Transmigrasi Ara

Transmigrasi Ara
kami menjualnya!


__ADS_3

"Bang! " panggil Ara.


"Hm? " sahut Panglima singkat.


Ara cemberut, selalu saja begitu! Setiap dipanggil Panglima pasti hanya berdehem singkat saja. Panglima menoleh kearah Ara karena bingung Ara tidak bersuara lagi.


Alis Panglima menaut, bingung melihat Ara yang sedang cemberut. "Kamu kenapa, hm? " tanya Panglima lembut.


Ara menatap Panglima polos dengan bibir maju beberapa senti itu, "Abang kalau dipanggil, selalu saja hm, hm, hm! Abang sick? " tanya Ara kesal tapi malah lucu dimata Panglima.


Panglima terkekeh gemes, "Abang gak sakit kok, kamu mau gak ikut abang pulang? " tawar Panglima.


Ara memiringkan kepalanya, "Ke rumah abang? " tanya Ara lucu.


Panglima mengangguk, "Hm, Abang ingin membawa kamu menemui orang tua abang, Mau? " tanya Panglima.


Ara mengerjap polos, "Mereka suka-suka Ara, gak? " tanya Ara lucu.


Panglima tersenyum gemes, "Tidak ada orang yang tidak menyukai mu, sayang! " gemes Panglima mencubit ujung hidung Ara.


Ara terkikik karena Panglima mencubit hidungnya. Alasan Panglima membawa Ara ke mansion nya, agar Mommy nya tidak kesepian dan lagian ini masih jam sebelas, belum waktunya pulang sekolah.


"Orang tadi siapa, Bang? " tanya Ara.


"Siapa? " tanya Panglima balik.


"Itu, yang Abang marahi karena mau pegang Ara. " ucap Ara.


"Abang gak tau! " sahut Panglima datar.


Ara memicingkan mata nya menatap Panglima, "Abang, tipu-tipu Ara ya..? " tuduh Ara.


"Gak, Sayang. " ujar Panglima lembut.


Sering sekali hari ini Panglima memanggilnya sayang, sehingga membuat Ara malu.


"Ara malu hihi, " Ara terkikik seraya menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan mungilnya.


"Gemesin banget sih! " ujar Panglima terkekeh gemes. Ara mengintip Panglima dengan membuka sedikit jari mungilnya yang menutupi wajah nya itu saat mendengar Panglima terkekeh. Ara suka melihat Panglima terkekeh karena menurutnya Panglima lebih ganteng kalau sedang terkekeh.


"Abang, ganteng hihi! " ujar Ara yang saat ini sudah menjauhkan telapak tangan nya dan menatap Panglima.


Panglima tersenyum, "Siapa yang ngajarin genit, hm? " goda Panglima.


Ara mengerjap polos, "Genit apa? " tanya Ara bingung, dia tidak pernah dengar kata itu sebelum nya.


Panglima menghela nafas pelan, Ara kan polos ya? Mana tau dia soal genit dan suka ngerayu ya? Penculik aja kalau Ara mau sesuatu langsung dia katakan tanpa imbel-imbel merayu xixi.


"Gak apa-apa, Sayang! " ujar Panglima lembut, dia bingung mau bagaimana menjelaskan agar Ara paham. Kalau dia menjelaskan nanti takutnya Ara salah menilai dirinya sendiri.

__ADS_1


"Ara ngantuk, huhu. " rengek Ara tiba-tiba.


Panglima memencet tombol didepan nya dan membuat sandaran kursi Ara ke belakang dan Ara bisa berbaring dengan nyaman.


"Tidur aja! " ujar Panglima seraya mengelus lembut pipi chubby Ara.


Ara menggeleng kuat, "Ara gak mau tidur sini! " ucap Ara lucu.


Alis Panglima menaut, "Terus, dimana? " tanya Panglima heran.


Ara tersenyum lalu dia merapatkan diri ke arah Panglima dan menepuk-nepuk paha Panglima. "Sini, Ara mau disini! " ucap nya.


Panglima tersenyum lalu mempersilahkan Ara duduk dipangkuan nya, "Sini. " ucap Panglima dan Ara segera duduk dengan senyum lucu nya.


Ara duduk menyamping dan mulai ngedusel di dada bidang Panglima. "Ara suka bau abang banyak-banyak. " ujar Ara lucu dengan mata sayu nya menahan ngantuk.


Cup


Cup


Panglima mengecup kedua mata Ara, "Tidurlah, little girl. "


"Hu'um." sahut Ara kemudian dia memejamkan matanya.


Panglima menunduk melihat wajah tenang Ara yang sedang tidur. "Setelah ini, abang akan tinggal kamu pergi dulu! Karena abang ingin membalaskan dendam Bella yang tubuhnya saat ini ditempati kamu, Little girl. " monolog Panglima. Panglima akan membawa Ara ke Mansion nya agar sang Mommy bisa bertemu Ara, sudah lama Mommy nya itu meminta Ara di bawa ke kediaman mereka, tapi Panglima belum bisa memenuhi karena dia harus menemani sang Daddy menjalankan misi.


