
"Bunda, tidur? " tanya Ara sambil mendekati sang bunda yang ada di pelukan sang ayah itu.
Mereka semua menoleh kearah Ara yang sedang berjalan mendekat itu. Ara berjongkok tepat di depan Bima. Ara menelisik wajah tenang Radella.
"Bunda nangis? " tanya Ara saat melihat wajah Radella yang basah.
"Iya, bunda nangis! " sahut Brian.
Ara menoleh kearah Brian. "Why? " tanya Ara.
"Karena kamu! " canda Brian.
Mereka semua yang ada di sana hanya diam dengan perasaan aneh. Aneh? Gugup mungkin atau apalah, intinya mereka menunggu reaksi antara keluarga Arshana dan Bethany nanti setelah Radella bangun.
Ara menatap Brian serius. "Kenapa Ara? Ara baru bangun! " ucap Ara dengan mata berkaca-kaca karena disalahkan oleh Brian.
Mereka semua menjadi sedih melihat Ara yang hendak menangis itu! Sedangkan Brian sendiri gelagapan karena adeknya itu akan menangis hanya karena diri nya.
"Eh eng-gak kok, Dek! Abang, cuma bercanda! " ucap Brian.
Ara menatap mereka semua dengan mata berkaca-kaca, tatapan Ara terhenti pada Bram. Ah daddy nya ada di sini dan Ara baru menyadari akan hal itu.
"Daddy!! " ucap Ara menahan tangis seraya mendekat kearah Bram dengan tangan yang ia rentangkan.
Bram ikut merentangkan tangannya dan membawa Ara kedalam pangkuan nya. "Daddy, Ara gak bikin bunda nangis! " adunya dengan suara yang sendu.
Jujur! Bima yang melihat Ara sedang mengadu kearah Bram itu merasa cemburu, biasanya Ara selalu mengadu pada nya dan sekarang karena ada sahabat nya, ahh orang tua kandung Ara dia jadi mengadu ke sana. Tunggu! Bukankah raga itu tetap raga anaknya? Jadi Ara masih anaknya bukan?.
Cup
Cup
"Jangan nangis, ya. " Bram mengecup kedua pipi chubby Ara dan menenangkan sang putri.
Mereka yang menyaksikan wajah cemburu Bima pada Bram merasa tidak enak, Bram pun sebenarnya juga merasa tidak enak karena kebenaran ini baru saja terungkap dan keadaan belum stabil karena Radella pingsan.
"Coba bangunin bunda, siapa tau bunda bangun kalau Ara yang bangunin! " titah Bram pada Ara.
Ara mengerjap polos dan menatap lekat daddy nya itu. "Emang bunda cuma mau di bangunin Ara? " tanya Ara polos.
__ADS_1
"Coba bangunin dulu! "
Ara mengangguk patuh lalu dia turun dari pangkuan Bram dan mendekat kembali kearah Radella.
"Bunda, bangun! Ara lapar. " ujar Ara mengadu lapar pada Radella.
Mereka yang mendengar perkataan Ara dibuat terkekeh gemes, bisa-bisanya Ara membangunkan orang pingsan seperti membangunkan orang tidur saja. Ehh kan tadi Ara mengira sang bunda tidur bukan? Jadi bukan salah Ara kalau membangunkan seperti itu. Ingat! Kalau dalam keadaan sedih tapi Ara di situasi itu maka dijamin keadaan itu tidak jadi sedih, melainkan jadi tempat hiburan. Ara itu polos jadi dia tidak tau dia berada di situasi apa. Tapi nyebelin bukan? Aih kan pembaca menghayati cerita sad tapi gagal sad karena kepolosan Ara, xixi.
"Bunda pingsan, gak mungkin bangun kalau kamu bangunin nya kayak gitu. " ujar Bima.
Ara mendongak menatap Bima dengan tatapan bingung. "Pingsan? " tanya Ara heran.
Bima mengangguk. Namun, ia tidak menjelaskan lagi pada Ara. Bima fokus mencium kan istrinya itu minyak kayu putih seraya menepuk-nepuk pelan pipi sang istri.
"Ayah, nanti hidung bunda pedes kalau cium itu!" tegur Ara saat melihat apa yang dilakukan oleh sang ayah.
"Biar bangun! " sahut Bima.
"Kalau pingsan harus pake itu bangunin nya? " tanya Ara dan diangguki oleh Bima. Ara mengangguk paham seraya memerhatikan pergerakan sang ayah itu.
Beberapa menit Bima mencium kan minyak kayu putih itu. Akhirnya, Radella bangun dan pemandangan yang pertama kali dia liat adalah putrinya, ah apakah masih Ara itu putrinya? Mengingat itu membuat Radella kembali menangis.
"Bunda, marah sama Ara? " tanya Ara yang siap hendak menangis itu.
Radella menatap Ara, tangannya terulur menyentuh pipi chubby Ara. "Kamu putri bunda, Bella kan? " tanya Radella penuh harap kalau yang didepannya bener-bener anaknya Bella.
Ara menggelengkan kepalanya. "No Bella! I'm Ara! Tapi-tapi Ara anak bunda. " ucap nya.
"Mas, Bella, hikss! " lirih Radella dengan isak tangisnya.
Bima mendekap Radella erat seraya mengusap punggung sang istri untuk menenangkan nya. Ara sendiri ikut menangis karena dia merasa sudah membuat sang bunda menangis dengan mengatakan kalau dia bukan Bella tapi Ara.
