Transmigrasi Ara

Transmigrasi Ara
kok mata ara ditutup?


__ADS_3

"Bang Ara mau ketemu bang Agas. " ujar Ara setelah selesai makan di kantin.


Bryan menunduk menatap adek nya itu, "Bentar ya, abang selesain makan dulu, " ucapnya lembut.


Ara menggeleng lucu, "No.. Ara mau nya sekarang! "


Bryan mengelus rambut Ara sayang lalu dia berhenti makan, "Ayoo abang antar, " ajak Bryan.


"Abang makan aja, Ara mau sama bang Lima. " tunjuk Ara pada Panglima yang juga sudah selesai makan.


Bryan menoleh kearah Panglima yang sedang duduk santai di samping Hendra itu. "Lim bisa anterin Ara? " tanya Bryan.


"Sure, " sahut Panglima singkat. Panglima berdiri lalu mendekat kearah Ara.


"Ayoo, " Panglima menyodorkan tangannya kearah Ara.


"Ayoooo... " senang Ara sambil menerima sodoran tangan Panglima. Panglima menggenggam telapak tangan mungil Ara.


"Mereka serasi yahh, cantik dan ganteng. " puji Susi yang menatap kepergian Panglima dan Ara.


Brian menoleh kearah Susi, "Lo mau seperti mereka? " tanya Brian.


"Ha? Kayak mereka? Maksudnya kak? " tanya Susi heran, kan dia cuma memuji kecantikan Ara dan ketampanan Panglima.


"Mau punya pasangan ganteng, " ujar Brian.


Susi mengangguk mengerti, "Yaa maulah punya pasangan ganteng, siapa sih yang enggak mau. " Susi terkekeh sendiri dengan ucapannya.


"Sama gue aja, gue juga ganteng. " tawar Brian.


Uhuk uhuk


Uhuk uhuk


Juna, Lian dan Hendra tersedak makanan mereka masing-masing karena mendengar ucapan Brian, ehh ralat maksudnya mendengar tawaran dan ke narsisan Brian.


Sedangkan Susi sendiri cengo mendengar ucapan Brian, "Maksudnya kak? " tanyanya agak polos.


"Ck, lo mau gak jadi pacar gue. " decak Brian to the point.


Uhuk uhuk


Kali ini giliran Susi yang tersedak liur nya sendiri. Brian hanya menatap lekat Susi, entah kapan perasaannya itu muncul kepada gadis disamping nya itu, mungkin karena Susi sering bersama Ara dan otomatis Susi sering bersama nya jadi itu menimbulkan perasaan suka terhadap gadis itu.


"Minum, " Brian menyodorkan minuman kepada Susi. Susi menerima nya dan langsung menegak nya setengah gelas.


"Terimakasih kak, " ucap Susi.


Brian mengangguk, "Bagaimana? " tanya Brian kembali membuat Susi cengo sedangkan teman-teman Brian hanya bisa menahan tawa karena Brian mengajak Susi berpacaran tidak ada romantis-romantisnya.


"Gercap juga lo Bri," ledek Lian dengan terkekeh kecil.


"Gercap sih gercap tapi gak di kantin juga kali. " timpal Juna.


"Gak masalah sebenarnya kalau di kantin ngajak pacaran tapi ini kenapa harus begini, gak ada romantis-romantis nya? " ejek Hendra juga.


"Hahah perempuan sukanya yang romantiskan yaa Si? " tawa Juna seraya bertanya kepada Susi.


Susi hanya bisa tersenyum kikuk karena dia merasa tidak enak jika tertawa. Brian menatap datar ketiga temannya itu, kan dia hanya coba-coba dulu mengajak Susi pacaran, kalau suci mau baru deh dibawa ketempat romantis dan mengulang ucapan ajakan nya itu.


"Ck, terserah gue. " sewot Brian.

__ADS_1


"Mmm kak? " cicit Susi.


