
"Ayah!! " Ara langsung memeluk Bima erat dan menangis didalam dekapan sang ayah.
"Hey, Princess ayah gak boleh nangis, hm! " ucap Bima yang membalas pelukan Ara seraya mengusap punggung sang putri.
"Bang Iyan, hikss. Bang iyan marah sama Ara, hikss. " adu Ara.
Bima menaikkan sebelah alisnya. "Marah? Kenapa marah? " tanya Bima heran.
Ara menggeleng polos. "Gak tau, hikss. " ujarnya polos. Ah, mereka yang ada disana ingin rasanya tertawa karena tingkah polos Ara tapi rasa ingin tertawa itu terhalangi dengan Selena yang memeluk Radella seraya menangis sesegukan.
"Tan, Bryan kenapa? Hiks. " tanya Selana. Sungguh, Selena tidak sanggup melihat Bryan terluka, dia bener-bener mencintai terluka melihat orang yang dia cintai sedang berjuang antara hidup dan mati didalam ruang operasi.
Radella ikut menangis, dia pun sebenarnya tidak tau apa yang terjadi. "Tante juga belum tau, apa yang sebenarnya terjadi. " lirih Radella.
Selena melepaskan pelukan nya dari Radella lalu menatap Brian dengan mata sembab karena menangis itu. Brian yang ditatap seperti itu hanya bisa menunduk.
"Brian, kenapa bisa dia begitu. " tanya Selena sesegukan.
"Maaf, ada penghianat diantara kami. " cuma itu yang dikatakan oleh Brian.
Bima, Radella, dan Selena menatap orang-orang yang ada dirumah sakit tersebut.
"Lian!! " ucap mereka bertiga bersamaan dan Brian hanya bisa mengangguk lemah.
Radella terduduk di lantai, Lian berkhianat? Bukankah selama ini Lian lah yang paling baik, suka menghibur dan Radella sudah menganggap Lian seperti anak sendiri. Tapa, apa alasan Lian berkhianat? Bingung Radella seraya menangis di lantai.
Brian yang melihat sang bunda terduduk pun segara memeluk sang bunda. "Apa, apa alasan dia berkhianat, hiks.. " tangis Radella.
Brian tidak menjawab, dia hanya bisa mengeratkan pelukan nya pada Radella. Brian dan yang lain pun belum tahu alasan Lian berkhianat.
Selena pun sama, dia terduduk di kursi tunggu seraya menangis sesegukan. "Bryan, aku datang, aku kembali untukmu! " lirih Selena sambil menatap ke arah ruang operasi yang tak kunjung terbuka itu.
Ara sendiri masih ikut menangis, walaupun dia tidak tau kenapa terjadi begini tapi dia merasakan kesedihan juga.
"Bunda!! " panggil Ara lirih.
Radella mendongak menatap putri kecilnya yang menangis di dekapan sang suami. "Sayang, sini! " ujar Radella berusaha berdiri dan merentang kan tangannya kearah Ara.
Ara mendongak menatap Bima. "Ayah, Ara mau gantian, Ara mau peluk bunda sekarang! " izinnya polos. Ara izin karena dia merasa pelukan ayah nya sangat erat jadi dia izin agar Bima bisa melepaskan nya.
Ketahuilah, izin nya Ara itu membuat orang-orang yang ada disana menahan gemes, bisa-bisa nya disaat seperti ini Ara berucap polos seperti itu. Ah Ara kan memang polos jadi maklumi saja hihi.
Bima terkekeh gemes, "iya, sayang! " ucap Bima lalu dia melepaskan pelukannya pada Ara. Ara segera masuk kedalam pelukan sang bunda.
"Bunda, tadi-tadi sebelum abang Iyan pergi, bang Iyan gak mau bicara sama Ara, bang Iyan marah sama Ara. Hikss! " adu Ara.
Radella menatap putri kecilnya itu. "Kenapa marah? " tanya Radella, rasanya tidak mungkin Bryan marah kepada Ara.
Ara menggeleng lucu. "Mungkin-mungkin bang Lima kasih tau bang Iyan kalau Ara rusakin laptop bang Lima. Jadi bang Iyan marah sama Ara!" adu nya lucu.
