Transmigrasi Ara

Transmigrasi Ara
ngidam


__ADS_3

"Enghhh, " Ara melenguh dari tidur nya dan perlahan membuka mata. Saat Ara hendak mengucek mata nya tiba-tiba ada tangan yang menahan pergelangan mungil nya itu.


"Jangan di kucek, nanti sakit! " ucap Panglima lembut.


Ara mengedip kan kedua mata nya berkali-kali dan menatap kearah Panglima. "Bang Lima, kenapa bisa dikamar Ara? " tanya Ara yang lupa bahwa diri nya sudah menikah. Bahkan dia sudah tidak gadis lagi. Apakah Ara lupa dengan kejadian tadi malam? Tengah malam mereka baru tidur karena Ara sungguh membuat Panglima berhasrat.


"Kan kita sudah menikah, sayang. " gemes Panglima lalu mencium ujung hidung Ara gemes.


Ara diam sambil mengerjapkan mata nya berkali-kali. "Berarti Ara udah hamil kan? " seru Ara polos. Dia sungguh tidak sabar untuk hamil. Ara ingin merasakan perut nya yang buncit dan dia akan melahirkan, eh? Emang Ara tau apa itu melahirkan? Haha.


Panglima terkekeh mendengar pernyataan dari istri kecil nya itu. "Kita harus sering melakukan nya kalau mau hamil cepat, sayang! " ujar Panglima mencari kesempatan. Kesempatan untuk melakukan nya beberapa kali. Dia takut setelah kejadian tadi malam Ara tidak ingin melakukan nya lagi.


"Benarkah? Nanti Ara tanya bunda dulu. " ucap Ara polos.


"Dengar ya, hal yang dilakukan suami istri itu adalah privasi. Jadi, kamu jangan ceritain apa yang sudah kita lakukan, oke? " beritahu Panglima. Dia harus sering-sering menasehati Ara, agar Ara tidak berbicara sembarangan lagi masalah privasi nya.


Ara menatap Panglima lalu dia mengangguk mengerti. "Hu'um."


Panglima mengacak gemes rambut Ara. "Pinterr." ucapnya.


"Ara tau. " sahut Ara yang membuat Panglima gemes.


Panglima mendekap tubuh mungil Ara yang masih naked di balik selimut itu. Dia menciumi puncak kepala Ara.


"Abang! " pangil Ara.


"Kenapa, hm? " tanya Panglima lembut.


"Ara lapar, tapi Ara malas bangun karena badan Ara sakit-sakit. " adu Ara polos. Mungkin Ara melupakan kejadian malam pertama nya itu.


"Abang gendong ke bawah, tapi kamu cuci muka dulu. " ujar Panglima. Dia tau kalau istri kecilnya itu tidak akan bisa berdiri, mengingat tadi malam dia lama menggempur sang istri.


Ara mengangguk lalu menyibakkan selimut dari badannya itu. Ara menatap tubuh polos nya, seketika dia mengingat kejadian malam pertama nya itu.


"Abang." panggil Ara lagi.


"Kenapa, mau gendong sekarang? " tanya Panglima.


"Ara mau buat dedek bayi lagi, Ara suka. " ujar Ara seraya menatap Panglima polos.


Panglima terdiam untuk mencerna ucapan Ara. Berarti perkiraan nya salah, padahal dia sudah takut kalau Ara tidak ingin melakukannya lagi.


"Nanti malam aja ya, sekarang kita harus makan dulu. " ujar Panglima lembut.


"Tapi Ara mau. " cemberut Ara karena keinginan nya tidak di turuti.


"Nanti ya, sayang! Kasian yang lain udah nungguin kita buat sarapan. " bujuk Panglima.


Ara mengangguk tapi wajahnya masih ditekuk, Ara mencoba bangun. Awalnya Panglima mau membantu, tapi Ara melarang nya karena dia bisa sendiri kata nya. Namun, saat hendak berdiri tiba-tiba Ara terduduk di tepi ranjang. Ara merasakan nyeri di inti tubuhnya dan kakinya yang lemes.


