
Hendrik otomatis menggelengkan kepalanya, saat mendengar penuturan dari adik ipar nya itu ah ralat, bukan adik ipar tapi mantan adik ipar. Ia menyayangi sang putra, walaupun sang putra sering buat masalah. Ia hanya mempunyai Hans saja, ia tidak ingin kehilangan Hans.
Hendrik menepis kuat tangan Alarex dari cengkraman kerah baju nya. "Jangan menyalahkan orang atas kesalahan mu sendiri. " sengit Hendrik. Ia disini tidak bersalah, yang salah adalah orang tua Lian sendiri. Jika saja Lian mendapat kan orang tua yang sesuai dengan keinginan nya. Maka, tidak mungkin ini terjadi, bukan? Sebut saja Alarex tidak tau diri, sudah salah tapi dia malah tidak mau mengakui itu, sungguh brengsek, bukan?.
"Lian, tidak mungkin menjadi jahat kalau tidak dipengaruhi oleh anak, Mu! " kekeuh Alarex yang tetap tidak ingin di salah kan.
"Kamu!! " geram Hendrik menunjuk wajah Alarex. Andai saja, ini bukan dirumah sakit mungkin Hendrik sudah membogem nya.
"Mas, sudah!! Disini kita yang salah karena tidak bisa menjadi orang tua yang baik. " ucap Zaskia dengan sedikit sesegukan itu.
Alarex menoleh kearah mantan istri dan menatap tajam. "Kamu, membela kakak mu ini? " desis nya.
Panji dan Bima memutar bola mata malas menyaksikan pertengkaran didepan mata mereka itu. Bisa-bisa nya mereka bertengkar saat keadaan berduka seperti ini? Sungguh, keluarga yang tidak bisa memahami keadaan. Pantas saja Lian memilih meninggalkan keluarga nya yang seperti ini, pikir mereka berdua.
"Kalian bisa berhenti bertengkar? Seharusnya kalian mengurus upacara pemakaman Lian. " tegur Bima.
"Keluarga prik. " cibir Juna menatap Hendrik dan Alarex sinis. Juna sungguh muak dengan Alarex yang egois dan tidak tau diri itu. Seharusnya, kalau mau menyelesaikan masalah. Setidaknya, tunggu sampai pemakaman Lian selesai. Pasti Lian sedih melihat keluarga nya yang bertengkar itu.
Hendrik dan Alarex diam tapi mereka saling melempar pandang sinis. Mereka semua kini keluar dan para perawat masuk untuk membawa jenazah Lian ke ruang mayat sebelum besok dibawa dan dimakan kan. Zaskia kembali menangis histeris, sungguh! Sekarang, dia bener-bener menyesal karena sudah berlaku buruk pada Lian dan ia tidak pernah memberikan kasih sayang terhadap Lian.
'Gue gak nyangka lo bakal ninggalin kami secepatnya ini. 'Batin Juna menangis dalam diam.
'Lo, emang jahat tapi lo tetap teman gue, Lian! 'Batin dou B.
'Semoga lo tenang di alam sana. 'Batin Hendra.
'Maafkan gue, yang terlambat mengetahui fakta tentang derita lo, Lian! 'Batin Panglima menyesal. Menyesal karena telat mencari tahu tentang kehidupan keluarga Lian yang sebenarnya. Panglima merasa buruk dan gagal sebagai teman, apalagi sebagai mafia. Kenapa Ia tidak bisa mengetahui kehidupan orang yang terdekat nya.
'Tenang di alam sana, Nak! 'Batin para orang tua. Dengan ini author nyatakan Alian Putra Bin Alarex Putra, meninggal dunia. Jangan ada lagi yang mengharapkan Lian hidup ya. Sekarang kita fukos ke cerita Ara, dan bentar lagi Ara akan menikah dengan Panglima.
***
Ara saat ini sedang berbaring di sofa yang ada di ruangan Dani. Ara kekenyangan karena melahap habis semua tolol eh dodol yang dibawakan oleh rekan bisnis Dani itu.
"Hufft, Ara mau pulang! " gumam Ara seraya membuang nafas lelah. Mungkin Ara sudah bosen berada dikantor Dani. Bagaimana tidak bosen? Dari tadi ia hanya menonton youtube sambil rebahan di sofa. Sedangkan, Dani dan Soni sedang bekerja.
Dani menoleh kearah sofa saat mendengar gumaman Ara. 'Semoga ada bantuan, semoga mukjizat itu nyata. 'Batin Dani berdoa agar bala bantuan datang pada nya.
Ara bangun dari rebahan nya karena mendapat pesan dari Bram, bahwa dia sudah pulang dari bekerja dan Ara bisa pulang sekarang. Ara berdiri dan mendekati Dani.
