
"Kita ke bawah, makan siang dulu! " ajak Panglima lembut.
Ara mengangguk antusias seraya menepuk-nepuk perutnya, "Hu'um, Ara udah lapar-lapar. " ujarnya lucu.
Panglima menghentikan pergerakan tangan Ara yang menepuk-nepuk perutnya itu, "Jangan ditepuk, nanti sakit, hm! "
Ara hanya cengengesan saat ditegur Panglima lalu dia merentangkan kedua tangannya untuk meminta digendong, "Abang, gendong!! " ujarnya manja.
Cup
Panglima mencium ujung hidung Ara gemes, ah jika Ara sudah besar mungkin dia akan meminta kepada orang tuanya untuk di nikahkan sekarang juga.
Hap
Panglima membawa Ara ke dalam gendongan koala nya sambil berjalan keluar ruangan menuju lift. Ara sendiri sudah membenamkan wajahnya di ceruk leher Panglima sambil ngedusel yang membuat Panglima mendesis pelan.
"Ssshh, " desis Panglima.
Ara yang mendengar suara pelan dari Panglima mengangkat kepalanya dan menatap Panglima, posisi wajah mereka sekarang saling berhadapan dengan jarak yang sangat dekat.
"Abang, kenapa? " tanya Ara.
"Kenapa? " tanya Panglima balik.
"Tadi Ara dengar suara abang, Sshh, sshh. Kenapa? " tanya Ara sambil menirukan desisan Panglima yang membuat Panglima memajamkan matanya karena mendengar suara seksi dari gadis nya itu.
Ara memajukan bibirnya beberapa senti karena Panglima malah menutup mata, "Abang, look Ara! " titah Ara kesal.
Panglima membuka matanya dan menatap Ara lekat, "kenapa, hm? " tanya Panglima.
"Lift nya udah ke buka! " ujar Ara kesal karena gara-gara Panglima menutup mata Panglima jadi tidak melihat kalau lift sudah terbuka, Ara kan lapar xixi.
Panglima terkekeh melihat Ara yang kesal, "iya, Kamu belum bertemu Mommy sama Daddy, abang kan? " tanya Panglima.
Ara mengangguk lucu, "hu'um, Ara dari tadi juga gak liat ada orang-orang di rumah besar ini. " adu nya lucu.
"Banyak kok orang, liat! " tunjuk Ara pada pelayan dan ajudan yang berjaga di lantai bawah itu.
Ara melihat sekeliling dengan mulut terbuka lucu. "Woahh, banyak sekali! " ucap Ara yang melihat beberapa pelayan dan ajudan di mansion Panglima.
Panglima membawa Ara menuju meja makan, Panglima mendudukkan Ara lalu dia duduk disamping Ara.
"Pelayan! " panggil Panglima.
Beberapa pelayan datang menghampiri Panglima dan Ara. "Iya, Tuan Muda?" ucap salah satu pelayan sambil menunduk hormat diiringi dengan pelayan yang lainnya.
"Mommy sama Daddy mana? " tanya Panglima karena tidak biasanya orang tuanya belum di meja makan, biasanya orang tuanya sudah standby di ruang makan.
"Nyonya baru saja ke kamar untuk memanggil Tuan, Tuan Muda. " ucap pelayan itu.
Panglima mengangguk mengerti. "Silakan kembali ke dapur atau paviliun, kalian juga makan siang lah! " ujar Panglima.
"Baik, Tuan! " ujar semua pelayan dan mereka pun pergi meninggalkan Ara dan Panglima berduaan di meja makan itu.
Ara sedari tadi hanya diam dan memandangi semua makanan yang ada di meja makan tersebut.
"Mau yang mana, Hm? " tanya Panglima lembut.
"Ara mau semua... " seru Ara lucu.
Panglima terkekeh, "muat? " tanya Panglima.
Ara menunduk dan melihat perut rata nya, "Abang, look! Perut Ara kecil jadi Ara harus makan banyak-banyak biar perut Ara besar lagi. " ucap nya lucu seraya memegang perut mungilnya itu.
Panglima tertawa kecil lalu dia mengusap lembut perut Ara, "Dan disini nanti akan tumbuh malaikat kecil. " ucap Panglima tanpa sadar.
Ara memiringkan kepalanya lucu menatap Panglima polos. "Malaikat kecil? " gumam Ara.
Karena jarak mereka dekat dan Panglima dapat mendengar jelas suara Ara yang membuat nya tersadar akan ucapan nya tadi.
"Gak apa, ayo kita makan sekarang! " ajak Panglima.
