Transmigrasi Ara

Transmigrasi Ara
ayam goreng coklat


__ADS_3

"Bapak tidak makan? " tanya Arsita kepada Bagas yang sedang asik dengan laptopnya itu. Arsita dan Bagas baru saja keluar dari ruang rapat membahas pelajaran yang akan diterapkan untuk kurikulum baru akhir-akhir ini yaitu kurikulum merdeka.


Arsita sebenarnya ingin ke ruangannya saja tapi Bagas meminta Arsita untuk mengikutinya keruangan nya jadi Arsita pasrah saja mengikuti.


Sesampainya di ruangan Bagas, Bagas malah asik dengan laptopnya kembali dan membuat Arsita jenuh.


"Pak, " panggil Arsita agak kesal.


Bagas menoleh kearah Arsita, "Apa? " tanya Bagas pura-pura tidak memahami Arsita padahal dia tau kalau Arsita merasa jenuh.


"Gak mau makan kah bapak? " sewot Arsita.


"Saya bukan bapak mu, " sahut Bagas.


"Tapi bapak atasan saya. " Arsita memutar bola matanya jengah.


"Saya tidak mau dipanggil bapak, " ujar Bagas.


"Lalu? "


"Terserah, yang penting jangan bapak. "


"Bos? " tanya Arsita dan Bagas menggeleng.


"Tuan? " Bagas menggeleng lagi.


"Sampah? " tanya Arsita usil.


Bagas berhenti memainkan laptopnya dan menatap Arsita. "Kamu menyebut saya sampah? " tanya Bagas.


"E-nggak, itu pak ada sampah. " tunjuk Arsita sembarang arah karena gugup ditatap seperti itu oleh Bagas.


"Jangan mengelak Arsita, ruangan saya bersih. " ucap Bagas sengit.


"Hihi canda pakk, " Arsita nyengir seraya menunjukkan huruf V dengan jarinya.


Bagas mendekat kearah Arsita yang sedang duduk manis itu disofa. Arsita menjadi semakin gugup karena Bagas menghampiri nya. Jantung Arsita sekarang tidak aman dia harus secara pergi dari ruangan Bagas.


"E-em pak, Saya mau keruangan saya dulu, mau makan. " Arsita berdiri dan hendak beranjak pergi dari ruangan Bagas.


Bug


Bagas menahan tangan Arsita sehingga membuat Arsita oleng dan Arsita jatuh di atas badan Bagas. Arsita dan Bagas saling tatap dan jantung mereka berdegup kencang karena mereka baru pertama ini dekat dengan lawan jenis selain keluarga mereka masing-masing.


"Kok mata Ara ditutup? Kan gelap. " terdengar suara Ara dan Bagas serta Arsita tersadar dari posisi mereka itu. Arsita bangun dari tubuh Bagas dengan wajah yang memerah karena malu dilihat oleh Panglima.


"Ihh lepas banggg, " Ara berusaha menjauhkan telapak tangan Panglima dari penglihatan nya itu. Panglima menjauhkan telapak tangan nya karena merasa keadaan sudah aman.

__ADS_1


Setelah telapak tangan Panglima sudah tidak menutupi penglihatan nya lagi Ara berkacak pinggang dan menatap garang Panglima yang sebenarnya itu malah menambah kesan imut dan lucu.


"Abang kenapa tiba-tiba tutup mata Ara? " tanya nya garang. Arsita, Bagas dan Panglima terkekeh gemes melihat pemandangan itu.


"Tadi ada debu, jadi abang tutup mata kamu sebentar. " kilah Panglima.


Ara memiringkan kepalanya lucu dan percaya apa yang di ucapkan Panglima, "Benarkah? " tanya Ara polos.


"Hm, " panglima mengangguk gemes, ahh rasanya dia ingin mengurung gadis kecilnya ini di dalam kamarnya.


"Hu'um, " Ara mengangguk lucu kemudian dia menoleh kearah Bagas yang sudah duduk manis di sofa sedangkan Arsita sedang berdiri di samping Bagas.


"Abangggggg... " Ara berlarian kecil menghampiri Bagas.


Bug


Ara duduk dipangkuan Bagas dengan tiba-tiba sehingga membuat tubuh Bagas terhuyung kesandaran sofa.


"Abang Ara rindu huhu, " Ara memeluk erat Bagas.


Bagas terkekeh, "Abang juga rindu kamu, " ujar Bagas membalas pelukan Ara.


