Transmigrasi Ara

Transmigrasi Ara
kolong meja makan


__ADS_3

"Ara, sini! " Bram meminta Ara mendekat ke arah nya.


Ara mengangguk patuh, lalu turun dari pangkuan Panglima.


Cup


Ara mencium bibir Panglima singkat sebelum beranjak mendekati Bram. Mereka yang melihat itu melebarkan bola mata masing-masing.


"Ara!! " tegur mereka semua. Panglima sendiri dibuat linglung dengan perlakuan Ara yang tiba-tiba tadi.


'Bujubusyett, 'kaget Juna dalam hati.


'Astaga, degem mulai bisa. 'Batin Hendra.


'Shitt! Kamu terlalu polos, Little girl. 'Batin Panglima mengumpat. Bukannya dia tidak senang dicium Ara, cuma kenapa harus dicium di depan banyak orang? Itu seharusnya privasi pasangan.


"Polos banget, ya. " bisik Selena pada Bryan.


Bryan menoleh ke samping dan menatap Selena. "Hm, seperti anak-anak yang menggemaskan. " kekeh Bryan. Selena ikut terkekeh. Benar, Ara itu emang polos tapi gemesin.


"Apa? " tanya Ara saat sudah sampai didepan Bram.


Bram menarik Ara pelan agar duduk di pangkuannya. "Ara, gak boleh kaya tadi lagi, ya! " ucap Bram menasihati Ara.


Ara menatap polos Bram. "Kaya apa? " tanya nya.


"Cium bibir tadi, " ujar Bram.


"Kenapa? " tanya Ara lagi.


"Siapa yang ngajarin cium bibir gitu? " tanya Bima datar.


Glek


Panglima meneguk saliva kasar saat mendengar pertanyaan Bima pada Ara, tiba-tiba gugup melanda dirinya. Dia yang mengajarkan Ara, bukan?.


Brian menangkap wajah gugup Panglima. "Wahh, lo jangan cemari otak polos adek gue dong, Lim. " seru Brian. Panglima menatap tidak suka pada Brian, mau bagaimana lagi? Bibir polos Ara begitu menggoda, sehingga dia tidak tahan untuk tidak mencium bibir itu.


Semua pasang mata menoleh kearah Panglima dan menatap Panglima datar. Panglima menghela nafas berat melihat tatapan mereka pada nya.


"Gue bakal nikahan dia. " ucap Panglima yang seakan sedang mempertanggung jawab kan kesalahan besar. Yaitu, menghamili! Padahal dia cuma mencium hihi.


"Eh, bukan itu maksud gue! Maksud gue jangan bikin adek gue gak polos lagi. " seru Brian.


"Apaan nikah-nikah! Gak ada, Ara masih kecil. " ujar Bagas menatap Panglima sengit.


Plak


"Aduhh.. " ringis Bagas kala mendapat serangan dari Ara.


Ara menatap Bagas garang. "Ara sudah besar. " marahnya pada Bagas.


"Kamu masih kecil, " ucap Bagas.


Ara cemberut. "Bunda, Ara sudah besar bukan? " tanya Ara pada Radella.


"Kamu masih kecil!! " ucap Bram, Bima, Bagas, dan dou B bersamaan. Radella terkekeh melihat para pria-pria posesif itu.


Juna dan Hendra mengulum bibir menahan tawa karena melihat wajah Ara yang hendak menangis itu. Panglima sendiri hanya bisa tersenyum kecil. Keluarga Bethany serta keluarga Arshana sungguh posesif. Padahal keluarga Dirgantara jauh lebih posesif, Panglima tidak sadar diri xixi.


Ara menjauh dari Bram dan berjalan menuju Radella dengan menghentakkan kaki kecilnya itu di lantai dan membuat pipi chubby nya bergoyang.


"Degem, pipi nya tumpah. " ucap Juna yang gemes akan pipi Ara yang bergoyang itu. Spontan Ara terhenti dan melihat-lihat ke bawah.


"Cari apa? " tanya Radella.


Ara menoleh ke arah Radella. "Kata bang Juna pipi Ara tumpah. Tapi-tapi, Ara cari-cari kok gak ada pipi Ara dilantai. " sahut Ara polos. Juna menepuk pantatnya ehh menepuk jidatnya karena mendengar ucapan polos Ara.


Mereka yang awalnya menatap Panglima kini beralih menatap Ara yang masih setia mencari pipi yang kata nya jatuh itu. Mereka dibuat gemes akan kepolosan Ara.


Radella terkekeh. "Gak gitu konsepnya, sayang! Udah, kamu belum sarapan dan ini udah mau siang. Kamu makan dulu ya! " ujar Radella yang mengingat putrinya belum sarapan sama sekali.

__ADS_1


"Hu'um, perut Ara kecil!! " ucap Ara yang menunduk melihat perut nya itu.


