Transmigrasi Ara

Transmigrasi Ara
tunangan apa?


__ADS_3

"Ena, " panggil seseorang saat Selena ingin memasuki toilet. Selena berbalik dan melihat pria yang selama ini dia rindukan sedang berada di depan nya(Bryan Arshana) .


"Ya? " jawab Selena singkat agar terkesan cuek.


"Aku rindu, kamu selama ini kemana aja? " tanya Bryan sendu.


Selena menatap Bryan dingin, "Lo nanya? " ketus Selena.


Bryan mendekati Selena membuat sang empu memundurkan langkahnya hingga punggungnya terbentur tembok.


"Maaf, " lirih Bryan saat dia sudah dekat dengan Selena, hanya beberapa saja jarak diantara Bryan dan Selena.


Selena berusaha menahan nafas, "Buat? " tanya Selena pura-pura tidak mengerti.


"Masalalu, ini salah paham. " jelas Bryan lalu mencoba meraih kedua tangan Selena tapi Selena menepis nya.


"Udah masa lalu, lupakan saja. " ujar Selena datar.


Bryan menggeleng kuat, "Gak, kita harus luruskan ini. " ujar Bryan.


"Oke, tapi jauhan dikit. " Selena mendorong pelan dada bidang Bryan.


Bryan menahan telapak tangan Selena yang berada di dada nya itu. "Disini masih tersimpan indah namamu. " ujar Bryan menekan telapak tangan Selena pada dada nya.


Selena hanya diam, dia akan mendengarkan penjelasan dari Bryan yang sebenarnya tidak perlu dijelaskan tapi dia ingin melihat sisi pandang Bryan tentang kejadian masalalu itu.


"Terus? " ketus Selena masih berpura-pura marah.


"Dia yang cium aku, aku gak khianatin kamu.... Kamu melihat semua itu dari awal gak? Aku ingin menjelaskan tapi kenapa kamu pergi bahkan pergi jauh Na? Aku merasa bersalah karena belum sempat menjelaskan kejadian itu, kamu keburu pergi ninggalin aku. " lirih Bryan dengan tatapan sendu nya kepada Selena.


Selena dapat melihat tatapan cinta yang selama ini dia rindukan, 'Maafkan aku Yan,itu memang rencana ku untuk menyuruh seseorang menggoda mu agar aku bisa pergi, dulu aku takut aku tidak akan kembali lagi. 'Batin Selena menatap lekat Bryan.


"Kamu percaya kan sama aku? " tanya Bryan yang melihat Selena hanya diam saja.


Selena masih diam tapi tangannya berusaha melepaskan diri dari dada bidang Bryan. "Lepas." ujar Selena dingin.


"Maafin aku dulu, " ucap Bryan.


"Oke, " sahut Selena.


Bryan tersenyum, "Kita bisa kembali seperti dulu? " tanya Bryan.


'Aku ingin kembali seperti dulu Yan, tapi aku mau lihat perjuangan kamu dulu. 'Batin Selena lagi.


"Untuk itu gue gak bisa, " sahut Selena datar.


"Kenapa? " tanya Bryan pilu.


"Gak mau pacaran gue, udah minggir.. " Selena mendorong kuat Bryan agar dirinya bisa pergi. Bryan terhuyung karena dorongan Selena cukup kuat, dia menatap kepergian Selena yang mulai menjauh itu darinya.


"Kalau kamu gak mau pacaran maka biarkan aku meminangmu. " ujar Bryan lalu dia pergi dari sana.


Selena sendiri masih berjalan sambil mengatur nafas karena jantungnya yang berdebar, "Maaf Yan, aku hanya ingin liat perjuangan mu.. Dan ya untuk kejadian masa lalu itu aku minta maaf, karena aku lah suruh dia buat godain kamu biar perhatian kamu teralihkan dariku dan aku bisa keluar negeri buat berobat, dulu aku gak mau buat kamu sedih dengan keadaan ku maka dari itu aku melakukan semua ini, maafin aku Bryan sayang. " gumam Selena.


***


Malam harinya setelah makan malam seperti biasa keluarga Arshana akan berkumpul dulu diruang keluarga untuk menonton atau berbincang sedikit sebelum tidur.


"Anak-anak, kalian setuju tidak kita pindah? " tanya Radella pada ketiga anaknya itu.

__ADS_1


Bryan dan Brian menoleh kearah Radella, sedangkan Ara dia duduk anteng dipangkuan Bima sambil ngedusel didada sang ayah.


"Pindah? Kemana? Dan kenapa? " tanya Brian beruntun.


"Mau gak dulu pindah? " tanya Radella.


"Kalau Brian sih tergantung rumah baru nya, " sahut Brian.


"Tergantung apa? " tanya Bima.


"Tergantung, kalau rumahnya bagus Brian mah ayo-ayo aja pindah, tapi kalau rumahnya masih bagusan ini Brian gak mau pindah. " jelas Brian dalam mode matre nya, adakah cowok matre? Ada nih si Brian xixi.


