
"LIAN!!! " teriak mereka semua.
Lian ambruk ke lantai dengan darah yang mengalir deras. Dengan sigap mereka semua menghampiri Lian, terutama Brian dan Juna(teman gila Lian selama ini).
"Ini semua gara-gara kamu! " bentak Alarex tiba-tiba pada mantan istri nya itu.
Zaskia yang masih syok atas apa yang dilakukan putra nya itu lantas menoleh ke arah Alarex yang sedang menatap nya dengan marah itu.
"Kamu, nyalahin aku? Ini semua terjadi gara-gara kamu yang selingkuh duluan, Mas!! " Zaskia ikut membentak Alarex.
Lian tersenyum getir. "Lihat lah mereka, bahkan disaat seperti ini mereka masih bisa bertengkar. Tidak salah aku mengambil keputusan ini, untuk meninggalkan dunia yang kejam ini. " Lian terkekeh kecil sambil memandangi orang tua nya yang bertengkar dan seperti biasa, saling menyalahkan. "Untuk kalian, aku meminta maaf atas kesalahan ku karena telah berkhianat. Aku akan menyusul Bella, dan meminta maaf secara langsung pada nya. Bunda, Mommy, terimakasih sudah menganggap ku putra kalian. " lirih Lian sebelum hilang kesadarannya.
Juna dan Brian sudah menangis. "Gak, lo gak akan pergi sebelum bener-bener minta maaf sama gue, Lian! " sentak Brian. Juna menggoyang-goyang tubuh Lian yang sudah tidak sadar kan diri itu.
"Lian! "
"Lian! "
Juna terus memanggil temannya itu seraya menangis. "Gue gak akan maafin lo, kalau lo gak bangun sekarang Lian! " ujar nya dan di angguki oleh yang lain. Radella dan Puteri masih menangis di dekapan suami masing-masing. Sedangkan Panji dan Bima malah geram pada orang tua Lian yang sedang bertengkar itu. Bukannya menghampiri sang anak, mereka malah bertengkar dan saling menyalahkan.
"Tapi, Lian begitu karena didikan dari kakak kamu, Zaskia!! " sentak Alarex.
"Kamu nyalahin aku? " tanya Zaskia dengan derai air mata.
"Iya, siapa lagi kalau bukan kamu. " Zaskia yang mendengar itu hanya bisa menangis, bisa-bisa nya mantan suaminya itu menyalahkan nya, padahal mantan suami nya itu yang terlebih dahulu berselingkuh dan menceraikannya.
"KALIAN BISA BERHENTI BERTENGKAR? KALIAN LIAT ANAK KALIAN SAAT INI BUTUH KALIAN, BUKAN BUTUH PERTENGKARAN KALIAN!! " marah Panji karena sudah muak dengan pertengkaran itu. "Lima, rumah sakit. " lanjutnya bicara pada sang putra.
Panglima mengangguk dan memberi kan isyarat dengan gerakan mata pada teman-temannya itu untuk membawa Lian keluar.
"Biar saya yang gendong. " ucap Alarex seraya mengambil Lian dari tangan Juna dan Brian.
Mereka membawa Lian masuk ke dalam mobil. Saat Zaskia ingin masuk untuk menemani sang putra, Alarex melarang nya.
"Kamu jangan disini, kamu gak berhak sentuh putraku. " larang Alarex. Alarex sungguh egois, padahal dia yang selingkuh duluan tapi dia juga yang bersikap egois.
"Mas, Lian butuh aku! " lirih Zaskia yang mata nya sudah agak membengkak akibat menangis.
Mereka semua memutar bola mata jengah, lagi-lagi mereka melihat pertengkaran itu. Sekarang mereka bisa mengerti betapa sakitnya jadi Lian selama ini. Seketika mereka menyesal dan merasa bersalah karena selama ini tidak pernah mengetahui derita teman mereka itu. Lian terlalu pandai menyembunyikan rasa sakit nya, walaupun akhirnya dia memilih jalan yang salah karena termakan hasutan.
"Kalau kalian terus bertengkar, Lian tidak akan terselamatkan! " ucap Bima dengan menatap tajam pada Zaskia dan Alarex.
Zaskia memasuki mobil itu dan duduk di samping sang suami yang sedang memangku tubuh Lian itu. Alarex sendiri diam tidak berkomentar, untuk saat ini dia harus menahan diri untuk tidak marah pada mantan istrinya itu. Alarex sepenuhnya menyalahkan Zaskia, karena gara-gara Zaskia memberikan putra nya itu pada Hendrik dan membuat Lian mengambil jalan kriminal.