"Kenapa? " tanya Brian ketus karena sudah terlanjur badmood gara-gara teman-teman nya itu.


"S-soal tadi, Apakah b-beneran? " tanya Susi pelan.


"Lo kira? " tanya Brian ketus.


Hendra, Juna, Lian menepuk pantat ehh jidat masing-masing karena Brian berbicara ketus terhadap Susi padahal si Brian lagi ngajak Susi pacaran.


"Lo niat ngajakin Susi pacaran gak sih Bri?ketus amat elahh gak ada manis-manis nya sama sekali. " ujar Juna.


"Iya, kalau gak romantis setidak manis kek lahh ini kok kayak orang apa yah? Ahh intinya manis gitu kalau bicara depan perempuan. " kritik Lian juga.


Brian hanya bisa mendengus kesal mendengar kritikan teman-teman nya, dia sebenarnya bisa bicara manis tapi karena grogi ya gini agak aneh jadi nya xixi.


Brian menarik nafas hingga nafasnya habis ehh canda deng, Brian menarik nafas dalam lalu menghembuskan secara perlahan. Brian menatap lembut Susi, Susi yang ditetap seperti itu oleh Brian menjadi deg-deg an jantung nya berdetak kencang.


"Susi, kamu mau kan jadi pacar aku? " tanya Brian lembut.


"A-a..... "Susi hendak menjawab tapi suara Lian yang tiba-tiba muncul entah dari mana membuat Susi diam dan tidak melanjutkan ucapannya.


"Busyetttt, langsung aku kamu guyss, mantap Bri, lanjutkan-lanjutkan. " sela Lian.


Plak


Plak


Lian mendapat dua tampolan dipipi kanan dan kirinya, "Aduhhh, sakit egee.. " keluh Lian kepada Juna dan Hendra.


"Lo bisa diam dulu gak sih, itu si Susi udah mau jawab tapi lo malah nyambar duluan kayak petasan. " ucap Juna.


"Hihi sorry, " Lian hanya nyengir kuda.


Brian mendengus lalu kembali menatap Susi yang seperti nya terlihat malu-malu terbukti dari tangannya yang memilin ujung seragam sekolah itu.


"Si? " panggil Brian.


"Ah iya mau kak, " jawab Susi spontan karena kaget Brian memanggilnya.


"Daebakk, selamat Bro lo gak jomblo lagi. " heboh Lian membuat seisi kantin melihat kearah mereka dengan tatapan bingung dan juga penasaran, penasaran siapa yang sudah mengambil hati salah satu cowok most wanted sekolah BIHS itu.


Puk


Juna melempar tisu kearah Lian, "Jangan bikin malu egee, " kesal Juna.


"Elahh gak asik lo pada, gue kan turut senang karena Brian gak jomblo lagi. " ujar Lian kemudian dia duduk kembali.


Juna, Hendra dan Brian hanya memutar bola matanya malas dengan tingkah dari Lian itu.


"Jadi kamu mau kan jadi pacar aku? " tanya Brian lembut.


"I-iya kak, " cicit Susi malu-malu. Brian tersenyum lalu dia mengelus lembut rambut Susi, "Terimakasih sudah mau menerima ku. " ucap Brian.


Cup


"Weeee jangan langsung nyosor dong, hargai kami-kami yang jomblo disini. " Lagi-lagi Lian heboh sendiri karena melihat Brian mencium kening Susi. Mereka hanya mengabaikan kehebohan Lian itu, sudah biasa bagi mereka.


Susi sendiri malu, wajahnya memerah karena menahan malu atas perlakuan manis Brian, 'Ternyata kak Brian juga bisa manis, gue kira kak Brian hanya manis terhadap Ara saja. 'Batin Susi.


(Kok jadi gini? Padahal Bagas dan Bryan yang sudah menemukan jodohnya tapi malah Brian yang duluan pacaran hahah.) serah Author yee xixi.

