Transmigrasi Ara

Transmigrasi Ara
Ending


__ADS_3

Tiga tahun kemudian.


Seorang balita perempuan yang berumur 3 tahun sedang berguling-guling di kamar nya.


"Alu angen om Ndla, " ucap nya dengan suara cadel khas balita. Aruna, gadis kecil dari pasangan Panglima dan Arabella itu tumbuh sebagai gadis yang hiperaktif. Aruna, tidak polos seperti ibu nya karena Aruna mendapat kasih sayang yang lengkap dan banyak dari keluarga nya. Maka dari itu mental Aruna aman. Tapi, kadang Aruna jika bermain dengan Ara maka di situlah Panglima seperti mempunyai dua anak dan dia seperti tidak memiliki istri. Walau begitu, Panglima senang melihat wajah ceria dari dua perempuan yang dia sayang dan cintai.


Aruna, menyukai salah satu sahabat daddy nya, yaitu Hendra Setiawan. Jika Hendra sedang berkunjung ke mansion nya, Aruna pasti senang bukan main. Aruna selalu menempel pada Hendra tanpa takut dengan tatapan tajam yang daddy nya berikan pada Hendra. Aruna selalu memarahi daddy nya jika membuat om Hendra kesayangan nya bersedih. Panglima hanya bisa mendesah lelah akan sikap putri nya yang menyukai sahabatnya itu.


Aruna turun dari ranjang nya dan berlari keluar dengan kaki kecil itu.


"Mom Ala!! " ujar Aruna seraya memanggil mommy Ara.


Aruna berlari menuju kamar orang tua nya dengan beberapa pelayan yang mengikuti. Takut saja anak majikan mereka itu jatuh dan menangis.


Kamar Aruna dan orang tua nya bersebelahan. Aruna berjinjit meraih handle pintu tapi tubuh nya masih kecil dan susah meraih nya. Pelayan yang melihat itu terkekeh gemes. Ibu dan anak sama aja, sama-sama gemesin.


Tok tok tok


"Nyonya, non Aru mau masuk. " pelayan itu mengetuk pintu dulu sebelum membuka kan pintu.


Tok tok tok


"Mom, Alu ingin belmain! " Aru ikut mengetuk dan berteriak di depan kamar orang tua nya itu. Aru terus mengedor-ngedor pintu kamar orang tua nya itu.


Ceklek


Ara membuka pintu dan melihat Aruna. "Aru, mau ngapain? " tanya Ara menatap anaknya itu.


Aruna senang melihat mommy nya yang sudah membuka kan pintu itu. Aruna meraih tangan Ara lalu mengajak nya memasuki lift.


"Alu mau belmain." ujar Aru.


Ara menundukkan kepalanya untuk melihat putri kecil nya itu. "Main apa? " tanya Ara.


"Main macak-macak. " seru Aru senang.


Ara memiringkan kepalanya. "Macak apa? " tanya Ara polos. Aih, si Ara mah polos nya gak ilang-ilang. Udah tau anak nya belum pasih ngomong, malah di tanyain, haha.


Aru mendengus kesal karena selalu saja begitu, mommy nya itu tidak mengerti dengan ucapan cadel nya. Jika bisa, Aru ingin segera pasih dalam berbicara agar mommy nya itu tidak bertanya-tanya lagi.


Ting!


Lift terbuka dan Aru segera menarik Ara menuju dapur. Para pelayan yang bertugas di dapur menunduk hormat saat melihat majikan dan putri nya kesana.


"Alian pelgi, Alu dan Mom Ala mau macak. " titah Aruna pada semua pelayan yang ada di dapur.


Para pelayan itu saling pandang seakan memberikan isyarat untuk jangan pergi. Mereka takut majikan mereka itu kenapa-napa. Tapi, lebih ke takut dapur akan berantakan sih. Mengingat Ara yang seperti anak-anak dan ditambah Aruna yang sangat aktif.


Aruna yang melihat para pelayan itu tidak pergi lantas menarik-narik ujung baju Ara. "Mom, meleka ndak mau pelgi, Alu kan mau macak kue beldua sama Mom. " ujar Aru dengan cemberut.


"Aru, mau masak kue? " tanya Ara senang karena Ara juga mau main-main. Aruna mengangguk antusias.


"Nyonya, biar kami bantu. Kalian tidak tau kan cara memasak kue yang bener? " tawar kepala pelayan itu.


Ara menggeleng lucu. "No, no, kami mau masak berdua saja. Ara bisa kok masak, kan ada HP. " tolak Ara.