"Kan, tadi udah abang tawarin buat gendong aja. " ujar Panglima yang dengan sigap duduk di samping Ara itu.


Ara menatap Panglima dengan mata berkaca-kaca. "Ara lumpuh, " cicit nya.


Panglima menggeleng kuat. "Gak lumpuh, sayang! "


"Ara lumpuh, hikss. Ara gak bisa jalan lagi. Terus kalau Ara gak bisa jalan, gimana Ara jajan, hikss? " si Ara malah mengkhawatirkan itu.


Panglima yang tadi nya khawatir tiba-tiba terkekeh gemes karena Ara lebih mementingkan jajanan. "Nanti bisa jalan lagi kok. " gemes Panglima.


"Kita kerumah sakit, Ara mau periksa kaki Ara dan ini, " tunjuk Ara pada inti tubuhnya itu.


Panglima menatap heran. "Kenapa itu si periksa? " tanya nya heran.


"Sakit." cicit Ara.


Panglima malah terkekeh dengan kepolosan Ara itu. "Nanti sembuh sendiri kok, entar di kasih salep. " jelas Panglima.


"Kenapa Ara bisa sakit-sakit? " tanya Ara polos.


Cup


Cup


Cup


Panglima menghujani wajah Ara dengan kecupan-kecupan singkat. Panglima bener-bener gemes dengan istri polos nya itu.


"Ihh, geli. Ara tadi tanya loh!! " Ara menjauhkan wajah Panglima dari wajah nya.


Panglima terkekeh, lalu dia menceritakan semua tentang hal dewasa pada Ara. Ara mengangguk mengerti mendengar penjelasan dari Panglima. Awalnya Ara sudah takut kenapa dia menjadi lumpuh, ternyata itu hanya sementara.


Setelah menceritakan semua nya. Panglima dan Ara mandi bersama, Panglima dengan telaten memandikan istri kecil nya itu. Sekarang Ara dalam mode manja, apa-apa harus Panglima yang mengerjakan. Mulai dari mandi, sampai memakaikan seluruh pakaian pun Panglima yang mengerjakan nya. Panglima dengan senang hati mengurus istri kecil nya itu.


Skip


***


Satu bulan kemudian.


Brian dan Susi baru saja melaksanakan ijab kabul. Loh? Kok baru sekarang? Bukankah kemarin bilangnya seminggu kemudian, setelah Panglima dan Ara menikah? Jadi, Bima dan Radella mau sebulan saja. Kalau minggu depan kecepatan, karena mereka baru saja menikah kan Ara dan Panglima. Brian hanya bisa bersabar menunggu sebulan itu. Padahal cuma sebulan tapi bagi Brian itu setahun. Ah, sungguh membosankan menunggu itu semua.


"Selamat, bro. Akhirnya tidak iri lagi dengan saudara-saudara mu yang lain. " ejek Juna. Juna adalah saksi dari ke iri dengkian Brian terhadap saudara nya, haha.


Brian mendelik sinis kearah Juna. "Lo juga iri kan? Gak bisa nikah, huhu. Bagaimana mau nikah, pacar aja gak punya. " ledek Brian tak mau kalah. Brian juga sering mendengar keluhan Juna yang mengatakan ingin punya pacar.


"Gue mah kalau mau cari pacar gampang, secara kan gue ganteng full. " narsis Juna.

__ADS_1


Brian serta Hendra otomatis menjulurkan lidah mereka dan seakan ingin muntah mendengar kalimat narsis dari mulut Juna.


Disisi lain, tepat nya di meja hidangan. Ara tak henti-henti nya makan. Ara mengambil semua cemilan yang ada dan membuat Radella bingung. Tidak biasa nya putri nya itu suka makanan yang berjenis sayur, tapi kini ia melihat putri nya itu lahap salah satu hidangan sayur.


Radella mendekat kearah Ara. "Sayang, tumben mau makan ini? " tanya Radella.


Ara memandang Radella dengan pipi menggembung karena makanan yang penuh di mulut nya itu. Ara melihat kearah piring yang dia gunakan untuk makan.


