Transmigrasi Ara

Transmigrasi Ara
timezone


__ADS_3

"Mau Jalan-jalan? " tawar Panglima.


Ara menatap Panglima dengan wajah berseri, "Mau.. " seru Ara. "kapan? " tanya Ara.


"Sekarang." sahut Panglima.


Ara memiringkan kepalanya heran, kenapa jalan-jalan nya sekarang? Kan mereka harus sekolah bahkan ini aja belum sampai kesekolah.


"Kan sekolah, " ujar Ara.


"Kita bolos. " sahut Panglima.


Ara menatap Panglima dengan mata bulat nya itu, "Bolos? " heran Ara.


"Tidak sekolah. " ujar Panglima.


Ara sekarang mengerti lalu dia menganggukkan kepalanya lalu dia mengeluarkan ponsel nya dari tas, dan mengotak atik ponsel tersebut.


"Ngapain? " tanya Panglima heran saat melihat Ara seperti mencari nomor seseorang.


"Ara mau izin bolos ke kakak cantik, karena hari ini pelajaran kakak cantik. " ujar Ara polos.


Panglima diam dan mencerna ucapan Ara, seketika dia sadar dia segera mengambil ponsel Ara. Apa-apaan bolos izin, kan gak mungkin ya? Tapi liat lah Ara dengan polosnya dia ingin meminta izin untuk bolos.


Panglima menghela nafas, "Tidak usah izin ya. " ujar Panglima lembut.


Ara memiringkan kepalanya lucu, "Why? " tanya Ara.


"Ini waktu kita berdua sayang, jadi jangan beri tahu orang lain. " Kilah Panglima lembut bahkan sangat lembut, jika kalian yang mendengar nada bicara Panglima yang selalu lembut ke Ara mungkin kalian juga sama seperti author yaitu meleleh xixi.


"Hu'um, " Ara mengangguk lucu. Lihatlah Ara saja langsung nurut tanpa mendebat Panglima jika yang mengucapkan itu orang lain mungkin Ara akan terus menanyai orang itu dengan pertanyaan randomnya xixi.


Panglima mengacak gemes rambut Ara, "Pinterr.. " ucapnya.


"Ara tau. " ujar Ara polos yang membuat Panglima terkekeh.


Panglima menjalankan mobilnya kembali sambil mendengarkan ocehan lucu yang keluar dari mulut Ara.


"Ara kangen deh sama om penculik. " ujar Ara tiba-tiba.


Panglima menoleh kearah Ara kemudian dia tersenyum. Tersenyum? Kanapa tersenyum? Seharusnya kan Panglima emosi jika mendengar kata penculik.


Nah author beritahu, kemarin saat Ara menceritakan dirinya di culik tapi dipulangkan, Panglima kan mau nyamperin di Dani kan? Tapi Panglima tidak jadi nyamperin karena Daddy dari Panglima yaitu Panji menyuruh untuk tidak memperpanjang masalah, walau bagaimana Panji tau bahwa sebenarnya Dani itu tidak jahat dia hanya marah saja kepada Panji karena sudah mengambil hak yang seharusnya dia dapat kan, yaitu menjadi pimpinan mafia dari ayah Dani itu sendiri, tapi karena kesalahan Dani juga dulu yang suka main perempuan sehingga ayah Dani lebih suka menyerah kan jabatan itu kepada Panji.


Jadi sekarang Panglima tidak marah lagi kalau Dani menemui Ara, karena dia tau Dani itu baik dan Panglima juga berpikir kalau Ara selalu merepotkan Dani dan terbukti kan sekarang? Suka minta yang enggak-enggak itu si Ara xixi.


"Telpon gih, " saran Panglima.


Ara cemberut, "Ara gak punya nomor om penculik. " ujar Ara sendu. Panglima mengambil sesuatu dibalik kantong celana nya.


"Ini, " Panglima menyodorkan kartu nama Dani yang sempat dia ambil dari Ara waktu itu.


Ara mengambil kartu nama tersebut tapi wajah polosnya itu kebingungan. "Kenapa? "Tanya Panglima saat melihat wajah bingung Ara.


"Ara bingung ini buat apa? " ujar sambil membolak-balikan kartu nama tersebut.


Panglima terkekeh kecil karena gadis polosnya itu, "Disitu ada tertera nomor telponkan? " tanya Panglima.


Ara memperhatikan kartu nama itu lalu dia mengangguk lucu, "Hu'um."