"Tapi, Nya.. "


"Kelian semua pergi atau Ara adukan ke bang Lima? " ancam Ara. Entah kenapa para pelayan itu hanya mau menurut kalau dia bawa-bawa nama suami nya itu. Lah, si Ara! Mana paham dia akan kekuasaan suami nya itu. Mau di mana pun Ara berada, kalau orang-orang tau kalau Ara itu istri dari seorang Panglima Dirgantara. Maka, disitulah semua orang menunduk hormat ke arah Ara.


Para pelayan dengan terpaksa mereka menjauh dan mereka akan mengawasi dari jauh saja. Aru senang bukan main saat melihat para pelayan itu sudah menjauh. Dia berlari ke dalam dapur dan melihat sekeliling, bahan-bahan untuk membuat kue belum di sediakan oleh pelayan.


"Ahan-ahan nya ndak ada. " gumam Aru.


Ara memerintah kan pelayan untuk menyiapkan semua bahannya. Sementara pelayan menyiapkan semua nya. Aru dan Ara menonton tutor untuk membuat kue di youtube.


Setelah selesai pelayan itu menyiapkan nya, Ara dan Aru dengan senang memulai aksi mereka. Semua bahan di campur secara bersamaan dan tidak bertahap. Pelayan yang melihat itu ingin menegur dan membantu sebelum dapur seperti kapal pecah. Tapi, Ara dengan garang memarahi para pelayan itu untuk tidak menganggu kegiatannya dengan sang putri.


Alhasil, para pelayan yang bertugas di dapur itu pulang ke paviliun guna untuk merehatkan badan mereka sebentar, sebelum nanti beres-beres dapur yang berantakan. Dan yang menjaga Ara dan Aru di gantikan oleh beberapa bodyguard. Para bodyguard hanya bisa terkekeh gemes melihat majikan mereka itu bercanda dengan anaknya.


***


"Gue kangen Aru, deh. " ucap Brian.


Semua pasang mata menoleh kearah Brian yang belum mempunyai anak itu. Susi tidak ingin hamil sebelum diri nya lulus. Dan setelah lulus ternyata Susi sudah untuk mengandung karena sering menggunakan KB dan membuat kantong rahim nya agak mengering. Dan kesempatan ingin memiliki anak itu lumayan lama. Brian dan Susi tidak masalah akan hal itu. Toh, mereka masih muda dan mereka masih bisa menikmati masa-masa berdua.


"Gue juga kangen. " timpal Juna.


"Gue juga kangen jodoh gue. " canda Hendra sambil melirik ke arah Panglima dengan ekor mata nya itu.


Panglima lantas memberikan tatapan tajam pada Hendra. Dia tidak ingin anak nya menikah dengan sahabatnya itu. Usia meraka terpaut jauh, 18 tahun bukanlah, jarak usia yang sedikit, itu jauh.


"Gak sudi punya menantu seumuran dengan gue. " ketus Panglima. Saat ini, mereka sedang berada di perusahaan Dirgantara Corp. Perusahaan milik Panglima, mereka baru saja mengadakan rapat untuk proyek seraya berkumpul-kumpul biasa.


"Canda, Lim. " kekeh Hendra. Dia menyayangi Aruna hanya sebatas sayang orang tua ke anak. Tidak salah bukan menyayangi anak sahabat sendiri?.


"Jodoh gak ada yang tau, Lim. " kompor Juna. Aih, Juna dan Hendra suka sekali membuat Panglima kesal dan marah.


Panglima yang kesal lantas berdiri. "Mau kemana? " tanya Bryan saat melihat Panglima mengambil kunci mobil.


"Pulang! " sahut Panglima ketus.


"Ikutt!!! " ujar mereka serempak. Panglima tidak mengindahkan suara teman-temannya itu. Dengan wajah datar nya Panglima menyosori gedung perusahaan itu. Teman-teman Panglima bener-bener mengikuti Panglima pulang. Sekarang mereka sedang kejar-kejaran di jalan dengan mobil masing-masing. Tidak semua sih, hanya Juna dan Brian lah yang sedang kejar-kejaran itu.


Skip


Sesampainya di depan mansion pribadi milik Panglima dan Ara. Satpam dengan segera membukakan gerbang. Lalu, masuklah beberapa mobil mewah di perkarangan mansion itu.


Mereka keluar dari mobil masing-masing dan menatap bingung kearah bodyguard yang berjaga di depan pintu itu. Bodyguard tersebut terlihat seperti ketakutan.


"Ada apa? " tanya Panglima dingin.

