
Satu tahun kemudian.
Saat ini Ara dan Susi sudah kelas XI dan abang-abangnya Ara sudah pada lulus dan mereka semua kuliah sambil bekerja di perusahaan orang tua mereka masing-masing. Ara di mansion merasa sepi karena Bagas dan Bryan tidak tinggal di mansion lagi.
Bagas dan Arsita sudah menikah setalah tiga bulan kematian Lian. Dan semenjak sesudah pernikahan Bagas dan Arsita. Ara jadi sering bertemu dengan Dani dan Soni, lebih sering ke Dani sih karena Soni kalau sudah melihat manusia bentukan Ara, ia langsung kabur dari pada stress menghadapi tingkah polos Ara. Ara masih polos dan semakin menjadi guys, author skip cerita nya, xixi.
Saat ini Arsita sudah tidak lagi mengajar karena sedang hamil 8 sembilan bulan dan Bagas tidak membiarkan Arsita bekerja lagi.
Bryan dan Selena baru saja melangsungkan pernikahan seminggu yang lalu. Bryan bekerja diperusahaan milik orang gua Selana, dan Bryan juga tetap meneruskan bakat arsitek yang di turunkan oleh Bima sang ayah. Bryan dan Selena juga kuliah di kampus milik keluarga Dirgantara atau kampus milik keluarga Panglima. Semua teman-teman Bryan berkuliah di Universitas Dirgantara.
Brian belum menikah karena memang Susi masih sekolah, Brian juga bekerja di perusahaan cabang milik Bram. Walaupun cuma cabang tapi perusahaan itu lumayan besar dan juga terkenal.
Juna sendiri masih betah jomblo dan dia juga sedang bekerja, ah bukan bekerja tapi merintis usaha sendiri. Juna membangun sebuah restoran dan sekarang sudah lumayan berkembang.
Hendra pun juga sama, dia masih jomblo dan Hendra sedang meneruskan perusahaan sang ayah. Karena ayah dari Hendra sudah meninggal beberapa bulan lalu.
***
Panglima saat ini sedang berada di markas untuk menemui seseorang yang dia kurung selama setahun ini. Di saat Panglima sedang marah atau sedang bosen maka dia menemui Hans untuk di jadikan nya hiburan.
Panglima sering menyiksa Hans tapi Panglima tidak membunuh nya, Hans sudah berkali-kali memohon untuk minta di bunuh saja. Tapi, Panglima tidak menuruti nya. Hendrik? Hendrik jatuh sakit saat mendengar kabar bahwa putra nya hilang entah kemana. Selama 2 bulan sakit akhirnya Hendrik menyusul Lian. Disaat Hans mendengar kabar bahwa sang ayah meninggal, Hans mengamok dan berakhir dia kehilangan mata sebelah karena Panglima mencolok mata Hans.
"Akh! " rintih Hans saat Panglima menorehkan pisau kecil di tubuh nya.
Panglima menyeringai puas saat lagi-lagi melihat Hans kesakitan. "Lo, udah berurusan dengan gue. Dan lo udah buat orang-orang terdekat gue tiada, maka siksaan selama berbulan-bulan lebih asik dari pada langsung dibunuh. " itu lah yang Panglima ucapkan setahun yang lalu pada Hans.
Panglima mengganti pisau kecil itu dangan pisau yang sedikit lebih besar namun tumpul. Tau bukan kalau pisau tumpul di torehkan ke tubuh. Maka, itu lebih sakit di banding pisau yang tajam.
Srett
"Argghhh... " rintih Hans saat mendapat sayatan di lengannya, seketika darah muncrat ke tubuh Panglima. Hans memandang Panglima dengan tatapan memohon.
"Kanapa, mau lagi? " tawar Panglima.
Srett
Lagi-lagi Panglima menorehkan pisau itu. Namun, Hans tidak mampu lagi bersuara. Karena rasa nya percuma dia bersuara kalau Panglima tetap menyiksanya.
"B-bunuh s-saja a-aku. " ujar Hans dengan tatapan memohon. Dia sudah tidak sanggup untuk hidup dalam kesengsaraan ini.
