
"Iya! " sahut Selena singkat yang membuat sudut bibir Bryan terangkat membentuk senyuman.
"Kalau kakak cengeng temani bang Iyan, Ara mau pulang sama ayah dan bunda. " ucap Ara.
"Heh, kok kakak cengeng lagi? " tanya Radella sambil menegur.
"Kakak Selena emang cengeng, dari tadi nangis terus! Jadi Ara panggil itu saja. " sahut Ara polos.
"Ppfffttt." Juna, Hendra, dan Brian sekuat tenaga menahan tawa. Ada-ada saja ucapan Ara yang membuat mereka tertawa.
Selena terkekeh. "Tidak masalah Om, Tan! " ujar Selena yang mengerti akan raut wajah tidak enak dari Radella dan Bima.
"Maaf ya! Kalau begitu kami pulang dulu. " pamit Radella pada Selena, "dan kalian semua, besok jelaskan secara detail tentang kejadian hari ini. " lanjutnya menunjuk para remaja laki-laki itu.
"Iya!! " ucap mereka serempak.
"Ayo pulang! " ajak Bima pada Ara.
Ara mengangguk. "Papayy, Ara pulang dulu!! " pamit Ara pada semua nya. Mereka semua melambaikan tangan seraya menahan gemes.
"Bang Lima, nanti cium-cium Ara lagi ya! Mam bibir Ara juga, enak! " ucap Ara polos saat akan melewati tubuh Panglima.
__ADS_1
"HEH,,, " untuk sekian kalinya Ara dapat teguran dari mereka tapi Ara dengan polos tersenyum ke arah Panglima.