
Arsita tersedak ludah sendiri mendengar ucapan Ara. Sedangkan, Bagas yang sedang minum langsung mengeluarkan air dari mulut nya karena kaget akan ajakan Ara pada Panglima.
Panglima sendiri menatap Ara lekat, terlihat Ara bener-bener mengajak nya menikah. Tapi, apakah Ara tau ikatan pernikahan itu seperti apa? Panglima sendiri sudah lama ingin menikahi gadis nya itu. Tapi, Bima dan Bram belum mengizinkan karena kata nya Ara masih terlalu kecil. Apalagi abang-abang Ara sangat menolak jika adek kecil mereka menikah cepat.
"Gak, gak ada nikah-nikah. Kamu masih kecil, Dek! " larang Bagas. Apa-apaan menikah saat masih kelas 11, tambah lagi Ara itu masih polos, belum tau bagaimana kehidupan rumah tangga.
Ara memandang Bagas dengan bibir mengerucut. Apa salahnya dia ingin nikah? Kan Ara pengin hamil juga kayak kakak ipar nya.
"Kenapa gak bolehin Ara nikah? " tanya Ara.
"Kamu masih kecil, Dek! "
"Tapi-tapi setelah nikah Ara jadi gede kok. " sahut Ara lucu.
"Mana ada, tetap kecil kamu. "
Arsita dan Panglima hanya diam menyaksikan perdebatan antara abang dan adek itu.
"Gede kok. " ngegas Ara.
"Badan kamu kecil, badan Panglima Besar. Gak cocok. " ejek Bagas bercanda.
Ara memandang tubuh mungilnya lalu dia beralih menatap tubuh Panglima. Kalau diliat dari tinggi, emang tinggian Panglima. Tapi, kalau diliat dari isi badan, lebih berisi Ara, Ara gemoy. Badan Panglima sedang, gemuk tidak, kurus tidak. Pas lah untuk badan itu seusia remaja menuju dewasa. Jangkung dan kekar.
Ara merengut kesal karena tubuh Panglima memang besar dan tinggi. "Ara, mau nikah!! Bang Agas jahat karena gak ngebolehin Ara, hikss. " tiba-tiba saja Ara menangis karena tidak diizinkan nikah itu. Dengan sigap Panglima berdiri dan menghampiri kekasih nya itu. Panglima mengambil tisu dan membersihkan wajah Ara yang basah.
Bagas jadi gelagapan karena adek nya itu menangis. Kalau Ara mengadu pada Bram ataupun Bima, bisa mampus diri nya.
"Kamu sih, Mas. " Arsita malah membuat Bagas semakin gelagapan.
"D-dek! " panggil Bagas terbata. Ara tidak mengindahkan panggilan Bagas. Ara mendongak menatap Panglima yang masih setia menyapu air mata nya itu, Ara merentangkan kedua tangannya pada Panglima.
"Gendong." rengek Ara.
Dengan cepat Panglima membawa Ara ke dalam gendongan koala nya. Ara membenamkan wajahnya di ceruk leher Panglima.
"Ara mau pulang, hikss. " isak Ara kecil.
"Loh, gak makan siang dulu, Dek? " tanya Arsita cepat saat Ara meminta pulang.
Ara menggelang tanpa melihat Arsita. "Ara gak mau makan dan liat bang Agas lagi. " rajuknya. "Abangg, pulanggg... " lanjutnya mengajak Panglima pulang.
Panglima berdehem lalu berpamitan pulang pada Arsita dan Bagas. Ara tidak berpamitan sama sekali karena dia masih merajuk pada Bagas.
Setelah kepergian Ara dan Panglima. Arsita terus saja menyudutkan Bagas, Bagas pun kalut. Walaupun sedang kalut Bagas tetap bersikap lembut pada sang istri.
"Makan siang ya, sayang. Setelah makan kita akan ke rumah daddy dan menginap disana. Aku mau membicarakan perihal ini, sepertinya Ara bener-bener ingin menikah. " ujar Bagas seraya memasukkan nasi ke piring sang istri.
Arsita mengangguk lalu dia menyuapkan makanan pada mulut nya. Mereka makan dengan membahas perihal Ara tadi. Padahal jika Ara ingin menikah tidak apa. Toh, yang punya sekolah diri nya sendiri jadi Ara gak mungkin dikeluarkan dari sekolah.
***
Setelah mengantarkan Ara pulang. Panglima segera melajukan mobil nya untuk pulang juga. Saat di jalan tadi Ara terus-terusan merengek meminta di nikahi, Panglima sih mau menikah. Bahkan saat ini juga Panglima siap. Tapi, mengingat Ara punya keluarga yang posesif membuat Panglima harus menahan keinginan nya itu.
Tapi sekarang, Ara sendiri yang kekeuh ingin menikah. Jadi, ada harapan Panglima untuk menikahi Ara secepatnya.
