
"Maaf tuan muda, apakah sempat kita kembali untuk pemakaman besok? " tanya salah satu ajudan Panglima.
Panglima yang sedang chattingan dengan Ara itu lantas menoleh kearah sang ajudan yang sedang menyetir itu.
"Sempat, jarak antara Bandung dan Jakarta hanya sekitar 150 km." sahut Panglima.
Saat ini Panglima sedang dalam perjalanan menuju Jakarta untuk menangkap Hans yang sedang bersembunyi itu. Ia hanya membawa 2 ajudan saja.
"Baik, Tuan Muda! " sahut sang ajudan.
Sesampainya mereka di sebuah apartemen.
"Kalian turun dan jemput dia kesini, bilang kalau besok pemakaman Lian. Dan kalian di utus Hendrik untuk menjemput nya. " titah Panglima santai. Panglima malas untuk berkelahi, apalagi dengan Hans. Jadi, Ia menyuruh sang ajudan penyamar untuk menangkap Hans.
"Baik, Tuan muda. Kami permisi. " pamit dua ajudan itu.
"Hm, " sahut Panglima singkat.
Singkat cerita. Dua ajudan Panglima sudah berada tepat di depan pintu apartemen Hans. Dan mereka segera memencet bel.
Ting tong!
Ting tong!
Ceklek!
Pintu terbuka dan terlihat Hans sedang bertelanjang dada dengan seorang cewek yang dirangkul nya.
"Maaf menganggu waktu anda, Tuan! Tapi, Tuan Muda harus pulang ke Bandung sekarang! "
"Kalian suruhan papa? " tanya Hans dan diangguki oleh dua ajudan Panglima.
Hans menaik turun kan alisnya bingung. Sang papa tidak mengabari nya, kalau dia menyuruh anak buah sang papa untuk menjemputnya.
"Kamu mau pulang, sayang? " tanya wanita itu sok lembut.
Cup
Hans mengecup sudut bibir wanita itu didepan dua ajudan Panglima tanpa rasa malu.
"Kalau penting aku tidak akan pulang, baby. " jawab Hans seraya mengedipkan sebelah mata nya. Dua ajudan yang melihat itu ingin rasa nya menyeret dua sejoli yang tidak punya rasa malu itu.
Si wanita kurang senang dengan jawaban Hans, Ia mengeratkan pelukannya pada Hans. Apakah wanita itu menyayangi Hans? Tidak! Si wanita hanya ingin duit Hans saja, jadi di manfaatkan cinta Hans untuknya itu. Hans sendiri! Apakah dia cinta dengan si wanita? Jawabannya tidak! Hans hanya ingin mencari pemuas nafsu saja.
"Jangan pulang, ya! " ucap wanita itu manja. Ah, rasanya sudah tidak tahan dua ajudan Panglima itu berada di dekat Hans.
Hendrik tidak menjawab. Ia menelisik dua ajudan yang kata nya suruhan papa nya itu. "Emang mau ngapain? " tanya Hans tanpa rasa curiga sedikit pun. Hans itu bodoh dan mudah di tipu, tapi sok sok-an mau jadi musuh dari Panglima Dirgantara, ck.
"Tuan Lian meninggal, tuan muda. " sahut salah satu ajudan, "dan besok pemakaman nya. " lanjutnya.
Bruk
Seketika Hans mendorong wanita yang ada di pelukannya itu karena terkejut.
"Apa!?? " kaget Hans.
"Awww! " rintih si wanita saat merasakan bokongnya sakit karena mencium lantai.
Hans tak mengindahkan rintihan wanita nya. Ia begitu terkejut saat mendengar berita kematian Lian. Tapi, Hans tidak menampilkan raut wajah sedih karena kehilangan sepupu nya itu. Ia hanya syok saja karena tiba-tiba mendapat kabar Lian meninggal.
"Tunggu sebentar! " ucap Hans dan diangguki oleh dua ajudan itu. Lalu, Hans masuk kedalam apartemen nya.
"Sebaiknya nona pulang kalau ingin aman. " ucap ajudan pada wanita yang masih berada didepan pintu itu.
"Kenapa tidak aman? " tanya si wanita heran.
"Turuti saja, Nona! "
Si wanita itu menatap dua ajudan Panglima dengan selidik. Raut wajah curiga ia tampilkan sambil terus menelisik dua ajudan itu.