Semua yang ada disana (kecuali Panglima dan orang tuanya) terbelalak kaget mendengar ucapan Ara.
"Kenapa dirusakin? " tanya Radella heran.
"Ara cuci. " sahut Ara polos yang membuat mereka semakin terbelalak kaget. Cuci? Laptopnya dicuci? Bingung mereka semua.
"Rusak dong? " ucap Juna spontan.
"Hu'um, makanya bang Iyan marah sama Ara, kan? " tanya Ara sendu seraya menundukkan kepalanya.
"Udah minta maaf? " tanya Bima yang merasa tidak enak dengan orang tua Panglima. Pasti laptop itu harganya bener-bener mahal, secara kan yang beli Sultan. Jadi, Bima merasa tidak enak.
"Hu'um, Ara udah minta maaf! " ucap Ara.
Bima dan Radella menoleh kearah orang tua Panglima dengan tatapan tidak enak atas kelakuan putri mereka. Panji dan Puteri terkekeh kecil karena paham akan tatapan dari Bima dan Radella.
"Tidak masalah, itu hanya laptop lama! Lagian, Ara sudah kami anggap sebagai putri kami sendiri. " ucap Puteri dan diangguki oleh Panji. 'Iya laptop lama, tapi banyak file penting disana! 'Batin Panji jengah.
"Terimakasih pak, bu! " ucap Bima dan diangguki oleh Panji dan Puteri.
Sudah dua jam mereka menunggu Bryan di operasi, mereka gelisah, takut, cemas, dan sedih bercampir jadi satu untuk menunggu keadaan Bryan. Sedangkan Selena sudah terlelap di dekapan Radella karena sudah lelah menangis. Ara sendiri terlelap dipangkuan Bima dan seperti biasa dia tidur dengan mengemut jempolnya.
__ADS_1
Tak lama pintu ruangan operasi dibuka dan keluarlah dokter. Brian terlebih dulu menghampiri sang dokter dan diikuti oleh yang lain. Karena merasa ada pergerakan Selena terbangun dan menatap Radella.
"Ada apa, Tan? " tanya Selena. Radella menunjuk kearah dokter, Selena mengikuti arah tunjuk Radella detik kemudian dia berdiri dan menghampiri sang dokter yang sudah dikelilingi orang itu.
"Bagaimana keadaan saudara saya, Dok? " tanya Brian. Sang dokter menatap mereka satu persatu dengan tatapan sedih.
"Dok, Bryan gak apa-apa kan? " tanya Selena tidak sabaran.
"Maaf, " lirih sang dokter
Deg
Mereka semua menggeleng tidak percaya, kata maaf itu bukan berarti terjadi apa-apa kan? Bryan selamat kan? Paling dia cuma koma, maka dari itu dokter meminta maaf bukan? Pikir mereka semua.
"Dok, maksudnya apa? " tanya Radella lirih dengan air mata yang sudah menetes. Bima sendiri mendekap Ara erat melampiaskan rasa sedih nya.
"Peluru yang meleset terkena jantung. Sehingga, kami tidak bisa mengalamatkan pasien! " ucap sang dokter.
"Gak, gak mungkin! " Brian terhuyung kebelakang seakan baru saja didorong oleh seseorang.
Mereka semua menangis mendengar ucapan sang dokter, cuma Ara yang tidak menangis karena dia masih tidur di dekapan sang ayah.
Selena sendiri masih mencerna ucapan sang dokter. "Bryan!!!! " Selena berlari ketika sadar akan ucapan dokter dan memasuki ruang operasi dengan air mata yang sudah berjatuhan.
Brian menoleh kearah sang bunda yang sedang menangis itu. "Bun! " lirih Brian sambil memeluk Radella.
"Bryan, dia gak mungkin ninggalin bunda, kan? " tanya Radella lirih. Brian mengeratkan pelukannya pada Radella dan ikut menangis bersama sang bunda.
"Gue gak nyangka dia pergi secepat ini. " ucap Juna dan diangguki oleh Hendra.
"Kita bakal bunuh dia, sekalipun dia pernah jadi sahabat kita! " tekad Hendra yang ingin membunuh Lian.
