Transmigrasi Ara

Transmigrasi Ara
beliin cincin!!


__ADS_3

"Tunangan apa? " tanya Ara polos, dia menatap mereka satu persatu dengan wajah menggemaskan nya itu.


"Tunangan itu untuk mengikat hubungan dengan lawan jenis agar nanti bisa dinikahi, " jelas Bima.


Ara mendongak dan menatap Bima, "Pake apa? " tanya Ara lucu.


"Cincin, " sahut Radella.


Ara memiringkan kepalanya lucu, "Bisa? " tanya nya heran.


Semua saling pandang mendengar ucapan Ara, kan tunangan emang pakai cincin ya? Ya jelas bisalah kan?.


"Bisa, " sahut mereka bersamaan.


"Gimana cara ngikatnya? " tanya Ara polos.


Ahh sekarang mereka paham si bungsu kan polos ya mana paham kalau dijelaskan tentang ikat mengikat dalam pertunangan.


"Maksudnya pertunangan itu si pria memberikan cincin untuk si wanita agar suatu saat nanti si pria bisa menikahi si wanita. " jelas Radella.


Ara mengerjap polos, "Cincinnya diikat? " tanya nya.


Mereka terkekeh gemes mendengar perkataan polos Ara, "Dipakein di jari sayang. " gemes Bima.


Ara mengangguk lucu, "Jadi abang Iyan mau pakein cincin ke wanita? " tanya Ara polos.


Bryan mengacak rambut Ara gemes, "Iya dek, " sahut Bryan.


"Siapa wanita itu? " tanya Ara polos.


"Kamu ingat wanita yang kamu tunjuk disekolah tadi? " tanya Brian.


Ara memasang wajahnya lucu sambil mengingat kejadian masa lalu ehh kejadian disekolah tadi. "Yang mana? " tanya Ara.


"Yang saat kita mau ke kantin itu, kan kamu ada nunjuk wanita yang berada dibelakang kita. " jelas Brian lagi.


Ara tersenyum lalu mengangguk lucu, "Kakak manis itu? " tanya Ara lucu.


"Iya, dia akan jadi kakak ipar kita. " seru Brian.


"Kakak ipar? " tanya Ara bingung.


Bima sangat gemes dengan putri nya itu, "Kalau nanti bang Bryan nikah maka kakak manis itu jadi kakak ipar kamu alias istri dari Bryan. " jelas Bima gemes.


Ara mengangguk lucu, "Kamu paham? " tanya Brian pada Ara, kok dia merasa gak yakin gitu kalau adeknya paham.


"Gak, " sahut Ara polos.


Radella dan Bryan terkekeh melihat wajah polos Ara.


"Kapan tunangannya? " tanya Ara lagi.


"Abang belum beli cincinnya dek. " sahut Bryan.


"Kamu punya uang? Perlu bunda sama ayah yang beliin? " tawar Radella, dia dan sang suami setuju-setuju saja jika putra mereka itu menikah muda. Lagian keluarga mereka dan keluarga Selena cukup dekat jadi tidak salahnya menikah kan anak-anak mereka.


Bryan menggeleng, "Iyan punya tabungan sendiri bun. " tolak Bryan, yang ingin bertunangan dia jadi harus pake duit dia sendiri kan?lagian Bryan juga tidak ingin merepotkan kedua orang tuanya.


"Baiklah, tapi setelah pindahan aja baru kita ke rumah Selena nya. " ucap Bima.


"Hm, " sahut Bryan datar.


"Ara juga mau. " ujar Ara tiba-tiba.


"Mau apa? " tanya Brian.

__ADS_1


"Tunangan." sahut Ara polos.


"Yeeee, jangan kan kamu, abang juga mau. " sungut Brian.


Ara memiringkan kepalanya menatap Brian lucu, "Abang ada ceweknya? " tanya Ara.


Brian mendengus kesal mendengar pertanyaan dari sang adek, dikira dia gak laku kah jadi bertanya seperti itu.


"Kamu sendiri punya cowok gak? " ledek Brian.


"Hm, Ara punya. " seru Ara senang.


"Siapa? " tanya Brian.


"Bang Lima. " sahut Ara polos.


Bima, Radella, dan Bryan cuma diam mendengarkan celotehan Brian dan Ara yang kadang membuat mereka terkekeh gemes dengan ucapan polos Ara.


"Elehh, emang mau Panglima sama kamu? " ejek Brian.


"Hu'um, bang Lima mau sama Ara karena Ara cantik hihi. " Ara terkikik lucu yang membuat mereka semua terkekeh gemes.


"Kata siapa coba? " Brian masih saja menjahili adeknya itu.


Ara memanyunkan bibirnya lucu karena Brian terus menjahili nya, Ara mengambil ponselnya dan mengutak-atik ponselnya untuk mencari nomor Panglima.


Ara menelpon Panglima setelah menemukan nomor itu. Mereka yang melihat Ara menelpon seseorang itu hanya bisa diam memperhatikan.


"Halo? "suara Panglima terdengar diseberang telpon sana. 


"Hallo bang Lima, abang suka Ara tidak? " tanya Ara to the point. Radella, Bima, dan dou B terkekeh mendengar pertanyaan polos Ara itu untuk Panglima.


"Suka, kenapa? " tanya Panglima yang terdengar heran kenapa Ara menanyakan tentang perasaan nya. 


"Besok bang Lima kesini bawa cincin ya, kita tunangan. " ucap Ara polos.


Suara batuk terdengar dari seberang telpon sana yang dapat dipastikan bahwa Panglima kaget mendengar ucapan Ara sampai dia terbatuk. 