"Dikasih es krim enak, Bunda! " beritahu Ara.


"Ha? Es krim? " heran Radella.


Ara mengangguk lalu menunjuk cup es krim yang sudah kosong itu. Radella memerhatikan isi piring makanan Ara dengan seksama. Benar, ada es krim di sayuran itu. Apakah enak sayur di campur es krim? Pikir Radella.


"Sudah sayang makannya, kamu gak kekenyangan? " tanya Radella. Sebenarnya ia ingin bertanya rasa makanan itu. Tapi, mengingat Ara yang polos ia mengurungkan niatnya untuk bertanya.


Ara menggeleng lucu. "Ara lapar, huhu. " ujar nya lucu.


"Ada apa, bun? " tanya Bima yang menghampiri sang istri itu.


Radella menoleh kearah sang suami. "Ara lapar, Mas! " beritahu Radella.


Bima melihat ke arah sang putri. Bima mengacak gemes rambut putri nya itu. "Lucu banget sih, " gemes Bima.


Ara hanya mengerjap polos. Lalu dia melanjutkan makannya. Radella dan Bima hanya bisa memandang putri nya makan. Sesekali mereka terkekeh karena Ara berceloteh riya. Sesuai dengan yang diajarkan Panglima, Ara tidak menceritakan tentang privasi nya. Ara dan Panglima tidak tinggal di mansion Bram lagi, sekarang mereka sudah tinggal di mansion pribadi milik mereka. Sebulan tinggal berdua dengan Panglima membuat Ara senang. Sudah lama dua menginginkan tinggal berdua dengan Panglima. Ara suka meminta Panglima berhenti bekerja dan Ara mengajak Panglima untuk membuat dedek bayi. Karena Ara bener-bener tidak sabar ingin hamil dan mempunyai bayi kecil seperti Arsita. Ya, Arsita sudah melahirkan tiga hari yang lalu. Dan di acara pernikahan Brian ini. Bagas dan Arsita tidak bisa hadir karena Arsita masih lemah.


***


Dua hari setelah Brian dan Susi menikah, kini Ara dan Panglima sedang diam-diaman karena Panglima sibuk kerja padahal hari sudah malam.


"Abang!! " panggil Ara tiba-tiba pada Panglima.


Panglima yang sedang menatap layar laptop itu lantas menoleh kearah Ara yang berada di kasur itu.


"Kenapa, hm? " tanya Panglima lembut.


"Ara sick. " ujar Ara yang merasa badannya tidak enak.


Panglima yang mendengar itu langsung menghampiri Ara ke kasur. Panglima memeriksa jidat Ara dengan punggung tangannya, tidak panas.


"Sakit apa, hm? " tanya Panglima meyakinkan, pasalnya dia tidak merasakan hangat di badan sang istri kecil.


"Ara tadi di sekolah muntah-muntah terus, lalu kepala Ara juga pusing. " adu Ara memberitahu kan pada Panglima bahwa dia di sekolah merasa pusing dan mual-mual.


"Kenapa gak bilang dari tadi, hm? " khawatir Panglima. Seharusnya kan Ara bilang saat dia menjemput istri nya itu dari sekolah. Biar bisa mampir kerumah sakit untuk memeriksa keadaan istri nya itu.


"Ara lupa karena liat jajanan, hihi. " ujar Ara cengengesan. Ya, pulang sekolah tadi Ara banyak membeli jajanan yang orang-orang jual di pinggir jalan. Panglima awalnya tidak ingin membelikan karena jajanan pinggir jalan tidak sehat. Tapi, Panglima luluh saat melihat wajah menggemaskan Ara sekaligus poppy eyes yang Ara keluarkan. Akhirnya Panglima pasrah dan dia membelikan semua jajanan yang Ara mau.


Panglima tersenyum manis kearah sang istri. Lalu dia mengingat akhir-akhir ini Ara suka sekali makan makanan yang tidak biasa nya Ara makan. Dan apa tadi kata Ara, dia mual-mual? Eh tunggu! Apakah istri nya sudah hamil? Ah, kalau bener itu. Maka Panglima sungguh sangat bahagia. Eh Panglima bahagia aja sekarang, liat aja nanti, author akan buat Panglima pusing karena mengurus dua bocil polos, hihi.