Panglima tersenyum devil. "Not that easy.. " tekan Panglima. Tidak mudah untuk Hans mati, Hans harus menderita terlebih dahulu, bukan?.
"A-ku m-mohon. " pinta Hans lagi.
Bughh
"Tidak akan, brengsek!! " kesal Panglima lalu dia membogem wajah Hans. Sehingga, membuat Hans mengeluarkan darah segar di sudut bibir dan hidungnya. Saat Hans ingin bangkit duduk tiba-tiba dia mendapat serangan dari orang lain.
Dor
Dor
Jleb
Dua tembakan dan satu pisau tertancap manis di badan Hans dan membuat Hans tewas, karena tembakan itu mengenai jantung nya dan pisau itu mengenai leher nya. Panglima yang melihat itu di buat gerem. Panglima membalik badannya dan melihat siapa pelaku yang sudah membunuh tawanannya.
"Daddy! " ujar Panglima menatap marah pada Panji. Ya, Panji yang sudah menembak Hans hingga tewas. Panji tersenyum dan berjalan mendekati sang putra.
"Sudah setahun kamu menyiksanya, biarkan sekarang dia pergi. " ucap Panji seraya menepuk-nepuk pundak sang putra.
"Kematian seperti ini terlalu mudah, Dad. " desis Panglima.
Panji menghela nafas, dia tau kalau sang putra belum bener-bener mengikhlaskan kepergian Lian dan juga Bella.
"Sudahlah, liat sekarang waktu nya menjemput gadis mu. " tunjuk Panji pada jam yang berada di ruangan itu.
Panglima luluh, dia kembali normal dan tidak marah lagi kalau sudah mendengar tentang gadis nya. Panglima melihat ke arah jam yang serem. Kenapa serem? Karena jam yang di dinding itu adalah jam yang terbuat dari tulang manusia.
Panglima menghela nafas karena waktu tinggal satu jam lagi sebelum Ara pulang sekolah, dia harus segera mandi dan menjemput gadisnya itu. Setiap hari memang Panglima yang mau menjemput gadisnya. Setidaknya ada waktu sedikit untuk bertemu sang gadis. Mengingat pekerjaan di kantor yang menggunung membuat Panglima susah untuk bersama dengan sang kekasih.
__ADS_1
"Aku mau mandi dulu, Dad! " ucap Panglima dan Panji mengangguk.
"Hati-hati menjemput calon mantu, Daddy. " goda Panji.
Panglima menatap Panji lekat. "Dad, aku sudah tidak tahan. Aku ingin segara menikahi gadis ku. " ucap Panglima.
Panji terkekeh, sering sekali Panglima mengeluh akhir-akhir ini. Panglima meminta untuk di nikahkan dengan Ara.
"Ara, masih kecil. " itulah jawaban yang selalu Panji berikan pada anaknya itu. Panglima hanya bisa menghela nafas berat kalau sudah mendapat jawaban seperti itu.
"Bantu aku membujuk keluarga nya, Dad. " pinta Panglima.
"Entar daddy pikir-pikir dulu. Sekarang jemput saja gadismu. " secercah harapan muncul dan membuat Panglima tersenyum kecil. Cuma menyangkut gadisnya lah yang mampu membuat Panglima tersenyum. Dan hanya tingkah polos dari gadisnya itu lah yang mampu membuat Panglima tertawa lepas. Diluar dari itu Panglima adalah sosok yang dingin, tegas dan kejam. Jabatan ketua mafia sudah resmi di sandang oleh Panglima. Semenjak Panglima yang mengetuai, mafia itu semakin terkenal dan ditakuti seantero dunia.
Panglima beranjak dari ruangan penyiksaan itu, tapi sebelum nya Panglima menyuruh para ajudan nya untuk menyayat daging Hans dan di berikan ke singa peliharaan nya. Panji sendiri ikut keluar dari ruangan itu.