"Ayo!! " ajak Hans yang sudah berpakaian lengkap itu.
Si wanita menahan lengan kekar Hans. "Sayang, mereka menipu mu. Jangan pulang, aku mohon! " mohon wanita itu seraya mengeluarkan ke curigaan nya pada Hans.
"Menipu? " heran Hans lalu menatap dua ajudan itu penuh selidik. Si wanita menyeringai karena Hans mempercayai nya.
Si ajudan dengan santai mengeluarkan ponsel dan memperlihatkan video Lian yang terbaring kaku di brankar rumah sakit dan Zaskia_ibu dari Lian itu menangis tepat di samping mayat sang putra.
"Itu, menipu? " sentak Hans pada wanita itu. Si wanita menunduk kan kepalanya. Tapi, ia merasa yakin kalau Hans bukan di jemput oleh anak buah Hendrik, melainkan anak buah orang lain.
__ADS_1
Sang ajudan memasukkan ponsel nya kembali ke dalam saku jaz. "Mari, Tuan Muda. " sopan si ajudan yang membuat Hans tidak merasakan kecurigaan apapun.
"Mari! " jawab Hans.
"Jangan tinggalin aku. " rengek si wanita itu saat Hans ingin berjalan mengikuti ajudan ajudan Panglima itu.
"Lepas." Hans menepis kasar lengan wanita yang menahannya itu.
"Ssshh." ringis si wanita karena merasa perih. Hans terlalu kuat menepis nya.
Hans pergi meninggalkan si wanita sendirian. Hans tidak mengunci pintu? Hans tidak perlu mengunci pintu nya. Karena si pemilik apartemen adalah wanita itu. Hans cuma menumpang pada wanita itu, dengan imbel-imbel akan memberikan semua yang wanita itu inginkan jika ia di perbolehkan tinggal untuk sementara. Karena si wanita mata duitan dan haus akan belaian, si wanita pun menyetujui nya tanpa ragu.
Sesampainya mereka di basement apartemen. Hans melihat kearah mobil mewah yang terparkir. Hans bingung, bukankah sang papa tidak mempunyai mobil semewah itu.
"Papa beli mobil baru? " tanya Hans.
Sang ajudan saling lirik, kalau Hans mengetahui itu bukan mobil Hendrik. Maka dapat di pastikan Hans akan kabur.
Bugh...
"Akhhh!! " tiba-tiba Hans hilang kesadaran karena salah satu ajudan itu memukul tulang kering Hans. Sang ajudan memapah Hans yang pingsan itu menuju mobil.
"Cepat! " titah Panglima dingin saat ajudannya sudah memasukkan Hans yang pingsan itu kedalam mobil. Sekarang sudah jam 11 malam dan mereka harus segara sampai ke Bandung.
Dengan cepat para ajudan masuk dan duduk di kursi kemudi.
Skip
Sesampainya di markas AGLEO_markas milik Panji yang akan turun ke Panglima itu. Panglima menitahkan pada ajudannya untuk mengurung Hans di samping kandang singa peliharaan nya. Setelah selesai mengurung Hans. Panglima tidak pulang, Ia memilih tidur di kamar khusus yang ada di markas itu.
***
Keesokan pagi nya Ara di buat bingung karena kata nya sekolah di liburkan guna untuk mengantarkan Lian di peristirahatan terakhir nya.
"Bundaaaaa!!! " teriak Ara seraya berlari menghampiri Radella.
Radella yang sedang bersiap itu lantas menoleh ke arah Ara.
"Sayang, jangan lari! " peringat Radella sambil geleng-geleng kepala.
Ara hanya nyengir saat ia sudah berada tepat di depan Radella. "Bunda, kenapa kita pake baju hitam-hitam? " tanya Ara heran. Hari ini sungguh membuatnya heran, pertama sekolah di liburkan, dan kedua dia disuruh memakai pakaian serba hitam.
Ara memiringkan kepala nya menatap Radella lucu. "Ngapain? Bang Lian kan pergi jauh. " ucap Ara saat mengingat bahwa abang-abang nya yang lain mengatakan kalau Lian pergi jauh.
Radella tersenyum hambar. "Iya, bang Lian pergi jauh dan kita akan mengantarkan nya. " sahut nya.