"Sebelum dibunuh, kita harus mencari tau alasan dia berkhianat! " ucap Panglima dingin.
Juna dan Hendra menatap Panglima yang dingin dan datar itu, padahal dalam hati Panglima dia juga sakit.
Panglima menghampiri Bima. "Kalau om mau melihat Bryan, silakan om. Biar Ara sama aku aja! " ucap Panglima yang duduk disamping Bima.
"Kita liat Bryan kedalam, ayok! " ajak Bima.
Radella yang mendengar suara sang suami lantas melepaskan pelukan nya pada Brian lalu memeluk Bima.
"Mas! " lirih Radella.
Bima mendekap sang istri sambil membawa Radella masuk ke ruang operasi itu dan diikuti oleh Brian dari belakang.
Sesampainya didalam terlihat Selena sedang memeluk Bryan sambil menangis.
"Yan, aku datang buat kamu. Kamu bangun ya, please. " isak Selena.
"Jangan tinggalin aku, aku cinta sama kamu. Aku kembali demi kamu, sayang! "
"Aku bakal ceritain alasan aku pergi, tapi kamu janji harus bangun setelah ini yaa!! " Selena terus mengajak Bryan berbicara. Radella, Bima dan Brian yang melihat itu merasa sakit. Radella semakin memeluk erat sang suami dengan terisak kecil.
"Aku keluar negeri karena ingin berobat, aku gak bilang sama kamu karena aku tau itu akan membuat mu sakit, sama seperti ku saat ini yang sakit melihat mu sakit! Kamu cuma sakit kan? Kamu gak ninggalin aku bukan? Kamu harus bangun, sayang! Aku aja bisa lawan penyakit aku agar bisa kembali sama kamu, masa kamu mau ninggalin aku yang sudah datang kepadamu? Aku mohon bangun, hikss! " tangis Selena dengan kepala yang dia sandarkan disisi badan Bryan.
Radella semakin terisak saat mendengar tangis Selena yang semakin menjadi. Bima yang sedari tadi menahan isakan pun tak tahan lagi. Sehingga, sekarang Bima mengeluarkan air matanya. Brian sendiri sudah menangis dalam diam. Dia sebagai saudara kembar Bryan ikut merasakan sakit yang Bryan rasakan itu.
****
"Bos, Lian sudah tertangkap! " ucap Jono_anak buah dari Hans Danuarta.
Hans yang sedang merokok itu lantas mematikan rokoknya dan mata nya berkilat amarah. "Dia bodoh kah? Kenapa bisa sandiwara nya terbongkar, brengsek!! " marah Hans. Dia belum selesai mengalahkan Panglima tapi kenapa sekarang rencana yang sudah di jalankan selama bertahun-tahun hancur hanya karena kebodohan dari Lian.
"Maaf, Bos! Dua cewek yang kemarin tertangkap oleh anak buah Panglima jadi Lian kesana bersama teman-temannya untuk melihat keadaan dua cewek itu yang katanya digilir oleh anak buah Panglima! Dan dua cewek itu berkata jujur dan membongkar sebagian rahasia Lian! " jelas Jono.
"Ck, seharusnya dari dulu bunuh saja dua cewek itu! " decak Hans.
Jono meringis mendengar kata bunuh dari bos nya itu. "Jadi? Bagaimana, bos? Perlu kita selamatin si Lian? " tanya Jono.
"Kamu gila? Kalau kita kesana nyelametin udah pasti nyawa kita tidak akan selamat! " kesal Hans.
__ADS_1
"Terus bagaimana dengan Lian, Bos? " tanya Jono hati-hati.
"Biarkan saja dia! "
"Tapi Lian sepupu mu, Bos. " ujar Jono mengingatkan Hans, jika Lian adalah sepupu dari Hans. (Inilah alasan Lian berkhianat guys, adalagi faktor lain yang membuat Lian berkhianat tapi kita bahas nanti saat di ruang penyiksaan yaa).
"Ck, mereka tidak akan membunuh Lian sebelum menangkap kita. " decak Hans yang merasa yakin kalau Panglima tidak akan tega membunuh sahabat nya sendiri. (Pemikiran lo salah Hans, Panglima itu bukan malaikat tapi dia psychopath).