Dijalan mereka semua kembali menangis, kejadian Bryan tertembak kemarin kembali terulang. Bedanya sekarang mereka lebih mereka sesak karena baru mengetahui fakta bahwa selama ini teman nya penyimpanan derita. Sebelum kejadian ini, mereka semua sudah sepakat akan memenjarakan Lian saja dan memaafkan kesalahan Lian, mengingat Lian masih sahabat menurut mereka. Dou B sebenarnya belum bisa memaafkan, tapi karena bujukan dari Radella, mereka pun akhirnya memaafkan. Dan sekarang, mereka merasa bersalah karena tidak bisa memahami derita Lian. Sebenarnya tidak perlu merasa bersalah karena Lian pun juga salah.
Skip
Sesampainya dirumah sakit, pihak rumah sakit dengan segara memeriksa Lian. Mereka yang menunggu di luar hanya bisa menunggu sambil menangis.
"Sayang, kamu harus bertahan demi bunda. " lirih Zaskia.
"Jangan sebut dirimu sebagai bunda. Kamu tidak pantas untuk itu. " cibir Alarex.
Zaskia menatap marah pada mantan suami nya itu. "Lalu, kamu? Pantas kah kamu disebut ayah, hah! " sentak Zaskia tak mau kalah.
"Kalian bisa diam dan berhenti bertengkar? " kesal Panji. Pantas saja Lian memilih untuk meninggal dari pada hidup dengan orang tua yang selalu bertengkar itu, pikir mereka semua kecuali orang tua Lian.
__ADS_1
"Jika saya mempunyai orang tua seperti kalian, saya pun akan memilih untuk tiada saja dari pada harus setiap hari makan hati karena orang tua sendiri selalu bertengkar. " desis Juna menatap kesal pada Zaskia dan Alarex.
"Sakit hati terbesar bagi seorang anak adalah melihat orang tua nya bertengkar! " ujar Brian menimpali.
"Tidak ada yang lebih sakit dari pada melihat keluarga nya hancur didepan mata nya sendiri. " ucap Hendra juga.
Zaskia dan Alarex menundukkan kepala. Zaskia semakin menangis karena sudah membuat Lian merasa sakit hati. Alarex memandang Zaskia yang sedang menangis pilu itu. "Maafkan aku. " ucapnya.
Zaskia mendongak dan melihat kearah Alarex. "Aku juga minta maaf. " ujar Zaskia lirih. Mereka saling menganggukkan kepala. Sekarang mereka hanya menunggu kabar dari dokter saja.
Mereka yang melihat itu tersenyum kecil. Setidaknya, jika Lian sadar dia mendapati orang tua nya tidak lagi bertengkar.
***
"Bang! " panggil seorang gadis cantik.
Orang yang dipanggil itu menoleh kebelakang dan melihat gadis itu. Orang itu mengernyit heran kala melihat wajah cantik di depan nya itu.
"Kamu siapa? " tanya laki-laki itu.
"Abang, melupakan ku? " tanya gadis itu seraya tersenyum.
Laki-laki itu menelisik wajah gadis di depannya. "Bella? " tanya laki-laki itu seakan dia mengenali wajah di depannya ini.
Gadis itu tersenyum seraya mengangguk. "Kenapa? Kenapa abang disini? " tanya Bella pada Lian, yaa laki-laki itu adalah Lian. Alian Putra, saat ini berada di sebuah taman indah yang tidak ada di dunia nyata.
"Abang minta maaf sama kamu. " bukannya menjawab pertanyaan Bella, Lian malah meminta maaf atas perlakuan nya selama ini. Bella tersenyum lalu mengajak Lian untuk duduk di kursi panjang yang ada di taman itu.
"Bang, Bella udah maafin abang kok. " jawab Bella.
Lian tersenyum. "Dan abang bakalan nemenin kamu disini. " ucapnya senang.
"Lalu, kamu? Kamu juga pergi dari mereka, apakah kamu tidak kasihan? " tanya Lian.
Bella menghela nafas. "Bella lelah, jadi Bella memilih tiada aja." ucapnya.
"Abang juga lelah, percuma abang hidup kalau orang tua abang sendiri tidak mengharapkan itu. "
"Mereka sudah berubah, bang! "
Lian menggeleng. "Terlambat, abang memilih disini saja bersama mu. Kamu saja bisa memilih untuk pergi. Terus, kenapa abang gak? " tanya Lian.
"Bella sama abang itu berbeda, Bella berbuat baik dengan Ara yang mengharapkan kasih sayang orang tua. Bella pergi dan Bella mencarikan pengganti untuk tubuh Bella, sedangkan abang? Tidak ada! "
"Tetap saja, biarkan abang disini dan menjalani hidup tenang. Abang lelah, dengan kehidupan di dunia yang begitu kejam dan menyakitkan. "
"Beri kesempatan buat orang tua mu, bang! "
Lian lagi-lagi menggeleng kuat. Keinginan nya untuk tetap di alam lain sudah bulat. Dia tidak ingin kembali, karena jika dia kembali dan melihat orang tua nya itu akan mengingat kan nya pada sakit hati nya.