"Om! " panggil Ara.
"Ya? " tanya Dani tanpa mengalihkan atensi nya dari laptop. Ara yang melihat Dani fokus pada laptop itu lantas ikut melihat ke layar laptop yang menampilkan beberapa file tentang perusahaan itu.
"Ini apa, Om? " tanya Ara.
"Ini dokumen yang berbentuk file. " sahut Dani.
__ADS_1
"Untuk apa? " tanya Ara lagi.
"Untuk kemajuan perusahaan om lah! " jawab Dani lagi dan Ara hanya mengangguk saja, mau bertanya lebih pun percuma karena dia tidak mengerti.
"Om! " panggil Ara lagi.
"Apa? " tanya Dani malas.
"Ara, mau pulang! " ujar Ara.
Dani menghentikan kegiatan lalu menatap sekeliling ruangannya. 'Bantuan, mohon datanglah! 'Doa Dani dalam hati. Soni mana? Soni berada diruangan nya, Dani dan Soni beda ruangan, Soni itu asisten sekaligus sekretaris Dani. Dan ruangan Soni berada diluar ruangan Dani.
"Sama om Soni aja ya! " pinta Dani.
Ara memiringkan kepalanya nya lucu. "Tapi-tapi Om kurus gak punya duit, Ara kan mau minta sesuatu. " sungut Ara lucu. Kenapa Ara lebih suka meminta pada orang lain dibanding orang tua nya sendiri? Karena kalau minta ke orang tua, Ara harus dapat nilai bagus dulu, sedangkan minta ke Dani kan, ia langsung mendapatkan nya tanpa imbel-imbel nilai bagus, xixi.
"Emang kamu minta belikan HP lagi? " tanya Dani dan Ara menggeleng.
"Bukan! " sahut Ara dengan menatap Dani polos.
Dani menghela nafas lalu tersenyum lega. Beruntung Ara tidak minta belikan HP lagi, kalau HP kan dia bisa rugi banyak. Tapi, tetap saja Dani malas mengantarkan Ara, karena Ara begitu berisik jika sedang didalam mobil. Segala macam yang Ara lihat dijalan selalu saja Ara jadikan bahan topik. Walaupun itu Ara menceritakan nya dengan gemes, namun tatap saja Dani malas. Apalagi kalau Ara sedang melihat jajanan, Ara pasti meminta Dani berhenti dan membeli kan Ara jajanan. Kalau sesekali ya gak apa-apa, tapi ini setiap mobil nya berputar sekali, Ara selalu menghentikan nya dan meminta nya membeli kan jajanan lain. Dani bukannya pelit, tapi dia lelah harus seperti itu setiap kali Ara menginginkan semua jajanan yang ada dipinggir jalal itu.
"Yaudah, ayo! " ujar Dani pasrah, mau bagaimana pun ia harus tetap mengantarkan Ara, bukan? Kalau tidak nanti putri kesayangan nya itu akan marah pada nya, dan Dani tidak ingin itu kejadian. Dani ternyata sosok ayah yang penyayang guys xixi.
Ara mengekori Dani dari belakang.
Telpon Dani berbunyi bertepatan dengannya yang baru saja tiba didepan meja Soni. Dani mengangkat telpon dari Dini sang istri.
"Ara, tunggu sini dulu sama om kurus ya, soalnya om mau angkat telpon dulu. " ucap Dani.
Ara mengangguk lucu. "Hu'um." Ara menoleh kearah Soni yang tengah asik mengetik itu. Ara mengajak Soni berbicara, Soni hanya menanggapi dengan singkat. Karena ia tengah sibuk menyiapkan laporan tentang administrasi perusahaan itu.
Dani kembali mendekati Ara dan Soni dengan senyum mengembang. Bak mendapat sebuah mukjizat, Dani tersenyum cerah kearah Soni. Soni yang melihat senyum Dani yang seperti itu membuat nya was-was.
"Son, aku disuruh istri pulang sekarang. Kamu bisakan mengantarkan Ara pulang? " pinta Dani saat sudah berada didepan meja Soni.
Jedarrr
Nah, benerkan yang Soni kira. Senyum Dani tadi pertanda buruk untuknya. "G-gak." sahut Soni terbata.
"Tenang, Ara gak minta dibeliin HP kok. Kalau dia minta sesuatu paling dia minta jajanan pinggir jalan. " bisik Dani pada Soni agar tidak kedengaran Ara.
Soni memicing kan matanya pada Dani. "Seriusan gak? " tanya nya dan Dani menganggukkan kepalanya.
"Baiklah! " putus Soni.
Dani tersenyum lalu dia beralih menatap Ara. "Kamu pulang barang om Soni, ya! Om harus pulang buat nemuin istri, om. " pinta Dani.
