
Yang lain menatap bingung kepergian Bryan, tidak biasanya Bryan mengabaikan Ara seperti ini. Apa Bryan marah? Pikir mereka semua.
Ara turun dari punggung Panji lalu dia berlari menghampiri Brian yang masih diam di tempat seraya menatap kepergian saudara kembarnya.
"Abang!! " panggil Ara. Saat ini, Ara sudah berada didepan Brian. Brian menunduk melihat adek kecilnya itu.
"Apa? " sahut Brian singkat.
"Bang Iyan, pergi kemana? " tanya Ara.
"Nama kamu siapa? " bukannya menjawab pertanyaan Ara, Brian malah bertanya nama sang adek.
"Arawinda Bethany! " sahut Ara polos. "Eh sekarang bukan itu! Tapi, Ara... Ara siapa? " lanjutnya polos seraya bertanya siapa nama nya yang sekarang.
Yang lain hanya diam menyaksikan pembicaraan Ara dan Brian tanpa niat menyela.
Brian menatap datar sang adek. "Arabella Arshana! " sahut Brian datar.
Ara mengerjap polos. "Why, abang tanya-tanya? " tanya Ara.
"Kenapa kamu bisa disini, kenapa? " tanya Brian seraya memegang kedua pundak Ara.
Ara sendiri menatap bingung kearah Brian yang terlihat aneh dari biasanya. "Bang Lima, yang bawa Ara kesini. " sahut nya polos.
Brian mengusap wajah kasar, percuma juga dia bertanya kepada adek kecilnya yang polos itu.
"Dahlah, kita pergi sekarang. " ajak Brian kepada teman-teman nya.
"Kemana? Ara boleh ikut? " tanya Ara.
"Gak boleh! Ini urusan laki-laki. " ketus Brian.
Mata Ara berkaca-kaca karena Brian berbicara ketus padanya. "Abang, marah sama Ara? Ara minta maaf! " lirih Ara seraya menunduk kan kepalanya.
Grep
Brian membawa Ara kedalam dekapan nya. Sungguh, dia tidak sanggup melihat adeknya sedih walaupun dia sering jahil bukan berarti dia jahat dan suka melihat adek nya bersedih.
"Sstt, jangan sedih yaa, princess! Abang gak marah kok, abang cuma belum terima keadaan aja. " ucap Brian seraya menciumi kepala Ara.
Ara mendongak menatap Brian. "Keadaan apa? " tanya Ara polos.
"Kamu sebenarnya bukan adek abang kan? " tanya Brian.
Ara menggeleng. "Ara adek abang, Ara sayang abang! " Ara mengeratkan pelukan nya pada Brian, dia takut kalau Brian tidak menganggapnya sebagai adek nya lagi, dia baru merasakan kasih sayang keluarga yang utuh dan dia tidak mau itu berakhir, dia mau kasih sayang itu selamanya.
"Kamu tetap adek abang. Tapi, abang gak bisa bayangkan kalau ayah sama bunda tau. Pasti mereka sakit! " lirih Brian.
Ara menangis mendengar suara lirihan Brian tanpa tau apa yang dimaksud dengan Brian yang sebenarnya.
"Hikss, kenapa? Kenapa ayah sama bunda jadi sakit, hikss? " tanya Ara polos disela tangisnya.
Mereka yang tadi nya sedih karena melihat tangis Ara dan Brian menjadi menatap datar kearah Ara. Sulit memang, sulit bicara dengan orang polos.
Brian sendiri sama, dia menatap datar Ara yang masih menangis itu. "Gak apa-apa, kamu disini dulu ya bareng om sama tante. Abang, mau pergi sebentar. " ucap Brian.
"Bang Iyan. " ujar Ara menatap Brian seakan minta penjelasan apakah Bryan marah kepada nya sehingga pergi tanpa pamit dulu padanya, padahal dia tadi memanggil tapi diabaikan.
Brian mengusap lembut rambut Ara. "Bang Iyan, ada urusan! Jadi, dia buru-buru pergi. " dusta Brian, dia pun tidak tau apakah Bryan marah atau hanya menunggu waktu untuk menerima keadaan.
"Kalau abang marah, maafin Ara ya! " ucap Ara polos.
Brian tersenyum, "kamu tidak salah, takdir sedang bermain dengan kita. " ucap Brian lembut.