Sesampainya di mansion, Panglima mencari-cari keberadaan orang tua nya. Biasa nya kalau sore begini orang tua nya bersantai di gazebo. Panglima melangkah kan kaki jenjang nya menuju taman belakang. Dapat Panglima lihat orang tua nya sedang berduaan sambil bercanda mesra. Panglima berdecak kesal karena daddy nya itu sangat manja pada sang mommy, padahal sudah berumur tapi tetap saja manja. Bahkan Panji itu sangat pencemburu, dia sebagai putra nya saja sulit untuk memeluk sang mommy karena daddy nya tidak memperbolehkan.
"Ekhm.. " dehem Panglima singkat saat dirinya sudah berada tepat di gazebo.
Panji hanya melirik singkat kearah Panglima, lalu dia kembali merangkul mesra bahu sang istri.
"Eh, ada apa? " tanya Puteri pada putra nya itu.
__ADS_1
"Aku mau nikah! "
Mendengar ucapkan tiba-tiba dari putra nya itu, otomatis Panji menegakkan duduknya. Panji dan Puteri saling pandang sebelum mereka tertawa kecil.
Panglima mendengus kesal karena kedua orang tua nya itu menertawakan nya.
"Lima serius!! " ucap Panglima menatap serius orang tua nya.
Panji berdehem kecil untuk menetralkan tawa nya. Kemudian, dia menetap intens sang putra. "Kenapa? " tanya Panji.
Panglima menaikkan sebelah alisnya. "Apa? " tanya Panglima juga.
"Kenapa ngebet banget pengin nikah? " ucap Panji malas.
"Ara yang minta. " jawab Panglima jujur memang benar bukan? Ara yang meminta dan Panglima dengan senang hati menuruti itu.
"Halah, kamu pun sama. " cibir Panglima.
"Pokoknya malam ini harus di bicarakan sama keluarga Ara. " telak Panglima dan setelahnya ia pergi meninggalkan orang tua nya yang geleng-geleng kepala.
***
"APAAA!! " teriak Brian tiba-tiba saat mendengar cerita Bagas tentang Ara yang meminta nikah.
Semua pasang mata memandang Brian yang kaget nya itu berlebihan. Saat ini semua keluarga Ara sudah berkumpul di mansion milik Bram. Bryan dan Selena pun di ajak Bagas untuk berkumpul karena memang sengaja ingin membicarakan perihal hubungan Ara dan Panglima.
"Kagetnya jangan berlebihan! " tegur Bima pada Brian yang mulut sudah ternganga lebar itu.
"Gimana gak kaget,? Ini bocil bisa-bisa nya minta di nikahin. Abang, aja belum nikah, Cil." ujar Brian pada Ara yang sedang duduk di samping Arsita dan seperti biasa, Ara mengelus-elus perut buncit Arsita.
Ara menoleh kearah Brian. Lagi-lagi kemauan nya menikah selalu ditantang. Mata Ara berkaca-kaca menatap Brian dan membuat semua orang kaget kecuali Bagas dan Arsita yang memang sudah mengerti. Tidak biasa nya Ara menangis kalau kemauan nya menikah tidak di turuti. Biasanya, Ara sering kok meminta menikah cuma tidak pernah sampai menangis.
"Bang Ian jahat, hikss. " isak Ara, kemudian ia menatap semua keluarga nya. Ara yakin pasti tidak ada yang mengizinkan nya untuk menikah. Apa salahnya ia menikah? Dia kan ingin hamil juga! Pikir Ara. Yaelah cil, gimana jadi nya nanti kalau bocil punya bocil.
Ting tong!
Ara yang melihat Panglima memasuki Mansion nya itu lantas berdiri dan berlari menghampiri Panglima dengan air mata yang mengalir di pipi chubby nya.
"Bang Lima, hikss. " panggil Ara saat sudah berada di dekapan Panglima.
Panglima menunduk dan menatap Ara. "Kenapa, hm? " tanya Panglima lembut.
"Ara mau pergi. Ayooo, kita jalan-jalan. " ajak Ara. Dia tidak ingin berada di rumah sekarang, ia merajuk pada keluarga nya.
"Besok aja jalan-jalan nya, ya. Ini sudah malam! " sahut Panglima.
Ara menggeleng kuat. "Ara mau pergi, hikss. Kalau bang Lima gak mau antarin Ara, Ara telpon om penculik aja. " Ara melepaskan pelukannya pada Panglima lalu berjalan kembali mendekati keluarga nya itu.
"Sayang! " panggil Radella putrinya saat Ara hendak menjauh kembali setelah mengambil ponsel.
Ara tidak mengindahkan panggilan Radella. Ara merasa semua orang pasti akan menantang keinginan nya, jadi Ara merajuk saja.
Bram sudah menyuruh Panji dan Puteri untuk duduk di sofa. Mereka semua sudah berkumpul dan duduk rapi.
Ara sendiri berada di pojokan sambil mengotak-atik ponselnya. Panglima mendekati Ara lalu mengambil pelan ponsel itu di tangan Ara.
Ara mendongak dan menatap Panglima lucu. "HP Ara. " cicit Ara.
Panglima tersenyum. "Kita duduk dulu ya, kita bicarakan ke keluarga kamu dan keluarga abang, kalau kita mau menikah! " jelas Panglima lembut.
