Transmigrasi Ara

Transmigrasi Ara
minta sesuatu


__ADS_3

"Bim, " ujar Bram.


"Apa? " tanya Bima.


"Bolehkah aku menganggap putri mu seperti putriku sendiri? " tanya Bram.


Bima menatap Bram lekat, Bram yang ditatap seperti itu menjadi was-was kalau saja Bima tidak mengizinkan nya. Bram ingin menceritakan yang sebenarnya tapi takut kalau temannya itu akan bersedih jadi dia cuma meminta izin untuk menganggap Ara sebagai putrinya sendiri. Bram menunggu jawaban dari Bima dengan panas dingin.


Bima terkekeh, "Haruskah kamu meminta izin? " tanya Bima.


Bram bingung, "Apa maksudmu? " bingung Bram.


Bima kembali terkekeh, "Aku saja menganggap Bagas sebagai putra ku sendiri, jadi kalau kamu mau menganggap putriku sebagai putrimu silahkan, aku tidak melarang itu. " jelas Bima tersenyum.


Bram ikut tersenyum, "Terimakasih, aku ingin menebus kesalahan ku terhadap putriku melalui perantara putri mu. " kilah Bram.


Bima menepuk pelan pundak sahabat nya itu, "Aku mengerti, anggaplah Ara sebagai putrimu, dia pasti senang karena mempunyai 2 orang ayah kan? " Bima terkekeh membayangkan bagaimana bahagia nya Ara kalau orang-orang yang menyayangi nya semakin banyak.


"Perlu kah kita tinggal serumah? " usul Bram.


Bima menaikkan sebelah alisnya, "Tinggal dirumah ku? Terlalu kecil untukmu. "


Bram terkekeh temannya ini suka merendah, padahal rumah Bima itu besar dan mewah walaupun cuma lantai dua.


"Hilangkan kebiasaan mu yang suka merendah. " kekeh Bram.


Bima ikut terkekeh, "Rumahku memang kecil dari mansion mu kan? "


"Kalau begitu bagaimana kalian tinggal di mansion ku? " tawar Bram.


Bima diam dan nampak berpikir, "Bagaimana dengan Bagas? " tanya Bima khawatir, dia khawatir kalau Bagas tidak menyukai dia dan keluarga nya.


"Bagas lah yang mengusulkan ini, karena dia menyayangi Ara seperti adeknya sendiri. Ara dan Bagas akrab disekolah. " jelas Bram.


Bima tersenyum, "Benarkah? Aku senang kalau kalian menyayangi putriku, "


Bram mengangguk, "Bagaimana? Mau tinggal bersama? " tanya Bram.


"Ditempat kamu atau aku? " tanya Bima.


"Aku terserah kamu aja. " jelas Bram.


"Nanti deh aku bicarain dulu ke istri dan anak-anak. "


Bram mengangguk, "Aku akan menunggu. " Bram tersenyum sumringah.


"Alasan kamu ngajak aku keluar cuma ingin membicarakan ini? " tanya Bima.


Saat ini mereka sedang berada di cafe, Bram mengajak Bima bertemu untuk membahas desain kantor cabang yang akan Bram bangun lagi, sekaligus membicarakan tentang Ara lebih tepatnya untuk mengajak Bima beserta keluarga tinggal bersama.


"Tidak, aku mau minta kamu juga desain kantor cabang yang akan aku buka lagi. "


Bima mengangguk mengerti, "Dimana? " tanya Bima.


"Di solo. " sahut Bram.


"Baiklah, mau desain sekarang? " tanya Bima.


"Nanti aja, gak mau cepat-cepat kok. " Bram terkekeh karena temannya itu selalu ingin cepat dalam melakukan apa saja. Bima hanya tersenyum lalu mereka makan siang bersama.


***


"Papi bisa jelasin? " tanya Arsita serius.


Dani berusaha menyembunyikan gugupnya didepan putrinya itu, "Jelasin apa? " tanya Dani tenang.


Arsita memutar bola matanya malas, "Dimana sebelum nya papi bertemu Ara? Dan kenapa Ara manggil papi om penculik? Apakah papi mau menculiknya? " tanya Arsita beruntun.


Dani membuang nafas lelah, "Hm jadi gini..... " Dani pun menceritakan kejadian penculikan yang berakhir si korban dipulangkan itu, Dani menceritakan lengkap dengan alasannya dan Arsita yang mendengar itu awalnya marah karena Ara dijadikan umpan, Ara itu polos mudah untuk dihasut tapi setelah mendengar sang papi memulangkan Ara karena Ara itu kelewat polos pun membuat Arsita tergelak.