Skip


"Selamat datang, Tuan Muda! " sambut seorang ajudan yang berjaga di depan Markas mafia milik Panji.


"Hm, bagaimana? " tanya Panglima pada ajudannya itu tentang seseorang yang mereka tangkap.


"Masih pingsan, Tuan Muda. " sahut sang ajudan.


Panglima mengangguk lalu mulai berjalan dengan wajah datarnya menuju ruang penyiksaan.


Panglima memasuki ruang penyiksaan itu dan terlihat dua gadis ehh masih gadis gak? Dua perempuan aja deh. Dua perempuan yang sedang menutup mata dengan keadaan yang sedang terikat.


"Air mineral dua! " pinta Panglima datar, dingin, dan jangan lupa matanya yang tajam.


Ajudan yang ada di ruang penyiksaan itu segera mengambilkan air mineral yang diminta oleh Tuan Muda nya itu. "Ini, Tuan Muda. " ujarnya dengan menyodorkan air mineral yang tutup nya sudah dibuka.


Byurrr


Byurrr


Panglima langsung menyiramkan air tersebut kearah dua perempuan yang masih pingsan itu.


Uhukk uhukk

__ADS_1


Uhukk uhukk


"Banjir, banjir... " kaget perempuan yang berambut sebahu.


"Siapa yang ganggu tidur gue!! " marah perempuan yang penampilan nya mirip ****** di club malam, sangat terbuka, padahal sedang memakai seragam sekolah SMK.


Mereka berdua membuka mata dan melihat Panglima yang berada di depan mereka.


"Ri, kita diculik cowok ganteng kah? " tanya perempuan yang berambut sebahu tadi pada temannya_Riri.


Riri terpana melihat wajah ganteng dan tubuh atletis Panglima, 'Ughh, dia bener-bener ganteng, lihatlah tubuhnya itu! Ssshh memandang tubuh nya saja sudah membuat rahimku bergetar.. 'Batin Riri.


"Riri.... " teriak perempuan itu karena Riri tidak merespon nya.


"Apasih, Sa? " kesal Riri karena temannya itu_Risa telah mengagetkan nya.


Panglima sendiri masih dengan wajar datarnya menatap dua perempuan itu. "Kalian kenal? " ujar Panglima singkat seraya melirik sang ajudan untuk memperlihatkan foto Bella.


Riri dan Risa memperhatikan foto yang diberikan oleh ajudan Panglima, "Ini? Kenal, kenapa? Kamu ingin memesannya juga? " tanya Riri dengan wajah sengaknya.


Panglima memejamkan matanya kala mendengar kalimat terakhir yang Riri ucapkan. Apa tadi? Memesannya? Apa perempuan ****** di depan nya ini pernah menjual Bella? Memikirkan hal itu membuat Panglima marah, dia mengepalkan kedua telapak tangannya sehingga urat-urat di lengannya menegang.


"Dia kenapa? " bisik Risa pada Riri.


Riri mengedikkan bahunya, kemudian dia tersenyum kearah Panglima yang masih memejamkan matanya itu.


"Dari pada kamu ingin dia, mending sama aku aja, aku lebih bisa memuaskan mu dari pada si cupu itu. " Riri dengan murahannya menawarkan diri pada Panglima.


Plakkk


Panglima menampar kuat wajah Riri, dia menatap Riri tajam dengan mata yang merah.


Risa terkejut karena cowok ganteng itu telah menampar sahabat nya. "Heyy, apa yang lo lakuin. " marah Risa.


Panglima beralih menatap tajam Risa, "Seharusnya gue yang nanya, Apa yang telah kalian lakuin ke Bella, hah! APAAAA? " teriak Panglima menggelegar dan seketika membuat Riri dan Risa ketakutan.


"K-kami t-tidak me-melakukan a-apapun.. " sahut Risa terbata.


"Ajudan, video nya! " titah Panglima pada sang ajudan.


Sang ajudan mengangguk lalu memperlihatkan video yang di mana Bella sedang ditarik paksa oleh Riri dan Risa memasuki mobil mereka.


"Kemana kalian membawa Bella? " tanya Panglima dingin dan datar, namun berhasil membuat bulu kuduk Riri dan Risa berdiri tegak alias meremang.


"K-kami h-hanya m-mengajaknya pulang. " dusta Riri.


"JAWAB JUJUR!! " murka Panglima, sungguh ucapan Risa yang 'Memesannya' itu langsung membuat Panglima marah besar.


"Kami menjualnya, " ucap Risa spontan dan membuat Riri melotot kan matanya kearah sahabatnya itu.

__ADS_1


"Damn, " umpat Panglima. Panglima membisikkan sesuatu kepada sang ajudan, sang ajudan mengangguk lalu dia keluar.


***


__ADS_2