"Jadi, kita harus apa, Bos?" tanya Jono.
"Untuk sementara kita kabur dan menjauh dari kota ini. "
"Lalu, bagaimana dengan lomba futsal lusa nanti? " ucap Jono bodoh.
"Bodoh, sempat-sempat nya memikirkan lomba dari pada nyawa! " kesal Hans.
"M-maaf, Bos!" ucap Jono takut.
Hans tidak menjawab, dia memilih pergi dari markas nya. Dia akan pergi jauh dari kota ini untuksementara waktu. Kalau dia tertangkap Panglima, maka dapat dipastikan dia tidak akan selamat.
****
Ara terbangun dari tidurnya dan menggeliat di pangkuan Panglima. Sehingga, membuat sang empu mendesis pelan karena merasakan sesuatu dibawah sana.
Ara membuka matanya dan menatap Panglima. "Ayah jadi bang Lima? " tanya Ara polos.
Panglima menarik hidung Ara gemes. "Ini abang! " ucap Panglima.
"Ayah, mana? " tanya Ara.
"Didalam, " sahut Panglima.
Ara melihat kearah ruangan operasi. "Ara mau masuk! " ujar Ara menunjuk kedalam ruangan operasi itu seraya menurun kan diri dari pangkuan Panglima.
Setelah turun dia berlari memasuki ruang operasi tersebut tanpa menghiraukan panggilan dari Panglima. Ara bingung melihat orang tuanya beserta Bryan menangis, dan yaa wanita yang datang secara bersamaan dengan dirinya.
"Why, nangis-nangis? " tanya Ara polos.
"Dek! " lirih Brian lalu dia mendekati Ara. Ara mengerjapkan matanya lucu saat melihat dengan jelas wajah basah Brian karena menangis.
"Bang Iyan pergi, Dek! " lirih Brian saat sudah didekat Ara.
Ara bingung dan menatap polos Brian dan orang tuanya secara bergantian. "Itu abang Iyan ada. " tunjuk Ara polos kearah brankar Bryan.
Oke, Brian berhenti nangis dan menatap datar adeknya itu. "Meninggal maksudnya, dek! " gemes Brian.
Ara mengangguk paham lalu dia berjalan mendekati brankar Bryan dan berdiri di sisi kanan brankar tersebut.
"Bangun, sayang! " lirih Selena lemah.
Ara menatap polos kearah Bryan yang terbujur kaku itu. "Abang!! " Ara memanggil Bryan namun tidak ada sahutan.
Radella dan Selena kembali terisak saat mendengar Ara memanggil Bryan. Sakit rasanya melihat wajah polos Ara yang memanggil Bryan itu.
"Mas, Ara belum ngerti! " lirih Radella. Bima hanya menatap sedih Ara seraya mengeratkan pelukannya pada Radella.
"Dek, bang Iyan mati. " ucap Brian. Mungkin kalau kata 'mati' Ara akan paham.
Ara yang mendengar ucapan Brian itu lantas menggeleng kuat. "Gak, bang Iyan gak mati.. " ucap Ara.
'Sayang, bangunlah dan lihat adekmu! Dia tidak mengharapkan kamu pergi!! 'Batin Radella menatap sedih kearah Ara.
'Bangun, Boy! Ara masih butuh kamu untuk menjaganya. 'Batin Bima.
'Yan, Lo liat? Ara gak ingin lo pergi! Gue tau lo sayang sama Ara, walaupun kebenaran sudah terungkap! 'Batin Brian.
"Sayang, disini ada aku dan Ara yang butuh kamu. Kami butuh sosok pelindung seperti kamu, aku mohon bangunlah! " ucap Selena lemah.
Ara sedari tadi hanya diam menyaksikan orang-orang yang menangis. "Bang Iyan nakal, udah buat mereka nangis! " kesal Ara tapi dia malah makin mendekatkan diri kearah Bryan.
"Bang Iyan, abang marah kah sama Ara karena udah cuci laptop bang Lima. Makanya abang mau mati aja? " bisik Ara polos pada telinga Bryan.
__ADS_1
"APA?!! "