"Ara gemesin kan pi? Arsita suka dia. " Arsita menunjuk Ara yang berada di ruang tamu sambil makan es krim.


Dani mengangguk setuju, "Iya gemesin tapi bikin stres, " keluh Dani.

__ADS_1


Arsita terkekeh, "Lagian papi kenapa mau berurusan sana gadis kecil polos? " kekehnya.


"Karena cuma dia yang bisa membuat Panglima dan Panji menemui papi. " ujar Dani.


Saat ini Dani dan Arsita sedang berada di sudut ruangan untuk membicarakan Ara ralat lebih tepatnya untuk Arsita yang sedang ingin menginterogasi sang papi.


Ara sendiri sedang santai diruang tamu dengan satu toples es krim besar sambil nonton upin-ipin diponsel. Ha? Ponsel? Ponsel siapa kah yang Ara pinjam? Ponselnya om penculik lah. Dani sebenarnya tidak ingin memberikan karena ada TV yang bisa ditonton tapi Ara merengek sehingga Dani tidak tega dan dia meminjamkan ponsel itu ke Ara.


"Hu'um, nyam nyam nyam. " Ara menggerakkan kepalanya kanan dan kiri lucu dengan mata yang fukos ke ponsel.


"Es krim nya enakkk Mmm. "


Ara terus menggerak-gerakkan kepalanya sambil berguman-gumam kecil. Saat fokus nonton tiba-tiba telpon Dani berbunyi.


Drrt drrt


"Soni? " ujar Ara lalu dia mengangkat panggilan telpon itu dan dia meletakkan ke telinganya.


(Halo Dan, kamu dimana?) ujar Soni.


"Hallooooooo, " teriak Ara dan dapat dipastikan Soni sedang kaget diseberang telpon sana.


(Kamu siapa? Dimana Dani?)


"Wait, Ara cariin dulu. " Ara mengedarkan pandangannya keseluruh penjuru apartemen untuk mencari keberadaan Dani tapi dia tidak melihat, Ara hanya melihat Arsita yang sedang berjalan mendekat kearahnya.


"Om penculik mana kakak cantik? " tanya Ara.


"Kamar mandi, "sahur Arsita lalu dia duduk disamping Ara.


"Om Soni, kata kakak cantik Om penculik dikamar mandi. " ujar Ara berbicara dengan Soni.


(Bisa panggilkan? Ada hal penting yang harus saya bicarakan.)


Ara memiringkan kepalanya lucu, "Hal apa Om? Bicara aja sama Ara, Ara dengerin kok. " ujar Ara polos, sedangkan Arsita sudah terkekeh dan membiarkan saja Ara berbicara dengan teman papi nya itu.


(Ini pembicaraan orang dewasa,)


"Kakak cantik ada disamping Ara, kakak cantik udah dewasa kok, jadi om bicara aja. " sahut Ara polos.


"Ara dan kakak cantik bukan laki-laki kah? " tanya Ara polos.


Tut tut


Karena sudah tidak tahan mendengar ucapan polos dari Ara, Soni pun mematikan sambungan teleponnya.


Arsita tergelak mendengar ucapan polos yang berhasil membuat Soni kesal, padahal Arsita sewaktu kecil sering menjahili Soni tapi Soni tidak pernah merasa kesal tapi lihatlah Ara, baru bicara aja sudah berhasil membuat Soni kesal, apa lagi membuat sang papi kesal itu sangat mudah bagi Ara.


Ara memiringkan kepalanya, dia heran kenapa Om Soni itu mematikan telpon, Ara menoleh kearah Arsita yang masih tergelak.


"Kakak cantik kenapa tertawa? " tanya Ara heran.


Arsita mengatur nafas agar berhenti tertawa, "Kamu beneran gak tau beda nya laki-laki dan perempuan? " tanya Arsita.


"Ara tau kok, laki-laki tempat kencing nya kayak belalai gajah kan? Kalau perempuan kayak kue cubit. " sahut Ara polos.


Arsita terkekeh, "Terus kenapa kamu nanya seperti itu tadi ke om Soni? " tanya Arsita.


"Yang mana? " tanya Ara kembali.


"Yang kata kamu, 'Ara dan kakak cantik bukan laki-laki kah? ' itu loh!! " ujar Arsita menirukan suara Ara tadi.


