
"Pokoknya aku mau pergi dari kota ini, Pa! " ujar seorang pria itu pada sang papa.
Hendrik Danuarta menatap sengit pada sang putra_Hans Danuarta.
"Kenapa? Apa kamu buat masalah lagi? " tanya Hendrik dengan tatapan tajam nya. Hendrik pusing dengan kelakuan sang putra, sudah sering dia turun tangan karena masalah yang dilakukan oleh Hans.
Hans melihat kearah Hendrik yang sedang duduk di kursi kebesaran itu. "Cuma masalah Lian! " ucap Hans. Hah cuma? Dia bilang cuma? Bukankah kesalahan nya besar? Dia meminta Bella pada Riri dan Risa dengan mengatas namakan Lian?.
"Ada apa dengan Lian? " tanya Hendrik.
Hans membuang nafas kasar lalu dia menceritakan kepada sang papa kalau sandiwara Lian sudah ketahuan. Hendrik memang mengetahui kelakuan putranya yang menghasut Lian itu dengan imbel-imbel keluarga. (Mari kita bahas kenapa Lian cepat terhasut akan rayuan setan, ehh rayuan Hans maksudnya xixi).
Lian anak broken home, Lian tidak suka melihat orang tuanya yang selalu bertengkar karena ayah Lian berselingkuh, dan bodohnya sang ibu juga ikut-ikutan berselingkuh. Lian muak dengan kehidupan nya, dia sebenarnya anak yang baik karena lebih dulu kenal dengan Panglima dkk. Lian kadang merasa iri dengan kehidupan keluarga teman-temannya itu. Teman-teman nya memiliki keluarga yang harmonis dan penyayang walaupun orang tua teman-temannya jarang ada dirumah dikarenakan bekerja. Lalu, kenapa Bella jadi sasaran? Gini, Lian amat sangat iri dengan keluarga dou B, Radella dan Bima begitu menyayangi anak-anak mereka tanpa pilih kasih. Disaat ke iri-an itu hadir dalam hati nya disitu lah Hans_sebagai sepupu Lian datang dan menghasut Lian untuk berkhianat. Hans memeng punya dendam pada Panglima karena Panglima lebih hebat dari nya dan banyak yang memuja Panglima, selain ganteng Panglima juga King the racing. (Oke, dendam Hans pada Panglima kita bahas nanti. Sekarang, fokus ke Lian).
Lian menargetkan Bella untuk menghancurkan kebahagiaan keluarga Arshana karena Bella lemah. Menurut Lian, lebih mudah menghancurkan orang lemah bukan? Maka dari itu dia menyusun rencana untuk membuat Bella hancur dengan menghasut Riri dan Risa membawa ke club. Lian tau bahwa Hans meminta Bella pada Riri dan Risa. Tapi, dia tidak tau apa yang dilakukan oleh Hans! Lian tidak perduli, dia hanya mau Bella hancur dan membuat kebahagiaan keluarga Arshana lenyap.
Terlahir sebagai anak broken home membuat Lian menjadi orang jahat untuk teman-teman nya yang selama ini selalu ada untuknya. Dia menutupi sandiwara nya dengan tingkah konyolnya itu. Sekarang keluarga Lian bagaimana? Ah orang tua Lian sudah berpisah dan sudah memiliki pasangan masing-masing dan meninggalkan Lian pada Hendrik_orang tua dari Hans.
Apakah orang tua Lian tidak menyayangi Lian? Jawabannya tidak! Karena kehadiran Lian tidak diinginkan oleh kedua orang tuanya yang menikah karena perjodohan itu. Maka dari itu, Lian tidak pernah mendapat kasih sayang dari orang tuanya dan membentuk karakter Lian yang sekarang.
Note: Pengaruh orang tua sangat besar pada anak, maka jadilah orang tua yang baik untuk anak! Kalau tidak bisa mempertahankan rumah tangga, setidaknya berlaku baiklah pada anak dan berikan kasih sayang kalian padanya.
"Masalah dengan Panglima? " tanya Hendrik yang mulai kesal akan dendam putra itu. Dia heran kenapa putra nya memiliki sifat pendendam, dia tidak bisa membenci sang putra karena dia begitu menyayangi Hans.
Hans menganggukan kepalanya. "Siapa lagi? Cuma dia yang aku benci! " sarkas Hans.
Hendrik menggeram kesal. "Kamu bodoh atau apa? Panglima bukan orang sembarangan! Dulu kamu berurusan dengan sepupunya saja papa mati-matian meyakinkan orang tua dari gadis yang sudah kau lecehkan itu, agar mereka mau memaafkan mu dan tidak menuntut kamu ke pengadilan. " kesalnya.
Hans memutar bola matanya malas. "Lakukan hal yang sama, Pa! Biar aku selamat. " ucap nya enteng.