"Mas, aku bawa Ara dan Selena makan dulu! Kalian, bahas lah yang ingin dibahas. " kata Radella yang mengerti bahwa para pria ingin membahas masalah ini. Tapi, karena ada Ara yang polos jadi mereka belum bisa membahasnya.


Bima mengangguk dan Radella pun mengajak Selena dan Ara menuju dapur. Ngapain ke dapur? Memasak kah? Radella memang hendak memasak buat mereka semua dan akan minta bantuan pada Selena dan Ara. Hah Ara? Emang bisa masak dia? Ara gak bisa masak, Ara cuma bantu nyicip makanannya saja atau bantu yang aneh-aneh haha.


Setelah kepergian tiga wanita beda generasi itu para pria memasang wajah serius dan melupakan kejadian Ara yang minta cium itu.


"Jadi gimana? " tanya Panglima to the point.


"Gue bakal bunuh dia! " geram Bryan.


"Gue juga. " timpal Brian.


"Tanyakan dulu alasan dia berkhianat! " ujar Bima.


Dou B menoleh kearah Bima. "Setelah di tanyakan alasannya? " tanya Bryan.


"Siapa tau dia berkhianat karena terpaksa. " ujar Bagas tiba-tiba.


"Lalu? Kami biarkan saja kalau alasannya terpaksa? Gak, gue gak sebaik itu buat biarin orang yang telah membuat adek gue pergi tetap hidup. " sarkas Brian.


"Kita harus menangkap dalang nya dulu! " ucap Bram dan diangguki oleh Bima.


"Hans? " tanya Bryan.


"Hans, biar jadi urusan gue! " ucap Panglima dingin. Hans punya dendam pada nya, jadi dia sendiri yang akan membunuh Hans.


"Dua perempuan itu bagaimana? " tanya Juna.


"Perempuan apa? " tanya Bagas.


"Yang membully dan ikut dalam rencana Lian untuk membawa Ara ke club. " sahut Brian.


"Itu saya serahkan pada om Bima. Karena cuma om dan tante yang berhak mengambil keputusan untuk menghukum mereka. " ujar Panglima.


"Mereka perempuan, jikalau di bunuh itu tidak baik. " sahut Bima yang merasa tidak baik untuk membunuh kaum hawa.


"Tapi, dia udah ngelakuin itu pada Bella, ayah! " marah Brian karena ucapan Bima.


Bima menoleh kearah Bram, Bram memang sahabat yang pengertian karena Bram tahu betul kalau Bima tidak akan tega menyakiti perempuan apalagi membunuh.


"Bagaimana? " tanya Bram pada Bima.


Bima mengangguk. "Aku serahkan semuanya pada mu! " ucapnya.


"Anak-anak? " tanya Bram.


Dou B menghela nafas kasar. Hidup di pengasingan? Apakah itu hukuman yang pantas buat pembully adek mereka? Tapi, jika di pikir-pikir hidup di pengasingan itu susah. Tidak ada orang disekitar mereka!.


"Baiklah! " putus Dou B.


"Sekarang urusan Lian dan Hans. Ayah, percayakan kepada kalian! " ucap Bima seraya menatap para lelaki remaja itu bergantian.


Mereka semua tersenyum seraya mengangguk. "Kita ke sana sekarang? " tanya Brian tidak sabaran untuk memberi pelajaran pada Lian.


"Bryan, baru pulang dari rumah sakit! Nanti saja, jika Bryan sudah sembuh total. " larang Bima.


Drrrrt drrrrt drrrrt


Suara ponsel seseorang menghentikan pembicaraan mereka.


"Maaf, saya mau angkat telpon dulu! " ujar Bagas lalu dia menjauh pada ruang tamu tersebut. Setelah panggilan selesai Bagas kembali bergabung dengan mereka.


"Siapa? " tanya Bram.


"Ah itu, Anak-anak! Untuk pertandingan futsal tidak jadi besok, akan ganti minggu depan! " beritahu Bagas pada mereka para pelajar.


"Kenapa? " tanya Bryan.


"Kebetulan ketua tim futsal dari sekolah mereka mengundurkan diri dari sekolah dan mereka tidak punya ketua cadangan. Jadi, pertandingan akan di undur selama seminggu dan Bryan bisa pulih juga. " jelas Bagas.

__ADS_1


"Shitt.. " umpat dou B, Panglima, Juna, dan Hendra bersamaan.


Bagas, Bram, dan Bima mengernyit heran. "Kenapa? " tanya Bima.


"Ketua mereka yang mengundurkan diri itu adalah Hans! " ucap Brian.


"Berarti dia kabur dong? " tanya Juna polos ketularan Ara.