Ara menggeleng lucu. "Jangan sekarang! " larang Ara.
"Kenapa, hm? Bukan kah kamu sudah lapar? " tanya Panglima.
"Hu'um, Ara memang lapar, tapi-tapi kita gak boleh makan lebih dulu sebelum orang tua abang datang. " ujar Ara yang keliatan lebih dewasa dari sebelumnya.
Panglima tersenyum karena melihat sisi lain dari gadis kecil nya itu. "Kamu benar, yasudah kita tunggu orang tua abang ya! "
"Hu'um, "
Ara menunggu orang tua Panglima sambil menggoyang kaki nya di bawah sana, sedangkan Panglima tak henti-hentinya memandangi wajah cantik dan menggemaskan milik Ara itu.
"Abang! " panggil Ara mengagetkan Panglima yang sedang memandangi wajah Ara itu.
"Apa? " tanya Panglima.
"Ara mau sama-sama terus sama abang, kayak gini. "
Panglima tersenyum lalu tangannya terulur untuk mengelus rambut Ara. "Tunggu kamu lulus sekolah yaa! " ucap Panglima lembut.
"Ara mau lulus sekarang! " ucap Ara polos.
Panglima terkekeh, "gak bisa, sayang! " gemes Panglima.
"Ekhmm, ada yang sayang-sayangan nih. " ledek seseorang dari arah belakang Panglima. Ara menoleh kebelakang karena mendengar suara seseorang.
"Haii." sapa Ara lucu pada kedua orang tua Panglima.
__ADS_1
Panji dan Puteri gemes karena Ara menyapa mereka seperti anak kecil, tidak menggunakan imbel-imbel tante dan om persis seperti anak kecil yang tidak akan memakai imbel-imbel kalau tidak dikasih tau.
"Panggil Mommy sama Daddy aja ya! " pinta Puteri pada Ara.
Ara mengerjapkan matanya seraya menatap Panji dan Puteri secara bergantian lalu dia menatap Panglima, Panglima mengangguk sambil tersenyum manis kearah Ara.
"Hu'um, Mommy dan Daddy! " ucap Ara.
Puteri tersenyum, ah dia langsung menyukai Ara, walaupun Ara seperti anak kecil itu tidak masalah bagi nya karena dia ingin sekali memiliki putri tapi sudah tidak bisa karena saat hamil anak kedua terjadi masalah dan keguguran sehingga diharuskan pengangkatan rahim yang membuat dirinya tidak bisa hamil lagi. Dengan ada nya Ara maka dia bisa merasakan mempunyai putri.
"Kenapa tidak makan? " tanya Panji yang melihat piring Ara dan Panglima masih kosong.
"Kami tunggu Daddy dan Mommy. " sahut Ara lucu.
"Calon mantu kita pinter ya, Mom. " kekeh Panji dan diangguki oleh Puteri.
Ara memiringkan kepalanya lucu. "Calon mantu? " tanya Ara bingung.
"Dad, dia masih polos. " tegur Panglima lebih dulu sebelum Daddy nya itu menjelaskan yang tidak-tidak pada Ara. Sikap Panji dan Panglima bertolak belakang, Panglima itu tidak banyak omong, dan dingin. Sedang kan Panji itu seperti Brian, jahil dan banyak omong. Panglima menuruni sikap kakek nya yang dingin dan tidak banyak omong.
Panji tertawa kecil karena putra satu-satunya itu sudah memahami karakter dan kejahilan nya. Panji menyuruh sang istri tercinta duduk kemudian dia ikut duduk disamping sang istri. Sekarang mereka duduk saling berhadapan, Ara berhadapan dengan Puteri dan Panglima berhadapan dengan Panji.
Puteri menyiapkan makanan untuk suami dan anak-anaknya. Mereka mulai makan seraya mengobrol kecil walaupun kadang mereka terkekeh gemes karena tingkah polos Ara.
"Lim, Daddy minta file lama tentang perusahaan yang ada di itali yang ada di laptop lama itu. Nanti kirim saja ke email daddy! " ucap Panji seraya meraih gelas untuk minum.
Panglima menatap sang Daddy dengan tatapan yang tidak seperti biasanya dia menatap sang daddy. "Hm Dad! " ucap Panglima ragu.
Panji menautkan kedua alisnya bingung melihat Panglima yang beda dari biasanya, biasanya kalau Panglima seperti itu maka Panglima melakukan kesalahan.
"Apa? " tanya Panji.
"Laptopnya! Ara cuci, Dad. " ujar Panglima.