"Bella, biarkan abang disini. " mohon Lian.
"Kasihan mereka, bang! Kalau abang tidak sanggup tinggal bersama orang tua sendiri. Abang, bisa tinggal bersama orang tua Bella atau orang tua bang Lima. "
"Itu akan merepotkan mereka, abang disini saja. " kekeuh Lian.
Bella menghela nafas. "Pembaca pun mengharapkan kamu hidup, bang! Ara, dia pasti rindu padamu! "
__ADS_1
"Untuk apa mereka mengharapkan penjahat seperti ku hidup? Tidak ada nya aku, akan membuat mereka senang. "
"Abang, bukan penjahat! Abang, hanya salah memilih jalan dan itu bisa di luruskan dan di maaf kan! "
"Abang putus asa, Bella. Abang ingin hidup tenang sekarang! " lirih Lian. Dia bener-bener ingin tiada saja, dia lelah dengan drama yang ada di dunia kejam itu.
"Berikan kesempatan untuk orang tua mu, bang. Maafkan mereka! " Bella masih berusaha membujuk Lian. Sebentar lagi cahaya dimensi itu akan menghilang, dia harus cepat membujuk Lian. Namun, sepertinya Lian enggan untuk beranjak dari sana.
"Abang sudah memaafkan mereka, biarkan abang disini. "
"Mereka belum mendengar secara langsung kalau abang sudah memaafkan mereka. Kembali lah, bang. "
Lian menatap sendu pada Bella. Gadis yang hampir dilecehkan oleh sepupu nya sendiri akibat rasa iri nya terhadap keluarga Arshana yang harmonis. Gadis itu tidak membenci nya dan memaafkan diri nya.
"Abang mohon, abang ingin disini bersama mu, Bella. " lirih Lian.
Bella membuang nafas kasar lalu berdiri dari duduk nya. "Terserah!! " setelah mengatakan itu Bella beranjak pergi meninggalkan Lian yang sedang menatap kepergian nya itu.
***
"Kepada keluarga pasien? " ucap dokter yang baru saja keluar dari ruang operasi itu.
Zaskia dan Alarex dengan cepat menghampiri dokter tersebut. Yang lain ikut merapat ke arah sang dokter.
"Saya ibu nya, Dok! Bagaimana keadaan putra saya? " tanya Zaskia tidak sabaran.
Terlihat sang dokter menghela nafas. "Maafkan kami. Kami sudah berusaha semaksimal mungkin. Tapi, putra ibu.... "
"Tidakkkk!!!! "
Bug
Zaskia jatuh pingsan setelah berteriak, padahal sang dokter belum menyelesaikan ucapannya.
Radella dengan segara menghampiri Zaskia yang tergeletak dilantai itu. Alarex? Dia mengabaikan Zaskia. Ah tidak salah Lian memilih tiada, karena mau bagaimana pun orang tua nya itu tidak akan akur.
"Bisa dilanjutkan, Dok. " ucap Alarex.
Sang dokter menatap mereka satu persatu. "Maaf, putra anda meninggal! "
Deg
Semua terkejut. Mereka kembali menangis, Juna dan Brian sudah terduduk lemes di kursi tunggu.
"Lo memilih ninggalin kita? Lo gak mau kumpul sama kita lagi, Lian? " lirih Juna dengan air mata yang sudah menggenang di pelupuk mata.
"Lo ninggalin sahabat gila mu ini? Ara? Bagaimana kalau Ara mencari mu, Lian? " ujar Brian. Hendra, Bryan, dan Panglima hanya bisa menangis dalam diam.
"Lian, maaf kan bunda, Nak. hikss hikss! "Zaskia mengigau dalam pingsannya.
"Anda! Sudah puas bersikap egois? Bahkan disaat Lian butuh kalian, anda masih bisa-bisanya bertengkar dengan mantan istri anda, hah! " Bryan malah memarahi Alarex yang sedang menatap kosong kearah ruangn operasi itu.
Alarex menoleh kearah Bryan, air mata nya tiba-tiba luruh. "Saya orang tua yang buruk! " lirih nya.
"Bener, dan anda baru menyadari nya setelah kepergian Lian? Wahh, hebat sekali. " cela Juna.
Alarex menunduk. "Maafkan ayah, Lian! " gumamnya yang menyesali perbuatan dan pertengkaran nya dengan Zaskia.
__ADS_1
Mereka semua memasuki ruangan itu setelah Zaskia sadar, mereka menangis didalam ruangan itu seraya menatap wajah pucat Lian. Juna dan Brian yang paling merasa terpukul setelah orang tua Lian sendiri. Brian dan Juna terpukul karena sahabat gila mereka pergi. Sedangkan orang tua Lian terpukul karena perlakuan mereka selama ini.