Radella dan Bima geleng-geleng badan ehh kepalanya maksudnya.


"Gimana Yan? " tanya Radella pada putra sulungnya itu.


"Kemana dulu? " tanya Bryan.


"Mansion o.. "


"Wehhh Mansion? Mau mah Brian kalau Mansion. " sela Brian saat Bima belum selesai mengucapkan nya.


Pukk


Ara melempar bantal sofa kearah Brian dan sasarannya tepat mengenai kepala Brian.


"Kenapa sih dek? " kesal Brian.


"Abang gak boleh potong potong ayah, " galak Ara yang sebenarnya malah membuat keluarga nya itu gemes.


"Lah? Abang gak potong-potong ayah dek. " ujar Brian.


"Potong tadi, ayah bicara abang langsung teriak. " ujar Ara lucu.


"Gak boleh gitu-gitu lagi Oke, " ujar Ara menasehati Brian lucu.


Cup


Cup


Cup


Cup


"Hahaha udah ayahh, Ara geli huhu.. " karena gemes Bima menciumi seluruh wajah Ara sehingga membuat sang empu tertawa kegelian.


"Pintar banget sih putri ayah ini. " gemes Bima lalu menarik pelan ujung hidung Ara.


"Hu'um Ara memang pinter. " ujar Ara lucu membuat mereka semua gemes.


"Oh yaa mau pindah ke Mansion kan tadi? Mansion mana? " tanya Brian.


"Om Bram. " sahut Radella


"Ha? Kenapa? " tanya Bryan yang sedari tadi diam.


"Daddy? " tanya Ara dengan wajah polos nya itu.


Bima menunduk dan tersenyum ke arah Ara tanpa rasa curiga apapun. "Iya sayang daddy Bram, kamu mau kita tinggal bersama? " tanya Bima.

__ADS_1


Ara mengangguk lucu, "Mau mau, Ara mau. " seru Ara semangat.


Bima terkekeh, "Nanti kita pindah kesana. " ucap Bima.


'Dia begitu bersemangat seakan sudah sering bertemu dan akrab, tapi kapan mereka akrabnya? 'Batin Bryan bingung melihat betapa semangatnya Ara padahal setahu nya adeknya itu tidak akrab dengan Bram apalagi sampai manggil Bram dengan sebutan Daddy.


Radella, Bima dan Brian hanya bisa terkekeh tanpa rasa curiga seperti Bryan.


"Kapan pindahnya? " tanya Bryan.


"Secepatnya, mungkin wekeend ini. " sahut Bima.


"Kenapa? " tanya Bryan lagi.


"Kenapa apa? " tanya Radella.


"Pindah." ujar Bryan singkat.


Brian memutar bola matanya malas mendengar ucapan singkat dari Bryan bertele-tele menurut nya. "Kalau ngomong jangan singkat-singkat bisa? " tanya Brian malas sedangkan yang di tanya malah menyandarkan punggung nya kesandaran sofa tanpa menyahut ucapan Brian.


Brian mendengus kesal yang membuat Radella terkekeh, "Om Bram........ " Radella menjelaskan alasan kenapa mereka pindah ke tempat tinggal Bram kepada kedua putra nya itu, Ara? Ara hanya diam ngedusel didada sang ayah.


Bryan dan Brian mengangguk kan kepalanya mendengar alasan Bram meminta mereka untuk tinggal bersama.


'Alasan yang masuk akal tapi Ara? Dia sangat senang, hm mungkin karena dia mendapatkan kasih sayang dari orang lain makanya dia sesenang itu. 'Batin Bryan mencoba berpikir positif.


"Kalian setuju? " tanya Bima.


"Aku sih oke oke aja. " sahut Brian.


"Hm, " Bryan hanya berdehem singkat sebagai jawaban.


Radella dan Bima tersenyum, "Baguslah kalau begitu. " ucap Radella.


"Bun, yah. " panggil Bryan.


"Kenapa? " tanya Radella.


"Aku ingin tunangan. " ujar Bryan tiba-tiba.


Uhuk uhuk


"Busetttt.. "


Radella dan Bima tersedak ludah masing-masing sedangkan Brian langsung mengumpat yang membuat bibir Ara tersenyum.


"Busett.. " ujar Ara polos.


"Heh, "


Semua menegur Ara. Ara menatap orang tua dan abang-abang nya dengan wajah polos nya.


"Why? " tanya Ara polos.


Brian mengusap wajah kasar, "Lo sih elahhh, ngapain ngomong yang tidak tidak. " Brian menyalahkan Bryan atas ucapan yang keluar dari mulutnya tadi, karena ucapan nya itu membuat Ara mengikuti nya.


"Gue beneran pengin tunangan. " sahut Bryan ketus.


"Sama dia? " tanya Bima.

__ADS_1


"Hm, " dehem Bryan.


Ara yang tidak tau apa yang dibicarakan itu menjadi bingung, "Tunangan apa? " tanya Ara polos.


__ADS_2