"Tunggu sebentar, ya. " ucap Panglima.


"Mau ambil sesuatu, " ujar Panglima lalu dia berjalan menuju nakas yang berada di samping kiri. Panglima mengambil sesuatu yang Ara belum pernah melihat benda itu.


"Ini apa? " tanya Ara polos menunjuk pada benda tersebut.


"Ini tespek, buat periksa keadaan kamu. " jelas Panglima. Oalah, Panglima sudah mempersiapkan semua nya, guys.


Ara mengambil benda kecil itu lalu Ara hendak memasukkan nya ke dalam mulut, dengan segera Panglima menghentikan nya.


"Why? " tanya Ara. Bukankah tadi suami nya itu mengatakan kalau benda tersebut untuk memeriksa keadaannya? Jadi, Ara memasukkan benda tersebut ke dalam mulut. Aih, Ara mengira itu termometer, haha.


"Bukan seperti itu cara meriksa nya, sayang! " gemes Panglima terkekeh. Padahal Panglima sudah sebulan menikah dan Panglima mengira istri nya berhenti polos. Ternyata masih polos dalam hal lain, kalau hal dewasa Ara tidak polos lagi.


Ara memiringkan kepalanya. "Lalu? " tanya nya.


"Mari kita ke kamar mandi. " ajak Panglima dan Ara mengikuti Panglima. Panglima menyuruh Ara untuk pipis di gelas kecil. Ara menuruti saja dan melihat apa yang Panglima lakukan pada air pipis nya itu. Dapat Ara lihat Panglima sedang memasukkan benda tadi ke dalam air pipis nya itu.


"Kita tunggu, ya! " ujar Panglima lembut.


"Hu'um." Ara mengangguk lalu Panglima mengajak istri nya kembali ke kamar. Panglima menggendong Ara ala koala. Panglima membaringkan Ara dengan perlahan. Lalu dia ikut berbaring seraya memeluk tubuh mungil Ara.


"Bang! " panggil Ara.


"Kenapa, hm? " tanya Panglima.


"Besok pulang sekolah Ara mau dijemput om penculik. "


"Abang, aja! " tolak Panglima.


Ara cemberut. "No, Ara mau ok penculik aja! "


"Kenapa harus om penculik? " tanya Panglima.


"Karena Ara mau jenguk dedek bayi sama om penculik. "


"Kan bisa sama abang jenguk nya. "


"Tapi-tapi Ara mau sama om penculik. "


Panglima yang melihat mata Ara mulai berkaca-kaca hanya bisa menghela nafas. "Iya, nanti abang minta om penculik yang jemput kamu. " pasrah Panglima.


Ara tersenyum lalu memeluk Panglima erat. "Terimakasih, Abang! " ujarnya dan Panglima mengangguk. Panglima melepaskan dekapannya dan pamit ke Ara untuk mengambil tespek tadi. Ara menunggu Panglima keluar.


Panglima tersenyum ke arah sang istri yang sedang duduk manis menunggu diri nya itu. Panglima mendekat, setelah sampai didepan sang istri. Panglima memperlihatkan hasil tespek tadi pada Ara.


Ara memandang polos tespek tersebut. "Apa? " tanya Ara polos.

__ADS_1


"Lihat garis yang ada di benda ini, sayang! " titah Panglima lembut.


Ara memandang garis yang terdapat di benda tersebut. "Dua? Kenapa? " tanya nya tak paham. Ara tidak tau maksud dari garis dua tersebut.


Panglima tersenyum cerah. "Ini artinya, kamu sedang hamil, sayang. "Senang Panglima dan dia memeluk erat sang istri kecil.


"Ara belum hamil. " jelas Ara.


"Kamu hamil, sayang! "


"Belum!! Perut Ara masih kecil. " ucap Ara polos. Ara mengira kalau hamil perut nya langsung gede mungkin.