Ara menoleh kearah semua orang yang sedang berbincang itu. Lalu, Ara mengangguk tanda setuju. Panglima menggenggam tangan mungil Ara dan membawa Ara mendekat kearah keluarga besar itu.
Panglima duduk di single sofa, Panglima menyuruh Ara kembali duduk di tempatnya tadi. Tapi Ara malah duduk di pangkuan Panglima.
__ADS_1
"Dek, duduk sini aja! " titah Brian cemburu.
Ara hanya melirik singkat lalu dia membenamkan wajahnya di dada bidang Panglima.
Semua orang menghela nafas karena melihat Ara yang bener-bener tidak ingin jauh dari Panglima.
"Jadi, bisakah kita nikahkan mereka? " ucap Panji memulai pembicaraan.
Mereka jadi saling pandang. "Sebenarnya saya berat melepaskan putri saya, mengingat saya baru satu tahun ini bersama nya. " jelas Bram. Ia bener-bener ingin lama bersama sang putri, setahun bersama itu waktu yang singkat menurut nya.
"Kalau saya sendiri, Ara itu masih kecil dan sikap nya kekanak-kanakan. Takutnya nanti malah merepotkan Lima! " jelas Bima dan diangguki oleh Radella. Radella tahu jelas kalau putri nya itu sungguh manja dan permintaan nya pun harus selalu di turuti.
"Saya menerima, bagaimana pun Ara. " celetuk Panglima.
"Lo mah, tunggu Ara lulus aja napa? Gue aja belum nikah, woyyy? Masa, adek gue duluan sihh? " protes Brian pada Panglima.
"Bang Ian jahat, Ara mau-mau bang Lima. " sela Ara sambil memeluk Panglima erat.
Lagi-lagi mereka menghela dan mereka saling pandang. Jika memang itu kemauan Ara sendiri bagaimana lagi? Mereka tidak akan bisa membantah.
"Biarkan Ara menikah, Mas! Aku yakin kalau Panglima bisa ngurusin Ara. " ucap Radella pada Bima.
Bima melirik Bram dan anak-anak laki-laki nya, dan mereka semua mengangguk kecuali Brian hanya diam dan menatap datar Ara. Iri? Iya, Brian iri. Dia pun juga ingin menikah cepat, tapi Susi nya yang tidak mau.
"Baiklah, Ara dan Panglima akan di nikahkan dan resepsi nya setelah Ara lulus. " putus Bima.
Panji dan Puteri tersenyum senang. "Oke, seminggu lagi kita nikahkan mereka. " seru Panji bersemangat.
"Apa? Cepat bener! " kaget Brian.
"Besok! " ucap Panglima datar. Brian melotot kearah Panglima, apa-apaan di percepat. Dari pada besok lebih baik minggu depan kan?.
"Iya-iya, minggu depan. " pasrah Brian dan membuat semua orang terkekeh.
"Tapi... " ucap Bagas menjeda kalimat nya.
"Apa? " tanya Panglima.
"Jangan buat Ara hamil sebelum dia lulus. " jelas Bagas dan yang lain mengangguk setuju. Kalau Ara hamil bagaimana? Ara aja seperti bocil, kalau hamil takut-takut Ara aneh-aneh.
Panglima terdiam sejenak. Hanya jangan di buat hamil sekarang kan? Berarti, masih boleh nganu-nganu kan? Pikir Panglima.
"Cuma jangan dibikin hamil cepat, Boy. " kekeh Panji yang mengerti isi pikiran Panglima.
"Ara masih terlalu kecil untuk hamil, takutnya dia tidak kuat dan akan terkena banyak blus. " ujar Radella dan para perempuan mengangguk setuju. Bahaya mempunyai anak di usia muda, karena bisa menyebabkan baby blus bagi si ibu.
Panglima mengangguk mengerti. "Baiklah! " ujar Panglima.
"Oke, minggu depan kalian menikah! " ucap Bima.
Panglima tersenyum senang. Brian sendiri mendengus kesal.
"Dek, udah puaskan? Lo, nikah ngeduluin abang sendiri. " gerutu Brian yang membuat semua orang terkekeh kecil.
Brian mengernyit karena tidak mendapat respon dari Ara. Brian menatap Panglima dengan menaikkan dagu nya.
"Tidur! " jawab Panglima singkat.
"Ett dah si bocah, tadi nangis-nangis minta nikah. Sekarang udah di bolehin dia nya gak dengar dan malah enak-enak tidur. " sungut Brian.
Mereka terkekeh gemes melihat Ara yang tidur tidak pernah berubah alias tetap suka mengemut jempol nya.
"Aku anterin Ara ke kamar dulu, ya! " bisik Bryan pada sang istri. Selena tersenyum lalu mengangguk.
__ADS_1
Bryan bangkit dari duduknya dan menghampiri Panglima. "Sini, biar gue anter Ara kekamar nya! " pinta Bryan. Panglima menyerahkan Ara pada Bryan. Lalu Bryan memasuki lift untuk mengantar Ara.
"Aku juga pengin nikah, huaaaa.... " drama Brian di mulai, xixi.