"Orang tua Panglima tidak seperti orang tua gadis itu, Hans! " marah Hendrik, "orang tua Panglima seorang Billionaire, dan tidak mata duitan! Beda dengan orang tua gadis itu yang mata duitin. Sehingga, papa bisa menghasut dengan uang! " lanjutnya dengan emosi yang menggebu. Ah dia pusing dengan kelakuan putra kesayangan nya ini. Kalian ingat dengan pacar Brian yang berakhir meninggal karena dilecehkan itu? Nah, itulah yang dimaksud oleh Hendrik, dia tidak tau nama gadis itu. Maka dari itu, Hendrik hanya menyebutkan 'gadis'.
Panglima pernah bilang kalau orang tua dari sepupunya itu mau memaafkan kesalahan Hans, bukan? Dan inilah alasan pamannya itu memaafkan Hans! Karena uang, jika Panglima mengetahui ini mungkin dia akan membunuh pamannya itu. Cuma karena uang pamannya rela memaafkan orang yang sudah membuat putrinya hancur? Ah orang tua macam apa itu. (Godaan terbesar didunia uang bukan? Mereka jadi gelap hati hanya karena uang).
Hans menatap datar pada Hendrik. Lihatlah, Hans tidak ada takut-takut nya akan kemarahan Hendrik. Itu karena Hendrik selalu memanjakan nya dan menyayangi nya. Dan jadilah Hans yang sekarang, keras kepala dan apapun keinginan nya harus terwujud.
Note: Dalam menyayangi anak pun jangan manjakan dia secara berlebihan, karena kasih sayang yang berlebihan itulah juga penyebab anak terbentuk kasar dan keras kepala. Memanjakan anak boleh tapi kita juga perlu menasihati nya dan tanamkan sisi baik pada diri anak.
"Bukankah papa seorang menteri? Mudah saja bukan membuat mereka melupakan masalah ini? " ujar Hans yang seperti biasa. Apapun masalah nya dia pasti akan membawa-bawa jabatan Hendrik.
Mata Hendrik semakin menajam menatap putra nya itu. "Menteri tidak ada apa-apa nya jika di hadapkan dengan mafia, Hans! " hardik nya. Jika dia membawa-bawa jabatan nya di depan Panji. Maka dapat dipastikan karirnya di dunia politik akan hancur. Hendrik membuang nafas kasar, untuk pertama kalinya dia membentak sang putra. Dia lelah menghadapi putra nya yang sama sekali tidak takut akan bentukannya.
__ADS_1
Hans berdiri. "Kalau papa tidak mau membantu, baiklah! Biarkan aku pergi keluar kota, dan jangan beri tahu siapa-siapa tempat persembunyian ku!! " ucapnya tanpa rasa sopan santun.
Brak
Hans membanting pintu yang membuat Hendrik mengelus dada sabar karena kelakuan putra nya. Hendrik memejamkan matanya, "andai kamu masih hidup, kamu bisa membantu ku merawat dan membesarkan putra kita! Aku terlalu memanjakan nya, sehingga dia tumbuh dengan keras, dia nakal! " gumam Hendrik yang sekarang mengingat mendiang istrinya yang meninggal karena melahirkan Hans.
***
"Tidakk!! " ucap Bima tiba-tiba.
Deg
Mereka nampak terkejut akan reaksi dari Bima. Apalagi Bram dan Bagas, apakah keinginan mereka untuk tinggal bersama akan pupus? Padahal mereka sudah mengharapkan keluarga yang lengkap dan bahagia.
Radella dan Ara menatap kearah Bima yang menampilkan wajah datar itu.
"Mas! " ujar Radella, dia tau kalau suaminya itu menyayangi Ara. Tapi haruskah suaminya itu egois? Ara sama-sama anak Bima dan Bram. Dan salah satu diantara jangan ada yang egois! Bukankah bagus kalau Ara punya kasih sayang yang banyak? Siapa tau itu akan memulihkan mentalnya agar bisa dewasa. (Tapi sepertinya readers lebih suka Ara yang polos yahh xixi).
Bima terkekeh melihat ekspresi tegang mereka semua. "Candaaa... " kekeh Bima.
Seketika ekspresi mereka berubah cengo kecuali Ara. Mereka semua memandang malas kearah Bima yang sekarang malah tertawa melihat ekspresi mereka itu.
Bram dan Bagas merasa lega karena Bima hanya bercanda, tapi mereka jika menatap malas kearah Bima.
"Aku? " Bram menunjuk diri nya sendiri seraya menampilkan raut wajah bingung. Dia melihat mereka yang ada di ruangan itu bergantian seraya meminta penjelasan, apa salahnya hingga Bima marah pada? Mereka semua hanya mengedikkan bahu karena mereka juga tidak tau.