Panglima melepaskan pelukannya lalu mengacak gemes rambut Ara. "Perut gede itu perlu proses, Baby girl. " gemes Panglima. "Sekarang perut kamu masih kecil, nanti membesar terus kok setiap hari. " lanjut nya menjelaskan pada Ara.


Ara menatap polos Panglima. "Jadi, Ara akan punya adek bayi? " tanya Ara antusias dan Panglima mengangguk.


"Benih cinta kita sudah hadir. " Panglima mengusap perut rata Ara.


"Ara hamil, yeayyy.. " girang Ara yang membuat Panglima terkekeh. Panglima suka melihat kebahagiaan Ara, beruntung tidak ada masalah dalam rumah tangga nya.


"Sekarang kamu tidur ya, besok gak usah sekolah juga. "


"No no, Ara mau sekolah dan cerita ke Susi kalau Ara hamil. "


Panglima hanya mengangguk dan tidak lupa di memperingati Ara untuk berhati-hati dalam melakukan apa saja di sekolah nanti. Dan mulai sekarang, makan Ara di sekolah, Panglima yang akan mengirim kan makanan sehat dan tidak membiarkan Ara jajan di kantin lagi. Panglima membawa Ara ke dalam dekapan nya seraya menepuk-nepuk punggung Ara, agar Ara cepat tertidur.


***


"Halo, Om. " Ara melambaikan tangannya pada Dani yang sedang menunggu Ara di parkiran.


Dani menghela nafas. Setelah beberapa bulan Dani tidak pernah jalan dengan Ara itu membuatnya tenang. Tapi, sekarang dia kembali membawa Ara karena permintaan dari Panglima. Dan Panglima juga mengatakan kalau Ara sedang hamil, dengan terpaksa Dani mengiyakan permintaan Panglima itu. Dani menjemput Ara dengan Soni. Jadi, semisal Ara meminta belikan sesuatu ada Soni yang bisa di jadikan partner susah nya.


"Mau berangkat sekarang? " tanya Dani pada Ara yang sudah berada di depannya itu.


"Hu'um, " Ara mengangguk lucu. Dani membukakan pintu di kursi belakang dan menyuruh Ara masuk. Ara masuk lalu dia dia ikut masuk tapi di kursi depan.


"Hai, Om kurus! " sapa Ara pada Soni. Soni hanya tersenyum kikuk. Soni menjalankan mobilnya untuk meninggalkan area sekolah.


"Om! " panggil Ara tiba-tiba.


Dani dan Soni tidak langsung menjawab, mereka berdua saling pandang dan meraka mulai was-was jika Ara sudah berbicara tiba-tiba begini.


"K-kenapa? " tanya Soni tergagap.


"Ara mau beli mangga. " beritahu Ara.


Dani dan Soni yang mendengar itu bernafas lega, karena permintaan Ara wajar bagi ibu hamil. "Oke, nanti kita beli. " ujar Dani.


"Tapi, Ara mau kalian dapatin duitnya kayak mereka. " tunjuk Ara pada pengemis di lampu merah tersebut. Saat ini mereka berhenti di lampu merah dan Ara sudah sedari tadi memandangi Pengemis-pengemis itu.


Dani dan Soni memandang kearah yang di tunjuk Ara. Mereka melihat para pengemis yang meminta-minta itu. Maksud Ara tadi, meminta mereka buat ngemis kah? Kalau itu benar-benar terjadi hancur sudah wibawa mereka sebagai mafia dan pimpinan perusahaan. Masa seorang yang ditakuti masyarakat harus ngemis sih? Gak elit banget.


"Ngemis? " tanya Soni memastikan.


"Gak ngemis, tapi minta-minta kayak mereka. " sahut Ara polos.


Ingin rasa nya Dani dan Soni berkata kasar. Minta-minta itu ngemis, dodol. Aih, tapi meraka tidak boleh berkata kasar pada ibu hamil apalagi yang hamil itu bocah polos. Eh, polos atau pura-pura polos? Bisa bener, Ara meres orang. Kayak gak polos aja, pikir mereka.