Uhukk uhukk
Uhukk uhukk
Panji dan Puteri tersedak secara bersamaan karena mendengar perkataan Panglima yang mengatakan 'Laptopnya, Ara cuci'. Mereka beralih menatap Ara yang sedang menetap mereka juga.
"Why? " tanya Ara polos.
Panji dan Puteri refleks menggelengkan kepala mereka, "gak apa-apa! Enak makanannya, sayang? " tanya Puteri.
Ara mengangguk lucu, "hu'um, Ara suka banyak-banyak. " seru nya lucu.
"Syukurlah, tadi Ara diatas ngapain aja? " tanya Puteri kepo, dia agak ragu dengan ucapan sang putra maka dari itu dia akan memastikan langsung dan bertanya pada Ara.
"Tidur, " sahut Ara polos.
"Tidurnya sampai Lima datang? " tanya Puteri.
Ara menggeleng lucu, "no, Ara jalan-jalan dan masuk ruangan yang banyak bukunya. " adu nya lucu.
Ara menggeleng lagi. "Ara bersihin laptop. " sahutnya polos.
"Pake apa bersihin nya? " tanya Puteri.
"Kalau bersihin sesuatu itu pake air dan sabun kan? " tanya Ara polos dan diangguki polos juga oleh orang tua Panglima. Panglima sendiri hendak tertawa karena orang tuanya dengan polos nya mengangguk mendengar pertanyaan Ara.
Ara tersenyum karena melihat orang tua Panglima mengangguk, "Ara bersihin laptopnya pake air dan sabun. " sahut nya tanpa beban.
Puteri dan Panji saling pandang, detik berikut nya mereka tertawa kikuk karena apa yang diucapkan Panglima tentang Ara bener adanya, 'Ara itu polos,bener-bener polos. ' itulah yang Panglima katakan tentang Ara. Lihatlah! Sekarang mereka mengalami langsung kejadian ini.
"Sayang, dengerin Mommy ya! Benda elektronik tidak boleh dibersihin pake air dan sabut, entar rusak. " jelas Puteri pada Ara.
Ara mengerjapkan matanya lucu, "benda elektronik? " tanya Ara.
"Benda yang bisa hidup. " jelas Panji.
Ara mengangguk mengerti. "Berarti mobil sama motor gak boleh dibersihin pake air? " tanya Ara polos.
Panji dan Puteri speechless, sekarang bingung bagaimana cara menjelaskan yang bener dan dimengerti oleh gadis kecil dihadapan merek itu.
Panglima yang sedari tadi diam dan hanya bisa terkekeh kecil dengan kepolosan Ara. "Benda elektronik yang gak bisa dibersihin pake air itu seperti, HP, laptop, komputer dan TV. " jelas Panglima lembut.
Ara menoleh kearah Panglima dan menatap Panglima dengan polos, "berarti laptop yang Ara cuci tadi rusak? " tanya nya.
"Gak, mati aja laptopnya. " entah habis kesabaran atau apa Panji berucap seperti itu, Puteri dengan segara menenangkan suaminya itu, dia tau bahwa suaminya itu punya kesabaran hanya setipis tisu.
"Mati berarti rusak kan? " tanya Ara polos.
Puteri tertawa kecil karena Ara tidak takut sama sekali dengan Panji yang sudah tipis kesabaran nya itu, Panji sendiri menghela nafas terus-terusan agar bisa sabar. Rupanya begini rasanya menghadapi gadis polos, pantas saja sepupunya Dani itu tidak jadi menculik Ara, ternyata menghadapi Ara perlu kesabaran ekstra.
"Iya sayang, rusak! " ucap Puteri.
Ara seketika menunduk dan merasa bersalah karena lagi-lagi dia merusakkan sesuatu. "Maaf, Ara gak tau. " lirih Ara.
Panglima yang mendengar lirihan Ara dengan segara mengangkat dagu Ara dan menatap lekat wajah manis dan cantik itu.
"It's oke, Little girl. Itu tidak masalah, hm! " ucap Panglima lembut.
"Nanti Ara ganti, Ara minta belikan om penculik lagi. " sahut Ara polos.
"Hahahahha! " tiba-tiba saja tawa Panji pecah karena ucapan Ara. Ara menatap bingung Panji yang sedang tertawa itu.
"Daddy, kenapa? " tanya Ara polos.
Panji mengatur nafas dan berusaha menghentikan tawa nya. "Nanti kalau minta belikan om penculik, beli yang banyak ya! " hasut Panji.
__ADS_1
"Why? " tanya Ara.