"Iya kamu, kamu tidak memberitahu ku dari awal masalah ini. " ujar Bima. Kalau sedari awal Bram memberi tahu nya mungkin dia akan membicarakan masalah ini dengan istrinya, bukan? Agar kejadian istri pingsan tadi tidak terjadi.
Bram menghela nafas. "Aku ingin memberitahu, tapi aku ragu kamu tidak akan percaya! Maka dari itu, aku memilih diam. " jelas Bram. Dia tidak memiliki bukti untuk memberitahu soal Ara yang ber transmigrasi. Bukankah transmigrasi itu hal mustahil? Nanti Bima malah menertawakan dan menganggapnya gila karena kematian sang putri.
"Tetap saja aku marah! " ujar Bima seraya terkekeh.
Ara menatap polos Bima. "Ayah, marah sama daddy? " tanya Ara.
Bima menoleh kearah Ara. "Iya, ayah marah! " canda nya.
"Tapi-tapi kenapa ayah tertawa? Kalau marah bukan seperti itu! " ujar Ara heran karena Bima tertawa tapi mengatakan marah.
"Terus marah itu seperti apa? " tanya Bima pura-pura tidak tau.
Ara beranjak dari duduknya lalu berjalan mendekat kearah Bram. Ara berkacak pinggang seraya memasang wajah barang didepan Bram.
__ADS_1
Mereka yang melihat aksi Ara itu dibuat geli. Bukannya takut mereka semua malah menahan gemes.
"Daddy, gak boleh buat ayah marah! Kalau daddy buat ayah marah, Ara juga marah sama daddy! " ucap Ara garang. Namun, terlihat lucu dan menggemaskan dimata mereka semua.
Mereka semua terkekeh yang membuat Ara yang awalnya memasang wajah garang berganti dengan wajah cemberut.
"Iya, sayang! Daddy gak buat ayah Bima marah. " ujar Bram seraya terkekeh.
Ara memperhatikan orang-orang yang menertawakan nya itu. Cuma Panglima yang tidak terkekeh. Namun percayalah, didalam hati Panglima menahan gemes akan tingkah gadisnya.
Ara menghentakkan kakinya lucu. "Kalian jahat, ngetawain Ara! " rajuknya. Lalu Ara berjalan kearah Panglima.
"Bang Lima!! " rengek Ara membentang kan kedua tangannya minta di peluk.
Dug
Ara tiba-tiba meloncat dan duduk dipangkuan Panglima. Mereka melongo melihat Ara yang tiba-tiba itu, mereka sempat meringis karena Ara melompat kepangkuan Panglima cukup keras sehingga menimbulkan bunyi.
"Abang, mereka ngetawain Ara, huhu. " adu Ara lucu.
Panglima tersenyum lalu mengelus lembut surai rambut Ara. "Mereka gak ngetawain, mereka gemes sama kamu. " ucap Panglima lembut.
Ara mengerjap polos menatap Panglima. "Pokoknya Ara marah karena diketawain. " rajuk Ara lalu ngedusel di dada bidang Panglima.
"Dek, abang ada! Kenapa harus duduk dipangkuan Lima? " sirik Brian. Ah dia cemburu Ara bermanja pada Panglima yang notabene nya adalah orang lain.
Bryan? Dia tidak cemburu kah? Sekarang sudah ada Selena di dekatnya, jadi dia tidak cemburu lagi xixi. Cemburu sih, tapi dikit doang kok.
Ara tidak mengindahkan ucapan Brian. Sehingga, membuat Brian mendengus kesal. Ara malah semakin ngedusel di dada bidang Panglima. Bram, Bima, Bagas, serta Radella hanya bisa geleng-geleng gemes dengan tingkah manja Ara.
Sudah puas mencium wangi tubuh Panglima, Ara mendongak dan menatap Panglima dengan tatapan yang sulit diartikan bagi mereka yang melihat itu. Padahal Ara sendiri hanya menatap Panglima seraya tersenyum.
"Abang! " panggil Ara sambil menarik pelan baju Panglima.
Panglima menunduk dan menatap gadis nya itu. "Apa, hm? " tanya nya lembut.
"Ara mau mam ini! " tunjuk Ara pada bibir Panglima. Ah Ara kecanduan? Kemarin aja nangis saat dicium, sekarang malah meminta hihi.
"Tidakkk!!! " teriak Bryan, Brian, Bagas bersamaan. Abang-abang, Ara yang posesif hihi.
'Enak bener itu mulut ngucapin nya, hahaha. ' tawa Juna dalam hati karena ucapan Ara yang minta dicium itu.
__ADS_1
Ara menatap polos mereka semua. "Why? " tanya nya polos.