"Mm maaf saya keluar dulu, " pamit Panglima.


"Papayyy bang Lima, " Ara melambaikan tangannya kepada Panglima sedangkan Bagas dia hanya mengangguk sambil tersenyum ramah ke arah Panglima. Panglima menunduk sebagai tanda hormat kepada yang lebih tua kemudian dia keluar.


"A-saya mau keluar juga pak, mari. " pamit Arsita juga karena dia merasa canggung setelah kejadian tadi.


"Kakak mau makan dulu dek, " ucap Arsita pada Ara.


Ara cemberut, "Tapi-tapi Ara mau sama abang dan kakak cantik. " lirihnya lucu karena bibir nya maju beberapa centi itu.


Arsita menghela nafas lelah, dia duduk di samping Bagas membuat Ara tersenyum lucu, "Pak! gak pesan makanan dulu gitu? Saya beneran lapar pak. " ujar Arsita dengan wajah memelas karena lapar tapi tidak enak pergi.


"Kamu bawa bekal? " tanya Bagas.


"Bawa pak, " sahut Arsita.


"Ambil dan makan disini, " titah Bagas.


Plakk


"Aduhh, " kaget Bagas karena tiba-tiba mendapat geplakkan dari Ara. Bagas menunduk dan melihat Ara yang sedang melotot garang kearahnya.


"Kenapa dek? " tanya Bagas.


"Abang jangan suruh-suruh kakak cantik, " omel Ara yang membuat Arsita terkekeh gemes karena wajah polos itu.

__ADS_1


"Dia lapar dek, jadi abang suruh dia ambil makanan dan makan disini. " jelas Bagas.


Ara mengerjap polos, "Kakak cantik lapar? " tanya Ara lucu.


Arsita mengangguk, "Iya, kakak lapar. " sahutnya.


"Tuh kan, jadi dia ambil bekalnya dulu baru kesini lagi. " jelas Bagas.


Ara menggeleng lucu, "No, kakak cantik tak boleh pergi. " larang Ara.


"Sebentar doang dek, nanti kakak cantik mati loh kalau gak makan. " ujar Bagas.


"Kakak cantik gak akan mati, " sahut Ara lucu.


"Kalau gak makan mati dek. "


Ara memiringkan kepalanya, "Kakak cantik makan kok, "


"Gimana makannya coba? Kamu kan gak kasih izin dia pergi, " ujar Bagas.


"Bang Agas yang pergi beli makanan, Ara mau makan juga. " titah Ara dengan wajah polosnya.


"Kok? "


Arsita terkekeh, "Ayo pak beli makanannya, saya udah lapar lohh, " kesempatan bagi Arsita untuk memerintah Bagas xixi. "Kamu lapar juga kan dek? " tanya Arsita jahil.


Ara mengangguk lucu, "Hu'um Ara lapar. " sahutnya.


Bagas mendengus kesal sedangkan Arsita tersenyum puas melihat wajah kesal dari Bagas, "Dek, bukankah kamu sudah makan? " tanya Bagas.


"Hu'um, tapi Ara masih mau makan. " sahut Ara.


"Mau apa hm? " tanya Bagas lembut.


"Mau ayam goreng rasa coklat, " sahut Ara rada-rada aneh seperti orang ngidam.


Bagas dan Arsita saling tatap seraya berpikir 'bukankah tidak ada ayam goreng rasa coklat? 'Pikir mereka berdua.


"Gak ada dek ayam goreng rasa coklat, " lelah Bagas.


Ara mengerjap polos, "Ada kok. " sahut Ara.


"Dimana orang yang jual itu? " tanya Bagas.


Ara diam dan nampak berpikir, "Hmm, kemarin bang Brian masakin Ara ayam goreng coklat. " sahut Ara polos.


"Benarkah? Hebat yahh Brian. " puji Bagas karena Brian bisa memasak ayam goreng yang beda dari yang lain.

__ADS_1


"Hu'um, " Ara mengangguk mengiyakan ucapan Bagas.


Arsita yang melihat interaksi antara Bagas dan Ara itu hanya bisa menahan tawa, 'Abang sama adek sama-sama polos kah? 'Batin Arsita tertawa geli, bukankah yang dimaksud Ara itu ayam goreng yang gosong? Makanya warna nya coklat kan? Astagaa rasanya Arsita mau tertawa terbahak-bahak melihat kakak-beradek itu.


__ADS_2