Cup
Cup
__ADS_1
Brian mencium kedua pipi Ara dengan sayang. "Kami pergi dulu ya! " pamit Brian.
Ara mengangguk lucu. "Hu'um."
"Ayo.. " ajak Brian kepada teman-teman nya. Mereka semua mengangguk dan mulai menaiki motor masing-masing kecuali Panglima yang masih berdiam diri ditempat.
"Babay, degem.. " pamit Juna, Lian, dan Hendra secara bersamaan lalu mereka menghidupkan motor masing-masing.
"Papay... " Ara melambaikan tangannya pada abang-abang nya. "Abang, gak pergi? " tanya Ara pada Panglima yang sekarang ada didepan nya.
"Apapun yang terjadi, abang akan selalu ada disamping kamu. " ucap Panglima.
Ara memiringkan kepalanya. "Abang, ngomong apa? " tanya Ara bingung karena tidak mengerti apa yang dimaksud Panglima.
Panglima tersenyum. "Tidak apa, kapan pun kamu perlu abang, abang akan selalu ada buat kamu. " ucapnya sayang.
Ara mengangguk paham. "Hu'um, sekarang Ara belum perlu, abang! " sahutnya polos.
Panji dan Puteri yang sedari tadi mendengarkan dan melihat itu pun tertawa. "Kamu gak dibutuhin, Boy. " ledek Panji.
Panglima hanya melirik kesal kearah sang Daddy. "Yaudah, abang pergi dulu ya? Kamu baik-baik disini, bermain kuda-kudaan aja lagi sama daddy, daddy orang nya kuat! " pamit Panglima seraya menistakan sang daddy.
"Hu'um, Ara mau main kuda-kudaan sampai abang kembali. " seru Ara yang membuat Panji ternganga. Bagaimana tidak? Putra itu akan melakukan sesuatu yang bisa dipastikan menjelang maghrib baru pulang, kalau dia menjadi kuda selama itu bisa patah pinggangnya.
Panglima tersenyum jahil kearah sang daddy. "Iya bermain lah. " ucapnya pada Ara.
Cup
Panglima mengecup kening Ara didepan orang tuanya. "Belum muhrim. " ketus Panji tapi diabaikan oleh Panglima. Sedangkan Puteri hanya terkekeh menyaksikan semua itu
"Papayy, abang! " Ara melambaikan tangan mungilnya pada Panglima. Panglima mengangguk lalu dia menghidupkan motor sport nya dan mengendarai motor dengan kecepatan di atas rata-rata yang membuat Puteri geleng-geleng kepala.
"Daddy, ayo main lagi... " seru Ara seraya berlari menghampiri Panji dan Puteri.
'Encok lah habis ini. 'Batin Panji sedih.
Mereka semua sudah berada di markas mafia milik Panji_ayah Panglima.
"Sudah? " tanya Panglima pada sang ajudan.
"Sudah, tuan muda! Tapi mereka ada bilang kalau mereka melakukan itu semua karena disuruh! " jelas sang ajudan.
Panglima dan yang lain berhenti berjalan saat mendengar ucapan sang ajudan.
"Disuruh? Siapa yang suruh? " tanya Panglima.
"Mereka tidak menjawab. " sahut ajudan tersebut.
"Ck, " decak Panglima lalu dia kembali berjalan dan diikuti yang lain.
Sesampainya di ruangan tersebut. Terlihatlah, Riri dan Risa dengan pakaian yang sudah acak-acakan.
Bryan dan Brian berjongkok di depan Riri dan Risa dengan tatapan yang penuh dengan amarah.
"Kalian! Mau mati ditangan siapa? " ucap Brian pada Riri dan Risa.
Riri dan Risa yang awalnya memejamkan mata karena badan mereka terasa sakit habis digempur beberapa orang sekarang terpaksa membuka mata karena mendengar suara seseorang.
"M-maafkan kami, mohon lepaskan kami. " mohon Riri.
Sett
Bryan menarik rambut Riri sehingga membuat sang empu terdongak seraya menahan sakit. "Lepasin? Gue bakal lepasin nyawa kalian! " desis Bryan.
"T-tapi ini semua bukan salah kami sepenuhnya. " ujar Risa.
Sett
__ADS_1
Brian ikut menjambak rambut Risa. "Lalu? Siapa yang suruh kalian? " tanya Brian dengan tatapan tajamnya.