__ADS_1


"E-em, anu t-tuan, i-itu Nyonya kecil dan Nona kecil se..... "


Belum selesai bodyguard itu berucap, Panglima dengan cepat masuk ke dalam karena takut terjadi apa-apa kepada anak dan istri nya. Dou B dan yang lainnya ikut masuk.


Mereka semua terdiam melihat keadaan mansion Panglima yang seperti lautan tepung. Lantai satu penuh akan tepung yang bertebaran di mana-mana.


"Sejak kapan mansion lo jadi lautan tepung gini? " tanya Hendra dengan mulut terbuka karena mansion Panglima bener-bener berantakan. Padahal pelayan dan bodyguard di sini banyak.


"Sejak Panglima punya dua bocil, haha. " tunjuk Brian pada Ara dan Aru yang sedang lempar-lemparan tepung di sisi anak tangga.


Panglima mendesah frustasi saat melihat seluruh tubuh anak istrinya yang penuh akan tepung.


"Pelayan!! Bersihkan semua ini. " teriak Panglima memanggil para pelayan nya. "Kalian, tunggu di ruang tamu di lantai dua, gue mau urus istri dan anak gue dulu. " lanjut nya menyuruh teman-temannya ke lantai dua.


Panglima segara menghampiri anak dan istri nya itu. Teman-teman Panglima hanya bisa tertawa kecil melihat Panglima yang seperti seorang kakak yang sedang mengurus adek-adek kecil nya.


"Catatan! Jangan menikah dengan bocil kalau tidak mau kejadian seperti Panglima menimpa kalian. " ujar Juna dengan kekehan kecil.


"Bocil memang menggemaskan, tapi sangat merepotkan. " timpal Brian. Mereka pun berjalan menuju tangga. Panglima sendiri sudah memasuki lift beserta anak dan istri nya.


"Daddy, Alu macih mau belmain. " ujar Aru cemberut. Panglima melihat kearah sangat putri yang berada di gendongan nya itu.


"Sudah bermainnya, itu om kamu datang. " bei tahu Panglima.


Seketika wajah cemberut itu berganti dengan wajah ceria. "Om Ndla, ada? " tanya Aru dan Panglima mengangguk malas.


"Yeayy, Alu mau andi dan andan yang antik. " semangat Aru.


Ara sedari memasuki lift hanya diam sambil cemberut. Ara kesel karena Panglima menyuruhnya berhenti bermain. Padahal dia dan anaknya belum selesai membuat kue. Gimana mau selesai kalau kalian malah lempar-lemparan tepung, Ara!! Gemes deh.


"Sayang!! " panggil Panglima.


Ara tidak mengindahkan suara sang suami. Setelah lift terbuka Ara meninggalkan Panglima dan Aru.


"Mom, malah? " tanya Aru sambil menatap Panglima.


Panglima menghela nafas. "Seperti nya mommy marah, daddy akan mandikan kalian. " ujar Panglima seraya menyusul sang istri ke kamar.


Panglima melihat Ara yang hendak membuka pintu kamar mandi itu. Dengan cepat Panglima berjalan dan ikut masuk ke dalam kamar mandi bersama Aru.


"Abang, ngapain sini? Keluar dulu, Ara mau mandi!! " usir Ara marah pada Panglima.


"Biar abang mandikan, sekaligus memandikan Aru. " ujar Panglima lembut.


Ara melihat kearah putri nya yang putih akan tepung itu. "Biar Ara sama Aru mandi berdua. Abang, keluar saja! " Ara masih kesal dengan suami nya itu.


Panglima menggeleng, dia tidak yakin putri dan istri nya itu aman kalau mandi berdua. Jika dibiarkan mandi berdua, maka dapat di pastikan kamar mandi itu penuh akan busa dan air yang meleber sampai keluar kamar mandi.


"Biar abang bantu. " ucap Panglima lagi.


Aru sedari tadi hanya menyaksikan orang tua nya itu berdebat. Aru meminta turun dari gendongan Panglima. Dia ingin segera mandi dan menemui om Hendra kesayangannya itu.


"Alu, mau tulun!! " ujar Aru sambil menggoyang-goyangkan badannya. Panglima menurunkan Aru, dan Aru dengan cepat masuk ke bath up yang sudah ada air nya itu.


"Aru!! " kaget Panglima dan Ara saat mendengar air yang muncrat ke atas karena Aru melompat.


"Hahahahah, " Aru tertawa senang di dalam bath up tersebut. Beruntung air dalam bath up hanya terisi setengah. Jadi, Aru tidak tenggelam.


