Transmigrasi Ara

Transmigrasi Ara
resmi


__ADS_3

"Good Morninggg....... " ucap Ara yang baru datang untuk sarapan.


"Morning princess, " ucap mereka.


Cup


Cup


Cup


Cup


Cup


Ara mencium satu persatu anggota keluarga nya dan yang terakhir dia cium Panglima, apa Panglima? Ya Panglima datang untuk memberikan cincin dan sekaligus menjemput Ara untuk sekolah.


"Bang Lima ngapain disini? " tanya Ara polos.


Brian mendengus, "Kan adek yang suruh tadi malam, lupa kah adek? " tanya Brian kesal. Aihh si Brian suka banget kesal sama Ara ya xixixi.


Ara mengerjap polos, "Iyakah? " ujar Ara yang seperti nya sudah lupa kejadian yang dimana dia memaksa Panglima untuk bertunangan.


Radella, Bima hanya terkekeh gemes karena Ara lupa kejadian tadi malam. Sedangkan Bryan dan Panglima hanya tersenyum tipis.


"Ck, kamu kan minta Panglima kesini buat ngasih kamu cincin. " decak Brian.


Ara memiringkan kepalanya lucu, "Cincin? Hu'um. " Ara heran tapi dia mengangguk saja.


"Ingat? " tanya Brian.


"Ingat, " sahut Ara.


"Tadi lupa? " tanya Brian lagi.


Ara menggeleng lucu, "Gak, Ara ingat kok. " sahut Ara polos.


"Kenapa bertanya Panglima ada disini? " tanya Brian yang sudah mulai tersulut emosi.


"Hu'um, kenapa bang Lima kesini? " tanya ara polos.


Brian memejamkan matanya dan mengatur nafas sebelum emosi nya meledak. Ara sendiri menghampiri Bima dan duduk di pangkuan Bima, Bima memeluk Ara dengan sebelah tangannya agar tidak jatuh lalu dia mencium kening putri nya itu dengan sayang. Radella menyiapkan roti untuk sarapan Ara.


"Abang Ian ngantuk? " tanya Ara saat melihat Brian masih memejamkan matanya.


"Abang mau menghilang. " sahut Brian asal.


"Why? " tanya Ara. Brian membuka matanya dan menatap sengit adeknya itu.


"Kamu tadi malam nyuruh Panglima buat ngasih cincin ke kamu kan? Terus kenapa kamu nanya Panglima ada disini? Kalau gak kesini bagaimana dia ngasih cincinnya ke kamu? " tanya Brian panjang lebar.


Ara menatap polos Brian sambil memakan roti yang disuap kan Bima untuknya. "Ara gak suruh bang Lima kesini, " sahut Ara.


"Terus kalau gak kesini gimana ngasih cincin nya? " tanya Brian.


"Disekolah." sahut Ara polos.


Brian ngelag, ahh benar juga ya apa yang di bilang Ara, tapi bentar dulu deh. Disekolah? Adakah tunangan disekolah? Gak adakan?.


"Adakah tunangan disekolah? " tanya Brian heran.


"Gak adakah? " tanya Ara polos. Hah Brian cengo kenapa jadi saling bertanya seperti ini? Padahal dia tau sendiri kalau adeknya itu polos ke rada-rada miring dikit tapi kenapa dia malah membahas dan lagian sebelum Ara datang tadi Panglima sudah menjelaskan untuk tidak bertunangan sekarang Panglima hanya akan memberikan cincin saja tanpa status tunangan.

__ADS_1


Brian menghela nafas, "Ada dek, iya kamu tunangan nya di sekolah aja biar satu sekolah tau kan. " ujar Brian mencoba tersenyum walaupun dia kesal dengan kepolosan adeknya itu.


Yang lain hanya terkekeh lucu melihat wajah frustasi Brian. Ara sendiri hanya mengangguk polos lalu dia beralih menatap Panglima yang ada disebelah Brian sambil ikut makan roti.


"Bang Lima. " panggil Ara.


Panglima menoleh kearah Ara, "Hm? " dehem Panglima.


Ara menyodorkan telapak tangannya dan membuat yang lain heran. "Apa? " tanya Panglima ikut heran.


"Cincin, " sahut Ara.


"Ehh tadi katanya disekolah. " ujar Brian.


"Bang Lima sudah disini jadi disini aja, kalau disekolah nanti malu diliat banyak orang. " ujar Ara yang menurut mereka agak dewasa.


"Kamu bisa malu? " tanya Brian.


Ara menggeleng polos, "Gak. " sahut Ara polos.


"Anj... Ahh gue yakin adek gue gak polos tapi dia emang ngeselin.. " hampir saja Brian mengumpat karena jawaban Ara yang mengatakan dia gak bisa malu tapi kenapa tadi dia menyebut malu kalau diliat orang? Ahh Brian jadi berpikiran kalau adeknya itu pura-pura polos.


Radella terkekeh, "Kata kamu tadi malu kalau tunangan diliat banyak orang, tapi kenapa sekarang kamu mengatakan kalau kamu gak bisa malu? " tanya Radella pada Ara.


Ara menoleh kearah Radella dan menatap bunda nya itu polos, "Kata orang kalau diliat banyak orang itu malu, tapi-tapi Ara gak bisa malu. " sahut Ara polos.


Mereka yang ada disana hanya bisa terkekeh gemes dengan jawaban polos dari Ara kecuali Brian yaa dia malah menghela nafas lelah mungkin karena sudah lelah menghadapi adeknya itu.


"Emang malu itu seperti apa? " tanya Ara polos.