__ADS_1


Bryan sendiri sejak tadi diam dan nampak tidak perduli dengan pembicaraan kembarannya dan teman-temannya itu. Fokus Bryan ada pada satu titik yaitu pada satu meja yang terletak dipojok kantin, terlihat gadis cantik dan manis sedang menikmati makanannya.


'Bisakah kita kembali seperti dulu? Kamu sekarang terlihat sedang tidak mengenaliku. 'Lirih Bryan dalam hati.


***


"Abang, " ucap Ara.


Panglima berhenti berjalan dan menatap Ara, "Kenapa? " tanya Panglima lembut, dia khawatir kalau jalannya kecepatan padahal dia sudah pelan agar Ara bisa menyeimbangi jalannya itu, atau genggaman tangannya pada Ara terlalu kuat? Karena Ara dari tadi melihat kearah genggaman tangannya di tangan Ara itu.


"Lepas dulu, " Ara mencoba melepaskan tangannya itu dari genggaman Panglima. Panglima melepaskan nya.


"Abang look, " Ara memperlihatkan telapak tangan mungilnya itu kepada Panglima.


Alis Panglima terangkat sebelah seraya menatap bingung kearah telapak tangan mungil Ara, "Kenapa? " tanya Panglima heran.


"Iiihhh, " Ara mengambil tangan Panglima kemudian dia membuka telapak tangan Panglima lalu di dekatkan nya pada telapak tangan nya.


"Abang look, telapak tangan abang besar, Ara kecil huhu. " ujar Ara lucu.


Panglima memperhatikan telapak tangannya dan telapak tangan mungil Ara, Panglima jadi terkekeh. "Iya telapak tangan kamu kecil. " kekehnya.


"Huhu tangan Ara kecil. " Ara memperhatikan telapak tangannya sendiri yang membuat Panglima gemes.


"Abang suka tangan kecil kamu, mungil. " Panglima mengacak gemes rambut Ara.


Ara mendongak menatap Panglima yang tinggi itu, Ara hanya sebatas dada Panglima, "Abang suka tangan kecil Ara? " tanya Ara polos.


Panglima mengangguk, "Bukan cuma tangan, tapi semua abang suka dari kamu. " ucap Panglima tersenyum manis.


Ara memiringkan kepalanya lucu, "Kenapa abang suka-suka Ara? " tanya nya lucu.


Sungguh Panglima bener-bener gemes, "Karena kamu kecil. " gemesnya.


Ara mengangguk lucu. "Hu'um, Ara kecil. " gumamnya lucu.


Cup


Cup


Panglima menangkup kedua pipi chubby Ara dengan tangan berurat nya dan mengecup hidung dan kening Ara gemes. Panglima ingin lebih dari kecupan sungguh dia gemes melihat gadis polos di depannya ini tapi Panglima harus tahan karena Ara masih kecil, polos, dan yang terpenting mereka sedang disekolah tidak boleh macam-macam.


Ara mengerjapkan matanya lucu, "Lagi." ujarnya.


"Lagi apa? " tanya Panglima.


"Cium, " pinta Ara tanpa malu mungkin karena sudah terbiasa dicium.


Panglima terkekeh, "Nanti aja, katanya mau ketemu bang Agas, nanti keburu bel bunyi loh. " gemes Panglima.


Ara nampak berpikir, "Hu'um, ayoo keruangan abang Agas. " ajak Ara lalu menggenggam tangan besar dan berurut Panglima.


Panglima tertawa gemes karena Ara tidak bisa menggenggam tangannya secara keseluruhan.


Sesampainya didepan ruangan Bagas tanpa mengetuk pintu Ara dan Panglima menyelonong masuk.


Saat sudah didalam ruangan Bagas, Panglima segera menutup mata Ara.


"Kok mata Ara ditutup? Kan gelap. " tanya Ara heran karena matanya ditutup oleh telapak tangan besar punya Panglima.


_____

__ADS_1


__ADS_2