Skip
Bertepatan Panglima sampai di parkir sekolah dan Ara yang baru saja keluar dari sekolah bersama Susi. Terlihat dari jauh Ara yang sedang melompat-lompat kecil layaknya anak kecil dan terlihat menggemaskan di mata Panglima. Panglima turun dari mobil dan merentang kedua tangannya saat Ara melihat kearah nya.
"Abang!! " seru Ara lalu berlari menghampiri Panglima.
Hap
Panglima menangkap Ara dan sekarang Ara sudah bergelantungan di badan Panglima. "Kebiasaan bangat sih. " gemes Panglima lalu mencium ujung hidung Ara.
Ara terkikik lalu menenggelamkan wajahnya di ceruk leher Panglima. Susi menghampiri Ara dan Panglima.
"Cil, kak, gue pulang duluan ya. " pamit Susi pada Ara dan Panglima.
Ara mendongak dan mantap Susi. "Susi, di jemput bang Ian? " tanya Ara.
Susi menggeleng. "Katanya ada kerjaan, jadi Brian gak bisa jemput. " ujar Susi.
Ara menatap Panglima. "Bang Ian sibuk? " tanya Ara polos.
"Kenapa gak tau? " tanya Ara lagi.
"Karena kita gak satu kantor, sayang. " gemes Panglima.
Ara mengangguk mengerti. "Susi, pulang bareng siapa? " tanya Ara.
"Di jemput sopir. " sahut Susi seraya menunjuk sopir pribadi nya yang sudah sampai di depan gerbang sekolah itu.
Ara manggut-manggut setelah melihat sopir itu. "Yaudah, Susi hati-hati ya, papayyy. " Ara melambaikan tangan mungilnya itu.
"Lo, juga hati-hati, ya. Hati-hati dimakan kak Lima. " setelah berucap seperti itu Susi langsung ngacir meninggalkan Ara yang kebingungan.
Panglima memutari mobilnya dan memasukkan Ara ke mobilnya. Setelah menutup pintu nya Panglima kembali memutari mobilnya lalu masuk dan duduk disamping Ara.
Panglima mulai menghidupkan mesinnya dan mulai menjalankan mobil nya. "Bang Lima. " panggil Ara.
"Kenapa, hm? " tanya Panglima lembut.
Ara merubah posisi duduknya menjadi menyamping menghadap Panglima. Panglima melirik ke arah Ara sebentar.
"Kata Susi tadi, hati-hati sama bang Lima, nanti Ara dimakan. Abang, suka makan manusia kah? " tanya Ara polos.
"Suka makan kamu, tapi gak buat kamu mati. " sahut Panglima.
Ara memiringkan kepalanya lucu. "Seperti mam bibir? " tanya Ara.
"Hm? "
Ara mendengus kesal karena Panglima lagi-lagi berdehem saja. "Seperti abang yang mam bibir Ara dan Ara gak mati dan sakit kan? " tanya Ara lebih jelas.
Panglima tidak menjawab, dia hanya mengangguk saja. Sebelah tangannya terulur untuk menyapu lembut bibir Ara. Panglima merasakan dingin di bibir Ara.
"Kamu habis makan es krim? " tanya Panglima.
__ADS_1
Ara mengangguk polos. "Hu'um."
"Saat belajar? " tanya Panglima lagi.
Ara menggeleng lucu. "Saat istirahat. " ujar nya lucu.
"Terus kenapa masih dingin bibir nya? Kamu makan es krim nya banyak? Berapa? " cecar Panglima. Dia khawatir akan gigi sang gadis jika terlalu banyak makan yang manis-manis.
Ara menampilkan telapak mungilnya itu dan jari-jari kecil itu menunjukkan angka empat. Panglima menghentikan mobil karena Ara baru saja memberitahukan kalau dia memakan es krim empat cup. Pantas saja bibir Ara masih dingin, itu karena Ara banyak memakan es krim.
Cup
Panglima melahap bibir ranum Ara dan ******* nya kecil. Di rasa dingin di bibir Ara sudah menghilang, Panglima menghentikan ciumannya.