"Damn it!! " umpat Panglima. Lagi-lagi Hans kabur setelah berbuat masalah seperti kasus sepupunya kemarin. Sebenarnya, Panglima sangat mudah mengetahui dan melacak keberadaan Hans. Namun, karena Panglima berbaik hati jadi dia tidak mencari keberadaan Hans. Tapi, untuk kali ini Hans tidak akan bebas dari nya dan Panglima akan tetap membunuh Hans dengan tangannya sendiri! Tekat Panglima.


"Mudah saja bagi Lima untuk mencari persembunyian Hans. " ujar Bryan. Dia tau betul mafia yang dijalankan oleh Panji itu sangat hebat. Untuk melacak seorang seperti Hans itu hal kecil bagi ahli IT mafia itu.


"Araaaa!!! " tiba-tiba terdengar teriakan Selena. Mereka menoleh dan melihat kearah Selena yang seperti nya sedang mencari Ara itu.


"Ada apa? " tanya Bima pada Selena.


"Ara ada kesini, Om? " tanya Selena.


Bima menggeleng. "Dari tadi kami bicara tidak ada melihat Ara. Emang dia kemana? Bukankah tadi bersama kalian ke dapur? " tanya Bima.


"Tadi Ara emang di dapur makan es krim, lalu Ara mengambil es krim yang banyak, terus ditegur tante karena kebanyakan kalau makan semua es krim yang ada dikulkas. Tente menyuruh Ara makan 2 cup es krim saja dan sisanya kembalikan ke kulkas, Ara menurut dan dia memakan es krim di meja makan! Aku dan tante pun masak tanpa memperhatikan Ara. Karena kami sibuk memasak, kami tidak sadar kalau Ara sudah tidak ada di sana. " jelas Selena panjang lebar. Aih entah kemana Ara hilang nya Selena tidak tau.


"Cari.. " titah Bima dan seketika mereka terpecah untuk mencari Ara.


"Ara."


"Dek! "


"Degem! "


Begitulah suara teriakan yang terdengar di kediaman Arshana itu. Mereka mencari Ara di setiap ruangan namun Ara tidak ditemukan juga. Mereka semua berkumpul di dapur dan melihat Radella yang sudah menangis karena mencari Ara.


"Mas, apa Ara diculik lagi? " tanya Radella lirih pada Bima.


"Kalau di culik tunggu nanti sore, bun! Ara bakal dipulangin. " ucap Brian seraya duduk di meja makan lalu menuangkan air minum ke dalam gelas. Brian merasa capek mencari adeknya itu disetiap ruangan.


"Degem nyelip dimana ya? " ucap Juna seraya memperhatikan sekeliling dapur itu.


"Lo kira adek gue barang? Bisa ke selip? " sewot Brian.


Juna cengengesan dan membuat mereka semua geleng-geleng kepala. Disaat keadaan genting gini Juna bisa-bisa nya bertingkah polos.


Brian menyandarkan punggung nya kesandaran kursi dan kakinya masuk kedelam, Brian seperti menggeliat.


Tuk


Brian heran karena seperti menendang sesuatu di kolong meja makan tersebut. Brian menunduk lalu menyingkap alas kain meja makan itu.


"Ara!! " ucap Brian saat melihat Ara yang sedang enak-enak makan es krim di kolong meja makan itu.


Ara yang mendengar suara Brian lantas menoleh. "Hai, abang! " sapa Ara polos. Ara masih asik menikmati es krim nya.


Mereka yang mendengar suara Ara yang ada di kolong meja lantas menunduk semua. Mereka semua melongo melihat Ara dengan wajah yang belepotan es krim.


"Bisa-bisanya dia santai disini saat kita kelimpungan mencari nya. " ujar Bagas cengo. Ah adeknya itu sangat meresahkan jika hilang. Tapi, sangat menyebalkan jika ada.


"Ngapain disitu, hm? " tanya Bima yang masih setia memandangi Ara itu.


"Makan es krim. " sahut Ara polos. "Ayah, mau? " tawar Ara.


Bima menghela nafas, sedangkan Bram yang tidak biasa dengan tingkah polos Ara itu hanya terkekeh. Ternyata putrinya itu bener-bener polos, Bram hanya memerhatikan saja tanpa bersuara tapi kadang dia tersenyum geli jika melihat tingkah polos Ara.


"Kenapa makan di situ? " tanya Bryan.


Ara melihat kearah Radella yang setia menatap dirinya itu. "Bunda, tadi gak izinin Ara makan es krim banyak-banyak. " cemberut nya. "Jadi, Ara makan disini diam-diam. " lanjutnya.


"Kamu dengar tidak, kami manggil nama kamu? "Tanya Brian.


"Dengar! " sahut Ara.


"Lalu, kenapa diam aja? " tanya Bagas.

__ADS_1


"Kata bunda, kalau sedang makan tidak boleh sambil bicara. " sahut Ara polos.


Mereka semua kembali dibuat melongo. Ah, adakah manusia yang lebih polos dari Ara? Rasa nya tidak ada kan? Keluh mereka semua.


__ADS_2