Ara manggut-manggut mengerti. Ara melihat sekeliling Mansion. "Abang mana? " tanya Ara yang tidak melihat keberadaan abang-abang nya itu.
"Bang Bagas, Bryan, dan Brian sudah pergi kerumah Lian lebih dulu. " beritahu Radella.
Ara memanyunkan bibir nya. "Abang tinggal-tinggal Ara, abang gak sayang Ara, huhu! " ucapnya lucu.
Radella terkekeh, cuma Ara yang bisa menghibur nya disaat keadaan berduka seperti ini. Jika tidak ada Ara disamping nya, Radella suka menangis dalam diam. Semenjak kebenaran terungkap bahwa putri nya Bella sudah tiada, Radella suka menangis dan beruntung Bima selalu di samping sang istri untuk menenangkan nya.
"Ayo kita pergi, daddy dan ayah sudah nunggu di mobil. " ajak Radella dan Ara mengangguk antusias.
"Kamu yang nyetir, " ucap Bram pada Bima.
"Kamu saja! " ujar Bima yang tidak mah menyetir karena Bima ingin duduk dengan Ara yang berada dipangkuan nya. Ah, Bima dan Bram semenjak tinggal bersama sering memperebutkan Ara. Mereka selalu bertengkar kalau sudah menyangkut Ara, tapi beruntung lah mereka tidak bertengkar beneran.
"Kamu duduk bersama istrimu, dan aku duduk bersama putriku. " ucap Bram menatap sengit Bima.
"Putriku juga. " ralat Bima.
"Iya, tapi kamu ada istri mu yang menemani duduk di kursi kemudi. "
"Makanya nikah lagi. " ledek Bima.
Bram menghela, Bima itu selalu saja suka mengejek nya dan selalu menyuruh nya untuk menikah lagi. Dikira menikah itu gampang? Tidak, dodol.
Radella yang baru sampai itu menghela nafas lelah, lagi-lagi suami dan sahabat suaminya itu bertengkar.
"Kalian berdua duduk di kursi kemudi, aku dan Ara duduk di kursi penumpang. " ujar Radella melerai perdebatan Bima dan Bram.
"Tapi... " protes mereka berdua.
"Tidak ada tapi tapian!! " tegas Radella dan otomatis dua pria paruh baya itu mengangguk patuh.
Mereka pun memasuki mobil dan duduk di kursi masing-masing yang sudah di atur Radella.
__ADS_1
"Bunda, Ara cantik? " tanya Ara pada Radella.
Radella mencubit gemes pipi chubby Ara. "Anak bunda selalu cantik!! " sahut Radella jujur.
Ara terkikik lucu. "Ara cantik, hihi. " ujar nya yang membuat Radella, Bima dan Bram gemes.
Skip
Sesampainya dirumah Lian, Ara dibuat heran karena banyak sekali murid BIHS dan orang-orang yang berdatangan ke rumah Lian juga.
Radella menggenggam tangan mungil Ara dan mengajak Ara masuk ke dalam. Ara hanya melihat orang-orang yang berpakaian hitam-hitam seperti diri nya itu.
Saat sudah sampai di dalam rumah, dapat Ara dengar ada suara tangisan bercampur suara orang-orang membaca surah yasin.
Ara melihat kearah wanita yang menangis itu dan didepan wanita itu ada seseorang yang terbaring dengan kain yang menutup seluruh badan.
Ara berjalan mendahului Radella dan mendekat kearah orang yang tidur menurut Ara itu.
Ara dengan perlahan melihat wajah seseorang yang tidur itu. "Bang Lian. " gumamnya seraya memperhatikan wajah pucat Lian.
"Tante, bang Lian masih tidur? " tanya Ara polos pada Zaskia yang menangis itu.
Zaskia menatap sendu Ara. Dia belum tau soal Ara apalagi kepolosan Ara itu. Zaskia tidak mampu menjawab karena lidah nya merasa kelu.
Ara menggoyangkan tubuh dingin Lian. "Bang Lian bangun. " ujar nya, "tubuh bang Lian dingin. " lanjutnya yang merasakan suhu dingin di tubuh Lian.
"Sayang! " ucap Radella yang sudah duduk di samping Zaskia.