"Aaa, lepasin! Ini sakitt. " ujar Risa.
"Tidak akan sebelum kalian mengatakan semuanya. " ucap Panglima.
"Nyawa dibayar nyawa!" desis Bryan.
Deg
Riri dan Risa terkejut terkejut mendengar suara Bryan. "M-maksudnya? Bella sudah tiada? " tanya Riri.
"Dan itu, KARENA ULAH KALIAN BERDUA, SIALAN!! " sentak Bryan.
Riri tersenyum miring, "kalian mau bunuh kami? Bunuh saja," ujarnya yang pasrah, untuk apa lagi mereka hidup, bukankah mereka sudah hancur semenjak Panglima menyuruh para ajudannya menggilir mereka? Padahal mereka disini juga korban, korban hasutan dari seseorang.
"Kami rela membayar nyawa kami karena sudah membuat Bella tiada. " jelas Risa yang juga pasrah.
"Padahal bukan salah kami sepenuhnya! " ucap Riri.
"Apa alasan kalian menuruti perintah nya? " tanya Panglima dingin.
"Kami sebenarnya hanya membully Bella karena kami benci, Bella selalu saja mendapat pujian karena dia cantik dan pintar. Padahal, dia itu cupu jadi kami membully nya! Dan untuk kejadian kami membawa Bella ke club itu atas perintah nya, awal nya kami ragu karena kami pun tidak pernah ke club sebelumnya. Tapi, orang itu mengancam kami dan dengan terpaksa kami menuruti. Saat sudah disana kami merasa tidak enak dan kami pun berniat membawa Bella pulang. Tapi, ada lagi seseorang yang menghentikan kami, sepertinya itu teman dari orang yang menyuruh kami, dia meminta Bella dengan kepada kami dan dia menjanjikan kalau terjadi apa-apa nanti kami akan aman, kami pun menyerahkan Bella ke pria itu. " jelas Riri panjang lebar.
"Lalu, kenapa kalian tadi mengatakan dijual? " tanya Panglima dan yang lain hanya diam menyimak.
"Karena kami memang menerima uang dari pria itu, kami juga merasa bersalah karena sudah menyerahkan Bella pada teman pria itu. " jujur Risa.
"Kalian tau akibatnya karena sudah melakukan itu? " tanya Bryan dingin.
Riri dan Risa mengangguk, "yaa, kami tau! Dan inilah akibatnya. Setidaknya, dengan ini sebelum kami meninggal, kami sudah merasa tenang akan kesalahan kami pada Bella. " ucap Riri.
"Kalian korban yah? " tanya Juna polos.
Riri tersenyum kecut. "Korban? Bahkan kalian pun korban. " sahut Riri.
Mereka semua saling pandang saat mendengar ucapan Riri, mereka juga korban? Maksud nya? Bingung mereka semua.
"Jelaskan dengan bener! " ucap Bryan dingin dan kita jambakan nya pada rambut Riri sudah terlepas begitupun dengan Risa.
"Kami mau melakukan kejahatan karena dijanjikan akan selamat. Tapi buktinya, kami tidak selamat dan tetap berakhir disini. " jelas Risa.
"Iya, kami tertipu dengan janji manis pria itu! Kalian pun sama. Lihatlah, bahkan kalian pun tidak sadar bahwa pria yang sudah menghancurkan Bella ada didekat kalian. " timpal Riri.
Deg
Mereka semua terkejut, mereka kembali saling pandang tapi pandangan kali ini sama-sama saling menyelidik. Penghianat ada disekitar mereka? Siapa penghianat diantara mereka? Pikir mereka kecuali si penghianat itu sekarang sudah merasa was-was.
"Siapa? " tanya Panglima dingin.
Riri tersenyum miring lalu dia menatap penghianat itu dengan tatapan sendu, seakan ingin mengatakan kalau pria itu tidak menepati janji untuk menjaga mereka dari Panglima.
"PENGHIANAT!! " teriak Riri seraya menunjuk pria itu.
Dor
Dor
Deg
***
Hayyo siapa nih penghianat nya?
Kasian Riri dan Risa yang sudah hancur huhu:(
Quotes dari author!
__ADS_1
~jangan mudah percaya sama orang, maupun orang terdekat sekalipun, mereka bisa saja menjadi alasan hancurnya hidup kalian! Jadi berhati-hati lah dalam menaruh kepercayaan:) ~