"Malu itu ketika kita merasakan pipi kita memanas dan merah karena diliat orang atau dipuji orang. " jelas Bima.


"Kenapa malu? " tanya Bima.


"Bang Lima pernah panggil Ara sayang, pipi Ara panas dan jantung Ara degup-degup kencang! Itu malu kan? " tanya Ara polos.


Radella terkekeh, "Kalau pipi panas emang malu tapi kalau jantung berdegup kencang itu artinya Ara cinta sama Panglima. " jelas Radella.


"Elahhh masih bocil kamu dek, udah tau cinta-cinta aja. " cibir Brian.


Ara menatap Brian polos, "Ara gak tau. " sahut Ara polos. Memang benarkan Ara tidak tau seperti apa itu cinta? Dia aja baru tau dari Radella.


Brian menghela nafas lebih baik sekarang dia diam saja kalau tidak ingin stress menghadapi tingkah polos adeknya itu, "Iya dek terserah kamu. " ujar Brian lelah.


Bima dan Radella lagi-lagi terkekeh, "Sudahlah, sekarang kalian berangkat sekolah nanti telat. " titah Bima yang melihat semua anak-anaknya dan calon mantunya sudah selesai sarapan, ehh calon mantu gak tuh xixi.


"Hu'um, Ara sekolah sama bang Lima kan? " tanya Ara pada Panglima.


"Hm, " dehem Panglima seraya tersenyum kearah Ara.


Ara mengangguk lucu kemudian dia turun dari pangkuan Bima sambil mencium pipi Bima lalu beralih mencium pipi Radella.


"Ara sekolah dulu, papayyyy. " pamit Ara lucu.


"Kami berangkat duluan Om, Tan. " pamit Panglima.


Radella dan Bima mengangguk, "Hati-hati." ucap mereka bersamaan. Panglima menggenggam tangan mungil Ara dan mereka berjalan keluar.


"Elahh to bocil gak pamit ke abang nya apa? Mentang-mentang sudah ada Lima jadi abangnya yang ganteng ini dilupakan. " Brian ngedumel karena Ara tidak berpamitan kepadanya.


Radella dan Bima hanya geleng-geleng kepala dengan tingkah putra kedua mereka itu, terkesan emosian tapi tidak brengsek cukup menghibur jika Brian dan Ara sudah berdebat.

__ADS_1


Skip


"Abang gak bawa cincin? " tanya Ara saat dia dan Panglima sudah berada didalam mobil sport Panglima.


Panglima yang sedang menyetir itu pun lantas menoleh saat mendengar pertanyaan dari gadisnya. "Bawa kok, " sahut Panglima.


"Mana? " tanya Ara seraya menyodorkan tangan mungilnya itu kembali.


"Kamu serius ingin tunangan sama abang? " tanya Panglima memastikan.


Ara mengangguk semangat, "Hu'um, Ara nanti mau nikah sama bang Lima. " sahut Ara polos.


Panglima tersenyum gemes, dia pun ingin menikah dengan gadisnya ini. "Tapi nunggu kamu lulus kita nikahnya. " ujar Panglima, walau bagaimana pun dia tidak ingin menikahi gadisnya sebelum gadisnya itu lulus sekolah karena menurut nya Ara masih kecil.


Ara memiringkan kepalanya lucu, "Why? " tanya Ara.


Panglima terkekeh gemes, "Kamu masih kecil dan perlu kebebasan dulu semasa pertumbuhan kamu. " ujar Panglima.


"Emang kalau sudah nikah gak bebas? " tanya Ara polos.


"Kalau sudah nikah kamu gak bakal abang izinin bebas berkeliaran lagi. " sahut Panglima.


"Why? "


"Karena abang gak mau istri abang diliat banyak orang. " posesif Panglima.


Ara mengerjap polos, "Tapi-tapi Ara mau tidur bareng bang Lima. " ucap Ara.


Panglima tersenyum, dia pun ingin seperti itu. "Kalau tidur bisa kok sesekali. " sahut Panglima.


Ara yang mendengar itu lantas tersenyum cerah secerah mentari pagi. "Abang nginap dirumah Ara yaa nanti malam. " pinta Ara tidak sabaran.


Panglima mengacak gemes rambut Ara lalu dia mengeluarkan kotak cincin yang berada dikantong celananya.


"Ini, " ujar Panglima menyerahkan kotak cincin itu tanpa menjawab permintaan Ara tadi.


Ara menunduk dan melihat kearah kotak cincin yang berada ditangan Panglima itu, Ara mengambilnya dan membuka kontak cincin itu seketika mata nya berbinar melihat cincin permata yang terdapat berlian indah disana. Cincin permata yang harga nya kisaran 200jt itu.


"Cantik kaya Ara hihi. " Ara terkikik sendiri.


"Suka? " tanya Panglima.


"Hu'um, Ara suka banyak-banyak. " seru Ara lucu yang membuat Panglima tersenyum gemes.


Cup


Cup


Ara mendekat kearah Panglima lalu dia mencium Panglima.


"Sayang abang banyak-banyak. " ujar Ara.


Panglima menepikan mobilnya lalu dia mengambil kembali cincin yang ada ditangan mungil Ara, "Sini abang pakein. " ujar Panglima lalu dia mengambil telapak tangan Ara dan memasangkan cincin permata itu dijari kecil Ara.


Cup


"Mulai sekarang kamu resmi jadi pacar abang. " Setelah memasang kan cincin itu Panglima mencium punggung tangan Ara sambil berucap bahwa Ara sekarang resmi menjadi pacar nya.


"Hu'um. "


____

__ADS_1


__ADS_2