"Nah, catat nomor itu lalu telpon. " ucap Panglima.


"Ini nomor siapa? Catat di kertas kah? " tanya Ara polos.


Panglima menghela nafas, sekarang dia merasakan kepolosan Ara yang random. "Itu nomor om penculik, kamu catat diponsel kamu lalu telpon! " jelas Panglima lembut seraya tersenyum manis.

__ADS_1


Ara mengangguk mengerti dengan mulut yang membentuk 'o'.


Panglima mengacak gemes rambut Ara dengan sebelah tangannya, "Gak jadi telpon? " tanya Panglima saat Ara hanya memegang kartu nama tersebut tanpa sambil memainkannya.


Ara menggeleng polos, "Gak. " sahut Ara.


"Kenapa? " tanya Panglima heran, bukankah tadi gadisnya itu merindukan si Om penculik itu?.


"Karena Ara gak mau. " sahut Ara.


"Bukankah tadi kamu bilang rindu sama Om penculik? Terus kenapa sekarang gak telpon? " tanya Panglima.


Ara mengerjap polos, "Kalau rindu harus telpon kan? " tanya Ara polos.


'Shittt.. 'Panglima mengumpat dalam hati karena mendengar pertanyaan polos Ara. Benar yang Ara bilang, rindu harus telponkah? Gak mesti harus ditelpon kan?ahh Panglima hanya bisa bersabar menanggapi kepolosan gadisnya itu.


"Gak harus telpon kok, " sahut Panglima lembut.


"Tapi-tapi abang tanya kenapa Ara gak telpon Om penculik. " ucap Ara polos.


Panglima tersenyum, "Abang cuma menyarankan karena kamu bilang rindu, kalau ditelpon kan siapa tau berkurang rindu nya. " jelas Panglima.


"Tapi Ara kalau rindu mau bertemu aja. " ucap Ara polos.


"Jadi sekarang kamu ingin bertemu penculik itu? " tanya Panglima.


"Gak, " sahut Ara.


Panglima menautkan kedua alisnya, "Tadi katanya rindu. " ujar Panglima heran.


"Ara emang rindu om penculik tapi kita mau jalan-jalan jadi Ara gak mau ketemu om penculik sekarang. " jelas Ara lucu.


"Baiklah. " ucap Panglima, sekarang dia tidak akan bertanya lagi, cukup diam dan dengarkan celotehan Ara seperti biasa, kalau ditanggapi dengan bertanya-tanya maka itu akan membuat orang-orang stres dengan kepolosan Ara.


"Kok Lima sama adek belum sampai sih. " dumel Brian.


"Terjadi sesuatu kali dijalan, " ujar Lian.


"Habis bensin? " tanya Juna.


"Ngadi-ngadi lo, mana mungkin mobil seorang Panglima Dirgantara kehabisan bensin. " ujar Lian. Panglima itu kan horang kaya, anak Sultan, gak mungkin Panglima kehabisan bensin bahkan mobil Panglima selalu full bensinnya.


"Siapa tau kan dia lupa ngisi bensin. " ucap Juna cengengesan.


"Panglima bukan lo. " cibir Hendra yang diangguki oleh Brian dan Lian.


"Lah, ngapa jadi gue? " tanya Juna.


"Kan lo sering tuh bawa motor dengan tangki bensin yang kosong, " ejek Lian. Ya Juna memang seperti itu, jika ditanya kenapa selalu kosong? Jawabannya adalah, 'Gue lupa ngisi hihi. ' seperti itulah jawaban dari Juna.


"Mau gimana lagi hihi, " ujar Juna cengengesan.


"Mii gimini ligi hihi. " cibir Lian.


Brian dan Hendra tertawa melihat Lian yang menirukan bicara Juna. Sedangkan Bryan dia hanya diam sedari tadi, sebenarnya dia kesal juga dengan Panglima yang entah kemana membawa adeknya itu, padahal bel masuk sudah berbunyi tapi Panglima dan adeknya itu belum terlihat sama sekali.


"Ck, bajingan itu. " gerutu Bryan.


***


Panglima membawa Ara ke mall untuk bermain di Timezone. Padahal Panglima ingin mengajak Ara nonton saja tapi Ara malah merengek meminta main di Timezone, jadilah sekarang mereka sudah berada di lantai atas mall yang dimana terdapat Timezone.


"Ara mau main itu. " tunjuk Ara pada permainan basket.