Ara menoleh kearah Radella. "Bunda, bang Lian mau pergi kan? Tapi-tapi bang Lian masih tidur dan bang Lian sakit karena tubuhnya dingin. " beritahu Ara polos.
Zaskia yang mendengar itu semakin terisak. Ia sekarang bener-bener menyesal karena tidak pernah menyayangi Lian.
"Sini, sayang! " titah Radella dan Ara menurut. Ara duduk disamping Radella seraya menatap polos mayat Lian.
"Bang Lian tidurnya nyenyak. " adu Ara polos.
"Bang Lian tidak akan bangun lagi, sayang. " beritahu Radella.
Ara memiringkan kepala nya. "Why? " tanya Ara.
"Karena bang Lian udah meninggal. " jawab Radella.
"Mati? " tanya Ara polos dan diangguki oleh Radella. Ara menoleh kearah mayat Lian, Ara kembali mendekati Lian.
"Siapa yang matiin bang Lian? Bang Lian di cuci atau di masukin kulkas? " Ara bertanya polos pada mayat Lian itu.
Panglima, dou B, Juna, dan Hendra yang sedari tadi merasakan sedih karena Ara bertanya-tanya kenapa Lian tidur. Sekarang di buat datar karena pertanyaan polos Ara itu.
Skip
Sesampainya di pemakaman Ara kembali di buat heran karena Lian di masukkan ke dalam tanah. Saat di rumah Lian tadi, Ara tak henti-henti nya bingung karena orang-orang terdekat Lian menangis termasuk sang abang dan sang kekasih_Panglima.
"Bang Lima, kenapa bang Lian di masukkan ke tanah? " tanya Ara mendongak menatap Panglima yang jauh lebih tinggi dari nya itu. Ara saat ini berdiri di samping Panglima. Karena Ara rindu berdekatan dengan Panglima kata nya. Panglima sendiri dengan setia memayungi Ara dengan telapak tangan besarnya, agar Ara tidak kepanasan.
"Kalau sudah meninggal, manusia akan di masukkan ke dalam tanah dan tidak bisa hidup lagi. " jelas Panglima lembut.
"Gak bisa di beli lagi bang Lian nya? " tanya Ara polos.
"Manusia tidak bisa di beli, sayang. Kalau manusia sudah meninggal, maka dia tidak akan hidup lagi. " Ujar Panglima gemes.
Mendengar penjelasan dari Panglima membuat mata Ara berkaca-kaca. "Berarti bang Lian gak bisa nemenin Ara lagi dong! " cemberut Ara dan hampir menangis itu. Ara suka kebersamaan dengan Lian, karena hanya Lian yang suka membuat kalimat aneh menurutnya.
"Masih ada abang yang nemenin kamu. " sahut Panglima berusaha menenangkan Ara yang hendak menangis itu.
"Bang Lima ngomong singkat, gak kaya bang Lian, hikss. " pecahlah sudah tangis Ara. Ara mendekati makam Lian yang sedang ditaburi bunga itu oleh Zaskia, Radella dan Puteri. Dan para lelakinya sedang membaca doa.
"Bang Lian, hikss. Bang Lian jahat ninggalin Ara, hikss hikss. " isak nya sambil berjongkok di samping makan Lian.
Tangan Radella terhenti menabur bunga saat mendengar isak tangis Ara. Sedari tadi Ara tidak menangis, namun kenapa sekarang Ara menangis. Mungkin Ara sudah mengerti maksud dari meninggal itu, pikir Radella.
"Sayang! " Radella memeluk Ara.
Ara membalas pelukkan Radella dengan erat. "Bunda, hikss.. Bang Lian jahat, bang Lian ninggalin Ara, bang Lian gak mau nemenin Ara lagi., hiksss. " adu nya sambil menenggelamkan wajahnya di dada Radella. Radella mengelus lembut punggung sang putri.
Para orang tua dan teman-teman Lian ikut menitikkan air mata saat melihat Ara yang terisak.
'Ara butuh lo sebagai penghibur nya, Lian. 'Batin dou B, Juna,dan Hendra bersamaan.
'Ini tangisan terakhir mu, Little girl. 'Batin Panglima yang merasa sesak melihat gadisnya menangis dan Panglima berjanji akan selalu membuat gadisnya tertawa dan tidak akan membiarkan gadisnya itu menangis.
__ADS_1