Ara mengangguk lucu, "Ara cuma tes om Soni, apakah om Soni tau kalau Ara sama kakak cantik itu perempuan. " sahut Ara polos.


"Kenapa kamu berpikiran kalau om Soni tidak tau kita itu perempuan? " tanya Arsita.


"Karena om Soni cuma telpon biasa bukan telpon vidoe, " ucap Ara.


"Emang kalau telpon biasanya gak bisa bedain antara laki-laki dan perempuan? "


"Hu'um. "


"Om Soni itu laki-laki atau perempuan? " tanya Arsita.

__ADS_1


"Laki-laki. " sahut Ara polos.


"Nahh itu kamu tau, berarti om Soni juga tau dong kalau kita perempuan. "


Ara memiringkan kepalanya, "Tapi-tapi om Soni belum tau nama Ara, kalau Ara sudah tau kalau om tadi nama nya Soni. " ujar Ara polos, padahal sedari tadi dia menyebutkan dirinya dengan sebutan 'Ara' terus, mustahil kan Soni tidak tahu apalagi suara Ara kecil imut menggemaskan itu, mendengar nafas Ara saja sudah ketahuan kalau Ara itu perempuan.


Arsita tidak mampu bicara lagi, Ara selalu bisa menjawab dan tidak mau disalahkan, Arsita hanya bisa tersenyum masam karena lelah berdebat dengan Ara yang polos itu.


"Kamu mau pulang? " tanya Arsita tiba-tiba, sekarang sudah sore Arsita takut orang tua Ara akan mencari Ara.


"Hu'um Ara mau pulang, nanti bunda sama ayah rindu hihi. " Ara terkikik lucu membuat Arsita terkekeh gemes.


Cup


Cup


Arsita mencium kedua pipi chubby Ara, "Tapi kakak belum tau alamat rumah kamu. "


"Om penculik tau kok. " ujar Ara.


Arsita mengangguk pelan, "Yaudah kita tunggu papi kesini ya. "


Ara mengangguk lucu, "Hu'um. "


Ara melanjutkan makan es krim nya sambil ditemani Arsita yang asik dengan ponsel nya.


"Asik banget kalian. " tegur Dani yang baru saja selesai ke kamar mandi dan melihat Arsita dan Ara yang sibuk melihat ponsel.


Ara mendongak menatap Dani, "Om penculik sudah selesai BAB nya? " tanya Ara polos.


"Kata siapa Om BAB? " tanya Dani.


"Kata Ara tadi, " sahut Ara polos.


Dani membuang nafas kasar sedangkan Arsita hanya bisa menahan tawa.


"Kamu gak pulang? " tanya Dani.


"Pulang kok, tapi om yang anterin. " sahut Ara.


Dani mengangguk, "Yaudah ayoo, nanti dicariin ayah sama bunda kamu. "


"Ayoo.. " semangat Ara.


"Kamu ikut sayang? " tanya Dani kepada putrinya itu.


"Gak pi, aku mau istirahat. " ujar Arsita, "kamu pulang sama papi aja ya, kakak capek mau istirahat. " ucapnya pada Ara.


Cup


"Hu'um, papayyy kakak cantik. " Ara mengecup pipi Arsita sambil berpamitan.


Arsita menarik gemes hidung Ara, "gemesin banget sih, dadahh. " Arsita terkekeh.


Dani tersenyum melihat interaksi putrinya dan Ara itu, sungguh pemandangan yang manis kalau mereka kakak-beradek beneran. Dani menggenggam tangan mungil Ara dan berjalan keluar apartemen Arsita.


Skip


Didalam mobil Ara terus berceloteh riya, apapun Ara ceritakan kepada Dani, Dani hanya bisa mengangguk saja menanggapi celotehan Ara.


"Om, "


"Hm, "


"Om baik gak? "


"Baik kok. "


"Boleh Ara minta sesuatu? "


Dani menoleh kesamping dan melihat Ara yang sedang menghadap dirinya. "Minta apa? " tanya Dani.


"Ini kan sudah sore, kalau Ara minta belikan HP baru ke ayah mungkin ayah gak akan belikan sekarang. " jelas Ara.

__ADS_1


"Terus? "


"Ara minta belikan om aja sekarang yahh.. " pinta Ara polos dan dia menampilkan wajah kiyowo nya. Aihh di Ara minta belikan HP kok ke penculik, emang beda Ara ini yaa xixixi.


__ADS_2