"Sudah selesai? " tanya Ara menatap Panglima polos. Panglima terkekeh sambil menyapu lembut bibir Ara dengan ibu jari nya. Dia tau kalau ciuman tadi hanya sebentar dan Ara masih mau merasakan nya.
"Mau pulang sekarang, hm? " tanya Panglima berusaha mengalihkan pembicaraan.
Ara menggeleng kuat. "Ara mau ketempat bang Agas. " seru Ara. Dia ingin bertemu Arsita yang sedang hamil itu. Ara suka sekali memegang perut buncit Arsita, karena saat Ara memegang perut Arsita maka bayi yang berada di dalam itu selalu merespon dan menendang-nendang yang membuat Ara kegirangan, layaknya mendapat mainan baru, seperti itulah Ara.
Panglima terkekeh gemes melihat semangat Ara, lalu dia kembali menjalankan mobil nya.
Skip
Setibanya di rumah mewah tingkat tiga itu, Ara dengan cepat turun dari mobil tanpa menunggu Panglima yang membuka kan nya.
Ara berlari cepat dan memasuki rumah milik Bagas beserta Arsita itu. Beruntung pintu sudah terbuka saat melihat mobil Panglima masuk jadi Ara bisa langsung masuk. Panglima hanya geleng-geleng kepala melihat semangat Ara. Dia pun dengan santai berjalan memasuki rumah Bagas.
"Kakak ipar cantik!! " teriak Ara saat sudah memasuki rumah.
Arsita dan Bagas yang sedang di meja makan itu lantas menoleh kearah sumber suara. "Dek! " panggil Bagas.
Ara tersenyum lalu dia berlarian kecil menghampiri Bagas dan Arsita. Bagas menganggukkan kepalanya saat melihat Panglima yang baru memasuki rumahnya itu.
"Kakak ipar cantik gimana dedek bayi nya di dalam. " tanya Ara lucu dan tangan mungilnya itu sudah berada di perut Arsita.
Arsita terkekeh gemes. "Adek bayi nya nendang-nendang terus. " ujar nya.
Ara terkikik karena sudah merasakan respon dari bayi tersebut. "Adek bayi tendang-tendang Ara. " girangnya yang membuat Arsita tertawa kecil.
Bagas geleng-geleng kepala melihat adeknya yang masih kekanak-kanakan itu. Bagas menyuruh Panglima duduk dan dia menyediakan air minum.
"Dek, duduk dan mari makan bersama. " titah Bagas pada yang yang masih setia berdiri sambil memegang perut Arsita.
Ara menggeleng kuat. "No, Ara mau dedek bayi. " ujar nya.
"Biarin dulu dia, Mas. " ucap Arsita pada Bagas. Bagas hanya bisa menghela nafas, dua wanita yang penting dalam hidup nya itu sangat susah di bilangin. Dia hanya bisa pasrah dan diam saja.
Ara mendekatkan wajahnya ke perut Arsita.
Cup
Ara mencium perut Arsita dengan sayang yang membuat Arsita tersenyum haru. "Ehh, adek bayi nya tendang wajah Ara, adek bayi gak suka ya Ara cium-cium? Padahal bang Lima aja suka kalau Ara cium-cium. " jelas Ara polos saat merasakan wajahnya di tendang si bayi.
Bagas menyorot tajam kearah Panglima. Panglima sendiri dengan santai nya duduk, ia sudah terbiasa dengan ucapan polos Ara itu.
Arsita terkekeh. "Adek bayi nendang itu artinya dia bahagia dicium, Ara. " gemes Arsita.
Ara mendongak dan menatap Arsita dengan mata bulat nya itu. "Adek bayi senang? " tanya Ara memastikan dan Arsita menganggukan kepalanya.
Ara tersenyum lalu dia duduk di kursi. Ara memandangi Arsita, Bagas, dan Panglima bergantian. "Bang Lima. " panggil Ara.
"Iya, hm? " sahut Panglima.
"Ayo nikah, dan buat dedek bayi juga. " ajak Ara polos.
Uhuk uhuk
Byurr
__ADS_1