
"Bun, " panggil Bima.
Radella yang sudah memejamkan matanya bersiap hendak tidur membuka matanya kembali saat sang suami bersuara.
"Kenapa mas? " tanya Radella.
"Bagaimana kita pindah bun? " tanya Bima.
Radella bangun dan duduk menghadap suaminya itu, "Pindah kamar kah? Memang kenapa dengan kamar kita sekarang? Gak nyaman kah? Biar bunda ganti sprei nya, " ucap Radella panjang lebar dia merasa takut suaminya itu tidak nyaman.
Bima terkekeh gemes karena melihat wajah gusar sang istri. "Bukan itu bun, tapi pindah tempat tinggal. " jelas Bima.
Radella menautkan kedua alisnya, "Pindah? Kemana? Dan kenapa? " tanya Radella beruntun.
"Bram ingin kita tinggal bersama, " sahut Bima.
"Kok? " heran Radella.
"Bram menganggap Ara sebagai putrinya dia ingin kita semua tinggal bersama nya agar dia bisa lebih dekat dengan Ara, "
Radella bingung kenapa Bram sampai segitunya ingin bersama Ara, apa ada sesuatu? "Kenapa ingin dekat dengan Ara? " tanya nya heran.
"Karena dia merasa bersalah dengan putrinya yang meninggal itu, dan katanya dia melihat Ara seperti melihat putrinya sendiri, jadi dia ingin menebus kesalahannya terhadap putrinya itu melalui Ara. " jelas Bima.
Radella mengangguk mengerti dan rasa curiga nya pun hilang, "Aku mengerti, pasti Bram masih merasa bersalah atas kepergian putrinya, baiklah kalau memang kamu mau aku ikut-ikut aja mas. "
Bima tersenyum, "Gak masalah kan nambah anggota keluarga dua lagi, "
Radella terkekeh, "Gak masalah mas, malah seru dirumah orangnya banyak. "
Bima ikut terkekeh, "Besok bicarakan ke anak-anak ya, sekarang kita.. " Bima langsung meraup mulut istrinya itu. Radella yang mendapat serangan tiba-tiba itu hanya bisa mengikuti permainan lidah sang suami.
"Hah hah, kamu suka tiba-tiba. " nafas Radella tersenggal dan langsung melayang kan protes ke Bima setelah ciuman mereka terlepas.
Bima terkekeh sambil mengusap bibir Radella yang basah dengan ibu jari nya, "Kamu terlalu menggoda honey, " Bima berucap dengan manis.
Wajah Radella memanas karena menahan malu, entah kenapa setiap perlakuan manis dari suaminya itu selalu berhasil membuat wajahnya bersemu merah padahal mereka sudah sangat sering melakukan nya.
Bima gemes dengan wajah malu-malu istrinya itu, dia membaringkan istrinya secara perlahan dan mulai mencumbu sang istri. Author tidak bisa melanjutkan adegan antara Bima dan Radella, author tobat xixi.
***
"Ayam wake up, " Ara mengguncang kuat tubuh peliharaan nya itu sehingga sang peliharaan terbangun.
"Ayam wake up, kita mandi bareng. " ajak Ara kemudian dia mengangkat paksa si ayam ehh kucing.
Meong
Si kucing hanya bisa pasrah dengan kelakuan majikan nya itu. Ara mengambil handuk besar dan kecil lalu masuk kedalam kamar mandi.
Byurrr
Meoongggg
Seperti biasa Ara melempar paksa si kucing ke dalam bath up yang berisi air dingin bukan air hangat, sungguh malang nasib si kucing xixi.
Ara menyabuni kucing dengan brutal dan menumpahkan shampo kodomo sebotol habis dan tubuh si kucing tertutup bisa semua. Si kucing hanya bisa menahan nafas agar tidak kemasukan air dan dia pasrah diperlukan apapun oleh majikannya itu.
__ADS_1
"Yeayy ayam udah wangi dan ganteng hihi, " Ara terkikik kemudian dia mengambil handuk kecil untuk membalut tubuh di kucing. Setelah selesai membalut si kucing Ara keluar kamar mandi dan meletakkan kucing tersebut diatas kasur nya.
"Ayam tunggu sini ya, Ara mau mandi dulu. " titah Ara dan si kucing hanya bisa menatap Ara.
Skip
***
"Abangggg... " teriak Ara saat melihat dou B dan teman-temannya sudah berada di balik pintu kelasnya.
Seperti biasa Ara berlarian menghampiri abang-abangnya itu.
Hap
Sekarang Bryan yang berhasil menangkap Ara tanpa keduluan Brian. Emang sengaja Brian tidak menangkap Ara karena dia fokus dengan ponsel baru nya, Brian sengaja memainkan ponselnya bertujuan untuk pamer terhadap teman-teman nya.
"Kebiasaan, " Bryan mencubit gemes ujung hidung Ara, Ara hanya terkikik lalu dia membenamkan wajahnya di ceruk leher Bryan.
Mereka semua berjalan menuju kantin sekolah, sesekali Ara mengangkat wajahnya guna melihat Panglima yang sedang memandangi Ara juga.
"Bang Lima ganteng hihi, " ucap Ara saat melihat senyum manis Panglima untuk diri nya.
"Iyaa si paling ganteng mah dia. " ucap Lian.