Dou B sesak melihat bunda dan adek mereka menangis. Bima? Dia juga merasa sesak melihat dia wanita yang dia sayangi menangis.
"Ayah, hikss! " panggil Ara pada Bima. Apakah ayahnya itu juga marah kalau dia tidak mau dipanggil dengan sebutan Bella? Pikir Ara.
Radella yang melihat putri nya ikut menangis merasa tidak enak. Radella melihat kearah Bram yang sedang menatap Ara itu.
"Apakah setelah ini kalian akan membawa Ara saja? " tanya Radella lirih pada Bram dan Bagas.
__ADS_1
Bram dan Bagas otomatis menggeleng kepalanya. "Kami akan tetap membawa kalian, bagaimana pun Ara tetap butuh kalian! Dia baru merasakan kasih sayang yang lengkap dari keluarga nya, aku tidak mau egois dengan merebut Ara dari kalian! Kita sama-sama orang tuanya, dan kita juga akan sama-sama merawatnya! " jelas Bram panjang lebar dan diangguki oleh Bagas.
Radella menghapus air matanya dan merentang kedua tangannya seraya tersenyum kearah Ara. Radella mengangguk kan kepalanya memberi tanda ke Ara untuk memeluknya.
Hap
Dengan cepat Ara masuk kedalam pelukan Radella dan menangis di ceruk leher sang bunda. "Bunda, hikss! Ara minta maaf kalau Ara nakal-nakal, hikss! " isak Ara.
Radella meneteskan air matanya kembali. Andai Bella yang manja seperti ini maka dia senang sama seperti dulu saat dia belum mengetahui akan kebenaran ini. Kebenaran bahwa Bella anaknya sudah meninggal dan jiwa nya diisi oleh orang lain, ah bukan orang lain tapi di isi oleh jiwa dari anak sahabatnya. Radella ingin tidak mempercayai ini tapi mengingat perubahan Ara selama ini membuat nya harus percaya. Sakit! Iya kebenaran ini membuatnya sakit karena dia harus mengetahui kalau putrinya Bella meninggal karena masalah yang selama ini putrinya tutupi. Jika saja putrinya bercerita tentang masalahnya mungkin tidak akan seperti ini dan putrinya aslinya masih berada di raga nya sendiri.
Bima dan dou B ikut menetaskan air mata, Bima sendiri sama seperti Radella yang sakit mengetahui kebenaran bahwa putri bungsunya, putri yang dia sayangi memilih mengakhiri hidup dan memberikan raganya untuk putri sahabatnya yang membutuhkan kasih sayang keluarga. Sedangkan, dou B menangis karena mereka merasa sesak melihat dua wanita yang penting dalam hidup mereka menangis.
Bram dan Bagas juga menangis karena mengingat masa lalu yang dimana Ara tidak pernah mendapatkan kasih sayang dari keluarga kecuali dari Bagas seorang. Seketika rasa bersalah kembali bersarang di hati Bram. Dia berjanji, setelah ini dia akan menyayangi Ara dan selalu menuruti semua kehendak dari putrinya itu.
Yang lain bagaimana? Mereka juga menangis, menangis haru karena kejadian yang langka terjadi, ahh bukan langka tapi mustahil untuk terjadi. Seseorang ber transmigrasi di zaman yang sama? Kalau di novel-novel mungkin ber transmigrasi dizaman yang berbeda bukan?.
"Kamu tetap anggap ibu sebagai bunda, Mu kan? " tanya Radella pada Ara. Ah Radella lupa kalau Ara polos, walaupun kebenaran sudah terungkap Ara mana paham, bukan? Aih Radella bener-bener merasa takut kalau Ara tidak akan menganggap nya lagi sebagai bunda nya.
Ara mengangkat kepalanya dari ceruk leher Radella, dia menatap Radella heran. "Bunda, ngomong apa? Ara gak ngerti! " tanya Ara bingung menatap Radella polos.
Ah sial, hancur sudah suasana haru karena kepolosan Ara! Pikir mereka semua.
Radella tersenyum seraya menggeleng pelan. "Bukan apa-apa, setelah ini kita akan tinggal bersama daddy Bram dan bang Bagas! Kamu tetap sayang sama bunda kan? walaupun kita tinggal bersama bareng daddy Bram dan bang Bagas. " ucapnya lirih. Jujur! Radella takut kalau Ara tidak akan bermanja lagi padanya dan Ara tidak menyayangi nya lagi. Sejak kebenaran terungkap Radella tetap menganggap Ara sebagai anak kandungnya! Itu Radella, tidak tau kalau Bima.
"Ara tetap sayang sama bunda! Ara sayang bunda banyak-banyak. " seru Ara sambil menciumi wajah Radella dan membuat Radella tertawa kegelian.
Cup
Cup
Cup
"Sudah, cukup! " kekeh Radella dan Ara pun berhenti menciumi wajah Radella.
Mereka yang melihat itu tersenyum haru kecuali Bima. Bima? Kenapa? Apakah Bima membenci Ara? Tapi kejadian ini bukan salah Ara, kan? Ah kita nantikan respon Bima saja ya, xixixi.
Ara menatap Radella. "Bunda, kata bunda kita akan tinggal bareng daddy dan bang Bagas? " tanya Ara.
Radella tersenyum dan dia hendak mengangguk tapi terhenti karena sang suami tiba-tiba bersuara.
__ADS_1
"Tidakk! " ujar Bima tiba-tiba.