"Aku mandiin, yaa? " ujar Panglima seraya menyalakan sower. Ara hanya diam dan membiarkan Panglima menyabuni nya dan anak nya seraya bergantian. Sekarang Panglima jadi bapak dari 2 anak kecil.


***


"Mereka mana sih? " gerutu Brian yang sudah bosen menunggu keluarga cemara itu.


"Sabar, Panglima harus memandikan dua bocil dulu. " kekeh Juna. Juna membayangkan betapa repot nya Panglima mengurus dua bocil yang hiperaktif.


Yang lain ikut terkekeh karena ucapan dari Juna. Memang bener, Panglima pasti sedang memandikan dua bocil nya itu.


"Om Ndlaaaa!! " teriak Aru sambil berlarian kecil menghampiri Hendra yang bermain ponsel itu.


Hendra menoleh kearah Aru dan meletakkan ponsel nya di meja. Hendra membentangkan tangannya untuk menangkap Aru.


Hap


Hendra menangkap Aru dan mendudukkan Aru dipangkuan nya. Dou B yang melihat itu mendelik sinis. Padahal mereka om kandung dari Aru. Tapi, Aru lebih menyayangi Hendra di banding mereka.


"Uncle Iyan dan Ian adalohh, kenapa kamu lebih milih duduk di pangkuan orang lain? " dumel Brian dengan suara agak kencang, agar Aru mendengar.


Aru tidak mengindahkan suara Brian. Dia lebih memilih menatap Hendra.


"Om Ndla, Alu antik ndak? " tanya Aru sambil berpose centil.


Panglima yang baru datang bersama Ara itu lantas mendengus kesal karena pertanyaan anak nya itu kepada Hendra. Panglima duduk dan Ara ikut duduk di pangkuan Panglima.


Hendra terkekeh gemes lalu mencubit ujung hidung Aru. "Kamu selalu cantik. " gemes Hendra.


"Ara juga cantik!! " sela Ara yang tak mau kalah.


"Ebih antikan alu, wlee.. " Aru menjulurkan lidah nya pada sang mommy.


Ara cemberut lalu mendongak menatap Panglima. "Bang, Ara cantikkan? " tanya Ara.


Panglima mengangguk lalu tersenyum. "Kamu cantik, sayang!! " ujar nya lembut.


"Gini nih, bocil punya bocil. Mereka saling iri. " cibir Juna.


"Nama nya juga bocil. " timpal Brian.


"Om Ndla anteng, mau ndak jadi pacal, Alu? " tanya Aru.


Uhuk uhuk

__ADS_1


Uhuk uhuk


Semua orang tersedak ludah masing-masing (kecuali Ara) ketika mendengar pernyataan cinta Aru kepada Hendra.


"Ett dah, bocil. Bicara aja belum lancar udah sok-sok an ngajakin Hendra pacaran!! " ujar Juna seraya geleng-geleng kepala.


Aru mendelik sinis kearah Juna. "Om Una diam! Mau Alu centil (sentil) bulung na? " kesal Aru karena Juna atau pun Brian selalu saja menyela omongannya.


"Heh!! " tegur semua orang. Ara sendiri hanya menatap suami dan abang-abangnya itu polos. Dia mana paham apa yang di bicarakan oleh anaknya itu, sehingga dapat teguran sama seperti diri nya dulu.


"Siapa yang ngajarin ngomong gitu, hm? " tanya Panglima lembut pada putri nya itu.


"Unty Cuci(Susi). " sahur Aru polos. "Kata unty Cuci, kalau ada yang ikin Alu kecal, centil aja bulung na!! " lanjut nya memberi tahu akan ajaran dari aunty nya itu.


"Lahh, bini lo yang ngajarin ternyata, hahaha. " tawa Juna sambil menepuk pundak Brian. Ia tak menyangka kalau istri dari sahabatnya itu telah mengotori otak kecil Aruna.


Bryan dan Hendra tertawa kecil akan kalimat yang keluar dari mulut balita perempuan itu. Brian sendiri meneguk ludah kasar karena melihat tatapan tajam dari Panglima. Dia mana tau kalau sang istri sudah mengajarkan yang tidak-tidak pada ponakan nya itu. Ah, dapat dipastikan saat besar nanti Aru tidak akan polos. Karena ada Susi yang selalu mengajarkan yang tidak-tidak.


"Aru, sini duduk sama uncle! " titah Bryan pada Aru.


Aru menggeleng kan kepalanya. "Alu, mau cama pacal Alu. " Aru memeluk erat leher Hendra dan dia juga mengklaim Hendra sebagai pacar nya.