__ADS_1
Ara mengerjap polos lalu melihat kearah Dani dan Soni secara bergantian. "Om kurus punya duit? " tanya Ara polos.
Dani mengangguk antusias. "Om kurus, punya banyakkkkk duit. " sahut Dani.
"Hu'um, baiklah!" sahut Ara.
"Ayoo!! " ajak Soni lalu menggenggam tangan mungil Ara.
Dani tersenyum cerah melihat itu. Ah, untuk kali ini dia bebas dari Ara dan itu membuat nya senang. Beruntung istri nya tadi menelpon dan itu bisa dijadikan alasan Dani untuk tidak mengantar Ara. Ah Dani berbohong soal dia disuruh pulang oleh istrinya? Ya, Dani berbohong dan bodohnya si Soni itu percaya. Haha, Dani tertawa jahat sambil melihat kepergian Soni dan Ara yang mulai menghilang dari pandangan nya itu.
***
"Om kurus, berhenti!! " ucap Ara tiba-tiba dan otomatis Soni ngerem mendadak.
"Ada apa lagi? " tanya Soni yang sudah mulai lelah. Benar, bener yang di katakan Dani soal Ara yang selalu berceloteh dan suka menyuruh berhenti tiba-tiba. Soni sekarang seperti orang yang kehilangan otak nya, karena saking frustasi nya mendengar kan celotehan Ara yang tidak nyambung itu.
"Ara, mau beli sesuatu disini. " ucap Ara.
Soni mengedarkan pemandangan nya. Dia tidak melihat ada jajanan di sana, dia hanya melihat toko Apple Store.
'Ah shitt! ' umpat Soni dalam hati. Saat itu juga Soni menyumpah serapahi Dani karena sudah berbohong pada nya. Kata nya Ara tidak ingin membeli HP, tapi kenapa sekarang Ara malah meminta berhenti tepat didepan toko Apple Store?Soni belum tau aja kalau Ara bukan mau beli HP, xixi.
"M-mau b-beli a-apa? " tanya Soni terbata.
Ara tidak mengindahkan pertanyaan Soni. Dia malah turun dari mobil dan langsung melipir memasuki toko tersebut. Soni yang melihat itu hanya ternganga tidak percaya. Mau tak mau, Soni terpaksa turun dan memasuki toko tersebut.
"Om kurus, yang bayar!! " tunjuk Ara pada Soni yang baru masuk itu. Rupa Ara sudah selesai membeli yang dia mau, terbukti di tangan Ara sudah ada paperbag besar.
Soni mendekat kearah Ara yang berdiri didepan kasih itu. "Berapa buah? " tanya Soni.
"Dua, Pak! " sahut di penjaga kasir tersebut. Soni menghela nafas, setidaknya dia hanya rugi 40 juta, bukan?.
"Ini." Soni menyodorkan black cardnya dan langsung disambut oleh sang penjaga kasir. Ara sedari tadi senyum-senyum lucu sambil memerhatikan sang penjaga kasir melakukan transaksi.
Tingg!!
Sebuah pesan masuk dari ponsel Soni. Soni memeriksa isi pesan tersebut dan seketika membuat kaki nya lemah dan tidak berdaya untuk berdiri.
Soni terduduk sambil menatap ke layar ponsel. "S-seratus ju-j-juta? " ucap Soni terbata. Soni baru saja mendapatkan pesan dari transaksi yang dia lakukan hari ini. Dia mengira hanya akan rugi 40jt untuk membeli kan Ara dua ponsel. Tapi nyata nya? Dia rugi 100jt, melebihi rugi nya Dani saat membeli kan Ara tiga ponsel.
"K-kamu b-beli a-apa? " tanya Soni melihat kearah Ara. Soni masih terduduk lemes dilantai dan dia menjadi bahan tontonan orang-orang yang berada di toko tersebut.
Ara menunduk dan melihat Soni yang duduk dilantai itu. "Laptop." sahut Ara polos.
Ah pantes! Pantes 100jt, wong Ara beli dua laptop yang seharga 50jt. Bener, bener yang dikatan Dani tadi, Ara tidak minta belikan ponsel. Tapi, tapi laptop cuyy, lebih mahal dari ponsel. Ah, habis ini Soni akan langsung meminta ganti rugi pada Dani. Enak aja dia rugi 100jt, padahal laptop yang di beli Ara itu bukan laptop termahal loh! Haha.
"Om kurus, kenapa duduk disitu? " tanya Ara polos.
__ADS_1
"Om lumpuh tiba-tiba! " ucap Soni frustasi. Dia bener-bener trauma mengantarkan Ara. Setelah ini dia berjanji, tidak akan satu mobil lagi bersama Ara.