"Om, banyak duit. Jadi, pake duit om aja ya. " bujuk Dani.


Ara menggeleng seraya menampilkan poppy eyes nya. "Gak mau, Ara mau uang nya dari minta-minta.


'Ah shitt, 'umpat Dani dalam hati karena tidak tahan melihat wajah menggemaskan itu.


Soni yang melihat raut wajah Dani yang mau melunak itu lantas berdoa agar Dani tidak setuju dengan permintaan Ara. Apaan, dia gak mau ngemis dan panas-panas. Lagian, baju mereka bermerk, mana mungkin orang-orang mau ngasih mereka duit.


"Baiklah, " putus Dani yang membuat Ara tersenyum senang.


"Yeay!! "Seru Ara bertepuk tangan kecil.


'Brengsek.. 'Umpat Soni. Dani memerintah kan Soni untuk menepikan mobil nya. Soni menghela nafas, terpaksa dia mengalah lagi dengan bocil kematian itu. Jika bukan karena Ara hamil, dia tidak akan rela ngemis di jalanan.


Dani dan Soni melepaskan jaz mereka dan mencari kaleng bekas yang ada di tong sampah dekat pinggiran jalan itu. Hilang sudah wibawa mereka, mereka malu bukan main. Bayangkan saja tubuh tegap dan sehat harus ngemis? Bisa jadi bahan ejekan kalau ada kolega bisnis mereka yang melihat itu. Tapi, demi menuruti keinginan ibu ngidam, terpaksa mereka harus menurunkan wibawa mereka sehari. Sehari? Ya, mereka trauma berurusan dengan Ara. Gak hamil aja bisa bikin trauma dengan permintaan di luar nalar Ara, apalagi hamil gini. Ah, tambah trauma besar mereka. Nanti gak lagi-lagi deh berurusan dengan Ara.


"Semangat Om!! "Teriak Ara di balik mobil. Dani dan Soni hanya bisa tersenyum kecut melihat Ara yang senang itu.


Mereka mulai berjalan di tengah-tengah mobil yang berhenti karena lampu merah.


"Pak, buk, boleh minta sumbangannya untuk wanita hamil? " ucap Soni memelas. Pengendara itu memerhatikan penampilan Soni yang terbilang bagus. Bagaimana tidak, kemeja, jam tangan, celana, sepatu, dan yang lainnya itu termasuk mahal.


"Kaya dari hasil ngemis ya, pak? " cibir pengendara itu. Soni yang mendengar itu hanya bisa meratapi nasib. Kan, sudah dia bilang, tidak akan ada orang yang mau ngasih duit karena penampilan mereka itu.


"Dek, bisa minta sumbangan nya. " ucap Dani pada pengendara yang terlihat muda itu.


Si pengendara lantas menoleh kearah sumber suara yang di kenali nya. "Loh, om? Kapan bangkrut? Kok jadi pengemis sekarang? " tanya Juna. Ya, pengendara tersebut adalah Juna dengan Hendra.


Dani memutar bola matanya malas mendengar pertanyaan Juna itu. Dani menceritakan kejadian kenapa dia bisa ngemis dijalanan seperti sekarang.


"Hahahhahah.. " Juna dan Hendra meledakkan tawa nya saat Dani sudah selesai menceritakan nya.


"Untuk sekarang gue gak mau deket-deket degem dulu deh, haha. " ujar Juna di sela tawa nya.


"Bocil ngidamnya meresahkan! " ucap Hendra seraya terkekeh.


Dani memandang jengah kearah Juna dan Hendra yang menertawakan diri nya itu. Karena lampu sudah hijau, Dani berjalan dulu ke pinggir untuk mempersilahkan pengendara lewat.


"YaAllah, semoga ini penderitaan terakhir hamba. " doa Dani memelas.

__ADS_1


~


haii readers, cuma mau kasih tau. 2 bab lagi novel Ara ini bakal tamat, jadi kemungkinan sabtu tamat ya guys☺


__ADS_2