Sedangkan keluarga Ara terbelalak mendengar ucapan Ara, bisa-bisanya Ara meminta dengan mudah untuk bertunangan padahal dia sendiri belum terlalu paham apa itu tunangan.


"Abanggggg... " teriak Ara di depan ponselnya karena Panglima hanya diam saja.


"Astagfirullah, " kaget Bima dan Radella bersamaan saat mendengar teriakan Ara.


"Shittt, " Brian mengumpat karena kaget. Sedang kan Bryan hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah laku adek polosnya itu.


"I-iya? " ujar Panglima.


"Abang mau tunangan sama Ara gak? " tanya Ara dengan nada garang walaupun wajahnya tidak sama sekali terlihat garang.


"Kamu yakin mau besok? " tanya Panglima memastikan. 


"Hu'um, Ara mau pake cincin dari bang Lima. " seru Ara polos.


"Orang tua kamu bagaimana? Mereka setuju? " tanya Panglima. 


Ara yang mendengar itu menatap Radella dan Bima bergantian, Radella dan Bima tersenyum melihat putri nya menatap mereka dengan wajah polos itu. Karena Radella dan Bima tersenyum Ara mengartikan bahwa kedua orang tuanya setuju xixi.


"Hu'um, mereka setuju. " sahut Ara.


"Heh, kapan ayah sama bunda setuju? " protes Brian.


Ara mengerjakan polos lalu kembali menatap kedua orang tuanya itu. "Ayah sama bunda setuju? " tanya Ara polos.


"Kamu masih kecil princess. " sahut Bima mencium ujung hidung Ara gemes.

__ADS_1


"Ara besar. " ujar Ara.


"Kamu msih kelas X sayang. " sahut Radella mencoba memberi pengertian.


"Kan." ejek Brian yang membuat Ara kesal.


"Bang Lima pokoknya Ara mau besok abang beliin cincin buat Araaaa.. " teriak Ara lagi didepan ponsel nya itu.


Terdengar suara helaan nafas diseberang telpon sana, "Iya little girl. " sahut Panglima.


Mendengar jawaban dari Panglima membuat senyum manis terbit diwajah cantik nya. "Terimakasih abang, papayyy Ara mau tidur dulu. " ujar Ara melambaikan tangannya didepan ponsel padahal Panglima tidak bisa melihat tangan kecil itu melambai karena mereka hanya telpon biasa bukan video call.


Tut tut tut


Belum sempat Panglima menjawab Ara sudah mematikan panggilan telpon itu.


"Ara mau tidur huhu, " rengek Ara setelah selesai melakukan tunangan pemaksaan kepada Panglima.


"Ck, bisa-bisa ni bocil setelah memaksa orang dia tidur. " decak Brian.


Radella dan Bima hanya bisa geleng-geleng kepala dengan tingkah laku putri mereka itu, unik tapi lucu! Pikir mereka.


Bryan sendiri dia memilih berdiri dan menghampiri Ara yang sedang berada dipangkuan Bima itu. "Ayo kita tidur. " Bryan menyodorkan tangannya untuk menggendong Ara. Ara masuk kedalam gendongan koala Bryan.


"Selamat malam ayah, bunda, bang Ian. " pamit Ara.


"Selamat malam princess. " sahut mereka bertiga. Bryan mulai menjauh dan menaiki anak tangga.


Bima, Radella, dan Brian masih menatap kepergian Bryan dan Ara.


"Bocil satu itu pemaksa, ck. " gerutu Brian.


Bima dan Radella tertawa kecil mendengar gerutuan Brian.


"Kamu iri? Ara dan Bryan mau tunangan sedangkan kamu tidak. " ejek Bima.


"Ck, Brian udah punya pacar, kalau Brian mau Brian juga bisa tunangan dengan pacar Brian. " kesal Brian.


"Yasudah tunangan aja kalian semua. " kekeh Radella.


"Brian entar aja, lagian pacar Brian sekelas Ara dia masih kecil. " ujar Brian.


"Ara juga masih kecil tuh. " goda Bima.


"Ck, Panglima gak mungkin besok melamar Ara. " kesal Brian karena digoda oleh sang ayah. "Udahlah Brian mau ke kamar mau video Call an dulu sama ayang, good night yah, bun. " pamit Brian.


Radella dan Bima geleng-geleng kepala dengan tingkah Brian yang kekanak-kanakan tapi beruntung tidak polos seperti Ara.


"Anak-anak kita sudah besar mas. " ujar Radella yang masih menatap punggung Brian yang mulai menjauh itu.


"Mau bikin lagi? " tawar Bima dengan senyum jahilnya.


Radella menatap suaminya itu lalu dia mendengus kesal, "Apaan sih mas. " ujar Radella lalu dia beranjak dari sofa.


"Mau kemana? " tanya Bima saat melihat istrinya hendak pergi.


"Katanya mau bikin lagi, " Radella mengerlingkan matanya menggoda Bima.


"Nakal kamu ya. " ujar Bima lalu dia mematikan televisi dan mengejar sang istri yang sudah berjalan menuju kamar mereka.


****


*Di mansion keluarga Dirgantara*


Setelah panggilan telponnya dengan Ara berakhir Panglima tiada hentinya tersenyum saat mengingat kehendak gadisnya yang terkesan memaksa itu.

__ADS_1


"Jika itu yang kamu inginkan maka aku akan menurutinya gadis kecil. " gumam Panglima lalu dia bersiap untuk menjalankan misi bersama sang daddy.


__ADS_2