"Emang ganteng dia dari pada lo, " ledek Juna pada Lian.
"Iye-iye. "
Susi, Hendra dan Brian hanya bisa terkekeh melihat Juna meledek Lian.
Ara mengedarkan pandangan nya keseluruh penjuru sekolah. Ara melihat seseorang yang asing menurutnya.
"Abang look, ada murid baru.. " tunjuk Ara pada seorang gadis cantik, tinggi melebihi Ara dan senyum gadis itu manis.
Yang lain melihat arah tunjuk Ara, terlihat seorang gadis dibelakang mereka sedang berjalan sendirian menuju kantin.
'Kamu benar-benar kembali? 'Batin Bryan sambil terus menatap penuh damba pada gadis yang selama ini mengisi hatinya.
Yang lainnya setelah melihat gadis itu mereka beralih menatap Bryan. 'Dia kembali. 'Batin mereka semua.
Sedangkan Susi dan Ara bingung melihat wajah abang-abangnya itu seperti sudah mengenal gadis tersebut.
"Abang Ara lapar huhu, " rengek Ara dan membuat para abang-abangnya itu tersadar.
"Maaf ya princess, " Bryan meminta maaf karena sudah melupakan Ara lalu dia melanjutkan kembali jalannya dan diikuti yang lain.
"Lo kenapa sih HP mulu, " sawot Lian karena dari tadi Brian sengaja memamerkan HP baru nya.
"HP baru kayak nya tuh, " sindir Juna.
Dengan sengaja Brian menampakkan ponselnya itu yang membuat teman-teman Brian memutar bola mata malas.
"Degem, kenapa jadi abang lo ini yang punya HP baru? Bukankah degem yang ingin beli HP baru? " tanya Lian.
"Ara juga baru kok, " sahut Ara lalu dia menampakkan ponsel nya juga. "Abang Iyan juga baru. " ujar Ara.
Hendra, Juna, Susi dan Lian hanya bisa melongo karena ponsel Ara juga keluaran terbaru.
__ADS_1
"Kok bisa? Bukankah om Bima itu hemat yah? " bingung Juna.
"Mungkin karena degem yang minta jadi om Bima belikan mereka juga, " tunjuk Lian pada Bryan dan Brian.
"Gak mungkin deh si Bryan gitu, dia kan gak mungkin ganti barang-barang nya kalau masih bisa digunakan, kalau Brian sih bisa jadi. " ujar Hendra yang seakan sudah hapal dengan karakter teman-teman nya itu.
"Bukan ayah yang beliin, " ucap Bryan.
Mereka saling pandang, kalau bukan om Bima terus siapa yang beliin? Bingung mereka.
"Lalu siapa? " tanya Lian.
"Penculik, " sahut Brian dengan senyum mengembang.
"Ha? " ujar mereka bingung.
"Ck, Ara pernah diculik kan nah kemarin dia diculik lagi, tapi dipulangkan lagi dan dipulangkan pun gak dengan tangan kosong, tapi dengan tiga HP. " jelas Brian angkuh, padahal kemarin Ara gak diculik lagi.
"No, abang tipu-tipu.. Ara gak di culik lagi, om penculik cuma mau nganterin Ara pulang. " ralat Ara.
"Nganterin pulang terus beliin degem HP? " tanya Lian.
Ara menggeleng lucu, "Ara yang minta, " sahut Ara polos.
Hendra, Lian, Juna, dan Susi cengo, maksudnya Ara yang minta belikan ponsel ke penculik kah? Gitu kah? Kalau memang gitu itu namanya penculik berhati mulia kan?.
"Degem gak takut sama penculik? "
Ara menggeleng polos, "Kenapa takut? " tanya Ara polos.
"Penculik itu jahat loh, "
"Om penculik emang jahat katanya, tapi Om penculik juga baik sama Ara. Karena om penculik selalu mau membeli kan apa yang Ara minta. "
"Termasuk tiga HP itu? "
Ara mengangguk lucu, "hu'um, "
Mereka semua hanya bisa geleng-geleng kepala, "Agak lain memang degem ini, " ujar Lian.
"Siapa sih yang gak luluh liat degem. " Juna terkekeh.
"Iya, gue aja luluh. " ucap Hendra spontan.
"Ekhmm, " Panglima berdehem dan menatap tajam Hendra. Lian, Juna, Brian, dan Susi terkikik melihat wajah pias Hendra.
"Hihi canda Boss, " Hendra nyengir kuda.
"Bang Lima sick? " tanya Ara tiba-tiba.
Panglima menoleh kearah Ara dan melembutkan pandangan nya. "Gak sakit kok, " ucap Panglima lembut.
Ara menatap polos Panglima, "Tapi tadi abang, ekhm ekhm gitu, sakit kah tenggorokan abang? " tanya Ara sambil memperagakan lucu saat Panglima berdehem tadi. Mereka yang melihat itu terkekeh gemes, ingin rasanya mereka mencubit pipi chubby Ara tapi tidak berani karena Ara sedang dalam gendongan Bryan.
Gadis yang ditunjuk Ara tadi berada tidak jauh dari keberadaan Ara dan yang lainnya. Dia dapat mendengar pembicaraan antara Ara dan abang-abangnya itu.
"Dia berubah? Menggemaskan. " gumamnya seraya tersenyum gemes melihat wajah polos Ara.
__ADS_1