"Karena om penculik banyak duit. " ujar Panji lagi.
"Mas! " tegur Puteri tapi tak urung dia ikut terkekeh karena sang suami menghasut Ara.
Ara mengangguk lucu, "hu'um, nanti Ara minta belikan banyak-banyak. " ujar Ara polos.
"Pinter, haha! " Panji mengacak rambut Ara gemes seraya tertawa.
"Ara tau. " sahut Ara polos, dia memang pinter kan.
Puteri dan Panglima terkekeh karena ucapan Ara.
****
Saat ini Ara dan Panglima sedang berada di ruang tamu bersama dengan dou B dan teman-teman nya. Dou B dan teman-teman nya baru saja pulang sekolah dan langsung ke mansion Panglima.
"Abangg! " Ara berlari kecil menghampiri Bryan dan dia langsung duduk dipangkuan Bryan.
Cup
Cup
Cup
Cup
Bryan menciumi seluruh wajah Ara yang membuat sang empu tertawa kegelian. "Kenapa bolos, hm? " tanya Bryan.
"Kata bang Lima, jangan bilang-bilang. " sahut Ara polos.
"Ngapain aja sama Lima? " tanya Bryan.
Ara menceritakan kejadian di mall semua nya dengan semangat dan Bryan mendengarkan dengan baik. "Siapa yang pria itu? " tanya Bryan pada Panglima saat mendengar cerita Ara bahwa ada yang mengajak adeknya itu berbicara tapi Panglima memarahinya.
"Hans Danuarta! " sahut Panglima datar.
"Damn it, " umpat mereka semua yang mendengar nama Hans disebut.
Ara menatap polos abang-abang nya, "damn it." Ara ikut-ikutan mengucapkan kalimat umpatan itu.
"Heh, " tegur mereka semua yang membuat Ara semakin bingung.
"Why? " tanya Ara polos.
"Gak apa-apa, kamu sama Mommy dulu ya, abang mau bicara serius sama teman-teman abang. " pinta Panglima.
Ara menoleh kearah Panglima kemudian dia mengangguk. "Hu'um," Ara turun dari pangkuan Bryan , "dimana, Mommy? " tanya Ara.
"Pelayan! " panggil Panglima.
"Iya, Tuan Muda? " tanya sang pelayan yang baru saja datang itu.
"Bawa Ara ke taman belakang untuk menemui Mommy. " titah Panglima.
"Baik, tuan muda! Mari, Nona! " ajak pelayan itu dan Ara mengikuti sang pelayan dari belakang.
"Jadi lo nyuruh kami kesini mau bicarain ini? " tanya Brian setelah kepergian Ara dan pelayan itu.
"Hem, dan gue mau memperlihatkan sesuatu. " ucap Panglima.
"Apa? " tanya Bryan.
"Pembullyan Ara, eh Bella. "
Mereka bingung karena Panglima kembali menyebut nama Ara kembali menjadi Bella.
Panglima mengambil ponselnya di saku celana nya dan dia memperlihatkan dia perempuan yang sedang membully Bella.
Dou B sangat geram melihat video tersebut, "beraninya dia menyentuh adek gua! " desis Bryan dengan tangan yang sudah mengepal, Brian pun tak kalah geram saat ini Brian ingin sekali memukul seseorang untuk melampiaskan amarahnya.
"Mereka tinggal dimana? " tanya Lian dan Juna secara bersamaan.
"Mereka ada di markas daddy! " sahut Panglima.
Mereka semua menatap Panglima bersamaan, "kenapa tidak bilang sedari awal, sialan! " marah Bryan.
"Karena gue mau main-main dulu sama mereka, nanti kita bunuh sama-sama! " jelas Panglima.
"Sudah bermainnya? " tanya Bryan dingin.
"Nunggu kabar dari ajudan-ajudan daddy, "
"Emang yang bermain mereka? " tanya Hendra.
"Hm, mereka gue perintahkan untuk menggilir dua perempuan itu. " sahut Panglima.
Dou B dan yang lain menatap bingung kearah Panglima, kenapa harus digilir? Bukankah tidak perlu digilir? Bingung mereka semua.
"Kenapa digilir? " tanya Lian.
"Mereka pernah nyerahin Bella ke seorang laki-laki di club. " jelas Panglima.
Brakkk
Brakkk
"Brengsek! " murka Dou B.
__ADS_1
***
Hallo guys, ada yang mau dengar suara visual Panglima gak? Kalau mau dengar yukk mampir ke ig author (siti_khadijah2605) dan liat di sorotan nya author, dijamin bikin meleleh hihi.