Panglima mengikuti arah tunjuk Ara dan melihat permainan melempar basket kedalam ring,"Kamu yakin? "Tanya Panglima, pasalnya Ara itu pendek jadi Panglima kurang yakin kalau Ara bisa memasukkan basket itu kedalam ring.

__ADS_1


"Hu'um, " ujar Ara mengangguk semangat, Panglima pun akhirnya membawa Ara mendekati permainan basket itu.


"Gak mau capit boneka aja? " tawar Panglima.


Ara menggeleng kuat, "Gak mau, Ara mau ini. " Ara sudah berdiri didepan permainan basket itu dengan wajah yang bersemangat.


Panglima tersenyum gemes melihat semangat Ara, "Emang bisa masukinnya? " tanya Panglima.


"Dicoba dulu abang. " sungut Ara.


Panglima terkekeh kemudian dia memasukkan koin ke mesin itu dan basket yang berada di atas itu pun menggelinding kebawah.


"Yeayyyy.... " semangat Ara lalu dia langsung mencoba memasukkan bola itu, gagal, gagal, dan gagal terus. "Ring nya ketinggian kaki Ara pendek. " sedih Ara.


Panglima sedari dari hanya bisa terkekeh gemes melihat gadisnya yang kesusahan memasukkan basket itu kedalam ring.


"Aaaa Ara terbang.. " seru Ara saat tubuhnya tiba-tiba melayang karena Panglima mengangkat nya.


"Masukkan, " ujar Panglima lembut.


Ara menunduk dan menatap Panglima dengan mata bulatnya itu. "Terimakasih abang, " ujar Ara.


"Sama-sama, Sayang. " sahut Panglima. Orang-orang yang berada di Timezone itu dibuat gemes dengan aksi romantis Panglima pada Ara.


"Yeayyy masuk.... " teriak Ara saat berhasil memasukkan basket itu kedalam ring. Orang-orang dibuat gemes dengan sikap Ara yang seperti anak-anak itu.


Drrrt drrt drrt


Telpon Panglima berbunyi Panglima pun menurunkan Ara, "Abang angkat telpon dulu ya, kamu tunggu disini. " titah Panglima lembut.


Ara mengangguk lucu, "Hu'um.


Panglima mengacak gemes rambut Ara kemudian dia menjauh beberapa langkah untuk mengangkat telpon.


"Apa? " tanya Panglima to the point.


"Wanita-wanita yang sering bully nona Bella sudah berada di markas tuan muda. "


"Hm, " Panglima mematikan panggilan telpon dari anak buah nya yang dia suruh mencari dan menangkap orang-orang yang sudah membully Bella dulu.


Panglima berbalik dan melihat kearah gadisnya yang sedang mengobrol dengan seorang laki-laki yang dia kenali.


"Oh shitt, " Panglima dengan cepat menghampiri Ara.


Ara sendiri menatap bingung laki-laki yang ada di depan nya itu, "Abang siapa? " tanya Ara.


Laki-laki tersebut diam menatap lekat wajah Ara, "Kita seperti nya pernah bertemu sebelumnya kan? " tanya laki-laki tersebut.


Ara menggeleng lucu, "Ara gak pernah ketemu orang seperti abang. " sahut Ara.


Laki-laki tersebut mencoba meraih pundak Ara untuk memastikan apakah penglihatan nya salah, belum sempat kedua tangannya menyentuh pundak Ara tiba-tiba ada tangan besar yang menepis kedua tangan laki-laki tersebut.


"Don't touch. " ujar Panglima dengan menatap tajam laki-laki tersebut.


Laki-laki tersebut tersenyum miring saat melihat musuhnya ada di depan nya. "Jadi gadis manis itu punya lo? Bagus juga selera lo sama kayak selera gue dulu. " laki-laki tersebut terkekeh.


Panglima tidak menghiraukan perkataan laki-laki tersebut, "Kita pulang, " ajak Panglima lembut pada Ara.


"Hu'um, " Ara menganggukkan kepalanya. Panglima pun menggenggam tangan mungil Ara dan menjauhi laki-laki tersebut.


Laki-laki tersebut tersenyum miring melihat kepergian Panglima dengan gadis yang mirip dengan seorang wanita yang pernah ditemui dulu.


"Gue akan ngerebut dia dari lo Lim. " tekat laki-laki tersebut dengan senyum devil nya.


***

__ADS_1


__ADS_2