"Belum pacaran, bocil. Hendra nya aja gak jawab. " ucap Brian.


Aru memandangi Hendra. "Om Ndla, ndak mau jadi pacal, Alu? " tanya Aru menatap Hendra dengan mata bulat nya.


"Pacal apa? " tanya Ara tiba-tiba sambil menatap mereka semua polos.


Semua mata menoleh kearah Ara. Ah, mereka baru ingat kalau Ara masih polos walaupun Ara sudah memiliki anak.


"Pacar maksudnya, dek! " beritahu Brian.


Ara mengangguk lalu menatap Aru yang sedang bergelayut manja dengan Hendra itu. "Gak, Aru gak boleh pacaran sama bang Hendra. " ujar Ara yang tidak menyetujui kalau putri nya itu pacaran sama Hendra.


"Lah, cinta tak di restui, guysss.. " heboh Juna sambil tertawa kecil.


"Kenapa mom ndak izinin Alu jadi pacal om Ndla? " tanya Aru menatap mommy polos nya itu.


"Aru gak boleh pacaran sama bang Hendra, karena bang Hendra sudah tua! " jelas Ara polos.


"Hahahha." tawa Juna dan Brian meledak karena ucapan yang keluar dari mulut Ara.


"Tua, haha. "


"Si bocil kalau ngomong suka bener, hahaha! "


Juna dan Brian terus saja tertawa. Panglima dan Bryan hanya tertawa kecil. Hendra dan Aru menatap tidak suka pada Ara, tapi Hendra hanya diam saja. Biarkan gadis kecil Aru yang membela nya.


"Api, om Ndla anteng. " ketus Aru.


"Aru, bicara apa? " tanya Ara polos pada Panglima.


"Ett dah, gak ngerti dia, haha. "


Panglima tersenyum menatap istri kecilnya itu. "Kata nya, Hendra itu ganteng!" jelas Panglima.


Ara menoleh kearah sang anak. "Gantengan suami Ara, wlee. " ledek Ara seraya menjulurkan lidah nya pada Aru. Lahh, malah adu kegantengan, haha.


Aru menatap Panglima. Memang bener sih, Panglima itu laki-laki yang ganteng plus banyak duit. Tapi, karena Aru menyukai Hendra. Jadi, dia tetap menganggap Hendra lebih ganteng.


"Anteng om Ndla. " kekeuh Aru.


"Ganteng bang Lima! "


"Om Ndla! "


"Bang Lima! "


"Udah-udah, om Juna paling ganteng, titik. " sela Juna dengan pede nya.


Ara dan Aru menatap Juna dengan raut wajah yang ingin muntah. "Oekk, jelekkk!! " ujar Ara dan Aru bersamaan.


"Hahaha." sekarang giliran Hendra dan Brian yang menertawakan Juna.


"Jelek diam aja sih, " ejek Brian.


Juna menatap mereka semua kesal. "Udah ah, gue pulang aja! " kesal Juna.


"Lah, lakik lok ngambek. " ledek Hendra.


"Haha, udah jelek, ngambekan lagi. " tawa Brian.


"Aru, dengerin om ya, kamu masih kecil. Tidak boleh pacaran dulu! Om mau pulang dulu, ya!! " nasehat Hendra sekaligus berpamitan.


Aru cemberut. "Api, unggu Alu besal, ya? Alu, om Ndla jadi pacal Alu. " ujar Aru yang masih mengharapkan Hendra.


Hendra mengacak gemes rambut Aru. "Cepat besar!! " gemes Hendra lalu menurunkan Aru dari pangkuannya.


Aru mengangguk semangat lalu dia mencium punggung tangan Hendra. Dan beralih mencium punggung tangan Bryan, Brian dan Juna. Karena dou B dan yang lain juga akan pulang.


Aru mendekati Panglima dan Ara yang sedang berdiri untuk mengantarkan dou B dan yang lainnya pulang. Mereka pun pulang kerumah masing-masing. Panglima sendiri mengajak anak dan istri nya itu ke kamar. Mereka akan tidur bertiga dengan Panglima yang membacakan dongeng sore hari.


Ara dan Aru tertidur saling berpelukan. Panglima tersenyum melihat wajah tenang anak dan istri nya.


Cup


Cup


"Selamat tidur dua perempuan kesayangan ku. " ucap Panglima dengan mengecup kening anak dan istri nya. Panglima bersyukur karena mempunyai keluarga kecil yang bahagia. Walaupun terkadang dia pusing harus mengurus anak dan istri nya jika bermain bersama itu.


TAMAT

__ADS_1


***


__ADS_2